
...🌹🌹🌹...
Windi
Ia yang polos cenderung bloon, nampak mengikuti sugesti Denok sebab penasaran kenapa teman barunya bisa begitu kesal sepeninggal dokter sombong yang bernama Andra itu.
Tampak begitu geram.
TOK TOK TOK
" CK!"
TOK TOK TOK
Ia mengetuk sebanyak tiga kali namun tak juga terlihat tanda-tanda pintu itu akan dibuka. Membuat Windi berinisiatif menjeblak pintu itu saja.
BRAK!
Namun, alih-alih bisa berdiplomasi dengan wajar bersama dokter sombong itu, Windi kini harus menerima kenyataan mengejutkan.
" Hah, apa yang kalian lakukan?!"
Pekiknya seraya membulatkan mata demi melihat dua manusia yang saling mencecap saliva.
Membuat Denok yang turut menyusul Windi kini menatap tajam Feli yang terlihat syok.
" Hey, apa kau sudah gila? Masuk tanpa izin atau memberitahu. Minimal ketuk pintu dulu kan bisa!" Ketus Feli yang tampak naik pitam.
" Oh ya? Bahkan jika pintu ini bisa berbicara, dia pasti akan mengumpat kepadamu sebab sedari tadi aku tak berhenti menggedornya!"
Membuat Andra kini menelan ludah sebab berada diantara pertempuran dua betina.
" Aku tidak menyangka, selain sombong, kau ini juga sangat mesum!" Seru Windi melirik tajam Andra penuh permusuhan.
Membuat Feli seketika pasang badan.
" Orang miskin tidak tau diri, apa kalian tidak pernah di ajari kesopanan oleh orang tua kalian?" Cibir Feli seraya melipat kedua tangannya sombong. " Oh ya, aku lupa. Orang-orang murahan macam kalian... pasti tidak akan pernah mengenyam pendidikan macam itu!" Imbuhnya seraya menarik senyuman licik.
" Minggir!" Denok menarik bahu Windi lalu berdiri menantang Feli yang tampak tak suka.
" Apa katamu? Murahan?"
Denok yang tak tahan dengan mulut yang seenaknya itu, kini memajukan tubuhnya di depan Windi yang masih menatap Andra dengan tatapan sengit.
" Pelacur sepertimu apalagi namanya kalau bukan wanita murahan!" Ucap Feli dengan wajah mengejek.
PLAK!
" Ahh!"
Kini, Windi dan Andra tampak terlolong demi melihat Feli yang di tampar oleh Denok dengan begitu kerasnya. Membuat Feli tampak mengerang kesakitan.
" Mbak Den!" Windi mencoba menarik tangan Denok yang terlihat dipenuhi emosi.
" Lepas Win!" Seru Denok yang berada di puncak kemarahannya. Meminta Windi untuk tidak menahannya.
" Sekarang...biar aku beritahu mana yang lebih murahan!" Tukas Denok dengan wajah geram, seraya membusungkan dada berani di hadapan Feli yang masih memegangi pipinya yang berdenyut pedih.
" Aku, memang seorang wanita nakal yang menjajakan diri demi sebuah rupiah. Ya, aku memang pelacur, pereek, lonthe . Tapi aku jauh memiliki harga baik daripada memberikan tubuhnya kepada pria lain secara cuma-cuma, saat dirinya masih menjadi istri sah seorang pria!"
" Dan juga, seorang dokter yang begitu nampak terhormat, bagiamana bisa melakukan perbuatan jahat seperti itu, secara sadar?"
DUAR!
Bagai tersambar petir di siang bolong, kesemua manusia yang berada di sana tampak tak berkutik kala mendengar ucapan Denok yang begitu menusuk.
Puh dengan Andra yang terlihat tak bisa menjawab.
" Sekarang katakan kepadaku, mana yang lebih murah, nona Felisha Gunawan yang terhormat!"
Windi langsung melirik dokter Andra dengan tatapan jijik. Dan entah kenapa pula, Andra yang kini bagai di kuliti itu, seketika merasa tak memiliki nyali untuk mengangkat mukanya.
" Beraninya kau!"
SHEET!
" Apa?Kau masih mau menyangkal? Bahkan lawan mainmu saja tidak berani mengangkat mukanya! "
Denok yang cukup lelah akan semua perlakuan Feli tampak menjawab datar. Mencekal tangan Feli yang semula berniat menempeleng dirinya.
" Ada yang memilih diam karena saking lelahnya untuk sekedar mengeluh. Tapi ada juga yang memilih bersuara karena sudah lelah menahan segalanya!"
" Jangan mengatakan orang lain kotor saat kau sendiri merupakan sebuah kotoran!"
" Ayo kita pergi Win!"
Feli tampak kalah telak saat mendengar kalimat Denok yang sejatinya benar-benar menyentil harga dirinya. Terlihat tertegun sebab tak memiliki jawaban lagi untuk sekedar menyela.
BRAK!
Andra yang juga merasa apa yang di katakan oleh Denok barusan tadi memang benar adanya, kini hanya bisa membeku dengan perasaan gundah.
Keduanya tampak berperang dengan pemikiran masing-masing.
.
.
" Mbak Denok nggak apa-apa?" Tanya Windi saat mereka telah berada di koridor luar. Tampak menarik tangan Denok dengan wajah murung.
Denok mengangguk asal. Sungguh, ia sangat lega karena sudah berhasil mendamprat wanita kurang ajar tadi.
Meski, setiap ia di sadarkan akan siapa sejatinya dirinya, Denok selalu merasa jika ia memang tak pantas untuk menemukan cinta.
" Yang mbak Denok katakan tadi...?" Tanya Windi dengan hati-hati dan menatap Denok ragu.
" Apa yang kau dengan tadi itu benar adanya win. Aku seorang wanita nakal yang menjual tubuh untuk menyambung nyawa. Sekarang kau bebas untuk pergi dan memilih tak berteman denganku. Karena orang-orang kotor sepertiku hanya akan di temani oleh orang yang kotor pula!" Jawab Denok dengan senyum sumbang. Mengira bila Windi pasti akan meninggalkan dirinya.
Kini, Denok tampak memalingkan tubuhnya dan berniat untuk kembali ke kamar Yusuf. Dari tempat Windi berdiri, wanita itu tampak berkali-kali mengusap wajahnya menggunakan punggung tangan.
" Tunggu!"
Ucapan Windi barusaja berhasil menghentikan langkah Denok yang baru berjalan beberapa meter. Wanita itu sejurus kemudian melangkah maju lalu menubruk tubuh Denok seraya menitikkan air mata.
" Bagiku mbak Deni merupakan orang baik mbak. Aku tahu mbak Deni melakukan semua itu karena pilihan yang sulit!"
" Aku yang melihat Mbak Deni memperjuangkan Yusuf, ingat sama diriku sendiri mbak. Kita sebenarnya bernasib sama. Walau kita belum lama saling kenal, tapi aku gak akan ninggalin mbak Deni. Kita bisa sama-sama kerja setelah ini!"
Denok mati-matian menahan air mata yang telah mengembang di pelupuk matanya. Tak menyangka jika Windi kini mau memeluknya bahkan setelah mengetahui sebuah kenyataan soal siapa dirinya sebenarnya.
" Kalau kau mau berteman denganku. Panggil aku Denok!"
Membuat Windi yang masih bersimbah air mata itu, kini menatap heran Denok.
.
.
Sementara itu di sebuah ruangan, tempat dimana dua anak manusia berada, terjadi sebuah situasi yang tak biasa.
" Andra, kamu mau kemana?" Feli menatap gelisah Andra yang kini serius dan terlihat menghindari Feli. Tampak membereskan beberapa perlengkapan sebab ia akan pulang.
" Andra!"
" Fel, tolong kamu pulang sekarang!" Jawab Andra dengan resah sembari terus membereskan beberapa barangnya kedalam ransel hitam.
" Kamu ini kenapa sih sebenarnya Ndra. Kemarin kamu ngejar-ngejar aku, sekarang giliran aku perlu sama kamu, kamu malah begini!"
" Fel, sebaiknya kamu pulang dan selesaikan masalah ini dengan suami kamu secara baik-baik!" Tutur Andra dengan intonasi yang mulai tinggi seraya memegang kedua lengan atas Feli. Membuat suasana seketika menjadi tegang
"Kamu ini kenapa sih Ndra? Apa karena perkataan Lontee tadi kamu beg..."
" Aku juga tidak tahu kenapa Fel!" Potong Andra cepat dan membuat ucapan Feli menguap.
" Sory, aku gak bermaksud buat bentak kamu!" Lirih Andra yang kini bingung dengan dirinya. Entah mengapa, perkataan Denok beberapa saat yang lalu, berhasil menguliti jiwanya.
Mata Feli berkaca-kaca usai di bentak oleh Andra. Ia menemui friend with benefitnya itu sebab sesungguhnya ia saat ini benar-benar butuh bahu seseorang untuk bersandar.
" Sebaiknya kamu pulang. Please, I need to rest now!" Tutur Andra menatap Feli dengan tatapan memohon. Membuat bibir Feli bergetar sebab menahan kesedihan yang begitu dalam.
BRAK!
Sepeninggal Feli, Andra tampak menjambak rambutnya frustasi demi merasakan apa yang barusaja terjadi.
.
.
.
.