Since I Found You

Since I Found You
Revealed Secret



Sesuai dengan yang sudah dijanjikan, Mykola menjemput Willy ke rumah pemuda itu. Dia memarkirkan mobilnya di depan kediaman si pemuda. Mykola bergegas keluar, ketika Willy muncul bersama seorang wanita paruh baya. “Selamat pagi, Nyonya,” sapa asisten kepercayaan Vlad tersebut dengan sopan. Mykola tersenyum hangat kepada wanita berambut pirang sebahu yang berdiri di sebelah Willy.


“Selamat pagi, Tuan ….” Wanita itu terdiam seraya menautkan alis. Dia belum mengetahui nama pria yang ada di hadapannya..


“Zalewsky. Robert Zalewsky.” Mykola memperkenalkan diri menggunakan nama samaran.


“Oh, Tuan Zalewsky. Perkenalkan, namaku Steffany Holzner. Aku ibunya Willy. Putraku mengatakan bahwa Anda akan mengajak dia ke Sieseby. Namun, aku sama sekali tidak mengenal Anda. Itu artinya, aku tak akan mengizinkan Willy pergi ke manapun,” tolak wanita dengan perawakan sama seperti Elke.


Mykola tersenyum kalem. Dia masih menunjukkan sikap yang tenang di hadapan Steffany. Merupakan sesuatu yang wajar, jika wanita itu mencemaskan putranya. Mykola sangat memahami hal tersebut. “Jangan khawatir. Nyonya. Aku memiliki sedikit urusan yang berkaitan dengan pekerjaan untuk putra Anda. Pekerjaan yang tentunya akan sangat menguntungkan dan bisa menunjang kariernya, daripada hanya menjadi seorang kasir di butik,” jelas pria berambut gelap itu setengah membujuk.


“Sieseby. Apa yang akan dia kerjakan di desa seperti itu? Ini Hamburg. Kota besar. Lebih mudah mencari uang di sini,” ujar Steffany dengan yakin.


“Baiklah. Ini hanya sebuah penawaran sekali seumur hidup,” balas Mykola. “Tadinya, aku hendak mengenalkan putra Anda pada atasanku,” ucap Mykola. Pria itu kembali menyunggingkan senyuman hangat nan memesona. Dia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. “Ini. Terimalah, Nyonya Holzner.” Mykola menyodorkannya kepada Steffany.


Wanita paruh baya tersebut segera membaca tulisan dalam kartu nama tadi. “Das Versteck,” ucapnya.


“Ya, Nyonya. Aku merupakan staf penting di perusahaan itu. Kami sedang membangun sebuah resort serta penginapan mewah di sana. Sieseby in Harmony ....”


“Lalu, ada apa dengan putraku?” Steffany masih belum memahami maksud dan tujuan Mykola mengajak Willy ke Sieseby.


Mykola mengembuskan napas pelan. Dia tak mengira bahwa ibunda Willy akan bersikap cerewet seperti itu. Mykola menggaruk keningnya perlahan sambil berpikir. Sesaat kemudian, terbersit ide di benak pria tampan tersebut. “Aku mendapat rekomendasi dari Nona Sauer. Putra Anda pasti sangat mengenalnya,” jawab Mykola tetap memperlihatkan raut tenang.


Steffany segera mengalihkan perhatiannya kepada Willy, yang sejak tadi hanya terdiam menyimak perbincangan sang ibu dengan pria asing itu. Willy juga belum mengetahui dengan pasti, tujuan Mykola yang sebenarnya. Namun, pemuda itu tak ingin mempertaruhkan reputasi yang telah dia bangun, karena telah membantu Altea melakukan tindakan kriminal.


Willy tak memiliki pilihan lain. Pria dengan gaya rambut belah tengah tersebut mengangguk yakin di hadapan sang ibu. “Iya, Bu. Tuan Zalewsky memang benar,” ucapnya terpaksa berbohong.


“Putra Anda dinilai sangat cakap dan terampil, Nyonya,” ujar Mykola lagi demi meyakinkan Steffany.


Steffany tak segera menanggapi. Dia kembali membaca kartu nama yang diberikan oleh Mykola. Steffany memang pernah mendengar nama perusahaan itu. “Baiklah. Aku akan menyimpan kartu nama ini. Jika sampai terjadi sesuatu yang tak diinginkan terhadap putra bungsuku, maka Anda akan menjadi orang pertama yang kucari. Aku tak peduli siapa dan apa kedudukan Anda, Tuan Zalewsky,” ancam Steffany dengan tegas.


“Anda tidak perlu khawatir, Nyonya Holzner. Aku akan menjaga putra Anda seperti adik sendiri. Berdoalah, semoga atasanku menyukai Willy dan bersedia merekrutnya untuk bergabung bersama kami.” Seusai berkata demikian, Mykola mengenakan kembali kacamata hitam yang tadi dia lepas. Pria tampan berambut gelap tersebut memberi isyarat kepada Willy, agar si pemuda segera mengikutinya. Willy mengangguk. Dia lalu mencium pipi kiri dan kanan sang ibu sebelum berpamitan.


“I-iya, Paman,” jawab Willy terbata.


“Apa kabar, Herbert. Ke mana kau selama beberapa hari ini? Aku hampir tidak pernah melihatmu,” tanya Steffany hangat.


Sementara, Willy sudah terlihat tak nyaman. Dia berkali-kali melirik Mykola yang tengah menerima telepon. Pria itu berdiri di dekat mobil yang terparkir. Jarak Mykola juga tidak terlalu jauh dari Willy dan mereka yang sedang berbincang, yaitu Steffany serta pria bernama Herbert tadi. Willy terlihat ingin segera pergi dari sana. Namun, Mykola masih sibuk berbincang di telepon.


“Ya. Akhir-akhir ini, aku memang jarang di rumah. Ada banyak urusan yang harus kutangani. Selain masalah pekerjaan, aku juga harus direpotkan dengan ulah masalah kedua putriku,” jawab Herbert terdengar kesal.


“Putrimu yang mana? Bukankah Agata sudah menyelesaikan permasalahan dengan suaminya?” Steffany menanggapi. Kelihatannya, dia dan pria itu memiliki hubungan yang cukup dekat, karena Steffany mengetahui urusan yang terkesan pribadi tersebut.


“Ya, kau benar. Agata sudah kembali ke rumah suaminya. Namun, putri bungsuku masih berkeliaran entah ke mana. Anak itu benar-benar menyusahkan,” keluh Herbert lagi.


Sementara Willy terlihat semakin gelisah. Dia berkali-kali mengusap tengkuknya. Willy kemudian mendekat kepada Herbert. “Paman, aku permisi dulu. Aku harus segera pergi,” pamit pemuda itu. Dia sudah hendak melangkah ke arah Mykola berdiri. Akan tetapi, suara Herbert lagi-lagi menahan laju Willy. Putra bungsu Steffany tersebut kembali tertegun. Dia menoleh dengan memasang wajah tak nyaman.


“Kau hendak ke mana?” tanya Herbert.


“Aku ….”


“Dia akan pergi ke Sieseby bersama pria itu,” sela Steffany. Ekor matanya mengarah pada Mykola yang baru mengakhiri perbincangannya di telepon. Mykola sudah bersiap untuk masuk ke mobil yang dia kendarai sendiri.


“Sieseby?” ulang Herbert.


“Um … iya, Paman. Baiklah. Tuan Zalewsky sudah menungguku.” Willy terburu-buru menghampiri Mykola yang sudah menunggunya.


Namun, belum juga Willy tiba di dekat asisten kepercayaan Vlad tadi, Herbert kembali bicara dengan suara yang cukup nyaring. “Tunggu sebentar, Willy. Aku ingin bertanya sesuatu padamu!” cegahnya.


“Ah, sial!” gerutu Willy dalam hati. Dia tak bisa menghindar lagi, ketika Herbert menghampirinya.


“Apa kau yakin jika Altea tak mengatakan di mana keberadaannya saat ini?” tanya Herbert tanpa basa-basi lagi. “Kalian sangat dekat. Entah mengapa, aku merasa bahwa kau mengetahui sesuatu tentang putriku.” Herbert yang ternyata merupakan ayah Altea, terdengar kesal. Dia mungkin sudah terlalu lelah dengan ulah putrinya. Namun, Willy tak segera menjawab. Terlebih, ketika dia menangkap tatapan aneh Mykola.