Since I Found You

Since I Found You
Amateur Thieves



Altea berdiri mematung dengan mata terbelalak sempurna, ketika dia menangkap sosok yang teramat dirinya kenal. Wanita berambut cokelat itu, hampir saja menjatuhkan nampan berisi piring bekas sarapan Vlad yang baru diambil. Untunglah, wanita muda tersebut masih dapat menguasai diri. Altea kembali bersikap biasa. Terlebih, ketika Mykola mengarahkan pandangan kepadanya.


“Permisi. Aku mau lewat,” ucap Altea tanpa memedulikan kedua pria yang berada di depan pintu.


“Apa kau sedang sibuk, Nona Miller?” tanya Mykola tenang.


“Iya, aku ….”


“Letakkan saja nampan itu di dekat pintu, Nona Miller,” sela Vlad dari dalam kamar. Dia yang tadinya menghadap ke jendela, kali ini sudah memutar kursi roda. Vlad menatap Altea yang sempat menoleh padanya.


“Tapi … ini ….” Altea terbata memberikan jawaban kepada Vlad.


“Itu perintahku. Letakkan!” titah Vlad dengan volume yang cukup rendah, tapi terdengar tegas dan penuh penekanan. Vlad memberi isyarat kepada wanita muda berambut cokelat tersebut, agar melakukan apa yang dia perintahkan tadi.


Dengan terpaksa, Altea meletakkan nampan yang dia bawa dekat pintu bagian luar. Wanita muda itu kembali ke kamar, dan mendapati Vlad serta Mykola tengah memandang lekat ke arahnya. Sementara, Willy mengarahkan pandangan ke segala arah. Sebisa mungkin, dia menghindari bertatapan secara langsung dengan Altea.


“Baiklah, Mykola.” Vlad membuka percakapan. “Katakan, siapakah pria yang kau bawa ini?” tanyanya.


Mykola tak segera menjawab. Pria tampan berambut gelap itu menoleh kepada Willy yang tampak gelagapan. Mykola memberi isyarat, agar si pemilik rambut pirang tersebut memperkenalkan diri kepada Vlad.


Akan tetapi, Willy terlihat ragu. Dia sempat menoleh sejenak kepada Altea. Raut wajahnya terlihat serba salah. Mungkin lebih tepat disebut takut. Terlebih, setelah pria muda tersebut melihat Altea yang melotot tajam padanya.


Di satu sisi, Willy merasa tak enak terhadap Altea. Di sisi lain, bayangan setumpuk euro yang sudah dia kantongi, tercium begitu semerbak dan membuat saku jaket hoodie yang dirinya kenakan terasa lebih berat. Dalam benaknya, Willy malah sibuk menerka-nerka jumlah uang yang dia dapat dari Mykola.


“Kenapa kau diam saja?” tanya Vlad penuh wibawa.


“Tenangkan dirimu. Tidak usah gugup,” ucap Mykola seraya menepuk pundak bagian belakang Willy. Padahal, Mykola tahu betul bahwa pria dengan jaket hoodie hijau army itu pasti sedang berada dalam situasi tak nyaman terhadap Altea.


Willy tersenyum kikuk. Dia kembali menoleh kepada Altea yang masih memandangnya dengan tajam. “Um … namaku Wilhelm Holzner. Anda bisa memanggilku Willy. Aku merupakan kasir di ….”


“Katakan hubunganmu dengan Nona Miller,” sela Vlad masih terdengar penuh wibawa. “Aku yakin, Mykola membawamu kemari bukan tanpa alasan yang jelas.”


“Um, iya. Aku … kami ….” Willy menggaruk kepalanya. Dia kembali menoleh kepada Altea. Wanita muda tadi terus menatapnya dengan sorot penuh intimidasi. Altea bahkan melipat kedua tangan di dada, sebagai tanda bahwa dirinya tengah menantang seseorang. Willy sudah paham dengan bahasa tubuh seperti itu.


Mykola yang seakan dapat membaca interaksi tak langsung antara mereka berdua, segera mengambil tindakan. Dia bergeser ke depan Altea. Posturnya yang tinggi tegap, tentu saja langsung menutupi tubuh Altea. “Bicaralah,” suruh Mykola dengan tenang, sembari mengarahkan tangannya kepada Vlad. Hal itu dia lakukan sebagai isyarat agar Willy menghadap kepada sang majikan.


Sementara, Vlad masih menunggu apa yang akan disampaikan oleh pria muda berambut pirang tersebut. Sikap yang ditunjukkan pengusaha asal Rusia itu boleh saja terlihat tenang. Akan tetapi, bagi Willy terasa seperti sebuah intimidasi yang membuatnya tertekan. Sama seperti saat dia melihat tatap mata Altea.


“Altea Miller … dia … dia adalah ….”


“Tutup mulutmu, Anak mama!” sergah Altea yang sejak tadi hanya diam. Dia berusaha untuk maju. Altea mungkin akan menarik penutup kepala jaket hoodie yang Willy kenakan, lalu menyeret pemuda itu keluar dari kamar.


Namun, dengan sigap Mykola segera menahan lengan wanita muda tersebut. Dia membuat Altea tetap berada di balik tubuh tegapnya. “Lanjutkan, Willy,” suruh sang asisten tampan itu dengan diiringi senyuman kalem.


“Altea adalah sepupuku,” ungkap Willy dengan bahasa tubuh yang terlihat semakin tak nyaman. “Maafkan aku, Sepupu. Aku terdesak,” sesal Willy sambil memasang wajah memelas kepada Altea, yang berada di belakang tubuh Mykola. Saat itu, Altea hanya memperlihatkan wajahnya dari balik lengan sang asisten tampan tadi.


“Bisakah kau diam, Nona Miller?” tegur Vlad menoleh sejenak kepada Altea yang kembali bersembunyi di balik tubuh tegap Mykola. “Aku mendengarmu bicara dengan seseorang di telepon. Siapa? Ayahmu?” tanya pria tampan di atas kursi roda tersebut.


“Kau menguping?” protes Altea.


“Aku tak sengaja mendengarnya,” kilah Vlad.


Altea mendengkus kesal. Dia hampir saja memukul punggung Mykola dengan tangannya yang sudah terkepal. Namun, tindakan bodoh itu segera dia urungkan. Kali ini, dia bisa mengendalikan diri dengan baik. “Apa salahku? Kenapa kalian seakan menghakimiku seperti ini?” protesnya lagi.


“Kau telah mencuri arloji mahal milikku. Apa kau tak tahu bahwa benda itu merupakan limited edition?” sahut Mykola seraya menoleh sesaat ke belakang.


“Bukankah kau mengatakan semuanya selesai, andai aku bersedia menjadi perawat tuan sombong itu?” Altea kembali melayangkan protes keras.


“Ya, tapi ternyata Tuan Ignashevich ingin berkenalan denganmu lebih jauh. Jadi, dengan senang hati aku membantunya,” sahut Mykola.


“Sialan kau!” maki Altea.


Sementara, Vlad hanya menggeleng pelan. Karakter wanita muda itu telah mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu. Seorang wanita yang telah mencuri hatinya dan belum berhasil membuat dia berpaling, justru menjadikan dirinya berada dalam keterpurukan.


Vlad mengembuskan napas pelan. Perasaannya tiba-tiba tak karuan. Dia kembali mengarahkan pandangan kepada Willy. “Jadi, kau adalah sepupu Nona Miller?” tanya pria bermata biru itu. Dia berusaha menepiskan perasaan yang membuat dirinya tak nyaman.


“Ya, Tuan. Pamanku memang sedang mencari Altea ke seluruh penjuru Hamburg. Aku bahkan sudah merasa bosan, karena hampir setiap hari dia bertanya padaku. Aku juga tidak tahu jika Altea berada di sini. Terakhir kali kami bertemu adalah saat dia mencuri pakaian di butik tempatku bekerja,” terang Willy dengan raut tak enak.


“Tutup mulutmu, Wilhelm Holzner! Jika kau masih banyak bicara, maka aku akan mengatakan pada Bibi Steffany bahwa kau sering mastur•basi di kamar mandi, sambil memandangi foto Nyonya Katherine Klose,” ancam Altea, yang membuat Vlad dan Mykola seketika mengulum senyuman mereka.


“Astaga. Kau mengintipku?” Willy membelalakkan mata, karena tak percaya dengan apa yang Altea katakan.


“Aku … aku tidak sengaja melakukannya,” kilah Altea.


“Tidak sengaja? Kau mengatakan ‘sering’,” protes Willy kesal. Namun, Altea tak menanggapi. Dia lebih memilih diam.


Vlad dan Mykola saling pandang. Tatapan keduanya menyiratkan sesuatu. Sesaat kemudian, Mykola mengangguk. Dia mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada Willy. “Kulihat, ayah Nona Miller begitu gusar. Apa ada sesuatu yang penting selain kecemasan seorang ayah terhadap putrinya?” tanya asisten Vlad tersebut penuh selidik.


“Paman Herbert ….”


“Tutup mulutmu, Willy! Kau tidak berhak mengatakan apapun!” sergah Altea. “Lagi pula, kenapa kalian ingin mengetahui urusan pribadiku. Itu sangat tidak etis!” Altea tak terima dengan sikap Vlad dan Mykola.


“Kau ingin Willy tidak mengatakan apapun, Nona Miller?” sahut Vlad.


“Tentu saja! Apakah Anda tidak pernah mendengar tentang sesuatu yang namanya privasi?” sahut Altea sewot. Mata coklatnya menyorot tajam kepada Vlad. Wanita muda itu seakan tak memiliki rasa takut sama sekali.


“Kalau begitu, bawa kedua orang ini pergi dari rumahku, Mykola! Siapkan berkas-berkas untuk membuat laporan ke kepolisian. Secepatnya, kita akan memproses kejahatan mereka yang sudah merugikanmu secara materi. Pihak pengelola butik pun pasti akan senang, karena komplotan pencuri yang merugikan mereka telah tertangkap,” ujar Vlad dengan nada dingin dan datar.