Since I Found You

Since I Found You
3 Bullets



Altea masih melayangkan tatapannya kepada Ludwig. Dia tak mengenal pria itu. Altea juga tak tahu apa peranan pria tampan tersebut di sana. Namun, setelah melihat sikap hormat dari Dietmar serta anak buahnya yang lain, Altea yakin bahwa pria tampan berambut cokelat tersebut pasti bukan orang sembarangan.


Dengan menggunakan bahasa isyarat saja, empat orang pria langsung berdiri di dekat Alter. Dua berada di sisi kiri dan kanan, sedangkan dua lagi di belakang. Mereka mengawal Altea yang dipaksa maju, mengikuti langkah tegap Ludwig menuju keluar kasino.


Setibanya di dekat mobil jeep hitam, salah seorang pengawal tadi membuka pintu untuk Altea. Lagi-lagi, wanita muda tersebut dipaksa masuk ke sana. Untuk kali ini, Altea tak banyak melawan. Dia masih merasa aneh dan keheranan. Si pemilik mata cokelat itu tampak berpikir.


Ketika mobil jeep hitam yang dikendarai Ludwig sudah melaju, Altea yang sejak tadi tak mengalihkan perhatiannya dari pria tampan tersebut, memberanikan diri untuk membuka suara. “Apa kita pernah bertemu?” tanyanya.


Ludwig yang sedang fokus mengemudi, menoleh sejenak. Akan tetapi, dia tak menjawab pertanyaan Altea.


“Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya,” ucap Altea lagi setengah bergumam. Dia mengalihkan pandangan ke depan. Altea mengembuskan napas panjang. “Aku akan dibawa ke mana?” tanya wanita muda itu beberapa saat kemudian.


“Ke manapun aku membawamu, kau tak boleh protes. Ayahmu sudah berutang banyak di kasino milikku. Selain itu, ada dua pria yang mengacau di sana karena hendak mencarimu. Sudah terlalu banyak kerugian yang kudapatkan, Nona.”


"Itu bukan salahku," sahut Altea dengan enteng, "yang berjudi adalah ayahku. Sedangkan yang mengacau di kasinomu adalah ...." Altea tak melanjutkan kata-katanya. Ingatan wanita dua puluh tiga tahun tersebut, tiba-tiba tertuju pada Vlad dan Mykola. Namun, apakah mungkin jika mereka yang datang mencarinya?


Altea mengarahkan pandangan ke luar jendela. Lalu lintas Kota Hamburg pada malam itu tidak seramai biasanya. "Tuan ...," ucap Altea lirih. Jika memang benar Vlad mencarinya hingga ke sana, maka pantaskah dirinya merasa bahagia? Altea tersenyum kecil. Setidaknya, dia tahu bahwa pria itu ternyata menaruh perhatian padanya.


Laju kendaraan yang dikemudikan Ludwig kian kencang menembus pekatnya malam. Entah sudah berapa lama mereka berkendara, karena Altea bahkan sempat tertidur dengan nyenyak. Dia baru terbangun, ketika mobil jeep itu berhenti di depan sebuah bangunan bergaya Eropa kuno.


"Turun," suruh Ludwig dengan tegas. Dia melepas sabuk pengaman, lalu keluar dari mobil.


Altea yang baru bangun, sempat mengucek matanya. Dia mengumpulkan segenap kesadaran, sebelum melepas sabuk pengaman. Putri bungsu Herbert tersebut mengikuti Ludwig yang berjalan menaiki beberapa undakan anak tangga, hingga tiba di depan pintu.


Ludwig menekan bel. Dia menunggu beberapa saat, hingga seseorang membuka pintu. Tampaklah wanita paruh baya, dengan kimono satin dan rambut ikal yang sedikit acak-acakan. "Astaga, Tuan. Kenapa Anda datang tanpa memberitahu terlebih dulu?" tanyanya memasang raut terkejut.


Wanita itu segera mempersilakan Ludwig masuk. Namun, dia tertegun saat melihat Altea, yang muncul dari balik tubuh tegap pria yang telah melangkah ke dalam.


“Siapa wanita muda ini, Tuan?” tanyanya mengalihkan perhatian pada Ludwig.


Ludwig sudah duduk penuh wibawa di sofa ruang tamu. Dia tak langsung menjawab. Pria itu menunggu hingga Altea masuk dan berdiri tak jauh dari tempatnya berada. “Sebutkan namamu,” suruhnya.


“Altea Miller,” jawab wanita muda berambut cokelat itu. Setelah itu, Altea mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu tempatnya berada kini.


Ludwig mengalihkan pandangan pada wanita dengan kimono tidur, yang berdiri di dekat Altea. “Aku ingin kau mengajarinya tata krama dan sopan santun. Itu akan menambah nilai jual wanita ini bagi para pelanggan kalangan atas,” ujar Ludwig seraya berdiri. Dia berjalan mendekat ke hadapan Altea. “Kuharap kau tak membuat keonaran di sini, karena Nyonya Carleigh tak menyukai keributan. Bukankah begitu, Delma?” Ludwig menoleh pada wanita paruh baya di sebelah Altea.


“Ya, tentu saja. Aku mencintai keindahan. Terlebih untuk seorang wanita cantik sepertimu, Nona Miller.” Wanita bernama Delma tadi tersenyum dengan elegan kepada Altea. “Anda tidak perlu khawatir, Tuan Stegen. Wanita muda ini akan siap dalam waktu satu minggu,” ujarnya yakin.


“Apa-apaan kalian ini? Kalian pikir aku ….” Altea menghentikan ucapannya, setelah melihat tatapan tajam Ludwig. “Bunuh saja aku! Ibuku tidak melahirkan anaknya untuk menjadi seorang pela•cur!” Altea mendengkus kesal.


“Mungkin tidak ibumu, tapi lain halnya dengan ayahmu,” balas Ludwig dingin.


“Aku tidak sudi mengakuinya sebagai ayah!” Altea berkata dengan keras kepada Ludwig. “Aku lebih baik kembali hidup di jalanan, daripada harus ditiduri banyak pria yang tidak kusukai dan tak sesuai dengan seleraku!” cibir wanita itu lagi seraya memalingkan muka.


“Astaga. Sombong sekali kau, Nona Miller.” Ludwig tersenyum sinis. “Kau boleh berkata apapun sesuka hatimu. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa saat ini dirimu sudah berada dalam genggamanku. Artinya, jika mau maka aku bisa menghabisi nyawamu saat ini juga.”


“Kalau begitu, ayo lakukan,” tantang Altea seraya mengangkat dagunya.


Mendapat tantangan seperti itu dari seorang wanita, tak membuat Ludwig merasa gentar. Dia bahkan tidak terusik sama sekali. Pria tampan bermata abu-abu itu hanya menyunggingkan senyuman simpul. Dia tak menganggap ucapan Altea sebagai suatu ancaman yang berarti.


“Aku pasti akan menghabisimu suatu hari nanti, seandainya kau melakukan kesalahan yang benar-benar fatal. Untuk saat ini, aku akan menyimpan senjataku dan menyisakan tiga butir peluru untukmu.” Ludwig berkata dengan tenang. Ekspresi wajahnya pun tak berlebihan, meski dia tengah melontarkan ancaman kepada Altea.


“Setelah aku menghabisi seluruh keluargamu,” balas Ludwig yang kemudian beralih pada Delma. “Lakukan tugasmu dengan baik, Delma,” pesannya. Dia tak melirik Altea lagi. Pria tampan berambut cokelat tersebut langsung berjalan ke arah pintu keluar. Ludwig pergi dari sana tanpa pamit sama sekali.


“Astaga. Sombong dan benar-benar arogan,” cibir Altea kesal.


Delma tersenyum menyaksikan sikap Altea. Dia menyentuh bahu wanita muda itu. Membuat Altea terkejut dan seketika menoleh. “Kusarankan agar kau tak menantang Tuan Ludwig. Dia mungkin terlihat tenang, tapi pria itu sangat berbahaya,” ucapnya dengan gaya bicara serta intonasi yang sangat berlawanan dengan sikap Altea.


Altea tak menanggapi. Dia kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu itu. “Tempat apa ini?” tanyanya.


“Akan kujelaskan besok. Sekarang sudah terlalu malam. Sebaiknya kau beristirahat. Aku juga sangat lelah dan mengantuk. Mari kuantar ke kamarmu,” ajak Delma. Dia berjalan terlebih dulu. Sedangkan Altea mengikutinya.


Sementara, Herbert baru kembali ke rumahnya. Dia begitu terkejut saat mendapati seorang pria bertubuh tegap, yang sudah menunggu di depan pintu. Herbert bermaksud untuk melarikan diri. Akan tetapi, saat dirinya berbalik, seorang pria lain lebih dulu menghadang


“Mau ke mana, Pak tua?” seringai pria yang tak lain adalah Mykola. Sedangkan, pria di depan pintu tentu saja Vlad Ignashevich.


Vlad berdiri sambil menyandarkan lengannya pada dinding. Dia mengusap serta membolak-balik belati pada telapak tangan kiri. Dengan begitu saja, telah membuat Herbert tampak sangat ketakutan. Terlebih, saat dia teringat dengan apa yang Vlad lakukan saat dirinya akan menjemput Altea beberapa hari yang lalu.


“Apa mau kalian?” tanya Herbert seraya bergerak mundur karena Mykola menggiringnya, sambil memperlihatkan knuckle tangan yang sudah dipasang dan siap dihantamkan ke lawan. Sementara, di belakang Vlad tengah asyik memainkan belati yang terlihat sangat tajam.


“Buka pintunya. Kau tidak sopan sekali karena tak mengajak tamu masuk ke rumah,” ujar Mykola seraya tersenyum kalem.


“Tidak. Aku tidak akan ….” Herbert yang awalnya menolak, langsung setuju saat melihat Mykola sudah bersiap dengan tinju yang telah dilengkapi alat pemukul dari besi tadi di tangannya. “Baiklah,” ucap pria paruh baya itu seraya berbalik. Dia membuka kunci dan pintu rumahnya.


Vlad dan Mykola mengikuti ayahanda Altea tersebut masuk. Ketika sudah berada di dalam ruang tamu, seketika Vlad tertegun. Sepasang mata birunya tertuju pada potret keluarga, di mana ada Herbert yang berdiri sambil menggendong seorang gadis kecil berambut cokelat. Dari senyuman gadis kecil tadi, Vlad sangat yakin bahwa itu merupakan sosok Altea beberapa belas tahun silam. Vlad berjalan mendekat, lalu berdiri dan memandangi foto tersebut.


“Itu mendiang istriku Anselma, bersama Agatha. Putri sulungku,” ucap Herbert tanpa ditanya.


“Siapa yang kau gendong ini?” tanya Vlad seakan menyindir Herbert yang langsung terdiam. Pria paruh baya itu menunduk.


Herbert tak mengatakan apapun. Tiba-tiba tubuhnya ambruk dan terduduk di lantai. “Aku memang ayah yang biadab,” ucap Herbert beberapa saat kemudian.


“Ke mana mereka membawa putrimu?” tanya Vlad penuh penekanan. Dia tak merasa iba sama sekali, saat melihat Herbert yang menangis karena menyesali semua yang telah dilakukannya terhadap Altea.


“Kasino Goldgeld,” jawab Herbert di sela isakannya.


“Dia tidak ada di sana, Pak tua,” sahut Vlad masih dengan nada bicara yang sama. Vlad melangkah ke hadapan Herbert. Dia berdiri gagah, bagaikan tuan yang akan menghukum seorang budak. “Kami sudah mencari bahkan mengobrak-abrik tempat itu. Namun, putrimu tak ada di sana,” terang Vlad.


“Astaga.” Tangis Herbert kian menjadi. Pria paruh baya itu menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangan. “Altea, maafkan aku.”


“Apa maksudmu?” tanya Vlad tak mengerti.


“Mereka akan membunuh putriku dan menjual organ dalamnya,” jelas Herbert. Membuat Vlad dan Mykola seketika saling pandang.


“Bukankah Nona Miller akan dikirim ke tempat pelelangan perawan?” tanya Mykola heran.


Herbert mengangkat wajahnya, lalu menoleh pada pria itu. “Tadinya memang begitu. Mereka akan menjual Altea di pelelangan perawan, agar memperoleh harga tinggi. Namun, rencana itu dibatalkan. Setelah diperiksa, ternyata putriku sudah bukan perawan lagi,” tutur Herbert.


Seketika, Mykola memandang ke arah majikannya. Sementara, Vlad langsung memalingkan muka, demi menghindari tatapan aneh sang ajudan kepercayaan.