
Altea yang berada tak jauh dari Vlad, segera menoleh sambil membelalakkan mata. Entah kegilaan apa yang tengah pria asal Rusia itu lakukan. Wanita muda berambut cokelat tersebut bahkan semakin dibuat tak percaya, saat menyimak desain kaki palsu yang Vlad inginkan. Pria bermata biru itu ternyata sangat luar biasa. Membuat Altea merasa penasaran, akan jati diri putra semata wayang Elke yang sebenarnya. Siapakah Vlad Ignashevich? Dia pasti bukan hanya sekadar pengusaha biasa, seperti yang Altea ketahui selama ini.
Lebih dari satu jam lamanya, Vlad berkonsultasi dengan ahli pembuat kaki palsu. “Oh, ini sangat luar biasa,” decak Gertrude. “Apa Anda tidak tertarik untuk menggunakan kaki bionik, Tuan Ignashevich? Sepertinya, itu akan cocok dan jauh lebih efisien,” tawar wanita itu.
“Bisa Anda menjelaskan padaku,” balas Vlad datar.
“Anda tidak perlu susah-susah mengeluarkan banyak tenaga untuk menggerakkan kaki palsu Anda, karena kaki bionik dapat dikontrol dengan menggunakan pikiran,” terang Gertrude.
“Bagaimana mungkin?” Altea yang awalnya lebih banyak diam, kini tertarik dan ikut menanggapi.
“Kaki bionik yang dirancang menggunakan sistem robot, memiliki permukaan yang dipenuhi oleh neurotransmitter buatan yang berfungsi untuk meneruskan sinyal listrik dari otak, melalui otot-otot kaki Vawter yang tersisa. Dengan demikian, kaki robot dapat menginterpretasikan gerakan yang diinginkan oleh pasien. Tak lupa, kaki bionik juga dilengkapi oleh motor atau penggerak di lutut dan pergerakan kaki,” tutur Gertrude menjelaskan.
“Jadi, maksud Anda Tuan Ignashevich akan menjadi manusia setengah robot?” tanya Altea antusias. “Hebat sekali! Dia akan menjadi seperti tokoh-tokoh pahlawan super yang terkenal itu!” Altea bersorak kegirangan.
“Kendalikan dirimu, Nona Miller,” tegur Vlad pelan. Wajah tampannya menoleh kepada Altea. Dia melayangkan tatapan tak suka atas sikap wanita muda itu.
“Ah, maaf. Aku belum pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya, sehingga aku begitu tertarik dan terpukau,” sahut Altea sambil mengulum bibir. “Baiklah. Aku tak akan bicara lagi,” imbuhnya.
“Jika Tuan bersedia, maka kami akan membawa Anda ke lab khusus untuk memprogram kaki robot dan menyinkronkan dengan syaraf otaknya,” jelas Gertrude sambil terus tersenyum lebar. Dia sama antusiasnya seperti Altea.
“Nanti saja kalau aku sudah tak ada pekerjaan. Sepertinya, membuat dan memasang kaki bionik akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama,” putus Vlad seraya berdiri dari duduknya.
“Anda benar, Tuan. Kami membutuhkan setidaknya enam bulan dari tahap perancangan hingga pemasangan kaki,” lanjut Jan.
“Ah, lama sekali!" keluh Vlad seraya berdecak pelan.
"Buatkan saja aku kaki palsu biasa. Jangan lupa modifikasi seperti yang kuinginkan, sehingga aku bisa menyimpan senjata di sana,” pesan Vlad seraya berbalik. Dia meninggalkan Gertrude dan Jan begitu saja. Melihat sang tuan yang akan meninggalkan ruangan tersebut, Altea segera mengekor pria tampan tersebut.
“Apakah Anda ingin kaki baru ini menggunakan bahan yang sama atau lebih kuat, Tuan?” tanya Jan setengah berseru, karena Vlad sudah tiba di ambang pintu.
“Kupercayakan pada kalian untuk memilih bahan yang terbaik. Yang jelas, aku akan menggunakannya untuk bertarung. Kalian pasti sudah bisa membayangkan, harus sekuat apa kaki palsuku,” jawab Vlad sambil menoleh sesaat, kemudian melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
“Baik, Tuan. Aku mengerti,” sahut Gertrude. “Kau dengar apa katanya, Jan? Mari kita bekerja sekarang juga." Wanita itu memberi isyarat pada tangan kanannya.
Sementara, Vlad dan Altea sudah berada di dalam lift. Wanita muda itu tak melepaskan pandangannya sama sekali dari wajah tampan sang majikan. “Akan Anda gunakan untuk bertarung di mana kaki palsu itu, Tuan?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
“Apakah Anda akan mengikuti wajib militer?” tanya Altea lagi.
“Kau tak perlu tahu,” jawab Vlad datar, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Dia berjalan gagah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari lift. Sedangkan, Altea masih terpaku menatap pria berambut pirang itu.
“Ah, iya," sahut Altea. Wanita muda itu bergegas mendekat, lalu membuka pintu samping. “Akan ke mana kita setelah ini, Tuan?” tanyanya.
“Mencari restoran terdekat. Aku sudah sangat lapar,” jawab Vlad tanpa menoleh. Dia terlalu fokus menyalakan mesin mobil, kemudian melajukannya ke jalan raya.
Sepuluh menit berlalu, Vlad menurunkan kecepatan. Dia menepikan mobil di depan sebuah gedung yang terlihat begitu mewah di mata Altea. “Red Star,” gumam gadis itu saat membaca plang nama yang terdapat di bagian depan bangunan. “Apakah ini restoran yang sangat terkenal di Berlin, Tuan?” Mata indah Altea terbelalak tak percaya.
“Ini tempat makan favoritku dulu,” tutur Vlad sembari turun dari kendaraan.
Altea kembali terpaku. Dia mencengkeram tali sabuk pengaman dengan erat, tanpa berniat untuk membukanya.
“Kenapa lagi?” Vlad mendengkus kesal, melihat sikap Altea yang menurutnya sedikit aneh.
“Aku memakai baju jelek seperti, Tuan. Pasti aku diusir setelah berada di sana,” ucap Altea ragu.
“Ck!” Vlad menyugar rambut gondrongnya. Dia berjalan memutari kendaraan. Pria itu membuka pintu samping. Dengan sedikit kasar, Vlad melepaskan sabuk pengaman Altea. “Turun! Ini perintah!” titahnya tegas, bagaikan seorang komandan perang.
“Astaga. Baiklah. Seandainya terjadi sesuatu, Anda yang harus bertanggung jawab,” gerutu Altea. Meski kesal, dia tetap mengikuti langkah kaki Vlad hingga tiba di pintu masuk.
Seorang pelayan berseragam rapi, membukakan pintu untuk Vlad sembari membungkuk penuh hormat. “Apa kabar, Tuan Ignashevich? Sudah lama Anda tak berkunjung kemari,” sapanya. Ekor mata petugas tadi melirik pada Altea.
“Dia bersamaku.” Tanpa ragu, Vlad menuntun tangan Altea. Membuat gadis itu kembali terpaku. Begitu pula dengan Vlad yang langsung tertegun. Dia sama sekali tak menyangka bahwa telapak tangan Altea ternyata begitu halus.
Untuk sesaat, dua anak manusia itu saling pandang, hingga sang pelayan memanggil nama Vlad. “Kami selalu menyiapkan meja khusus untuk Anda jika sewaktu-waktu datang, Tuan,” ujarnya.
“Ya. Terima kasih.” Vlad berusaha menguasai diri dengan bersikap setenang mungkin. Dia menggerakkan kepala pada Altea, sebagai isyarat agar wanita muda itu mengikuti langkah si pelayan, menaiki tangga yang berbentuk melingkar ke lantai dua.
Altea tak memiliki waktu untuk mengerjap. Sedari tadi, matanya setengah melotot mengamati segala detail interior mewah dan arsitektur gedung yang bergaya Victoria. Dia bahkan mengusap-usap pegangan tangga yang bersepuh emas dengan penuh perasaan. “Apakah ini emas asli?” bisiknya.
“Jaga sikapmu. Jangan membuatku malu,” tegur Vlad. “Lagivpula, kenapa memangnya kalau terbuat dari emas asli? Apakah kau berniat untuk mencurinya?” Suara pria itu teramat pelan. Namun, Altea dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
“Astaga. Bisakah Anda bersikap sedikit ramah padaku?” sungut Altea sambil berusaha menarik tangannya, yang sedari tadi digenggam oleh Vlad.
Akan tetapi, pria itu rupanya tak siap menghadapi gerakan Altea, sehingga tubuhnya tertarik ke samping.
Vlad sedikit kehilangan keseimbangan. Terlebih saat itu dia menggunakan kaki palsu yang membuat geraknya terasa kaku. Akibatnya, Vlad hampir terjatuh ke depan. Beruntung Altea sigap menangkap tubuh gagah itu dan merengkuhnya dengan sangat erat.