Since I Found You

Since I Found You
Be Discovered



Herbert begitu bersemangat saat mengikuti langkah Folke serta beberapa anak buahnya. Mereka berjalan gagah dan seakan menantang siapa pun, yang memandang ke arah gerombolan pria berwajah sangar tersebut.


“Di mana kamarnya?” tanya Folke pada Bardolf.


“Pria itu menempati kamar termewah di rumah sakit ini, Tuan. Lantai teratas ruang VVIP,” jelas Bardolf.


“Oh, rupanya dia orang kaya,” celetuk Herbert pelan. Tak seperti biasanya, hari itu senyuman terus menghiasi wajah yang dipenuhi janggut lebat tersebut. Herbert sudah membayangkan aroma kebebasan, ketika meyakini bahwa sedikit lagi dirinya akan mendapatkan Altea.


Akan tetapi, bayangan indah itu sangat jauh dari kenyataan yang terjadi. Herbert lagi-lagi harus dihantam rasa marah dan kecewa luar biasa, ketika mendapati ruang perawatan yang dimaksud telah berada dalam kondisi kosong. “Apa-apaan ini!” geramnya tak percaya.


“Apa kau mengigau, Bardolf?” Tatapan tajam, Folke layangkan pada anak buahnya itu.


“Aku bersumpah, Tuan. Ruangannya ada di sini. Aku sempat mengikuti pria itu semalam,” sanggah Bardolf dengan yakin.


“Mungkin mereka sudah pulang?” ujar seorang anak buah lainnya.


“Bisa jadi,” sahut Folke sambil mengusap-usap dagu. “Coba kau tanyakan pada para perawat itu, ke mana penghuni ruangan kamar mewah ini pergi,” titahnya.


“Baik, Tuan.” Tanpa banyak membantah, Bardolf bergegas ke ruangan perawat yang terletak di ujung lorong. Tak berselang lama, dia kembali dengan wajah was-was. “Mereka sudah pulang, Tuan,” lapor Bardolf.


“Sial!” Herbert mengepalkan tangan dengan sempurna, lalu memukulkannya ke dinding.


“Kau memang ayah yang tak becus mengendalikan anaknya, Pak Tua,” cela Folke yang sama kesalnya. Dia langsung meraih kerah jaket Herbert, lalu menariknya agar mendekat. “Jangan katakan jika kau tak tahu di mana tempat tinggal pria itu,” geram Folke.


“Te-tenang, Tuan. Aku tahu persis tempat tinggal mereka. Ikuti aku. Kita akan ke Sieseby sekarang juga,” ucap Herbert dengan terbata.


Sementara itu, ada keramaian tak biasa yang tampak di rumah sederhana Vlad. Rumah yang menjadi tempat bernaung pria tampan berambut pirang tersebut selama beberapa tahun terakhir, menjadi lebih hidup dengan kedatangan Mykola yang membawa beberapa orang pelayan untuk Elke.


“Perkenalkan, Nyonya. Ini Thomas, Uli, dan Ilsa.” Mykola mengarahkan tangannya pada dua pria dan seorang wanita yang berdiri berjajar di sebelahnya. “Ilsa adalah perawat bersertifikat. Aku sengaja menyewanya, untuk menjaga serta menangani segala hal yang berkaitan dengan kesehatan Anda,” lanjut pria tampan berambut gelap itu.


Mykola memberikan isyarat pada Ilsa untuk maju dan memperkenalkan diri. Wanita paruh baya yang terlihat sedikit gemuk itu tersenyum ramah kepada Elke. “Selamat siang, Nyonya. Senang bisa berkenalan dan bekerja di tempat ini,” ucap Ilsa ramah.


“Ah, Mykola. Kau tak perlu berlebihan seperti ini. Aku baik-baik saja.” Elke memaksakan senyum. Raut keberatan terlihat di wajahnya yang cantik, meskipun sudah berumur.


“Tidak ada yang berlebihan, Bu. Sudah sepatutnya kau mendapatkan perawatan istimewa. Seharusnya bahkan lebih dari ini,” ujar Vlad yang baru masuk sambil membawa beberapa kantong belanja.


Di belakangnya, muncul Altea yang membawa lebih banyak lagi kantong, sampai-sampai gadis itu kesulitan berjalan akibat pandangannya yang terhalang.


“Biar kubantu, Tuan.” Thomas dan Uli cekatan mengambil barang-barang yang dibawa Vlad dan Altea. “Anda ingin kami meletakkan barang-barang ini di sebelah mana, Tuan?” tanya Thomas.


“Taruh saja di sudut. Nanti akan kuatur ulang bersama Nona Miller,” jawab Vlad.


“Baik, Tuan,” balas Thomas dan Uli. Mereka melaksanakan perintah sang majikan. Menata barang-barang itu agar tak terlihat berantakan.


“Kalian memasukkan begitu banyak orang. Apa kalian lupa jika hanya ada empat kamar di rumah ini? Kemarin, Mykola membawakan dua orang pelayan. Setelah keduanya pulang, dia datang lagi membawa tiga orang,” keluh Elke sembari memijit pelipisnya.


“Aku sudah menyuruh pelayan kemarin agar menyiapkan rumah sebelah untuk Altea dan Uli,” terang Vlad. Dia memandang lembut pada sang ibu yang nyaman duduk di kursi roda.


Sontak, Altea melotot ke arah Vlad dengan tatapan penuh tanda tanya. “Rumah sebelah? Maksud Anda garasi?” tanyanya dengan protes.


“Bodoh sekali kau ini, Nona Miller. Kau tahu bukan apa bedanya rumah dengan garasi? Jika kukatakan rumah, artinya memang rumah,” ujar Vlad jengkel.


“Tiga rumah terdekat dari sini adalah milik Tuan Ignashevich, Nona Miller. Kau dan Uli akan menempati rumah yang terletak tepat di samping kediaman Nyonya Elke,” jelas Mykola dengan jauh kalem dibanding Vlad.


“Oh, wow. Aku baru tahu itu.” Altea berdecak kagum seraya memandang penuh arti kepada Vlad.


“Sudahlah, jangan berbicara lagi. Aku tak ingin moodku menjadi jelek.” Vlad mengibaskan tangan. Dia lalu beranjak dari tempatnya berdiri. Vlad bermaksud hendak memeriksa barang-barang yang baru dibeli dari swalayan terdekat.


“Aku sudah sepenuhnya mengerti, Nyonya. Aku tak pernah menganggap serius apapun yang putra Anda katakan,” sahut Altea seraya meringis lucu.


“Syukurlah." Elke tertawa pelan, seraya meraih tangan Altea. Dia mengusapnya lembut.


“Kuharap kaulah wanita spesial yang akan meruntuhkan dinding besar dalam hati putraku," ujarnya pelan.


“Ah, Nyonya. Jangan berharap terlalu banyak padaku,” sahut Altea tak yakin. "Aku bukanlah tipe wanita idaman putra Anda," ujarnya lagi. Dia teringat pada foto wanita cantik, yang ditemukan dalam saku tas tempo hari.


“Hey, Nona Miller! Sudah berapa kali kukatakan bahwa kau harus teliti saat berbelanja!” Terdengar suara Vlad yang kembali menegur Altea seperti biasa. Pria itu mungkin seolah tak bisa berkata lembut pada Altea.


Altea yang sedang termenung sejenak, segera tersadar. Dia melihat Vlad yang saat itu tengah memeriksa barang-barang belanjaan tadi.


“Bagaimana jika kubelikan sesuatu?" tawar Mykola. "Apa yang kurang dari belanjaan Anda, Tuan?" tanya pria tampan dengan iris mata gelap itu sopan. Mykola benar-benar asisten dengan loyalitas yang sangat tinggi.


“Tidak usah. Biar aku yang kembali ke swalayan bersama Nona Miller," tolak Vlad seraya kembali menghampiri Altea yang sedang berdiri di dekat Elke. "Aku akan mengajarinya cara berbelanja yang baik dan benar.” Vlad seakan ingin menuntaskan rasa kesalnya hingga habis tak tersisa.


“Apa ada hal lain yang Anda butuhkan sebelum aku kembali ke Hamburg, Tuan?” tawar Mykola lagi masih dengan sikapnya yang sopan.


“Tidak ada. Segeralah kembali ke kantor. Persiapkan pertemuanmu dengan para investor dari Rusia. Dalam waktu dekat, jika kondisi ibuku sudah benar-benar baik, aku akan membawanya tinggal di St. Petersburg,” tutur Vlad enteng. "Lagi pula, mereka akan mengadakan pesta hari jadi perushaan. Aku harus menghadirinya."


“St. Petersburg?” ulang Altea dengan mata membulat. “Maksud Anda … Rusia?” gumamnya.


“Anda ingin kembali ke Rusia, Tuan?” Mykola juga tak kalah terkejutnya dengan Altea.


“Ya, kurasa sudah cukup bagiku menyendiri di sini. Saat ini, aku sudah siap menerima diriku.” Vlad menunduk seraya memperhatikan kaki kanannya, yang berdiri tegak dengan bantuan kaki palsu.


“Oh, Vlad.” Mata Elke tampak berkaca-kaca mendengar penuturan putra satu-satunya itu. “Sejak kau lahir hingga detik ini, kau selalu membuat ibumu ini bangga, Nak.” Elke merentangkan tangan sebagai isyarat hendak memeluk Vlad.


“Bu.” Vlad tersenyum lembut, lalu merengkuh sang ibu. Dia membungkukkan badan sehingga sejajar dengan Elke yang duduk di kursi roda. Vlad memeluk erat wanita paruh baya tersebut.


“Sungguh merupakan suatu perkembangan yang luar biasa,” pikir Mykola. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan kembali ke Hamburg sekarang, Tuan,” pamitnya. Selain karena Mykola ingin segera menuntaskan masalah pekerjaan, dia juga tak ingin Vlad melihat betapa terharu dan bahagia dirinya atas perubahan yang terjadi pada pria itu.


“Bagus.Jangan lupa kabari aku setiap kali ada perkembangan yang signifikan,” pesan Vlad seraya menegakkan tubuh, saat Mykola mengangguk. Mykola kemudian berjalan keluar meninggalkan kediaman Elke.


“Kau,” tunjuk Vlad pada Altea, sesaat setelah terdengar mesin mobil Mykola menderu dan makin menjauh. “Ikut denganku. Kita akan kembali ke swalayan tadi,” ajaknya.


“Jangan terlalu kasar pada Nona Miller, Vlad. Aku tidak suka melihatnya,” tegur Elke. Satu tangannya menarik bagian bawah kemeja sang anak.


“Aku harus mengajarinya agar lebih teliti, Bu,” ujar Vlad. “Kutinggal dulu bersama Ilsa. Kau paham ‘kan tugasmu, Ilsa?” Vlad menoleh pada perawat sang ibu.


“Tentu saja, Tuan. Anda tak perlu khawatir,” jawab Ilsa sambil mengangguk yakin.


“Untuk Thomas dan Uli ....” Vlad lalu mengalihkan pandangan pada dua pria muda yang berdiri tak jauh dari Ilsa. “Rapikan rumah sebelah. Kuncinya ada di sebelah rak televisi,” lanjut Vlad.


“Baik, Tuan,” sahut kedua pria tadi. Mereka mengangguk dengan bersamaan. Keduanya bergegas melaksanakan perintah sang majikan.


“Kau!” Vlad menoleh dan melotot tajam pada Altea. “Kita pergi sekarang,” ajaknya sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku celana. Dia berjalan gagah menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Vlad masuk dan duduk di belakang kemudi.


Vlad membiarkan Altea masuk sendiri ke dalam mobil. Dia tak membukakan pintu untuk wnita muda itu. Vlad bahkan melajukan kendaraan, sebelum Altea sempat menutup pintu mobil dengan sempurna.


“Astaga." Altea menggelengkan kepala pelan. Namun, dia tak ingin berkomentar apapun.


Belum terlalu jauh mobil Vlad meninggalkan kawasan tempat tinggalnya yang asri tersebut, tampaklah beberapa mobil memasuki halaman rumah Elke dan memarkirnya dalam posisi setengah lingkaran. Salah satu mobil terbuka pintunya.


Seorang pria kurus yang tak lain adalah Folke, berdiri di samping mobil seraya memicingkan mata. “Jangan buang-buang waktu. Cepat masuk ke rumah itu dan cari putri Herbert sekarang juga!’ perintahnya dengan suara yang begitu nyaring. Sementara, anak buahnya langsung bergerak masuk.