Since I Found You

Since I Found You
Two Men



Selagi menunggu kabar dari Mykola, Vlad bersiap-siap di kamarnya. Dia akan pergi ke Hamburg hari itu juga. Saat sedang menyiapkan mobil, Vlad menerima pesan masuk dari asisten kepercayaannya tersebut.


Aku sudah berada di lokasi yang anda kirimkan. Aku mencari keberadaan Nona Miller secara diam-diam di Kasino Goldgeld. Namun, dia tidak berada di sana. Aku menunggu perintah anda selanjutnya.


“Kurang ajar!” Vlad mendengkus kesal setelah membaca pesan dari Mykola. Dia memasukkan tas jinjing kecil ke mobil, lalu kembali ke dalam rumah. Vlad harus berpamitan terlebih dulu kepada Elke, meskipun Vlad tak mengatakan hal yang sebenarnya tentang Altea.


“Aku akan pergi ke Hamburg. Jangan buka pintu untuk siapa pun,” pesan Vlad saat berpapasan dengan Thomas, sebelum tiba di kamar sang ibu.


“Baik, Tuan,” sahut pria itu seraya mengangguk sopan.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Vlad melanjutkan langkah menuju kamar Elke. Di sana, dia melihat sang ibu sudah duduk di kursi roda, dengan penampilannya yang rapi. Seperti biasa. Elke selalu terlihat cantik, meskipun berpakaian sederhana.


“Apa kau akan pergi, Nak?” tanya Elke yang sudah melihat Vlad dengan jaket kulitnya.


“Aku akan menemui Mykola. Ada sesuatu yang harus kami bahas. Baik-baiklah di rumah. Aku sudah berpesan pada Thomas agar memperketat penjagaan.” Vlad yang awalnya menurunkan tubuh di hadapan sang ibu, kembali berdiri tegak.


“Bagaimana jika orang-orang itu datang lagi?” Elke terlihat resah.


“Kujamin mereka tak akan kembali,” sahut Vlad yakin, meskipun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang membuat dia merasa tak nyaman.


Elke dapat melihat hal itu dengan jelas. Namun, dia terlalu ragu untuk bertanya. Wanita paruh baya tersebut justru teringat pada Altea yang belum terlihat sejak pagi. “Ke mana Nona Miller? Biasanya, dia sudah menemuiku pagi-pagi sekali.”


“Mungkin karena sekarang ada Ilsa yang merawat Ibu, jadi ….” Vlad tak melanjutkan kata-katanya. “Aku harus segera berangkat. Jangan sampai Mykola menungguku terlalu lama,” pamit pria bermata biru itu. Dia segera mengecup kening Elke, lalu bergegas keluar kamar agar sang ibu tak bertanya macam-macam lagi tentang Altea.


Vlad melangkah gagah menuju garasi. Harus diakui bahwa dirinya merasa kehilangan sosok Altea, yang selalu mengganggu dan tak jarang memusingkan kepala. Kini, dia sudah membulatkan tekad untuk menemukan dan menjemput wanita muda itu, bagaimanapun caranya. Terlebih, setelah kejadian semalam yang di luar dugaan.


Bayangan setiap adegan dan raut wajah Altea ketika sedang bercinta dengannya, terus hadir dalam benak Vlad. Sejujurnya, itu memang sangat mengganggu. Namun, kali ini Vlad merasa seperti seorang anak remaja yang baru melepas keperjakaannya. "Ah, sial!" Pria tampan itu memukul kemudi, saat berhenti di lampu merah.


Ketika lampu sudah kembali hiijau, Vlad melajukan mobil favorit double cabinnya dengan kecepatan tinggi. Gaya mengemudi seperti itu terus dia pertahankan, hingga tiba di depan Kasino Goldgeld. Waktu yang ditempuh pun kurang dari dua jam.


Vlad turun dan menutup pintu mobil dengan sedikit kencang. Tak lupa, dia menyelipkan dua bilah belati di masing-masing sisi kaki palsu, serta sepucuk pistol revolver yang dirinya sembunyikan di balik pinggang.


Pria itu bersikap biasa saja, saat hendak melewati pintu masuk kasino yang dijaga oleh dua orang tinggi besar. Namun, belum sampai dirinya mendorong pintu tersebut, para penjaga tadi segera maju dan menghentikan langkahnya. “Kasino belum buka! Kembalilah lagi nanti malam!” cegah salah satu penjaga berkepala plontos, dengan nada bicara yang sangat ketus.


“Aku tak peduli tempat ini buka atau tutup. Aku hanya ingin bertemu dengan bos kalian!” balas Vlad tak kalah ketus.


“Jangan seenaknya!” Penjaga yang lain langsung mendorong tubuh Vlad. Namun, pria itu terlalu kuat bagaikan batu karang.


Vlad tak bergeming. Dia justru menangkap tangan pria tinggi besar tadi, lalu memelintirnya dengan kencang. Pria itu berteriak kesakitan.


“Kau menjerit seperti seorang gadis kecil,” ledek Vlad seraya tertawa penuh cibiran.


“Oh, ya? Coba saja.” Vlad menyeringai. Setelah berkata demikian, tangan kirinya langsung bergerak mengambil pisau belati yang tersimpan di kaki palsu. Vlad mengayunkan pisau itu tepat ke jemari pria tadi, hingga pegangannya terlepas. Pistol semi otomatis terjatuh ke lantai.


Dengan mudah Vlad menangkapnya. Pria tampan berkulit putih bersih itu membalik moncongnya, sehingga menghadap pada dua pria penjaga tinggi besar, yang memperlihatkan raut tak percaya dengan kemampuan Vlad. Bahasa tubuh Vlad begitu tenang, saat menodongkan senjatanya ke arah para pria, dengan kepala plontos yang memandang Vlad garang.


“Jangan halangi aku atau akan kubuat lubang di tengah-tengah kening kalian,” ancam Vlad. Jari telunjuk tangan kanannya sudah bersiap menarik pelatuk, sedangkan tangan kirinya erat menggenggam belati.


Dua pria itu hanya bisa saling pandang tanpa memberikan jawaban. Sesaat kemudian, salah satu dari mereka mengangguk, lalu membuka pintu lebar-lebar.


“Bagus, Anak-anak baik. Terima kasih,” ujar Vlad seraya tertawa meledek. Dia tersenyum puas sebelum melangkah masuk ke ruangan berlantai marmer hitam mengilap. Sorot mata birunya awas bagaikan elang, mengamati setiap sudut ruangan luas tersebut. Berbagai macam meja dan mesin permainan tersedia di sana. Mulai dari yang kecil hingga yang paling besar.


Di sisi lain ruangan, terdapat lantai dansa dan sebuah panggung kecil yang dilengkapi tiang besi khusus. Tampak beberapa penari berpakaian seronok tengah berlatih menari. Mereka meliuk-liukkan tubuhnya di atas panggung sambil berpegangan pada tiang tadi.


“Tuan?” sapa seseorang yang tak lain adalah Mykola. Pria tampan berambut gelap itu sudah berdiri di belakang Vlad.


Vlad segera berbalik. Dia memperhatikan orang kepercayaannya tersebut. “Bagaimana, Mykola? Apa kau menemukan sesuatu?” tanyanya.


“Belum, Tuan. Aku menunggu perintah dari Anda,” jawab Mykola sopan.


“Hm.” Vlad terdiam sejenak sambil berpikir.


“Ikuti aku. Kita sisir tempat ini dengan teliti,” ajaknya kemudian.


“Baik.” Mykola yang saat itu berpenampilan casual dengan T-Shirt lengan panjang serta celana jeans, setengah menunduk. Dia berjalan mengikuti langkah sang tuan. Namun, baru beberapa meter saja, Vlad dan Mykola terpaksa harus berhenti. Tampaklah orang-orang bersetelan rapi, yang datang menghadang langkah mereka.


“Jangan berbuat onar di sini! Pergilah atau akan kami laporkan pada penanggung jawab tempat ini!” ancam salah satu dari pria-pria itu.


“Laporkan saja. Tak masalah. Itu akan lebih baik, karena kami ingin berbicara dengan bosmu,” sahut Vlad kalem.


“Bos tak ada di sini!” sentak pria yang sama. “Sekarang pergi dan keluar dari tempat ini!”


“Kau tidak berhak mengatur atas apapun yang akan kulakukan!” geram Vlad yang mulai kehilangan kesabaran. “Panggil bosmu dan suruh dia menemuiku di sini!” perintahnya penuh penekanan.


“Bos tak ada di sini!” sentak pria berpakaian rapi itu.


“Kalau begitu, kalian harus membantuku mencari keberadaan Altea Miller di tempat ini,” sahut Vlad dengan tenang.


“Siapa?” tanya pria itu seraya mengernyitkan kening.


“Altea Miller adalah gadis yang malang. Dia putri seorang pemabuk dan pelanggan judi di tempat ini, Herbert Miller. Sekarang pertemukan aku dengannya,” titah Vlad dengan sikap penuh wibawa.