Since I Found You

Since I Found You
Something About Altea



Setelah menerima telepon dari Vlad yang memerintahkan untuk mencari informasi tentang Altea Miller, Mykola langsung beranjak dari kursi ruang kerjanya yang nyaman. “Aku keluar sebentar, Andrea. Siapa pun yang mencariku, suruh mereka menunggu sampai aku kembali,” pesannya pada sang sekretaris, sebelum pria tampan itu berlalu dari sana.


Mykola melangkah gagah keluar dari area gedung perkantoran. Dia berjalan menuju sebuah butik ternama, yaitu tempat di mana dirinya bertemu dengan Altea terakhir kali, sebelum membawanya ke rumah Vlad. Di sana, Mykola menanyakan pada manajer butik terkait siapa saja pengunjung yang datang pada tanggal dirinya bertemu dengan wanita muda tersebut.


Mykola mempergunakan kekuasaannya sebagai seorang CEO dari salah satu perusahaan otomotif terbesar di Jerman, yaitu milik Vlad. Vlad sendiri, selain sebagai distributor dari minuman-minuman mahal, dia juga memiliki beberapa usaha di sektor otomotif dan pariwisata.


Mykola begitu mengagumi kemampuan berbisnis Vlad di usia muda. Sayang, Vlad lebih memilih menutup diri, serta menyerahkan segala wewenang pada dirinya, setelah kejadian memilukan yang membuat kaki kiri sang majikan harus diamputasi.


“Maaf, Tuan. Apapun posisi Anda, bahkan jika Anda seorang perdana menteri sekalipun, kami tak bisa menunjukkan rekaman kamera CCTV jika tidak disertai dengan surat perintah dari kepolisian,” jelas manajer wanita yang terlihat sangat anggun. Sekilas Mykola membaca papan nama kecil yang tersemat di blazer wanita itu. Emma Sauer.


“Astaga.” Mykola berdecak kesal. “Nona Emma Sauer. Benarkah itu nama Anda?” Asisten kepercayaan Vlad itu tersenyum kalem.


“Benar sekali. Itu namaku, Tuan,” jawab si wanita berambut pirang dengan sanggul rapi itu seraya mengangguk. Dia juga tersenyum ramah kepada Mykola.


“Aku memiliki fotonya. Siapa tahu Anda mungkin mengenali wanita muda ini,” ujar Mykola. Dia mengarahkan layar ponsel pada manajer butik tersebut. Beruntung, dulu dirinya sempat mengambil foto Altea saat hendak mengantarkan gadis itu ke Sieseby.


“Aku tidak pernah melihat ataupun mengenalnya. Ada ratusan pengunjung di butik ini yang tak mungkin bisa kuhafalkan satu per satu,” ujar Emma seraya menggeleng pelan.


Mykola hampir saja putus asa ketika Emma mengatakan sesuatu. “Coba kutanyakan pada Willy. Dia bekerja di bagian kasir. Mari, Tuan,” ajaknya seraya mengarahkan Mykola ke meja khusus kasir.


“Hei, Willy. Kemarilah sebentar,” panggil Emma. Dia melambaikan tangan sebagai isyarat agar pegawai pria itu mendekat.


Setelah menyapa seperlunya pada pemuda bernama Willie, Mykola langsung menyodorkan foto Altea yang tersimpan di ponselnya. Tak seperti ekspresi Emma sebelumnya yang biasa-biasa saja saat melihat foto Altea, raut pemuda bernama Willy tersebut mendadak pias.


“Apa kau mengenalnya?” tanya Mykola curiga.


“Ti-tidak,” jawab Willy gugup, yang membuat Mykola semakin yakin bahwa pemuda di hadapannya itu mengetahui sesuatu.


“Jam berapa kau pulang kerja?” tanya pria dengan iris mata gelap itu.


“Sekitar tiga jam lagi, Tuan,” jawab Willy ragu.


“Hm.” Mykola mengangguk sambil melirik Emma yang masih berdiri di sebelahnya. “Bisakah aku berbicara dengan Tuan Willy sebentar saja? Itu juga jika Anda tidak keberatan?” pintanya.


“Ya, tentu saja, Tuan. Aku akan menyuruh kasir lain untuk menggantikan tugas Willy sementara. Permisi." Emma mengangguk sopan, kemudian berlalu dari hadapan dua pria tadi.


“Sekarang tak ada siapa pun di sini. Jadi, katakan yang sebenarnya,” bisik Mykola seraya melangkah semakin dekat ke arah Willy.


“Aku tidak mengerti maksud Anda, Tuan,” sahut Willy sambil tertawa pelan. Dia seperti tengah menyembunyikan rasa gugup dalam dirinya.


“Benarkah? Jangan-jangan, kau juga ikut bekerja sama dengan Nona Altea untuk mencuri pakaian-pakaian mahal di butik ini,” tukas Mykola.


“Jangan bermain-main denganku, Anak muda.” Mykola maju perlahan sampai wajahnya berada beberapa senti dari wajah Willy. “Sorot matamu mengungkapkan banyak makna. Aku bisa menangkapnya dengan sangat baik. Sekarang jelaskan dengan sejujurnya,” desak Mykola penuh penekanan.


“Nona Altea Miller telah mencuri jam tangan mahal milikku. Aku juga memergokinya mencuri baju di tempat ini. Menurutku sangat aneh karena dia bisa leluasa berbuat sesuka hati, di tempat dengan pengamanan sebaik ini. Hal itu tak akan terjadi andai dirinya tak memiliki akses di dalam toko mewah ini. Seseorang yang bisa membantu Nona Altea Miller melancarkan aksinya.” Mykola tersenyum lebar, ketika Willy menggeleng perlahan. Mimik muka pemuda itu terlihat semakin ketakutan.


“Jujurlah, maka aku akan menyelamatkanmu agar terhindar dari pemecatan secara tidak hormat,” bujuk Mykola sambil menepuk pundak kanan Willy.


Merasa tidak punya pilihan, Willy pun mengangguk sembari mengeluh pelan. “Aku tahu jika hal seperti ini akan tiba. Ulah kami akan diketahui,” ujarnya lirih.


“Jadi, benar dugaanku. Kalian bekerja sama mencuri sesuatu dari sini.” Mykola menyeringai lebar.


“Anda salah! Aku tidak menerima sepeser pun dari aksi yang dia lakukan,” sanggah Willy. “Aku kasihan padanya, karena dia adalah temanku. Selama ini, aku hanya membantunya mencari uang untuk biaya makan,” ungkap pemuda itu pada akhirnya.


“Teman?” Mykola mengangkat satu alisnya. “Apakah kalian berpacaran?”


“Oh, tidak. Tidak! Dia bukan pacarku, karena aku sudah memiliki kekasih,” sahut Willy. “Kami benar-benar berteman. Dia menginap di rumahku seminggu sekali. Ibuku bahkan senang sekali saat dia datang,” jelasnya.


“Lalu, di mana tempat tinggal Nona Altea?” tanya Mykola.


“Aku bersumpah. Aku tidak tahu sama sekali tentang hal itu. Kami bertemu pada musim panas dua tahun lalu, ketika Altea mengamen di alun-alun kota. Saat itu, ada beberapa preman yang ingin merebut hasil kerja kerasnya. Altea melawan sampai babak belur. Namun, dia berhasil mempertahankan uangnya,” tutur Willy.


“Aku merasa iba, sehingga mengajak dia ke rumah untuk membantu mengobati luka-lukanya. Tak kusangka, ibuku menyukainya. Sejak saat itu kami akrab dan dia sering menginap di rumah. Akan tetapi, dia tak pernah mau menceritakan padaku tentang asal usulnya. Aku juga tidak ingin memaksa,” pungkas Willy.


“Hm, baiklah. Kapan hari liburmu?”


Willy mengernyit keheranan mendengar pertanyaan aneh dari Mykola. “Besok, Tuan,” jawabnya.


“Kalau begitu, besok aku akan menjemput ke rumahmu. Kita berdua akan berangkat ke Sieseby. Sekarang berikan nomor teleponmu,” pinta Mykola.


“Untuk apa kita ke sana?” Willy mulai merasakan sikap Mykola yang aneh dan tidak dapat ditebak. Dia mundur beberapa langkah, mencoba menjauh dari pria bersetelan rapi di depannya.


“Jangan berpikir untuk melarikan diri, Willy. Aku sudah berkenalan dengan Nona Sauer. Aku akan melaporkan padanya tentang semua pengakuanmu." Mykola mengeluarkan tangan kiri yang sedari tadi dia sembunyikan di saku celana. Ternyata, tangan kirinya tengah menggenggam ponsel yang menyala. Ponsel itu dia jadikan alat untuk merekam percakapannya dengan Willy.


Mykola tertawa pelan sembari menunjukkan layar telepon genggamnya pada pemuda yang berprofesi sebagai kasir tersebut. “Aku sudah merekam seluruh pengakuanmu. Jika kau menolak permintaanku, akan kujadikan ini sebagai barang bukti untuk menjebloskanmu ke penjara, atas tuduhan membantu tindak kejahatan,” ancamnya.


“Ya, ampun. Altea sialan!” Willy mendengkus kesal sambil memukul-mukul keningnya pelan.


“Kuanggap kita sudah menemukan kata sepakat. Sebutkan nomor telepon dan alamat rumahmu. Besok pagi-pagi aku akan menjemput dan meminta izin pada ibumu. Ingat, jangan pernah berpikir untuk melarikan dariku, atau kau akan menyesalinya seumur hidup,” ancam Mykola.