
“Sedang apa kau disitu, Altea?” seru Vlad yang sudah berdiri dengan setengah membungkuk, serta bertumpu pada kedua lengan yang terulur. Dia tersenyum kalem, saat Altea mendongak padanya. “Kembalilah ke dalam!” seru Vlad lagi masih memperlihatkan bahasa tubuh yang tenang dan tanpa melepas senyumannya
“Aku harus pergi dari sini, Tuan,” balas Altea. Wanita itu bahkan belum mengganti pakaiannya.
“Pergi ke mana?” tanya Vlad lagi. “Kau ingin kembali pada monster itu?”
“Aku harus kembali padanya. Jika tidak, maka aku bisa membuatmu berada dalam bahaya,” sahut Altea resah.
Akan tetapi, jawaban Altea justru berbalas senyum kecil dari Mykola. Vlad juga tertawa renyah. Sikap kedua pria tampan dengan warna rambut berbeda tadi, telah membuat wanita muda itu menjadi keheranan. “Apanya yang lucu?” protes Altea tak suka. Dia merasa diremehkan oleh mereka berdua.
“Kenapa kau harus mengkhawatirkan Tuan Vlad Ignashevich, yang jelas-jelas bisa menjaga diri dengan baik?” Mykola menaikkan sebelah alisnya. “Kau seharusnya memikirkan bagaimana cara berterima kasih yang paling tepat, untuk segala hal yang telah dilakukan oleh Tuan Vlad.”
Altea terpaku beberapa saat, dengan tatapan tertuju kepada Mykola. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian kepada Vlad yang masih berdiri dengan posisi seperti tadi. Pria tampan berambut pirang tersebut kembali menyunggingkan senyuman kalem yang menawan. Altea tak mengerti.
“Urus dia, Mykola!” seru Vlad dari atas. Pria itu tak menunggu jawaban dari asisten kepercayaannya. Vlad langsung berlalu meninggalkan jendela kamar, tempat di mana dia berdiri tadi.
Sepeninggal Vlad, Altea maju beberapa langkah hingga jaraknya menjadi jauh lebih dekat kepada Mykola. Altea sepertinya hendak mengucapkan sesuatu kepada asisten Vlad, yang berdiri tenang sambil memasukkan tangan kanan ke saku celana jeansnya. “Apa yang tuan-mu inginkan?” tanya wanita itu setengah berbisik. “Maksudku … aku harus membalas budi dengan cara bagaimana?” Altea menaikkan sepasang alisnya.
“Tuan Vlad sedang mempersiapkan sesuatu untukmu, Nona Miller,” jawab Mykola tenang.
“Apa itu?” tanya Altea lagi dengan raut penasaran.
“Masuk dan tanyakan sendiri,” suruh Mykola, diiringi dengan isyarat agar Altea kembali ke dalam.
Karena merasa penasaran, Altea menuruti apa yang Mykola katakan. Dia menaikkan bagian bawah gaun malamnya, kemudian berjalan cepat ke dalam mansion. Suara hak sepatunya pun beradu dengan lantai marmer ruangan.
Di dalam sana, tampaklah Vlad yang sedang berdiri di undakan ketiga anak tangga dengan desain mewah. Tatapan pria itu lurus tertuju ke arah di mana Altea muncul. Pria tampan bermata biru tersebut kembali menyunggingkan senyum menawan, lalu berjalan turun. Vlad melangkah gagah ke hadapan Altea yang masih berdiri mematung. “Apa kau mencari sesuatu?” tanyanya kalem.
“Kau,” jawab Altea. “Aku mencarimu, Tuan.”
“Untuk apa?” tanya Vlad, seakan ingin bermain-main dengan wanita muda di hadapannya.
“Aku … entahlah. Aku tidak tahu untuk apa,” jawab Altea ragu. Dia menundukkan wajah, bersembunyi dari tatapan menghanyutkan yang Vlad layangkan padanya. Tak tahu mengapa Altea merasa begitu malu dan tidak kuasa, saat harus melawan sorot mata penuh rayuan dari pria tampan dengan sepasang iris berwarna biru itu.
Vlad menggumam pelan. Dia lalu tersenyum simpul. Pria tampan pemilik mansion mewah itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Mungkin kau mencari ini,” ucap Vlad seraya menyodorkan kotak kecil berlapis bahan beludru ke hadapan Altea.
Seketika, Altea mengangkat wajahnya. Dia menatap kotak beludru tadi, lalu beralih ke wajah Vlad yang tampak berseri. “Apa ini?” tanyanya diiringi sorot penuh keraguan.
Vlad kembali tersenyum. Dia membuka penutup kotak kecil tadi. Membuat Altea terbelalak tak percaya. Wanita muda bermata cokelat itu mengepalkan tangannya, sebagai tanda penolakan secara halus. Dia bahkan menyembunyikan tangan kiri ke belakang tubuh.
“Aku menyediakan cincin ini untukmu. Kuharap kau bersedia menerimanya,” ucap Vlad. Ekspresi pria itu tidak terlalu berlebihan.
Altea menggeleng pelan. "Maaf, Tuan. Aku tidak bisa menerimanya," sahut wanita muda berambut cokelat tersebut seraya menunduk dalam-dalam.
"Tidak apa-apa. Aku tidak memaksamu untuk menerimanya sekarang. Namun, kau harus bersedia menyimpan cincin ini, hingga dirimu merasa benar-benar merasa siap," balas Vlad lembut seraya membelai pipi Altea. "Wajahmu terlihat semakin cantik dan bersinar," bisiknya menghangat di telinga Altea.
"Nyonya Delma yang bertugas memberikan perawatan terbaik untukku. Dia mengatakan bahwa keindahan tubuhku adalah aset. Beginilah kehidupan seorang wanita penghibur, Tuan," ujar Altea seraya tersenyum getir.
"Kumohon. Simpanlah ini baik-baik " Vlad menyerahkan kotak cincin tadi pada Altea. Dia meletakkannya di telapak tangan Altea lalu menggerakkan jemari wanita itu agar menggenggam benda tersebut dengan rapat.
"Sekarang, mari kita beristirahat," ajak Vlad seraya melingkarkan tangan di pinggang Altea, kemudian menuntunnya masuk kembali ke kamar
Sesampainya di ruangan itu, Altea melihat tumpukan baju di atas meja khusus, yang terletak di dekat walk in closet.
"Lihatlah, mereka membawakan pakaian ganti untukmu," tunjuk Vlad. "Mandilah. Aku akan meletakkan baju-baju itu ke dalam."
Vlad tak menunggu sampai Altea menjawab 'iya'. Dia segera menata tumpukan pakaian berbagai jenis ke dalam walk in closet. Sedangkan, Altea hanya memperhatikan sikap pria tampan itu dari tempatnya berdiri. Dia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Segala perlengkapan mandi sudah tersedia di sana. Altea hanya perlu melepas gaun pestanya yang mewah dan menggosok seluruh tubuh di bawah shower.
Tak berselang lama, Altea keluar dari sana dengan tubuh terlilit handuk putih. Akan tetapi, langkahnya harus terhenti saat Vlad sudah berdiri gagah di ambang pintu kamar mandi. Tangan kanan pria itu memegang baju ganti untuk Altea.
"Ini. Pakailah." Vlad menyodorkan baju terusan panjang kepada Altea. Wanita muda itu menerimanya. "Jangan pernah berpikir untuk lari dariku." Vlad maju, hingga jarak tubuh keduanya semakin dekat, sampai-sampai ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Sejauh apapun kau lari, aku akan selalu berhasil menangkapmu," ujarnya.
"Kau tak tahu seperti apa diriku saat jatuh cinta. Aku tak akan melepaskan dengan mudah, wanita yang telah berhasil mencuri hatiku," ucap Vlad lagi dengan setengah berbisik. Dia melepas gulungan rambut Altea, hingga terjatuh. Mahkota indah berwarna cokelat itu tergerai menutupi punggung, meskipun terlihat acak-acakan.
Vlad meraih lalu menggenggam sebagian kecil rambut panjang Altea. Dia menghirup dengan dalam aroma yang menguat dari sana. "Aku selalu menyukai rambut cokelat," ucapnya pelan seraya melepaskan genggamannya.
"Aku akan berganti pakaian." Altea merebut pakaian dari tangan Vlad, tanpa mempedulikan perkataan pria itu. Dia berlalu ke dalam kamar mandi.
Sedangkan, Vlad menunggu hingga Altea telah memakai pakaian tidur pilihannya keluar dari kamar mandi. "Bagus," sanjung Vlad sembari bertepuk tangan.
"Sekarang kita tidur." Vlad menuntun tangan Altea ke dekat ranjang berukuran besar.
"Anda tidur di sini?" tanya Altea, ketika Vlad melepas sepatu dan kaki palsu, kemudian berbaring dengan tenang di samping Altea.
"Kenapa? Apakah ada larangan bagiku?" Vlad menoleh sejenak.
"Kalau begitu, aku akan tidur di sofa." Altea turun dari ranjang. Namun, Vlad lebih dulu mencekal tangan wanita itu.
"Ada ranjang besar dan empuk, kenapa harus memilih tidur di sofa?" cegah Vlad.
"Anda pasti sudah tahu alasanku," sahut Altea pelan.
"Aku tidak menerima alasan apapun. Kau dan aku, kita akan tidur di tempat yang sama malam ini," tegasnya. Isyarat dari pria itu adalah perintah bagi Altea.
Terpaksa, Altea kembali berbaring. Tadinya, menunggu hingga Vlad tertidur. Akan tetapi, ternyata dia malah ikut terlelap.
Beberapa saat kemudian, Altea terjaga dari tidurnya. Dia melirik Vlad yang sudah di alam mimpi. Altea bermaksud untuk menyibakkan selimut. Namun, dia tertegun seraya menautkan alis, mendapati tangan kanannya yang diborgol dengan tangan kiri Vlad.