Since I Found You

Since I Found You
On the Bridge



Mykola melangkah keluar kamar. Dia menuruni anak tangga dengan kepala tertunduk. Sementara jemarinya menggenggam arloji mahal, yang sudah kembali ke tangannya. Sang asisten tampan tersebut, sedang memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepada mereka yang tengah menunggu Altea, bahwa wanita muda tersebut sudah melarikan diri.


“Bagaimana? Di mana Nona Miller?” tanya Elke yang segera menyambut kehadiran Mykola di sana. Seseorang, yang sudah dirinya anggap seperti anak kandung.


“Nona Miller sudah pergi, Saudara-saudara,” jawab Mykola. Dia mengarahkan tatapannya pada semua yang ada di sana secara bergantian. Mykola mengernyitkan kening, lalu mengembuskan napas dalam-dalam. Dia tak habis pikir dengan tingkah Altea yang benar-benar liar.


“Apa maksudnya sudah pergi?” tanya Herbert dengan raut yang sulit diartikan.


“Pergi. Dia melarikan diri dengan cara melompat dari jendela,” jawab Mykola. "Luar biasa." Pria itu berdecak pelan.


“Astaga.” Elke menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Dia tak percaya bahwa wanita semanis Altea, bisa melakukan hal ekstrim seperti itu. “Bagaimana jika dia terluka atau mengalami cedera serius. Kakinya …. astaga.” Elke menggelengkan kepala. Dia juga ikut berdecak pelan.


Sedangkan, ekspresi berbeda diperlihatkan oleh Willy. Pemuda itu malah tertawa sambil bertepuk tangan. "Itulah sepupuku," ujar pria dua empat tahun tersebut. Willy sudah tak terkejut lagi dengan tingkah liar Altea.


Sementara. Vlad hanya memicingkan mata. Diam-diam, dia melirik pada Herbert yang memperlihatkan raut wajah tak karuan. Pria paruh baya itu terlihat gugup bercampur takut. Kegelisahan, tampak jelas dalam dirinya.


“Aku akan mencari Altea. Aku harus menemukan dia, atau ….” Herbert segera membungkam mulutnya. Dia baru sadar bahwa dirinya telah kelepasan bicara. Herbert pun terlihat salah tingkah. Karena merasa sudah tak tahan dengan rasa tak nyamannya, pria itu segera menyalami Elke. Dia berpamitan dengan tergesa-gesa. “Ayo, Willy. Apa kau tak ingin pulang bersamaku?” ajak Herbert setengah memaksa.


“Tidak, Paman,” tolak Willy. “Aku masih ada urusan dengan tuan ini. Tentang masalah pekerjaan,” dalih Willy seraya menunjuk pada Mykola.


Herbert menoleh sebentar pada keponakannya itu, lalu mengangguk. “Baiklah, kalau begitu. Aku pulang dulu,” pamitnya. Pria dengan postur tinggi besar tersebut, segera membalikkan badan. Dia berlalu dengan langkah cepat.


“Ada apa ini sebenarnya? Kenapa aku menjadi sangat bingung?” Elke memijit kening yang terasa berdenyut. Hari-hari yang biasanya berjalan damai dan hening, menjadi sedikit memusingkan bagi wanita paruh baya tersebut. “Ya, Tuhan. Migrainku kambuh lagi,” keluhnya.


“Jangan terlalu dipikirkan, Bu. Aku dan Mykola akan menangani urusan yang berkaitan dengan Nona Miller. Ibu bisa beristirahat atau melakukan sesuatu yang menyenangkan. Anggap saja tidak terjadi apa-apa,” saran Vlad lembut. Sikap dingin dan ketus yang biasa dia tunjukkan, perlahan mulai berubah. Gairah hidup Vlad sepertinya telah kembali, setelah dia melihat sisi lain Altea yang sudah mengingatkan dirinya pada seseorang dari masa lalu.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan memanggang kue saja. Kuhidangkan nanti untuk camilan sore kalian,” putus Elke pada akhirnya. Dia beranjak menuju dapur.


Setelah sang ibu tak tampak dari pandangan, Vlad mengalihkan perhatiannya pada Mykola. “Apa kau ada pekerjaan kantor yang menumpuk hari ini?” tanyanya pada sang asisten kepercayaan.


“Sebenarnya iya, Tuan. Namun, aku bisa menyelesaikan semuanya besok, jika Anda membutuhkan bantuanku sekarang,” jawab Mykola sopan.


“Hm.” Vlad berpikir sejenak. “Kalau begitu, suruh seseorang untuk menyelidiki Herbert Miller dan apa saja yang dia lakukan selama beberapa minggu terakhir. Pria itu terlihat mencurigakan,” pikirnya. “Sementara, aku akan mencari Nona Miller,” sambung Vlad yang seketika membuat Mykola terbelalak tak percaya.


“Apa? Anda akan mencari Nona Altea Miller, Tuan?” ulang Mykola.


“Ya,” sahut Vlad. Nada bicaranya terdengar begitu yakin. Dengan bantuan tongkat, dia berjalan ke sisi lain ruang tamu, lalu membuka bufet kayu berukuran cukup besar. Vlad mengeluarkan kaki palsu mahal yang terbuat dari serat karbon khusus.


Pria tampan itu tak memedulikan dua pria yang memandang ke arahnya. Dia berjalan tenang ke arah sofa, lalu duduk di sana. Vlad melipat celana hingga lutut, lalu memasang kaki palsu tadi. Setelah itu, dia mengembalikan posisi celananya seperti semula. Vlad juga melepas jaket hoodie yang dia kenakan, dan hanya menyisakan T-shirt putih yang sobek di bagian dada kiri. Pria berambut pirang itu seolah tengah memamerkan bentuk tubuhnya, yang terlihat sempurna di balik T-shirt press body tadi.


Setelah itu, Vlad meminta ponselnya yang dititipkan kepada Mykola, saat sang asisten membantu dia menuruni tangga. Untuk beberapa saat, Vlad memperhatikan layar ponsel yang menyala. Dia lalu berdiri gagah di hadapan Willy yang tampak begitu kagum. Postur tubuh Vlad yang tinggi sekaligus jauh lebih gagah dari dirinya, membuat Willy menatap tanpa berkedip. Pemuda dengan gaya rambut belah tengah itu sempat meraba lengan, dada, serta perutnya yang rata. “Aku tak mengira bahwa Anda ternyata sekeren ini,” ujar Willy dengan mata membulat.


“Jangan bersikap seperti itu. Kau membuatku risi,” tegur Vlad. “Aku adalah pria normal dan tak tertarik dengan laki-laki,” imbuhnya yang sontak membuat Mykola tertawa, meski tak terlalu lebar.


“Ti-tidak. Bukan itu maksudku, Tuan. Aku hanya ingin memujimu. Itu saja. Lagi pula, aku juga pria normal dan sudah memiliki pacar,” elak Willy.


“Tentu saja bukan. Dia hanya seorang tetangga. Lagi pula, wanita itu sudah memiliki suami ….” Willy tak melanjutkan kata-katanya. Pria dua puluh empat tahun tersebut menggaruk kepala yang tak gatal.


“Sudahlah. Sekarang, sebaiknya kau ikut denganku,” ajak Vlad.


“Ke-kemana, Tuan?” tanya Willy tergagap.


“Tentu saja mencari sepupumu!” gerutu Vlad sambil berjalan ke arah pintu depan yang sudah terbuka lebar.


“Apa Anda yakin, Tuan?” tanya Mykola. Dia masih tak percaya atas perubahan Vlad yang sedemikian drastis.


Dulu, atasannya tersebut tak pernah bersedia menyentuh kaki palsu mahal yang didesain khusus untuk dirinya. Padahal, kaki palsu tersebut dibuat oleh pabrikan asal Jerman yang sudah mendunia. Selain itu, desainnya pun disesuaikan dengan kepribadian seorang Vlad yang aktif. Namun, ternyata, Vlad menjadi orang yang sangat pasif


“Kaki palsu merupakan sebuah kutukan. Ia menjadi bukti yang menegaskan atas cacatnya diriku!”


Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Mykola hingga saat ini. Susah payah, dia meyakinkan sang majikan agar bersedia kembali pada kehidupannya yang normal. Sayangnya, Vlad tetap menolak.


Akan tetapi, kali ini Vlad seperti telah lupa dengan pernyataannya. Pria tampan bermata biru itu kembali menunjukkan kegagahannya, saat berjalan melintasi halaman menuju garasi yang terletak terpisah dari bangunan rumah. Garasi itu bahkan berukuran lebih besar dari rumah yang Vlad tempati selama ini.


“Hei, Bonny! Kemarilah!” seru Vlad dari kejauhan.


“Namaku Willy, Tuan!” balas sepupu Altea yang dimaksud oleh Vlad. Dia menghampiri pria yang memanggilnya dengan tergesa-gesa..


“Siapa pun namamu, cepatlah kemari. Ikuti aku untuk menyusuri wilayah ini!” ajak Vlad yang seakan tak menerima penolakan.


“Kalau begitu, aku juga akan mulai bergerak, Tuan,” putus Mykola. Pria tampan berambut gelap itu kemudian memasuki mobil mewahnya. Dia melajukan kendaraan tersebut. Perlahan, mobil yang dikendarai Mykola meninggalkan kawasan perumahan tempat tinggal Vlad.


Sedangkan, Vlad segera membuka pintu garasi dengan lebar. Tampaklah di dalam bangunan itu beberapa mobil antik pabrikan Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya. Pemandangan yang membuat Willy harus kembali membelalakkan mata sambil menelan ludah. Pria dua puluh empat tahun tersebut, bergegas mengikuti Vlad.


“Wah, ini benar-benar keren. Aku tidak menyangka jika Anda … siapa Anda sebenarnya, Tuan?” tanya Willy yang masih menunjukkan kekagumannya terhadap pria asal Rusia tadi.


Namun, Vlad tak memedulikan pertanyaan pemuda berambut pirang itu. Dia tengah sibuk membuka sebuah lemari besi, di mana terdapat beberapa kunci mobil. Vlad mengambil salah satu, lalu menutup kembali lemari besi tadi. Setelah itu, dia melangkah ke dekat sebuah mobil pick up hitam. Vlad segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Dia melajukan kendaraan itu keluar dari garasi.


“Hei, cepat tutup pintunya!” seru Vlad seraya menyembulkan kepala lewat jendela mobil.


Willy yang terlihat gugup, bergegas melakukan apa yang Vlad perintahkan. Setelah menutup pintu garasi dengan rapat, sepupu Altea tersebut setengah berlari menghampiri mobil pick up yang sudah menunggunya. Willy masuk, kemudian duduk dengan tenang di sebelah Vlad. “Kita akan mencarinya ke mana, Tuan?” tanya Willy sambil berpegangan pada hand grip. Dia terlihat sangat tegang, karena Vlad menjalankan mobil pick up itu dengan ugal-ugalan. “Astaga, Anda dan tuan yang tadi sama-sama pengemudi gila,” ujar Willy.


Namun, lagi-lagi Vlad tak menanggapi. Dia terus mengemudikan kendaraannya menyusuri jalur pedesaan yang sangat indah. Sebuah pemandangan yang membuat Willy terlupa pada ketegangannya. “Ke mana kira-kira kita akan mencari Altea? Sepupuku itu sudah terbiasa hidup di jalanan. Anda tak perlu khawatir,” ujar Willy dengan tubuh terguncang. “Tuan, apa Anda tidak takut ditilang karena mengemudi dengan cara seperti ini?”


“Tidak akan ada yang berani menilangku di sini,” sahut Vlad. Sesekali, dia menengok ke samping. Vlad kemudian menepikan kendaraannya. Dia memeriksa ponsel untuk beberapa saat, sebelum kembali meletakkan alat komunikasi canggih tersebut ke dalam glove box. Sesaat kemudian, mobil pick up itu kembali melaju. Namun, kali ini dengan tidak terlalu kencang.


Setelah beberapa meter, Vlad menghentikan laju kendaraannya. Dia melepas sabuk pengaman. Pria itu keluar dari mobil, lalu berjalan ke dekat danau. Dari jarak tidak terlalu jauh, Vlad dapat melihat sosok semampai yang sedang berdiri di atas jembatan kayu yang menjorok ke tengah. Pria asal Rusia itu pun melanjutkan langkah menyusuri jembatan kayu tadi. Sementara, Willy yang sudah ikut turun, hanya memperhatikan dari dekat mobil.


“Jadi, hanya sampai di sini kau sanggup melarikan diri?” tanya Vlad yang seketika membuat Altea terkejut dan langsung menoleh padanya.