Since I Found You

Since I Found You
Buste Houder



Altea merasa bimbang, antara mengikuti mobil ayahnya atau melakukan perintah Vlad untuk mengambil kaki palsu dan segala keperluan, yang akan digunakan oleh pria itu selama berada di rumah sakit.


Akhirnya, wanita muda tersebut memutuskan membawa mobil Vlad masuk ke halaman rumah. Setelah turun dari kendaraan dan hendak memasuki teras, Altea terdiam sejenak. Dia tampak berpikir keras, lalu mondar-mandir sambil memainkan telepon genggamnya.


Pikiran Altea terasa begitu kacau. Terlebih, saat dia melihat bahwa Willy dengan mudah mengikuti Herbert. Pria dua puluh empat tahun itu juga, gampang terpengaruh jika sudah melihat uang sebagai iming-iming. Bukan tidak mungkin, sepupunya tersebut akan membocorkan keberadaan dirinya pada sang ayah.


"Willy brengsek! Awas saja jika kau berani memberitahukan keberadaanku di sini," geram Altea seraya mengetikkan sesuatu di layar ponsel. Altea mengirim pesan yang segera dia kirimkan ke nomor Willy.


Altea terus mengawasi balon percakapan yang jelas-jelas telah dibaca oleh Willy. Namun, pemuda itu tak membalasnya. Hingga lima menit kemudian, Willy itu tak kunjung memberikan jawaban. Merasa tak sabar, Altea kembali mengirimkan pesan pada sang sepupu.


Apa yang kau katakan pada ayahku, anak mama! Cepat katakan!


Beberapa saat berlalu. Willy, lagi-lagi membaca pesan tersebut tanpa membalas. Hal itu membuat Altea semakin kalut. Hampir saja dirinya hendak melarikan diri meninggalkan Sieseby, andai dia tak ingat bahwa Vlad seedang menunggu dirinya di rumah sakit.


"Ah!" seru Altea seraya mengacak-acak rambut coklatnya yang indah. Altea lebih takut pada kemarahan Vlad, dibanding dengan Willy yang mengungkapkan keberadaannya pada sang ayah.


"Aku tidak peduli! Masa bodoh!" gerutunya. Altea berusaha menepis bayangan Herbert yang akan datang menyusul, lalu menyeretnya pada pria bernama Dietmar Kreuk.


"Setidaknya, aku melakukan lebih dulu tugas yang diberikan Tuan Ignashevich." Altea memantapkan hati. Dia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua. Setelah itu, Altea membuka pintu kamar Vlad menggunakan kunci manual.


Wanita bermata cokelat itu terdiam sejenak, sambil mengingat-ingat apa saja pesanan dari sang majikan. "Kaus, celana dan ... " Wanita muda itu tampak ragu saat hendak membuka lemari baju yang terbuat dari kayu khusus dan penuh dengan ukiran. "Aduh, bagaimana ini?" Wajah Altea memerah, saat mengambil beberapa helai pakaian dalam sesuai permintaan Vlad.


Altea lalu mengambil sebuah tas jinjing berukuran sedang, di balik pintu kecil yang menghubungkan kamar Vlad dengan walk in closet sederhana. Dia membuka resleting tas kain tadi, lalu memasukkan segala perlengkapan yang Vlad butuhkan.


Hingga tiba ketika Altea harus memasukkan sesuatu, yanh membuat wanita muda itu seketika terpaku. Altea memandangi sejenak. Ragu, dia membuka pakaian dalam milik Vlad yang dilipat menggulung, hingga potongannya terlihat jelas. Si pemilik rambut cokelat itu memegangi kedua sisi benda berbentuk segitiga tadi, lalu tertawa renyah. "Astaga. Tak bisa kubayangkan," celotehnya geli.


Altea menggerak-gerakkan benda yang sedang dipegangnya. Dia lagi-lagi tertawa menyadari tingkah anehnya. "Astaga! Apa yang kulakukan?" Altea tersadar bahwa dirinya sudah membuang-buang waktu. Dengan terburu-buru, dia melipat pakaian dalam tadi dan memasukkannya ke tas.


Ketika Altea hendak menutup resleting tas berwarna merah marun tadi, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sesuatu di dalam saku dalam tas. Di sana ada selembar foto yang hanya terlihat bagian ujungnya. Merasa penasaran, Altea segera menarik foto itu dari dalam saku tas.


"Siapa ini? Cantik sekali." Altea memicingkan mata. Dia mendekatkan foto itu ke wajahnya. Terlihat jelas potret seorang wanita muda, dengan rentang usia diperkirakan sama dengannya. Wanita itu bermata abu-abu, dan memiliki rambut tebal berwarna cokelat. Indah juga terawat.


Altea membaik foto itu. Dia membaca tulisan yang tertera d sana. "Miabella Conchetta de Luca." Altea termenung sejenak, hingga ponselnya berdering. Nama Vlad tertera jelas di layar. Tanpa berlama-lama, dia menerima panggilan itu. "Tuan?"


"Kenapa lama sekali! Kau tidak hendak melarikan diri lagi, 'kan? Awas saja jika berani macam-macam!" tegur Vlad ketus.


"Ya, ampun. Aku baru saja selesai berkemas, Tuan. Tinggal membawa kaki palsumu," balas Altea pelan.


"Ya, ya. Aku mengerti," sahut Altea. Dia mengembalikan foto wanita cantik tadi ke dalam saku dalam tas. Dengan langkah hati-hati, Altea menjinjing benda itu menuruni tangga.


Altea mengingat pesan Vlad, bahwa kaki palsu pria itu tersimpan di bagian bawah bufet ruang tamu. Ragu, dirinya membuka bufet dengan dua daun pintu. Wanita muda itu mengembuskan napas kasar, saat melihat ada banyak kaki palsu di dalam sana.


Setelah memperhatikan dan menimbang-nimbang, Altea menjatuhkan pilihan pada sebuah kaki palsu dengan penopang berwarna hitam. Menurutnya, kaki itu pasti akan terlihat cocok dipakai Vlad yang gagah.


"Bagus. Semua sudah lengkap." Altea berbicara sendiri, sebelum melangkah keluar dari rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Baru saja dia hendak menyalakan mesin mobil, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Altea mendengkus kesal, ketika membaca nama si pengirim pesan tersebut.


Aku tidak mengatakan apapun pada Paman Herbert. Aku bersumpah! Dia hanya mengantarkanku pulang, karena ibuku sudah menungggu.


Sebuah jawaban yang ditunggu Altea dari Willy.


Kali ini, dia dapat bernapas lega. Altea tak lagi berpikir macam-macam. Dengan begitu, dia bisa fokus pada pekerjaannya.


Dua jam ditempuh Altea hingga tiba di Hamburg. Rasa lelah tak dihiraukan, demi menyelesaikan tugas yan dia emban. Seluruh tubuh Altea terasa lengket dan gerah. Namun, dia tak peduli. Misinya harus selesai, yaitu menyerahkan tas tadi kepada sang majikan.


"Kau tidak melupakan apapun, 'kan?" tanya Vlad dengan sorot mengintimidasi.


"Anda boleh memeriksanya, Tuan. Jika ada yang tertinggal, aku bersedia kembali lahi ke Sieseby," jawab Altea dengan yakin, sambil menyodorkan tas dan kaki palsu kepada Vlad.


"Biar kuperiksa." Vlad membuka tas. Mengecek barang-barang bawaan Altea dengan saksama. "Bagus. Sudah lengkap," ucapnya.


"Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kau tidak membawa baju ganti?" Vlad menautkan alis, saat memperhatikan Altea dari ujung kepala hingga kaki.


"Semua ada di sini, Tuan." Altea mengangkat tas ransel yang sedari tadi tersampir di pundak. "Bolehkah aku menumpang mandi di sini?" pintanya kemudian.


Vlad tak langsung menjawab. Dia sempat melirik pada sang ibu yang tertidur lelap akibat pengaruh obat. "Ya, sudah. Kau duluan saja," jawabnya.


"Terima kasih, Tuan. Aku akan mandi dengan cepat." Altea mengangguk, lalu bergegas ke kamar mandi yang berada di dalam ruang rawat inap berukuran luas tersebut. Sayangnya, Altea lupa membawa handuk. Dia tak memiliki apapun untuk mengeringkan tubuh. Dengan terpaksa, gadis itu membiarkan badannya tetap basah, dan langsung berganti pakaian dengan T-Shirt berwarna putih.


Namun, Altea lupa bahwa kausnya terbuat dari bahan yang tipis. Kainnya mudah basah jika terkena air sedikit saja. Dia tak menyadari, ketika Vlad memandang lekat ke arahnya. Altea sibuk menyisir rambut yang basah dengan ujung jari. "Aku sudah selesai, Tuan. Apakah kau juga hendak mandi? Apa kau butuh bantuan?" tawar Altea polos.


Vlad menanggapi tawaran gadis itu dengan sorot aneh. Bagaimana tidak? Bra hitam yang Altea kenakan, terlihat jelas dalam balutan kaus putih yang tampak menerawang.