
Altea bergerak mundur melihat sorot tajam pria di hadapannya. Dia merasa heran, karena semua pria yang dirinya temui seakan memiliki karakter seperti pembunuh berdarah dingin. “Maaf, Tuan. Aku sedang terburu-buru,” ujar si pemilik rambut cokelat itu, dengan bahasa tubuh tidak nyaman. Altea sudah tak tahan untuk segera ke toilet. “Bolehkah aku pergi sekarang?” tanyanya sambil meringis.
Pria berambut cokelat tembaga tadi menatap Altea dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tanpa mengatakan apapun, dia melanjutkan langkah keluar dari koridor itu. Meninggalkan Altea yang terlihat kebingungan, dengan sikap si pria yang dirasa aneh.
Namun, Altea tak ingin ambil pusing. Wanita dua puluh tiga tahun tersebut bergegas menuju toilet. Dia tak ingin membuang waktu. Apalagi sampai membuat Vlad menunggunya terlalu lama. Bisa-bisa, taring tajam pria asal Rusia itu akan kembali muncul. “Ada apa dengan pria-pria Jerman?” pikir Altea setengah menggerutu, sebelum masuk ke bilik toilet.
Sementara, Vlad tengah sibuk dengan ponselnya. Ada beberapa pesan dari Mykola, yang mengabarkan bahwa dia akan pergi ke Kasino Goldgeld nanti malam. Misinya adalah untuk mencari informasi tentang pemilik tempat tersebut.
Selain itu, Vlad juga mendapat email dari perwakilannya yang berada di Rusia. Negara yang sudah lama dia tinggalkan. Padahal, Vlad memiliki sebuah mansion di sana. Tepatnya, di Kota St. Petersburg.
Kapan anda akan berkunjung, Tuan? Beberapa klien kerap menanyakan kabar dan keberadaan anda. Perusahaan dalam kondisi stabil. Rencananya, kami akan mengadakan pesta perayaan hari jadi yang ke-45. Segenap staf berharap agar anda bisa hadir. Tak mungkin bagi kami menyelenggarakan acara besar ini, tanpa kehadiran anda sebagai pemilik perusahaan.
Vlad tak langsung membalas email tersebut. Terlebih, karena Altea telah kembali dari toilet. Wanita bermata cokelat itu sudah duduk di tempatnya tadi. “Lama sekali. Apa saja yang kau lakukan di toilet?” selidik Vlad.
“Haruskan kujabarkan, Tuan?” jawab Altea diiringi senyuman polos.
Vlad sempat menatap tajam untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria itu kembali pada makanan yang sedang disantapnya. “Cepat habiskan makananmu. Kita harus segera kembali ke Sieseby. Aku tidak ingin pulang terlalu malam.” Vlad berkata demikian tanpa memandang kepada Altea. Lagi pula, wanita muda itu tak sepenuhnya memperhatikan dia. Pandangan Altea, justru tertuju pada pria yang tadi dirinya tabrak.
Pria itu berada di meja yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Altea dan Vlad berada. Si pria berambut cokelat tembaga tadi, duduk seorang diri. Entah apa yang menarik dari pria tersebut. Namun, Altea berpikir bahwa sosok itu sama misterius seperti Vlad.
“Apa yang kau lihat?” tanya Vlad. Suara berat pria tampan berambut gondrong tersebut, seketika menyadarkan Altea dari lamunannya.
“Um … tidak ada,” jawab Altea seraya kembali pada sisa makanan dalam piring.
Namun, Vlad tak percaya begitu saja. Pria itu memicingkan mata saat melihat sikap aneh Altea. Diam-diam, si pemilik mata biru tersebut menoleh ke meja yang berada beberapa meter di belakangnya.
Berhubung di sana merupakan ruangan VVIP, sehingga hanya beberapa meja yang terisi. Awalnya, pandangan Vlad tertuju pada pasangan yang tengah makan bersama. Sesaat kemudian, tatapan tajam pria berambut pirang itu terkunci pada sosok tegap yang duduk sendiri. Vlad memperhatikan pria tadi beberapa saat, kemudian beralih pada Altea. Sesaat kemudian, pandangannya kembali pada pria tadi.
Setelah menghabiskan semua menu yang dipesan, mereka bersiap untuk kembali ke Sieseby. Saat itu, suasana sudah mulai gelap. Vlad, memperkirakan bahwa mereka akan tiba di rumah sebelum pukul sembilan malam.
“Sepupumu masih ada di rumahku,” ucap Vlad membuka percakapan, setelah sekian lama hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka
“Beri saja Willy sedikit uang untuk ongkos pulang,” sahut Altea. “Lagi pula, Tuan Mykola sangat tidak bertanggung jawab. Dia yang membawa Willy ke Sieseby, tapi dia malah meninggalkannya dengan begitu saja. Padahal, Bibi Steffany selalu mencemaskan Willy jika anak itu terlambat pulang ke rumah.” Altea menguap panjang setelah berkata demikian.
“Semua ibu memang seperti itu,” balas Vlad menanggapi.
“Ya," sahut Altea. “Beruntung sekali mereka yang masih bisa merasakan kehangatan perhatian dari seorang ibu.” Wanita muda itu tertawa getir. “Terkadang, aku berpikir bahwa hidupku tak akan kacau seperti ini andai ibu masih ada."
Vlad yang tengah fokus pada jalanan di hadapannya, sempat menoleh sesaat kepada Altea. Namun, dia tak mengatakan apapun. Pria bermata biru tersebut lebih memilih tak menanggapi ucapan wanita itu.
Namun, konsentrasi Vlad sempat terpecah, ketika ponsel yang dia simpan di dalam saku jaket berdering. Vlad yakin bahwa Mykola yang menghubunginya. Akan tetapi, dia tak ingin menerima panggilan telepon tadi di depan Altea.
“Apakah Anda sudah menjadi orang yang menyebalkan seperti ini sejak dulu, Tuan?” tanya Altea lagi. Pertanyaan yang meluncur begitu saja dan terdengar sangat bodoh. Altea langsung memalingkan wajah ke luar jendela. Jika bisa, mungkin dirinya akan melompat untuk melarikan diri. “Maafkan aku, Tuan. Lupakan pertanyaan konyol dan tidak sopan tadi,” ucap Altea yang seakan ingin meralat kata-katanya. Dia sudah membayangkan tanggapan keras yang akan diberikan Vlad.
Akan tetapi, apa yang Altea pikirkan ternyata tak terjadi. Vlad masih fokus pada kemudi. Dia tak memedulikan ocehan wanita di sebelahnya. Pria itu bahkan tak menoleh sedikit pun. Dia seakan tidak sedang berada di sana. Entah apa yang yang sedang menguasai pikiran Vlad saat itu.
Hingga mereka tiba di Sieseby, Vlad masih tak bicara sepatah kata pun. Pria itu menghentikan mobil di depan garasi. Dia menunggu Altea yang sedang membukakan pintu bangunan itu. Namun, ternyata tenaga Altea tak cukup kuat untuk menaikkan rolling door yang memang cukup berat. Butuh waktu cukup lama, bagi wanita muda tersebut hingga pintu besi tadi terbuka sepenuhnya.
“Astaga! Apa hanya sampai di situ kekuatanmu, Nona Miller?” ledek Vlad. Dia menyembulkan kepala lewat jendela kaca yang dibuka
“Entah kenapa, tenagaku rasanya tiba-tiba menghilang,” sahut Altea seraya meringis kecil. Wajahnya yang lusuh, terkena lampu sorot kendaraan yang diarahkan ke garasi di mana dia berada.
Vlad berdecak kesal seraya keluar dari mobil. Dia melangkah ke dekat garasi, lalu berdiri di samping Altea. Tanpa banyak bicara, Vlad menaikkan pintu besi tadi hingga terangkat sempurna. Posturnya yang tinggi tegap, sangat membantu dia melakukan hal itu.
“Apa seorang perawat juga harus mengerjakan sesuatu seperti ini?” tanya Altea dengan pandangan yang terarah kepada Vlad. “Mungkin, besok-besok Anda akan memintaku membetulkan atap yang bocor,” celoteh wanita berambut panjang itu lagi.
“Bukannya kau tidak takut ketinggian? Kau bisa melompat dari jendela kamar tanpa ada kendala apapun,” sindir Vlad.
“Seseorang bisa melakukan hal gila dalam kondisi terdesak,” balas Altea seraya berlalu ke dekat kendaraan untuk mengambil ranselnya.
Vlad pun mengikuti. Dia harus segera memasukkan mobil ke garasi. Pria itu ingin segera beristirahat. Tubuhnya sudah sangat lelah, setelah seharian beraktivitas.
Selagi Vlad memasukkan kendaraan ke garasi, Altea berjalan menuju rumah. Dia merasakan perutnya yang begitu penuh oleh makanan. Hal itu membuat Altea mengantuk, sehingga langkahnya pun menjadi sedikit gontai.
Altea berdiri di depan pintu. Dia sudah memegangi gagangnya, dan bermaksud untuk membuka pintu itu. Namun, Vlad yang sudah berada di dekat Altea, segera menyingkirkan tangan wanita muda tersebut. “Ibu selalu mengunci pintu setelah pukul delapan malam,” ujarnya seraya memasukkan kunci ke lubang.
“Oh, iya. Aku lupa,” jawab Altea lesu. Dia tampak menguap panjang. Matanya pun sudah terlihat sayu.
Setelah Vlad membuka pintu lebar-lebar, Altea bergegas masuk. Dia terlihat tak bersemangat. Wanita muda berambut cokelat itu langsung menuju tangga. “Selamat malam, Tuan. Aku akan langsung ke kamar dan tidur,” pamitnya. Dia tak ingin menunggu jawaban dari Vlad. Altea langsung menaiki undakan anak tangga.
Sementara, Vlad memilih duduk di kursi ruang tamu. Dia memeriksa ponselnya. Ada pesan masuk yang berasal dari Mykola.
Vlad bergegas ke kamar. Setelah berada di sana, dia langsung menghubungi asisten kepercayaannya tersebut. “Bagaimana, Mykola?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Aku sudah berada di kasino yang anda maksud, tuan. Jika dilihat dari suasananya, aku rasa tempat ini terbuka untuk semua kalangan,” sahut Mykola yang saat itu sedang berada di tempat perjudian bernama Goldgeld.
“Lalu, hal penting apa yang sudah berhasil kau temukan di sana?” tanya Vlad lagi.
“Sejauh ini tidak ada yang berarti, tuan,” jawab Mykola, sebelum tatapannya terkunci pada sosok pria yang dia lihat beberapa waktu lalu. Mykola yakin bahwa pria itu adalah salah satu dari gerombolan yang telah menghadang Herbert di jalan.
“Kuhubungi lagi nanti, tuan,” tutup Mykola. Dia memasukkan ponsel ke saku blazer. Mykola berjalan mendekat ke arah pria tadi. Dia mendengar percakapan yang menyebutkan sebuah nama, Ludwig Stegen.