
Vlad menghentikan langkahnya. Dia mengurungkan niat yang tadinya hendak kembali ke kamar. Pria tampan tersebut lebih memilih menghampiri kamar Altea. Suara petikan gitar dan alunan lagu nan lembut, telah menarik perhatian si pemilik rambut pirang tersebut.
Tanpa permisi, Vlad membuka pintu kamar Altea lebar-lebar. Dia mendapati gadis itu sedang memainkan gitar. Alat musik yang telah lama tidak dirinya lihat, apalagi mainkan. Vlad dapat mengingat dengan jelas bahwa gitar tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari sang ibu, ketika dirinya berusia empat belas tahun. Vlad yang baru beranjak remaja, memang memiliki ketertarikan dalam bidang seni.
“Dari mana kau dapatkan benda itu?” tanya Vlad ketus.
Altea terperanjat. Dia hampir saja melempar alat musik yang sedang dimainkannya. Beruntung, wanita muda tersebut segera menguasai diri dengan baik. “A-aku menemukannya di gudang, Tuan. Tadi, Nyonya Elke menyuruhku untuk membersihkan loteng dan gudang di basement. Tanpa sengaja aku menemukan ini di rak sudut,” jelasnya ragu
“Siapa yang mengizinkanmu mengambilnya dari sana?” tanya Vlad lagi masih dengan nada bicara yang belum berubah.
“Tidak ada," jawab Altea polos, "kukira, sudah tak terpakai. Aku tadi sempat bertanya pada Nyonya Elke. Dia mengizinkanku untuk membawa gitar ini ke kamar,” jelas wanita muda itu lagi. Dia membalas sorot tajam Vlad dengan tatapan tenang. “Apa kau ingin mengambil benda ini kembali?” Altea berdiri dari duduknya. Dia menyodorkan alat musik itu kepada Vlad.
Akan tetapi, Vlad malah membuang muka seraya berdecak kesal. “Jangan dekatkan barang kotor apapun padaku,” tolaknya sambil berlalu. Dia membiarkan pintu kamar Altea dalam keadaan terbuka lebar.
Altea merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Vlad. Pria itu seperti tengah melakukan pertarungan batin dalam dirinya. Tadi, Vlad berbicara dengan cukup ramah. Namun, kali ini dia kembali lagi pada sikapnya yang biasa Altea lihat.
"Dasar pria aneh. Apa mungkin karena dia sudah terlalu lama tidak berinteraksi dengan manusia?" pikir Altea seraya bergumam pelan. “Ah, sudahlah. Makin dipikirkan, sikapnya malah semakin membuatku tertekan,” gerutu wanita muda berparas cantik itu, sebelum kembali bersenandung dan memainkan gitar yang baru dia dapatkan dari gudang.
Tanpa Altea ketahui, Vlad mendengarkan suara merdu miliknya dari kamar. Petikan senar gitar yang dimainkan Altea ditambah senandung merdu yang mengalun dari bibir wanita muda itu, telah menciptakan sebuah harmoni yang sangat indah . Harus Vlad akui, dia merasa cukup terhibur dengan nyanyian yang dilantunkan wanita yang menjadi perawatnya.
Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Dia kembali mengingat tujuan awal untuk menghubungi Mykola. Vlad kembali meraih telepon genggam yang tergeletak begitu saja di atas kasur. Dia segera memilih nomor sang asisten kepercayaan, yang tengah berada di Kota Hamburg. Tak membutuhkan waktu lama, hingga panggilannya tersambung.
“Halo,” sapa suara bariton Mykola dari seberang sana .
“Mykola. Aku ingin kau secepatnya mencari tahu tentang latar belakang Altea Miller. Kutunggu sekarang juga,” titah Vlad tanpa berbasa-basi terlebih dulu.
“Ada apa lagi, Tuan? Apa dia kembali berbuat ulah sehingga membuat Anda merasa tidak nyaman?” tanya Mykola hati-hati.
“Tidak. Bukan itu. Aku hanya ingin memastikan latar belakang setiap orang yang masuk ke rumahku,” jawab Vlad dengan tegas dan penuh wibawa.
Mykola terdiam untuk sejenak, sebelum menanggapi ucapan sang majikan. “Baiklah, Tuan. Aku akan mencari informasi tentang Nona Altea Miller secepatnya,” sahut Mykola. "Akan kukirimkan nanti setelah semua informasinya lengkap," ucap pria blasteran Rusia-Ukraina tersebut.
"Bagus. Akan kutunggu," balas Vlad, sebelum mengakhiri sambungan telepon tadi. Dia kembali melemparkan ponselnya ke atas kasur. Vlad kemudian terdiam. Pria itu lagi-lagi berpindah posisi. Dia memilih duduk di kursi roda kesayangan, sambil menatap ke luar jendela. Sayup-sayup, suara nyanyian Altea kembali terdengar. Sebuah hiburan sederhana yang membuat Vlad merasa nyaman dalam renungannya.
Namun, di saat Vlad tengah menikmati alunan syahdu tadi, suara Altea tiba-tiba menghilang. Hingga beberapa saat lamanya, Vlad tak mendengar lagi lantunan merdu itu. Rasa penasaran tiba-tiba menyergapnya. Si pemilik mata biru tersebut, memutuskan untuk menggerakkan kursi roda keluar dari kamar. Dia menuju kamar Altea dengan pintu yang masih terbuka.
"Aku tidak akan pernah kembali sebelum ayah membatalkan rencana bodoh itu!" ucap Altea yang berhasil ditangkap oleh pendengaran Vlad. Rupanya, Altea tengah berbicara dengan ayahnya.
"Kenapa aku harus disangkut-pautkan dengan sesuatu yang bukan urusanku?" Altea kembali terdengar melayangkan protes.
"Aku tidak peduli! Aku berhak menjalani hidup sesuai dengan keinginanku! Kumohon. Jangan libatkan atau mencoba untuk mencariku, ayah. Cukup! Aku sudah muak!" Altea terdengar begitu kesal.
Vlad yang merasa penasaran, melajukan kembali kursi rodanya hingga semakin mendekat ke kamar wanita yang menjadi perawatnya tersebut. Dengan sembunyi-sembunyi, dia melihat Altea yang tengah berdiri, lalu mondar-mandir di dekat ranjang. Sesaat kemudian, si pemilik rambut cokelat itu melemparkan ponselnya ke atas kasur.
"Sialan! Kehidupan yang benar-benar menyebalkan!" gerutu Altea. Dia terus mengumpat dengan bahasa-bahasa yang tidak semuanya Vlad pahami.
Vlad terus memperhatikan setiap gerak-gerik wanita muda itu. Tak ada yang terlewat sedikit pun, bahkan ketika Altea kembali duduk di tepian tempat tidur. Dia terlihat gusar. Sesekali, wanita bermata cokelat tadi menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
Entah apa yang membuat Altea berada dalam situasi, yang sepertinya membuat wanita itu teramat resah. Dia bahkan menutupi paras cantiknya menggunakan kedua telapak tangan. Siapa sangka, wanita dengan karakter seperti Altea, dapat menitikkan air mata dan terlihat tak berdaya. Dia menangis. Walaupun hanya terisak pelan, tapi Altea tampak sangat tertekan.
Vlad yang merasa tak nyaman menyaksikan hal itu, segera memutar kursi rodanya kembali ke kamar. Di sana, pria tampan tersebut kembali merenung. "Apa yang terjadi padamu?" Vlad melayangkan tatapannya ke luar jendela, pada riakan air danau yang jernih dengan tarian rerumputan di sepanjang tepiannya.
Lamunan Vlad semakin dalam. Namun, dia harus segera kembali pada kenyataan, ketika suara dering ponsel terdengar meski tak begitu nyaring. Vlad segera meraih telepon genggamnya. Nama Mykola muncul di sana, memberi sebuah harapan akan terjawabnya segala pertanyaan tentang jati diri Altea.
"Tuan," sapa Mykola.
"Bagaimana?" Seperti biasa, Vlad tak berbasa-basi terlebih dulu.
"Tak banyak informasi yang kudapat tentang Nona Miller. Satu yang pasti, dia hidup di jalanan, padahal masih memiliki seorang ayah dan rumah di pusat Kota Hamburg," lapor Mykola.
"Hanya itu?" tanya Vlad memastikan.
"Aku kesulitan mencari tahu tentang Nona Miller. Informasi itu juga kudapat dengan tanpa sengaja, dari seseorang yang mengaku sebagai teman dekatnya,” jawab Mykola.
“Teman dekat? Jadi gadis aneh itu memiliki teman dekat?” Vlad menurunkan intonasi bicaranya, untuk berjaga-jaga agar tidak terdengar oleh Altea yang mungkin saja masuk secara tiba-tiba ke sana.
"Ya, tuan. Seorang pria dengan usia yang sama seperti Nona Miller. Aku bahkan harus mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk mendapatkan informasi sekecil itu," keluh Mykola.