Since I Found You

Since I Found You
Move Quickly



Altea tak berbicara sepatah kata pun selama berada di dalam helikopter. Air mata yang terus menetes dan membasahi pipi, telah cukup mewakili untuk mengungkapkan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Sesekali, Altea melirik pada pergelangan tangan kirinya yang terus digenggam oleh Ludwig. Pria tampan tersebut seakan tak ingin melepaskan cengkeramannya, dari pergelangan wanita muda itu.


Ludwig tak peduli, meskipun Altea berusaha menarik tangannya agar terlepas. Dia malah semakin mengencangkan genggaman, sambil memandang dengan sorot dingin kepada wanita yang telah menemaninya selama kurang lebih satu bulan tersebut. Tatapan Ludwig seakan menjadi isyarat, agar Altea berhenti menolak dirinya.


Altea yang sempat membalas tatapan pria bermata abu-abu itu, akhirnya memilih memalingkan wajah. "Sampai kapan kau akan terus menyiksaku seperti ini?" tanyanya lirih.


"Aku sudah mempersiapkan gaun pengantin yang jauh lebih indah, dari yang telah dipilihkan oleh Vlad Ighnasevich untukmu," ujar Ludwig tanpa memedulikan pertanyaan Altea.


Sontak wanita cantik berambut coklat itu kembali menoleh seraya melotot tajam kepada Ludwig. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada tak percaya. Kali ini suara Altea tak sepelan tadi.


"Kau tak akan pernah menikahi pria cacat itu, karena aku sudah mempersiapkan pesta pernikahan mewah di Berlin. Kau adalah pengantinku, Perle. Kau hanya milikku seorang!" tegas Ludwig. Sesaat kemudian, dia tersenyum puas. "Aku akan memperlihatkan gaun pengantinmu sebentar lagi. Kau pasti setuju jika pilihanku jelas lebih bagus," ujar pria itu penuh percaya diri.


"Darimana kau tahu kalau gaun pilihanmu lebih bagus?" geram Altea.


"Karena aku sudah melihat gaun pilihanmu," sahut Ludwig enteng.


"Bagaimana caranya kau melihat gaun pilihanku? Apa kau mengikuti kami? Astaga! Selain jahat, ternyata kau juga seorang penguntit!" Altea memasang raut jengkel. Amarah mulai menguasai wanita itu.


Bukannya menanggapi kekesalan Altea, Ludwig malah tertawa. Baru kali ini, Altea melihat pemandangan itu. "Sudah kukatakan bahwa kau tak akan lepas dariku. Harus berapa kali kuulangi pernyataan itu?" Ludwig kembali menatap Altea.


Wajah Altea merah padam menahan amarah. Pria di sampingnya itu sungguh tak dapat dimengerti. Entah apa yang Ludwig inginkan darinya. Altea merasa bahwa pria rupawan itu hanya bermaksud mempermainkan dirinya. “Aku tak sudi menikah denganmu! Lebih baik aku mati!” desisnya lirih, tapi cukup jelas terdengar oleh Ludwig.


Pria tampan dengan ekspresi dingin itu tak berniat menanggapi. Dia memilih diam, sampai helikopter mendarat di landasan khusus bandara internasional St. Petersburg.


“Bersiaplah. Pesawat pribadiku sudah menunggu di hanggar,” ujar Ludwig kalem, tanpa melepas genggaman tangannya dari Altea.


Altea mengeluh pelan. Dia sadar bahwa tiada guna mencoba melarikan diri dari Ludwig. Terlebih, saat pria itu melepas headphone aviator dan sabuk pengaman yang melintang di dadanya. Altea membiarkan semua yang Ludwig inginkan, termasuk saat menuntunnya turun dari helikopter.


Setelah melihat pesawat pribadi milik Ludwig, Altea tak bisa lagi bersikap tenang. Tiba-tiba saja langkahnya terasa begitu berat. Wanita muda tersebut mematung, sehingga Ludwig harus sedikit menariknya dengan paksa agar kembali berjalan.


"Jangan membuang waktuku, Perle," bisik Ludwig penuh penekanan.


"Aku tidak mau!" tolak Altea. Dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ludwig. "Tidak! Kumohon jangan!" pinta Altea. Wanita itu berusaha melepaskan genggaman tangan Ludwig yang terasa semakin kencang. Altea terlihat sangat panik, saat mereka telah tiba di dekat tangga pesawat.


Pada saat yang sama, Vlad juga dilanda kepanikan yang luar biasa. Dia menemukan Elke yang terisak di antara lorong taman labirin. Namun, wanita paruh baya itu hanya sendirian. "Di mana Altea?" tanya Vlad. Keresahan terlihat jelas dari sorot matanya.


“Pria itu membawa putriku pergi, Vlad. Kau harus menemukannya. Jemput putriku kembali!” racau Elke seraya mencengkeram lengan kemeja putranya.


“Ke mana dia membawa Altea pergi?” tanya Vlad.


“Ke arah belakang taman,” tunjuk Elke.


Tanpa membuang waktu, Vlad segera berlari ke arah yang disebutkan sang ibu. Di bagian belakang taman, dia menemukan lubang pada dinding labirin. Vlad langsung memasukinya. Pria itu menemukan pagar besi yang mengelilingi mansion dan selalu dialiri listrik bertegangan tinggi juga telah berlubang.


“Brengsek!” gerutu Vlad. “Dia berhasil mematikan aliran listrik dan melumpuhkan CCTV. Ludwig telah mengacaukan semuanya!” Pria itu berteriak nyaring untuk meluapkan emosi. Namun, sesaat kemudian Vlad terdiam sejenak. Dia harus tetap tenang supaya dapat berpikir dengan baik.


“Mateja!” gumam Vlad. Iris mata birunya berkilat penuh amarah. Dia merogoh telepon genggam yang tersimpan di saku celana. Tak membutuhkan waktu lama hingga Mateja menjawab panggilan itu.


Mateja, mantan anak buah Roderyk Lenkov yang pernah mendapat predikat mata-mata terbaik, mengangkat telepon dari Vlad dengan hangat. “Apa kabar, tuan? Semoga kau selalu bahagia,” sapanya ramah.


“Katakan apa yang harus kulakukan, tuan. Aku akan melakukan apapun perintah anda," ujar Mateja.


“Cari tahu siapa saja yang berada di belakang Ludwig Stegen, sehingga dia sangat sulit disentuh. Siapa saja yang melindungi si brengsek itu, sampai-sampai dirinya bisa bergerak bebas melakukan kejahatan!” titah Vlad.


“Baik, Tuan. Aku akan langsung bergerak,” sahut Mateja.


“Dapatkan semua informasi dalam waktu sesingkat mungkin. Aku akan berangkat ke Jerman sekarang juga,” putus Vlad sebelum mengakhiri panggilan. Dia kembali ke lorong masuk labirin. Vlad sempat melihat Ilsa yang membawa masuk Elke ke bangunan utama. Pria itu terpaku di tempatnya, sampai Mykola datang menghampiri.


“Para penyusup itu sudah melarikan diri, Tuan,” lapor Mykola. “Mereka menyamar sebagai petugas katering yang kita sewa untuk acara pesta,” imbuhnya.


“Bagaimana bisa kita kecolongan?” Vlad mengembuskan napas pelan. Dia sudah dapat menguasai diri dan bersikap lebih tenang dibanding beberapa saat yang lalu.


“Mereka bermain sangat rapi, dengan memanfaatkan kesibukan kita dalam mempersiapkan resepsi pernikahan Anda."


“Aku akan terbang ke Jerman sekarang. Siapkan pengamanan berlapis untuk menjaga keselamatan ibuku. Kau tetaplah di sini sampai Karl Volkov dan anak buahnya datang. Aku akan menghubungimu lagi nanti.” Vlad tak menunggu jawaban Mykola. Pengusaha muda itu bergegas meninggalkan taman dan bersiap menuju bandara.


Hanya berbekal baju yang melekat di badan dan ransel berisi laptop, Vlad terbang ke Berlin. Dua jam kemudian, dirinya tiba di Bandara Otto Lilienthal. Dia beristirahat sejenak di lobi terminal kedatangan, sambil menunggu Mateja menghubunginya.


Beberapa saat berlalu, Mateja akhirnya menghubungi Vlad setelah menunggu kurang lebih satu jam. “Aku mendapatkan banyak informasi, Tuan," lapor Mateja.


“Kirimkan semua via email,” suruh Vlad sambil mengeluarkan laptop dari tas ranselnya.


“Baik, Tuan," balas Mateja sebelum menutup teleponnya.


Beberapa saat kemudian, laptop Vlad berbunyi. Sebuah ikon berbentuk amplop surat muncul di bagian atas layar. Vlad membuka email dari Mateja dengan tak sabar. Dia mendekatkan wajah pada layar saat membaca deretan informasi penting yang berhasil dikumpulkan oleh Mateja.


“Hm." Vlad menyeringai puas. Telunjuknya menyentuh layar laptop, tepat pada tulisan nama seorang oknum Letnan Jendral angkatan darat Jerman, yang akan memasuki masa pensiun bulan depan. “Inre Harald,” sebutnya.


Senyuman Vlad semakin lebar saat Mateja juga menyertakan alamat lengkap petinggi militer itu.


Vlad melangkah penuh percaya diri meninggalkan area bandara, lalu berhenti di samping sebuah mobil SUV hitam yang telah siap menjemput. Dua orang pria turun dari mobil, sambil membungkuk penuh hormat pada Vlad. Mereka adalah anak buah Vlad yang sudah bersiap menunggu di Berlin.


“Lajukan dengan kecepatan tinggi,” titah Vlad pada salah seorang anak buahnya yang bertugas sebagai sopir, setelah menyebutkan alamat oknum jenderal tadi.


Anak buah Vlad mengangguk, seraya mengarahkan kendaraan ke kawasan Zona C. Sebagaimana diketahui bahwa Berlin dibagi ke dalam tiga zona, yaitu Zona A yang terletak di jantung kota dan merupakan pusat perekonomian, Zona B yang menjadi area padat penduduk, serta Zona C yang menjadi kawasan paling elit di antara semuanya.


Setengah jam berlalu, mobil Vlad berhenti di depan sebuah rumah mewah tiga tingkat dengan nomor 314 yang tertempel di samping gerbang mewah. Vlad turun dari kendaraan. Dia mendekat pada pos kecil yang terletak di sisi gerbang.


Seorang pria berpakaian militer, keluar dari pos tersebut sambil menenteng senjata.


“Apakah ada yang bisa kubantu, Tuan?” tanya pria itu.


“Ya. Aku ingin bertemu dengan Jenderal Inre Harald,” jawab Vlad.


“Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya pria itu lagi.


“Katakan saja pada Jenderal Harald, bahwa Ludwig Stegen membutuhkan bantuan,” sahut Vlad seraya tersenyum sinis.