
Mykola berpindah tempat duduk. Dia menarik salah satu kursi yang ada di meja berbentuk bulat, dan berada di sudut ruangan. Meja tadi bersebelahan dengan sofa melingkar, yang menjadi tempat berbincang-bincang pria kurus berkepala botak. Pria yang dulu ikut menghadang Herbert. Dia sedang berbicara serius dengan beberapa rekannya.
Posisi Mykola saat itu cukup aman, karena dia terhalang oleh sekat kayu setinggi dada orang dewasa. Dari sana, Mykola dapat menguping seluruh percakapan dengan leluasa.
“Hanya gara-gara pria tua pemabuk itu, Tuan Dietmar Kreuk harus terancam kedudukan dan keselamatannya,” ujar pria kurus tadi.
“Memangnya, berapa utang Si Tua Herbert?” sahut salah seorang rekan.
"Herbert tak hanya berjudi. Dia juga menipu bandar hingga merugikan sekian ratus ribu Euro. Apa yang dia lakukan telah menyebabkan Tuan Dietmar kesulitan membayar setoran pada Tuan Ludwig Stegen,” terang si pria kurus.
“Jadi, Tuan Dietmar bukanlah pemilik asli dari kasino ini?” tanya rekan lainnya.
“Tidak. Dia hanya diberi tanggung jawab untuk mengelola tempat ini. Tuan Dietmar dipercaya untuk memegang wilayah Hamburg. Tiap bulan, dia harus memberi laporan serta setoran dengan jumlah yang telah ditentukan pada Tuan Ludwig Stegen. Namun, sekarang semuanya kacau gara-gara Si Tua Herbert. Jika diizinkan, aku pasti sudah membunuh pria tua itu dari dulu,” geram si pria kurus.
“Kenapa tidak kau lakukan saja? Bunuh saja dia dengan diam-diam," saran rekan pria kurus tadi memanas-manasi.
“Dasar bodoh!" sergah si pria kurus. "Jika Herbert sampai mati, lalu siapa yang akan membayar utang-utangnya? Setidaknya, kalau dia hidup, kami bisa menyiksa dan menjadikan pria itu sebagai budak. Apalagi, Tuan Dietmar sangat tertarik dengan putri Herbert yang cantik itu.” Pria itu terkekeh sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Dari yang kudengar, putri Si Tua Herbert masih perawan. Kalian bisa bayangkan, berapa banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan, dari lelang keperawanan dalam perdagangan wanita,” imbuh si pria.
“Kemarin aku berhasil melelang gadis berusia delapan belas tahun yang masih perawan, dengan harga satu juta Euro. Seorang saudagar dari Amerika yang berhasil mendapatkannya,” timpal suara lain, membuat Mykola semakin tak tahan dengan percakapan tersebut.
Perdagangan wanita dan prostitusi seolah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Hal itu membuat Mykola sangat muak. Dia segera beranjak dari sana. Mykola memutuskan untuk keluar dari kasino tadi. Pria berambut gelap tersebut sempat melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan kiri. Jarum jamnya sudah menunjukkan tepat pukul dua belas malam.
Ragu, Mykola hendak menghubungi sang majikan, meskipun pada akhirnya dia tetap menelepon Vlad. Hingga beberapa kali nada sambung, barulah pria asal Rusia itu menerima panggilan darinya.
“Bagaimana, Mykola?” tanya Vlad dengan suara beratnya yang khas.
“Tuan, apakah aku mengganggu?” Mykola balik bertanya.
“Tidak. Aku belum tidur. Aku masih memeriksa stock saham perusahaan,” jawab Vlad kalem.
“Ah, syukurlah. Aku hendak menyampaikan informasi penting pada anda,” ucap Mykola.
“Baiklah. Aku mendengarkan,” sahut Vlad singkat. Satu tangannya memegang ponsel, sedang tangan lainnya tengah asyik menekan tombol-tombol huruf pada keyboard laptop.
“Nona Altea Miller dijadikan jaminan utang oleh ayahnya. Herbert Miller telah melakukan penipuan pada Dietmar Kreuk yang merupakan anak buah Ludwig Stegen. Dia ditunjuk untuk mengelola Goldgeld. Kasino tempat Herbert berjudi,” terang Mykola.
“Ludwig Stegen?” gumam Vlad. “Aku seperti pernah mendengar nama itu.”
“Memang, Tuan. Orang-orang awam mengenalnya sebagai pemilik perusahaan investasi terbesar di Berlin. Namun, sepertinya dia mempunyai bisnis lain dari usaha di bidang keuangan. Mungkin, bisnis resminya hanya dijadikan kedok untuk menutupi usaha ilegal yang dia miliki. Ah, ini hanya sekadar asumsiku, Tuan,” jelas Mykola seraya tertawa pelan.
“Hm, tapi masuk akal juga,” sahut Vlad seraya manggut-manggut. “Jadi, itu sebabnya Herbert sangat berambisi memabwa pulang putrinya.”
“Ya, dia hendak menjual Nona Miller pada Dietmar. Sesuai yang kudengar tadi, mereka akan melelang keperawanan Nona Altea dengan harga tinggi,” tutur Mykola.
“Ah, jadi begitu.” Tersungging senyuman samar di bibir tipis Vlad.
“Untuk sementara, kita tunggu saja perkembangan ke depannya,” jawab Vlad setelah beberapa saat terdiam.
“Lalu, bagaimana dengan Nona Altea Miller?” tanya Mykola lagi.
“Biarlah dia tinggal di sini. Setidaknya, dia akan jauh lebih aman dalam pengawasanku. Lagi pula, aku sudah terbiasa melihat tingkahnya yang menyebalkan. Dia bisa jadi hiburan yang cukup menyenangkan,” ujar Vlad seraya mengakhiri panggilan begitu saja. Dia tak menunggu tanggapan dari sang asisten.
Namun, Mykola sama sekali tak merasa aneh atau tersinggung dengan sikap Vlad yang demikian. Pria dengan iris mata gelap itu sudah paham betul, dengan karakter sang majikan. Setelah menyimpan kembali ponselnya ke dalam laci dashboard, Mykola melajukan kendaraan untuk pulang ke apartemen mewah yang dia sewa sementara waktu. Gedung apartemen itu berada di pusat Kota Hamburg.
Sementara, Vlad juga sudah menutup laptonya. Dia merebahkan diri di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar, hingga akhirnya terlelap.
Tanpa terasa, waktu merangkak menuju pagi. Vlad terbangun, ketika mendengar ketukan yang cukup kencang di pintu kamar. Pria tampan berambut gondrong itu memicingkan mata seraya berseru, “Apakah itu kau, Nona Miller?” tanyanya.
“Ya, Tuan. Ini aku! I-ibu Anda, Tuan ….” Suara Altea terputus.
“Kenapa dengan ibuku?” Penuh rasa was-was, Vlad bangkit dari ranjang. Tanpa sempat memakai T-Shirt-nya, dia meraih tongkat lalu membuka pintu lebar-lebar. “Kau tidak sedang mengerjaiku, ‘kan?” tukasnya dengan sorot tajam terhadap Altea.
“Tidak, Tuan! Nyonya Elke tiba-tiba ambruk saat hendak menyiapkan sarapan. Aku dan Willy hanya kuat membaringkannya sampai di sofa ruang tengah,” jelas Altea dengan raut panik.
“Astaga!” Sambil tetap bertelanjang dada dan hanya memakai celana tidur, Vlad menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah dengan terburu-buru. Di sana, dia melihat Willy yang ketakutan sambil berdiri kebingungan di dekat sofa.
“Hati-hati, Tuan!" seru Altea saat melihat gerakan Vlad yang menurutnya terlalu cepat. Akan tetapi, pria angkuh itu ternyata jauh lebih kuat dan gesit dari yang dia bayangkan.
“Bu!” Vlad merengkuh tubuh lemah Elke. Mata wanita itu terpejam, sedangkan bibirnya tampak bergerak lemah. “Cepat telepon ambulans!” titahnya.
“Ba-baik!” Tak ingin membuang waktu, Altea mengeluarkan ponsel yang selalu dia simpan di saku celana.
“Apa yang terjadi sebenarnya, Willy?” Mata biru Vlad nyalang menatap sepupu Altea tersebut.
“Aku tidak tahu, Tuan. Tadi, aku dan Altea membantu Nyonya Elke di dapur. Kemudian tiba-tiba saja dia memegangi kepala, lalu ambruk,” jawab Willy gugup.
“Vlad, aku tidak apa-apa,” ucap Elke begitu lemah. Tangan wanita itu terulur perlahan, berusaha menyentuh pipi putra satu-satunya.
“Bagaimana kau bisa mengatakan tidak apa-apa? Lihatlah, wajahmu begitu pucat, dan tanganmu ... kenapa tanganmu dingin sekali, Bu?” Saat itu juga Vlad dilanda penyesalan luar biasa. Dia terlalu larut dalam kesedihan dan ratapan tak berujung atas kehilangan. Vlad telah melupakan sosok sang ibu yang tak pernah sedetik pun meninggalkan dirinya.
Elke menjadi satu-satunya orang yang merawat Vlad penuh kesabaran, di kala pria itu terpuruk. Baik secara fisik maupun mental.
“Maafkan aku, Bu,” sesal Vlad. Dia terus memeluk tubuh Elke. Pria itu baru mengurai pelukannya, ketika Altea datang mendekat bersama dua orang petugas medis yang telah tiba.
“Izinkan kami memeriksa ibu Anda, Tuan,” pinta salah seorang petugas.
Vlad beranjak dan memberi ruang bagi petugas medis yang hendak memeriksa kondisi vital Elke. “Bagaimana keadaannya?” tanya Vlad tak sabar.
“Kami harus segera membawa ibu Anda ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Detak jantung ibu Anda terlalu lemah untuk ukuran normal,” jelas si petugas. Membuat kekuatan dan rasa percaya diri Vlad, yang baru terbangun kembali seketika lenyap tak tersisa.