Since I Found You

Since I Found You
Quiet



“Beristirahatlah, Bu. Kau sangat membutuhkan hal itu agar pikiranmu jauh lebih tenang,” ujar Vlad seraya berlalu dari dalam kamar. Pria tampan berambut pirang tersebut masih sangat sensitif, jika sudah membahas masalah seperti itu. Vlad berjalan menyusuri koridor rumah sakit seorang diri. Dia ingin keluar sebentar untuk sekadar mencari angin.


Altea yang masih berada di dalam kamar bersama Elke dan Mykola, merasa heran dengan sikap aneh Vlad. Karakter pria itu seperti tidak stabil. Terkadang, Vlad biasa saja. Namun, tak jarang akan sangat marah karena hal sepele, lalu kembali ke sikapnya yang tenang.


“Aku akan menyusulnya, Nyonya,” ucap Altea. Tanpa menunggu persetujuan dari Elke, dia langsung berjalan cepat ke pintu keluar dan menghilang di baliknya. Altea terlihat resah saat menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Jam besuk sudah hampir habis, karena itu tak banyak lagi yang datang ke sana. Altea hanya berpapasan dengan para petugas medis yang sedang melakukan tugas mereka.


Wanita muda berambut cokelat tersebut menghentikan langkahnya, ketika sudah tiba di ujung koridor yang bercabang. Ada beberapa arah menuju ke bagian lain rumah sakit itu. Altea tak tahu ke mana Vlad pergi. Satu tempat yang terlintas dalam benaknya hanyalah kantin. Bisa saja Vlad ke sana untuk menikmati secangkir kopi. Kopi di jam seperti itu? Altea mengernyitkan kening. Akan tetapi, dia mengabaikan keraguannya tadi.


Altea melanjutkan langkah menuju kantin. Dia berjalan dengan semakin cepat, hingga tiba di tempat yang dituju. Di sana, dia melihat Vlad duduk sendiri. Tak ada apapun di atas meja tempatnya berada. Vlad hanya termenung.


Wanita muda itu tersenyum simpul. Dia merasa tenang karena telah menemukan sang majikan. Altea berjalan mendekat. Namun, tanpa diketahui ada sepasang mata yang menangkap kehadirannya di sana. Seorang pria yang sedang duduk sambil menikmati kudapan. Pria tadi terus memperhatikan langkah Altea, yang lebih tenang jika dibanding sebelum dapat menemukan Vlad.


“Tuan,” sapa Altea pelan.


Vlad yang sedang termenung, seketika menoleh. Dia menatap tajam Altea, sebelum memalingkan wajah. Pria asal Rusia tersebut tak mengatakan apapun. Dia tidak peduli, meskipun Altea sudah duduk di hadapannya.


“Jangan khawatir, Tuan. Aku tidak menganggap serius ucapan Nyonya Elke. Anda tak perlu merasa terganggu karenanya,” ucap Altea hati-hati.


“Jangan sok tahu,” balas Vlad ketus.


Altea terdiam sejenak. Merangkai kata untuk dia utarakan kepada pria bermata biru di hadapannya tersebut, ternyata jauh lebih sulit jika dibanding dengan melarikan diri dari Herbert. Salah ucap sedikit saja, maka omelan pedas yang akan dirinya terima. Terkadang, Altea merasa bahwa dunia sangat tidak bersahabat dengannya.


“Saat memasukkan barang-barang milik Anda kemarin, aku menemukan selembar foto wanita cantik di dalam saku tas. Miabella Conchetta de Luca. Nama yang sangat indah. Akan tetapi, menurutku itu bukan nama orang ….”


“Dia berasal dari Italia,” sela Vlad dingin.


“Italia? Aku selalu ingin ke sana,” ucap Altea dengan mata berbinar.


“Aku tidak peduli,” ujar Vlad menanggapi dengan seenaknya.


“Ya, aku tahu. Anda tak akan peduli dengan apa atau siapa pun. Terlebih padaku,” ucap Altea pelan. “Terkadang, aku berpikir mengapa kembali ke rumah Anda. Aku juga tak tahu kenapa Anda mencariku saat aku melarikan diri.” Altea mengembuskan napas pelan.


“Aku tak harus menjelaskan apapun padamu,” ujar Vlad masih dengan nada bicaranya yang ketus dan dingin.


Altea tak segera menanggapi. Dia selalu kebingungan saat harus berbicara kepada berambut pirang itu. Ini menjadi sesuatu yang memberikannya sebuah tantangan, sekaligus hal paling menyebalkan.


“Sebaiknya tinggalkan aku sendiri. Aku sedang malas bicara dengan siapa pun,” ujar Vlad lagi.


“Kalau begitu, kenapa Anda datang ke kantin? Seharusnya, Anda masuk ke kamar jenazah,” celetuk Altea yang segera menutupi mulut menggunakan kedua tangan. Altea, merutuki dirinya yang selalu salah bicara di hadapan Vlad. Namun, nyatanya dia tak juga beranjak dari kursi yang ada di hadapan pria tersebut. Altea tetap duduk, meski perasaan serta bahasa tubuhnya terlihat kian tak nyaman.


Vlad tak ingin menanggapi ucapan wanita muda itu. Walaupun sorot matanya begitu tajam dia layangkan kepada Altea, tetapi Vlad tak lagi bersuara. Alhasil, keheningan menggelayuti mereka berdua. Sejak awal, Vlad memang sudah mengatakan bahwa dirinya sedang tak ingin bicara dengan siapa pun. Dia benar-benar membuktikan ucapannya.


“Syukurlah kau sudah kembali. Aku harus segera pulang. Lagi pula, jam besuk sudah habis,” ucap Mykola saat melihat kehadiran Altea di sana.


“Iya, Tuan. Jangan khawatir. Aku akan menjaga Nyonya Elke di sini selagi Tuan Ignashevich melamun di kantin,” sahut Altea polos.


“Apa?” Mykola hendak tersenyum geli, tapi segera dia urungkan. Mykola langsung berpamitan kepada Elke. Pria tampan berambut gelap tersebut melangkah keluar. Tujuannya adalah kantin rumah sakit. Mykola hendak berpamitan kepada sang majikan. “Tuan,” sapanya pelan. “Aku akan pulang sekarang. Besok aku kembali lagi,” ucap pria tampan tersebut.


“Lusa, ibuku akan dibawa pulang ke Sieseby. Siapkan seseorang untuk membereskan kamar dan rumah. Ibuku tidak menyukai debu sedikit pun,” titah Vlad.


“Baik, Tuan. Akan kucarikan asisten rumah tangga dari yayasan,” sahut Mykola.


“Jangan membawa wanita jalanan lagi,” ujar Vlad dingin.


Mykola terdiam sejenak. Dia mengembuskan napas dalam-dalam. Jika bukan karena dirinya telah mengenal karakter Vlad, maka Mykola sudah pasti tak akan sanggup berlama-lama bekerja padanya. “Jangan khawatir, Tuan. Aku tak akan melakukan kesalahan lagi,” ucapnya. “Apa ada yang lain?”


“Tidak,” sahut Vlad tanpa menoleh.


“Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu. Selamat malam, Tuan.” Mykola mengangguk sopan, kemudian berlalu dari sana.


Sementara, Vlad masih duduk termenung. Dia tak mengetahui bahwa dirinya tengah menjadi pusat perhatian seorang pria yang sejak tadi mengawasinya. Pria itu mengambil foto Vlad secara diam-diam, lalu mengirimkan pada seseorang.


Orang yang dikirimi pesan pendek disertai foto Vlad, ternyata pria kurus yang berasal Kasino Goldgeld. Pria itu menyeringai kecil. “Cari Herbert. Bawa si tua itu kemari,” suruhnya pada beberapa anak buah yang langsung mengangguk tanpa membantah. Ketiga pria yang mendapat perintah tadi, bergegas keluar dari kasino. Mereka menaiki kendaraan hingga tiba di depan bangunan tempat tinggal Herbert. Kebetulan, ayahanda Altea tersebut sedang berada di rumahnya.


“Folke memintamu untuk datang ke kasino sekarang juga,” ujar salah seorang dari ketiga pria suruhan tadi.


“Untuk apa? Aku berjanji akan segera menemukan putriku. Beri aku waktu beberapa hari lagi,” pinta Herbert.


“Sudahlah, Pak Tua. Jangan banyak membantah. Ikutlah dengan kami secara baik-baik,” ujar pria itu lagi.


Tak ingin menimbulkan keributan di sekitar tempat tinggalnya, Herbert pun memilih ikut dengan sukarela. Dia harus mempersiapkan diri, seandainya akan kembali mendapat banyak pukulan di tubuhnya.


Namun, apa yang Herbert pikirkan ternyata tidak terjadi. Pria bernama Folke tadi, memperlihatkan foto Altea bersama Vlad kepadanya. Seketika, Herbert terbelalak. “Kurang ajar!” geram pria paruh baya tersebut. “Jadi, selama ini dia yang sudah menyembunyikan putriku!” Herbert mengepalkan kedua tangan yang dia letakkan di sisi tubuhnya.


“Kau mengenal pria itu?” tanya Folke.


“Aku tidak mengenalnya, tapi aku tahu siapa dia,” jawab Herbert. Secercah harapan muncul dan memberikan nyawa baru bagi pria berpostur tinggi besar tersebut. “Dari mana kau mendapat foto-foto ini?” tanyanya.


“Bardolf menemani ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit pusat Kota Hamburg,” jelas Folke.


“Itu artinya, putriku juga sedang berada di sana,” pikir Herbert. “Dia ada di Hamburg,” tegasnya antusias.