Since I Found You

Since I Found You
Shower Puff



“Anda terlalu berlebihan, Tuan,” ucap Altea setelah Vlad duduk di belakang kemudi.


“Apanya yang berlebihan?” tanya Vlad setelah menyalakan mesin mobil.


“Semua yang Anda lakukan. Termasuk gaun pengantin tadi,” jawab Altea.


Vlad mengembuskan napas pelan sambil menginjak pedal gas. Dia melajukan mobilnya meninggalkan butik tadi. Vlad terlihat sangat serius saat mengemudikan kendaraan, membelah lalu lintas Kota St. Petersburg.


Sementara, Altea pun ikut diam. Dia terhanyut dalam pikirannya. Sesekali, wanita cantik yang kini sudah berpenampilan feminin itu melihat ke luar jendela, pada suasana jalanan kota. Ini adalah pertama kalinya Altea ke Rusia. Dia tak pernah membayangkan sebelumnya, akan keluar dari Jerman.


Tanpa terasa, kantuk datang menyerang. Altea perlahan memejamkan mata, hingga akhirnya tertidur. Dia tak juga bangun, bahkan saat kendaraan Vlad telah memasuki halaman mansion. Pria itu menoleh, lalu tersenyum. Dia tak membangunkan Altea yang terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya. Vlad hanya memandangi paras cantik si pemilik rambut cokelat tersebut.


Vlad tak pernah membayangkan bahwa Altea dirusak oleh pria seperti Ludwig. Jika saja Vlad belum memutuskan untuk keluar dari dunia hitam, maka dia pasti akan memburu pria itu dan langsung menghabisinya. Namun, Vlad tak ingin lagi mengotori tangan dengan darah. Baginya, selama Altea telah kembali, maka dia menganggap semua urusan telah selesai.


Vlad melepas sabuk pengaman, lalu turun dari kendaraan. Dia berjalan memutarinya, kemudian membuka pintu penumpang. Sungguh luar biasa. Altea hanya menggeliat pelan saat Vlad melepas sabuk pengaman,


“Tuan,” ucap Altea parau. Setengah sadar, dia merasakan tubuhnya terangkat. “Apa yang Anda lakukan? Turunkan aku,” pinta wanita muda itu manja.


“Lanjutkan saja tidurmu,” jawab Vlad sambil terus membopong Altea memasuki mansionnya.


“Astaga.” Altea tertawa renyah. Dia melingkarkan tangan di leher Vlad, sambil meletakkan kepala di pundak pria tampan itu. “Anda manis sekali, Tuan,” ucap Altea setengah merayu.


“Kau baru tahu rupanya,” balas Vlad diiringi senyum kalem.


Altea kembali tertawa manja, ketika Vlad terus membopongnya hingga ke dalam kamar. Pria itu merebahkan tubuh ramping calon istrinya di kasur. “Kau lihat? Aku masih sanggup menggendongmu hingga ke tempat tidur,” ucap Vlad setengah berbisik. Wajahnya berada di atas wajah Altea, dengan jarak hanya beberapa senti.


Altea tersenyum lembut. Tanganya bergerak menangkup paras tampan Vlad, lalu berpindah ke tengkuk. Jemari lentik dengan kuku yang kini lebih terawat itu, mere•mas lembut rambut pirang sang pemilik mansion.


Vlad adalah pria yang sangat normal. Naluri kelelakiannya langsung hadir, seiring ciuman mesra yang mereka lakukan. Dia bergerak naik ke tubuh Altea, hingga keduanya merapat jadi satu. Sementara, tangan kanan Vlad mulai nakal, menyibakkan bagian bawah dress yang Altea kenakan. Lembut, dia membelai paha mulus wanita yang dalam beberapa hari lagi akan menjadi istrinya.


“Aku ingin lebih,” ucap Vlad di sela deru napas beratnya.


“Apa yang Anda inginkan, Tuan?” tanya Altea seraya mengusap lembut permukaan bibir Vlad dengan ibu jari.


“Kau,” jawab Vlad tepat di dekat telinga Altea.


Vlad tak melewatkan hidangan segar di hadapannya. Dia tak peduli walaupun siang itu cuaca terasa cukup panas. Rasa gerah melanda, membuat Vlad segera melepas kemeja yang dikenakan. Dia hanya menyisakan celana panjang. Namun, sama sekali tak menghalanginya untuk kembali mengulang malam beberapa waktu silam, sebelum Altea jadi berubah seperti saat ini.


Desah napas berbaur mengisi kamar mewah Vlad. Pria itu tak kenal lelah membuktikan dirinya masih bisa disebut sebagai pria sejati, meski hanya memiliki satu kaki. Dia dapat memuaskan Altea, bahkan membuat wanita muda itu kewalahan menghadapinya.


“Tuan ….” Altea mengejang bersamaan dengan pelepasan yang Vlad lakukan. Keduanya saling berpelukan dengan napas terengah.


Beberapa saat kemudian, Vlad mengempeskan tubuhnya ke sebelah Altea. Dia berbaring dengan posisi menghadap langit-langit kamar berplafon indah, sebelum menoleh kepada Altea yang ternyata tengah memandang ke arahnya. Vlad pun mengubah posisi jadi menyamping. “Tidurlah,” ucapnya seraya membelai lembut pipi Altea.


“Anda tidak akan memborgol tanganku lagi, kan?” tanya Altea polos. Seberapa berat hidup yang dijalani wanita muda itu, Altea nyatanya masih berusia dua puluh tiga tahun.


“Sebentar lagi, bukan hanya borgol yang akan kuikatkan padamu,” jawab Vlad diiringi senyuman kalem. Tak lama kemudian, pria itu tertidur karena kelelahan.


Altea bukannya tak merasa lelah. Namun, dia tak dapat memejamkan mata. Pikiran wanita cantik tersebut tiba-tiba melayang pada apa yang biasa dilakukan Ludwig terhadap dirinya.


Entah sudah berapa puluh kali pria itu menyentuh serta menikmati tubuhnya, hanya dalam waktu kurang lebih satu bulan. Perasaan tak nyaman itu kembali hadir. Altea bergegas turun dari tempat tidur. Dia berlari ke kamar mandi, lalu menyalakan kran.


Deraian air mengalir deras dari shower di atas kepala Altea. Membasahi seluruh tubuh dan rambut panjangnya. Altea berdiri dengan tangisan tertahan. Air matanya pun langsung terbilas sempurna.


Perlahan, Altea mengangkat wajahnya. Tatapan wanita itu tertuju pada botol sabun mandi dalam rak khusus. Altea segera mengambilnya, lalu menuangkan sabun cair tadi ke shower puff. Dia menggosokkan shower puff yang sudah berbusa ke seluruh tubuh.


Setelah itu, Altea membilas badan hingga bersih. Namun, dia mengulangi hal tadi. Altea kembali menggosok tubuh dengan shower puff, lalu membilasnya. Adegan demikian dirinya lakukan berkali-kali. Dia baru menyadari bahwa sabun dalam botol telah kosong beberapa saat kemudian. Merasa kesal, Altea melempar botol kosong itu sembarangan, dan terjatuh tepat di dekat kaki Vlad yang ternyata ada di sana.


“Kau kenapa?” tanya Vlad. Suara beratnya berhasil mengejutkan Altea. Wanita muda tersebut segera menoleh. “Apa yang kau lakukan?” tanya Vlad lagi sambil berjalan mendekat. Dia berhenti tepat di hadapan Altea yang hanya menunduk dan tak menjawab.


Deraian air yang jatuh dari shower, membasahi tubuh atletis Vlad. Namun, pria itu tak peduli meski celana panjangnya ikut basah. "Harus kuapakan pria itu? Jika kau yang meminta, aku tak akan segan meski harus membawakan jantung dan semua organ dalamnya ke hadapanmu," ucap Vlad penuh penekanan.


"Tidak," tolak Altea seraya menggeleng kencang.


"Jika semua yang kukatakan tak membuatmu yakin bahwa diriku sudah benar-benar menerima keadaanmu, maka terpaksa akan kuhabisi Ludwig Stegen dengan tanganku."