
Nama Ludwig Stegen seakan menjadi mantra ajaib yang sangat membantu Vlad. Penjaga berseragam tentara itu langsung membukakan gerbang lebar-lebar, lalu mengawal Vlad hingga tiba di depan ruang kerja sang jenderal yang tadi disebutkan namanya.
Pengawal tadi mengetuk pelan, lalu membuka dua daun pintu dengan lebar. Di dalam sana, tampaklah seorang pria tua yang tengah duduk santai, sambil mengisap cerutu di belakang meja kerja. Pria yang mengenakan kaus polo berwarna putih tadi, masih tampak gagah di usia yang tak lagi muda
“Ludwig Stegen, Tuan,” lapor pengawal tersebut, seraya mempersilakan Vlad masuk.
Inre Harald, merupakan jenderal berbintang dua yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun. Dia menatap Vlad sambil mengernyitkan kening. “Apakah maksudmu … dia adalah utusan Ludwig Stegen?” tanyanya.
“Anggap saja begitu, Tuan," ucap Vlad. Dia menjawab pertanyaan yang ditujukan pada si pengawal. Vlad tersenyum sinis, saat melihat raut wajah Inre berubah tegang.
“Keluarlah, Breuer,” titah Inre pada anak buahnya. Wibawa yang dimiliki sang jenderal terlihat jelas, membuat si pengawal langsung mengangguk. Dia berbalik meninggalkan ruang kerja tanpa banyak bicara.
“Siapa kau?” tanya Inre, saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
“Aku adalah seseorang yang mengetahui dengan pasti sepak terjangmu di dunia hitam, Pak Jenderal," jawab Vlad tenang sembari berjalan semakin mendekat ke meja kerja di mana Inre berada.
"Ini akan menjadi catatan mengerikan dalam sepanjang kariermu. Kau akan menutup akhir masa jabatan dengan sesuatu yang memalukan.” Vlad tertawa pelan. Sorot mata pria tampan berambut pirang itu, terkesan merendahkan sang jenderal di hadapannya.
“Aku sama sekali tidak mengerti maksud kata-katamu,” ujar Inre, kembali mengisap cerutunya.
“Barangkali, penjelasanku akan dapat mengingatkanmu,” ujar Vlad kembali menyunggingkan senyuman sinis kepada Inre. Vlad menumpukan kedua tangannya pada pinggiran meja, sambil menatap tajam pada pria tua itu.
“Aku memiliki bukti kuat, yang menyatakan bahwa kau menjalin kerja sama dengan Ludwig Stegen. Kalian bekerja sama dalam kasus penjualan serta pendistribusian narkoba, dari dalam hingga ke luar negara Jerman. Melalui oknum-oknum bawahanmu, mereka menyelundupkan barang haram itu dengan leluasa tanpa terendus oleh pihak yang berwajib,” jelas Vlad.
“Bukti macam apa yang kau punya, Anak muda? Aku sama sekali tak percaya,” sanggah Inre. Dia memicingkan mata seraya menatap Vlad dengan sorot merendahkan. “Aku tak mengerti sama sekali dengan omong kosong yang kau ucapkan barusan,” cibirnya.
“Oh, mungkin sedikit omong kosong ini dapat membungkam kesombonganmu.” Vlad merogoh sebuah flash disk dari dalam saku celananya, lalu melemparkan benda kecil itu begitu saja ke hadapan Inre. “Periksalah,” suruhnya.
Inre tak banyak bicara. Dia meraih flash disk tadi, lalu menancapkannya ke USB port pada laptop yang sudah dalam posisi stanby. Raut tenang pria tua berpangkat jenderal itu mendadak berubah tegang, saat tangannya bergerak mengarahkan kursor hingga ke bagian akhir file. Bulir-bulir keringat pun semakin banyak membasahi kening.
Pria itu awas memperhatikan Vlad yang masih tetap pada posisinya. Diam-diam, tangan kanan Inre membuka laci yang berada di sisi kanan meja kerja. Dia mengambil sepucuk pistol revolver berbentuk antik dan langsung mengarahkannya ke kepala Vlad. “Mati kau sekarang!” sentaknya.
“Tarik saja pelatuknya jika kau berani,” tantang Vlad. “Aku telah memasang sensor pada tubuh. Jika jantungku berhenti berdetak, maka sensor itu akan berbunyi. Dengan begitu, anak buahku akan segera mendeteksinya. Mereka sudah paham dengan yang harus dilakukan, saat diriku tewas. Kau ingin tahu? Anak buahku akan langsung mengunggah bukti-bukti kejahatan yang sudah kusalin hingga ribuan jumlahnya. Mereka akan mengirimkan itu semuabpada setiap organisasi pemerintahan dan militer Jerman,” tutur Vlad panjang lebar.
“Tak hanya itu, aku juga akan mengirimkannya pada pihak berwajib. Pihak imigrasi juga interpol di seluruh dunia, untuk mencekal namamu agar tidak dapat melarikan diri," ucap Vlad lagi puas.
"Betapa besar kejahatan yang telah kau lakukan. Kau menyalahgunakan wewenang yang dirimu miliki, yaitu bekerja sama dengan mafia untuk melakukan bisnis ilegal, Tuan Jenderal. Karier serta nama baikmu akan segera tamat, tercoreng. Meninggalkan kesan buruk yang terus melekat setiap kali orang menyebut nama Inre Harald."
"Kau tahu apa yang jauh lebih parah? Hukuman militer yang berupa putusan mati akan segera menyambutmu,” ucap Vlad lagi. Dia tersenyum puas, saat Inre menjauhkan telunjuknya dari pelatuk senjata api dalam genggaman. Inre menurunkan pistolnya. Dia bahkan menyimpan kembali benda itu ke tempat semula.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Inre. Dia seakan sudah mengetahui, bahwa pria muda di hadapannya pasti tak asal datang jika tanpa ada alasan tertentu.
“Hanya itu?” desis Inre enteng.
“Tidak!” sahut Vlad segera. “Aku ingin memberimu saran yang sangat bagus. Kau bisa terlepas dari jeratan hukum dengan mengkambinghitamkan Ludwig,” ujar Vlad puas.
“Aku bisa membantu untuk merekayasa bukti, sehingga semua hal yang memberatkan dapat terarah kepada Ludwig Stegen. Setelah itu, akan kuhapus namamu dari sana. Kau akan tetap aman untuk selamanya. Akan tetapi, tidak dengan Ludwig. Dia akan kehilangan semua kekayaan serta kekuasaannya di dunia hitam, karena Ludwig tidak memiliki pelindung lagi,” seringai Vlad.
“Kita tidak saling mengenal. Jadi, maaf karena aku tak tahu apakah kata-katamu bisa dipercaya atau tidak?” Inre terdengar meragukan ucapan Vlad.
“Kau tak mempunyai pilihan lain, selain mempercayaiku, Tuan Jenderal.” Vlad tertawa pelan. Dia lalu menegakkan tubuh dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. “Sekarang bawa aku ke tempat persembunyian Ludwig,” pintanya.
“Ludwig tidak sedang bersembunyi. Dia ada di Berlin,” ucap Inre yakin. “Beberapa hari yang lalu, dia mengirimkan kartu undangan padaku untuk hadir pada acara pernikahannya besok,” ujarnya.
“Pernikahan? Pernikahan siapa?” ulang Vlad tak percaya.
“Tentu saja pernikahan Ludwig bersama kekasihnya. Siapa lagi?” jawab Inre yang membuat darah dalam tubuh Vlad berdesir kencang.
“Bajingan itu …,” desis Vlad. “Dia pasti sudah merencanakan ini sejak lama,” pikirnya. Mata biru Vlad berkilat menahan amarah. Pria itu kemudian mengalihkan pandangan kepada Inre, yang tengah memperhatikannya dengan lekat.
“Siapa kau sebenarnya? Dari mana kau tahu tentang semua rahasia antara aku dan Ludwig?” selidik Inre.
“Nanti juga kau akan tahu.” Vlad menyeringai sambil mendekatkan wajahnya pada Inre, “yang jelas, aku sudah mengetahui siapa dirimu dan orang-orang yang berada di balik jaringan yang kau miliki.”
"Apa kau tak tahu, bahwa ada risiko yang besar jika berani macam-macam denganku?" ancam Inre seraya berdiri penuh wibawa.
“Oh, ya? Aku memiliki banyak kenalan di pemerintahan Rusia. Salah satu teman lamaku juga bersahabat dengan menteri pertahanan Jerman. Bayangkan jika sang menteri mengetahui tindakanmu yang menyimpang ini." Vlad tak terpengaruh dengan gertakan Inre. Dia justru menunjukkan seringai puas, di hadapan jenderal bintang dua tersebut.
“Kau!” Geram Inre.
“Seperti yang kukatakan tadi, Jenderal Harald. Bekerja samalah denganku. Jadikan Ludwig Stegen kambing hitam dari bisnis ilegal yang kau miliki saat ini. Dia yang akan kehilangan semuanya. Sementara, nama baikmu akan tetap aman dan terjaga,” saran Vlad dengan nada bicara yang begitu tenang.
“Kau tak tahu bahwa dia itu seperti putra angkatku. Aku telah lama bekerja sama dengan Ludwig. Sudah bertahun-tahun. Ini adalah pilihan yang teramat berat, jika aku harus mengkhianatinya.” Inre menggeleng pelan. Ekspres pria itu menyiratkan beban yang teramat besar.
“Pilihan ada di tanganmu, Jenderal. Kau atau Ludwig yang harus dikorbankan,” tegas Vlad.
“Aku ….”
“Jika memang kau terlalu berat untuk menentukan pilihan, maka cukup bawa aku ke pesta pernikahan Ludwig,” sela Vlad, sebelum Inre sempat melanjutkan kata-katanya. “Aku ingin kau memberitahukan lokasi, di mana Ludwig akan menyelenggarakan pesta pernikahannya," pungkas Vlad.