
“Aku tak percaya ini,” ucap Ludwig. Dia mengalihkan perhatian kepada Inre, yang juga tengah memandang ke arahnya.
“Aku tak punya pilihan lain, Nak. Aku juga mempunyai keluarga yang harus diselamatkan,” sesal Inre sebelum memalingkan muka. Pria itu seperti tak memiliki keberanian untuk menatap Ludwig lebih lama.
“Apa yang kau lakukan, Pak tua?” desis Ludwig. Raut wajahnya kini berubah menjadi bengis.
“Aku meminta seorang teman untuk menghapus nama Jenderal Inre Harald, dari kerja sama ilegal yang kalian berdua lakukan. Sang jenderal tidak akan lagi menjadi pelindung bagi bisnis haram yang kau jalani, Ludwig. Semua bukti-bukti sekarang diarahkan seluruhnya kepadamu. Kau tak bisa mengelak apalagi melarikan diri." Vlad menyeringai puas setelah berkata demikian.
“Vlad Ignashevich! Aku tak pernah membayangkan akan menemukan seseorang yang brengsek dan menyebalkan sepertimu dalam hidup ini!" geram Ludwig. “Kau telah menghancurkan semuanya!” Ludwig menjentikkan jari. Saat itu pula, seluruh anak buah yang tadi telah membentuk barikade, menembakkan senjatanya ke segala arah.
Salah satu peluru mengenai dada kiri Inre sebelum pria tua itu sempat melindungi diri.
Vlad berteriak nyaring sebelum menerjang tubuh Ludwig. Mereka berdua terjatuh dan berguling di lantai altar.
Posisi Vlad saat itu berada di bawah Ludwig, yang sudah bersiap mengepalkan tangan hendak memukulnya. Namun, belum sempat Ludwig melaksanakan niatnya, Vlad sudah lebih dulu mengangkat sang lawan dengan kedua tangan dan satu kaki, lalu melemparkannya ke arah anak buah Ludwig.
Beberapa orang terjatuh, saat tubuh Ludwig melayang dan menghantam mereka. Sebagian lagi hendak melakukan pembalasan terhadap Vlad, dengan cara mengarahkan tembakan ke kepala pria bermata biru tersebut.
Hari itu, sepertinya keberuntungan tengah menaungi Vlad. Sebelum peluru dilesatkan, anak buah Ludwig yang bersenjata tadi lebih dulu dilumpuhkan oleh pasukan berseragam taktis yang telah bersiap. Berondongan peluru menembus tubuh pria-pria bersetelan rapi tersebut. Dalam hitungan detik saja, seluruh anak buah Ludwig yang berada di lokasi telah berhasil dilumpuhkan.
“Jika kaliam berpikir sudah menang, maka itu adalah kesalahan besar! Anak buahku tersebar di seluruh Jerman! Orang-orang yang kalian habisi ini hanyalah sebagian kecil dari pengikutku!" Ludwig yang sempat terkapar di tanah berumput, kini bangkit sambil menepuk-nepuk celana putihnya yang kotor. Pria itu kembali memperlihatkan kegagahannya.
“Oh! Rupanya kau ketinggalan berita,” sahut seseorang yang keluar dari belakang barisan pria berseragam.
“Siapa kau!” sentak Ludwig seraya menoleh ke arah sumber suara.
“Aku adalah Karl Volkov, pemimpin dari Klan Serigala Merah. Sahabatku yang bekerja di pemerintahan Rusia, telah bekerja sama dengan kementrian pertahanan Jerman. Mereka sudah mengatur pertemuan dengan pihak pasukan khusus di angkatan darat, untuk menangkap setiap anggota dari organisasi Schwarzer Kristall yang kau ketuai,” terang seorang pria berambut gelap dengan mata birunya yang memesona. Dia tersenyum kalem pada Ludwig yang terkejut bukan kepalang.
“Menyerahlah sekarang. Jangan melakukan perlawanan apapun!" seru Vlad, masih dengan sikap waspada.
“Kau pikir aku selemah itu?” Ludwig tak menunjukkan raut gentar sama sekali. Dia merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya, lalu mengangkat benda yang ternyata adalah granat. Secepat kilat, Ludwig membuka kunci granat dan melemparkannya ke arah Karl Volkov.
Beruntung, Karl lebih dulu menghindar. Dia melompat dan berguling ke samping. Karl sempat terbatuk-batuk, karena menghirup asap pekat sebelum berdiri dan mengamati sekeliling. Dilihatnya Ludwig Stegen sudah menghilang.
Vlad yang juga sempat melompat untuk menghindar, menangkap pergerakan Ludwig. Vlad melihat pria itu berlari memasuki mansion. “Altea!” seru Vlad tiba-tiba. Dia khawatir jika Ludwig akan menemukan keberadaan calon istrinya dan kembali membawa lari wanita itu.
Vlad tak memedulikan apapun saat dia mengejar Ludwig. Demi memangkas jarak, dirinya melintasi rerumputan dan menerjang jendela kaca di salah satu ruangan mansion, hingga pecah berkeping-keping.
Langkah berbahayanya itu membuahkan hasil. Vlad berhasil mengejar Ludwig. Dia meraih kerah bagian belakang Ludwig, hingga pria itu terpental. Pria rupawan yang hampir mengakhiri masa lajangnya tersebut jatuh terjengkang.
Dalam posisi tidak siap, Vlad menaiki tubuh Ludwig, lalu menghajarnya habis-habisan. Dengan sisa-sisa tenaga, Ludwig membalas. Dia meraih sebuah pot hias di dekatnya, lalu memukulkan ke kepala Vlad.
Darah mengalir di sela-sela rambut pirang Vlad, membuat penglihatan pria itu berkunang-kunang. Kesempatan tersebut tak disia-siakan oleh Ludwig. Dia balas menghajar Vlad, dengan menyarangkan beberapa tendangan mematikan ke perut hingga Vlad terkapar.
“Matilah kau sekarang!" seringai Ludwig. Dia kini ganti menaiki tubuh Vlad. Ludwig bersiap menyarangkan tinjunya ke dada kiri Vlad.
“Kurasa tidak sekarang,” balas Vlad sambil tertawa. Dia menghadang laju tangan Ludwig yang hampir menyentuh dada. Vlad memelintir tangan Ludwig dan mendorongnya sekuat tenaga, sambil berusaha bangkit.
Ludwig sudah terdesak. Sulit dipercaya bahwa dirinya yang bertubuh normal, dapat dikalahkan oleh seorang Vlad yang hanya memiliki sebelah kaki. Namun, itulah kenyataannya. Kini, Ludwig sudah terkapar tak berdaya. Tubuh pria tampan tersebut sudah dipenuhi beberapa luka.
Dalam posisi seperti itu, Vlad telah bersiap dengan pisau belati yang diambil dari kaki palsunya. Senjata dengan ujung runcing dan bergerigi tadi tampak mengilap, membuat siapa pun yang melihat dapat memperkirakan ketajamannya. Vlad tampak sangat berbeda. Dia bukan lagi pengusaha rupawan yang kalem, ketika sedang dalam situasi seperti saat ini.
Vlad melangkah gagah dan penuh percaya diri. Seringai menakutkan menghiasi paras tampan pria berambut pirang tersebut. Tak ada siapa pun yang mengira, bahwa pria setenang dirinya dapat mengalahkan seorang Ludwig Stegen yang kuat dan berbahaya.
“Ucapkan kata-kata terakhirmu, Brengsek!” ucap Vlad dingin. Kaki kanannya sudah berada di dada Ludwig. Menekan kuat dan tanpa ampun. “Pilihlah kematian seperti apa yang kau inginkan.” Vlad mengangkat kedua tangannya. Dia bersiap menggunakan pisau belati yang digenggam, untuk menghabisi nyawa Ludwig saat itu juga. “Matilah kau, Ludwig Stegen!” sentak Vlad.
Namun, ketika ujung runcing tadi sudah bersiap dibasuh dengan darah segar Ludwig, terdengar suara yang mencegah Vlad melakukan kebrutalan itu. “Hentikan, Tuan!”
Vlad seketika menoleh. Begitu juga dengan Ludwig yang terus mengeluarkan darah dari mulutnya. Kedua pria tampan tadi terpaku, melihat sosok cantik yang membuat mereka bertarung mati-matian. “Jangan ikut campur, Altea!” sergah Vlad berbicara penuh penekanan.
“Menjauhlah, Perle,” timpal Ludwig. “Aku tak ingin kau melihatku dalam kondisi seperti ini,” ucap pria itu lagi susah payah.
“Aku juga tak ingin kau melihatku saat menghabisinya.” Vlad masih melayangkan tatapan tajam kepada wanita pujaan hatinya.
“Kalau begitu, jangan lakukan apapun. Jangan kotori tanganmu dengan dosa, Tuan. Aku tak akan merelakannya.” ucap Altea lembut kepada Vlad. Dia berdiri tepat di hadapan pria tampan bermata biru tersebut. Altea meraba rahang kokoh putra Elke tersebut.
Wanita muda tersebut berjinjit, lalu mengecup bibir Vlad sesaat. Bersamaan dengan itu, tangannya memegangi kedua belati yang ada dalam genggaman pria tampan tadi. “Simpanlah kembali senjata Anda, Tuan,” bisik Altea pelan dan lembut. “Hentikan semua ini.”
“Tidak bisa! Aku harus membunuh pria yang telah membuatmu merasa terhina!” tolak Vlad tegas.
“Aku sudah berusaha melupakan serta menerima semua itu. Kau yang telah begitu baik membawaku dan memberikan cinta luar biasa. Kumohon, jangan pernah mengotori tanganmu dengan darah hanya demi diriku. Nyonya Elke juga tak akan menyukai saat melihatmu menjadi seorang pembunuh.”
Altea tiba-tiba dapat bersikap sangat lembut. Dia terlihat jauh lebih dewasa. Wanita muda itu mengalihkan perhatiannya pada Ludwig, yang masih terkapar dan berusaha bangkit. Altea lalu menghampiri pria tampan dengan mulut penuh darah tersebut. “Ludwig,” ucapnya pelan. Dia menurunkan tubuh di sebelah pria itu.
“Perle ….” Napas berat Ludwig tersengal-sengal. Sesekali, dia meringis kesakitan. Ludwig berusaha meraih tangan Altea. “Perle,” ucapnya lagi. “Aku mencintaimu.”
“Jika kau memang mencintaiku, maka pergilah. Lepaskan dan biarkan aku menjalani hidup dengan tenang. Sama seperti dulu, saat diriku masih menjadi Altea Miller yang bebas. Saat itu, hidupku memang terasa begitu berat, tapi aku tidak berada dalam tekanan dan ketakutan.” Altea memperhatikan Ludwig yang memandangnya dengan sorot penuh harap.
“Aku mencintaimu, Perle.” Ludwig kembali mengucapkan kata-kata itu kepada Altea.
“Jangan pernah mengatakan hal itu kepada calon istriku!” sergah Vlad tak terima. Dia bermaksud untuk kembali menyerang Ludwig yang sudah kalah telak.
“Tidak! Hentikan!” cegah Altea dengan segera.
“Jangan halangi aku, Altea!”
“Tidak!” Altea kembali berdiri. “Tak akan kubiarkan kau melakukan sesuatu yang lebih brutal dari ini, Tuan. Tidak akan!” tegas Altea. “Kau adalah pria terhormat, Vlad Ignashevich! Kau tak akan berbuat semacam ini.”
Tanpa diduga, Altea bersimpuh di hadapan Vlad. “Aku tidak akan berdiri sampai kau berhenti,” pintanya memelas.
“Altea." Vlad menatap sendu ke arah wanita cantik di depannya. Demi mengabulkan permintaan Altea, Vlad menyimpan kembali senjata tajamnya ke dalam tempat khusus yang ada di kaki palsunya. Dia menghampiri Altea, kemudian membantunya berdiri. “Apa yang kau inginkan dariku, Sayang?” tanyanya lembut.
“Bawa aku pulang ke rumahmu,” jawab Altea dengan yakin, seraya memeluk erat tubuh tegap pria tampan itu.