
“Tuan, serahkan koin emas Anda,” ucap si pria berkemeja putih memperjelas ucapannya kepada Vlad.
Akan tetapi, Vlad masih terpaku menatap wanita cantik berambut cokelat, yang juga tengah membalas pandangan penuh arti itu. “Aku ingin mengganti taruhannya,” ucap Vlad tanpa mengalihkan pandangan dari wanita yang segera memalingkan wajah, setelah beberapa saat bersitatap denganya.
“Maksud Anda, Tuan?” tanya si pria tadi tak mengerti.
Vlad menoleh kepada pria itu. Dia tersenyum simpul, sebelum kembali mengarahkan pandangan kepada Ludwig yang masih memasang sorot tajam tak bersahabat. “Aku tak ingin bertaruh dalam bentuk materi, karena aku tak membutuhkan uang seberapapun jumlahnya. Aku hanya menginginkan wanita yang duduk di sebelahmu, Ludwig Stegen,” ucap Vlad dengan kalem. Tak ada beban sama sekali saat dirinya mengatakan hal itu.
“Kurang ajar!” geram Ludwig pelan. Kemarahan terlihat jelas dari raut wajahnya. Paras tampan itu berubah menjadi sangat mengerikan.
“Jangan mengada-ada, Tuan,” tegur si pria berkemeja putih.
“Aku serius. Aku ingin agar Ludwig Stegen mempertaruhkan wanita itu dalam permainan ini,” tegas Vlad. Sikap tenangnya berubah serius. Raut wajah pria asal Rusia tersebut sama mengerikannya dengan Ludwig.
Deru napas Ludwig mulai memburu setelah mendapat tantangan demikian dari Vlad. Dia menoleh kepada Altea yang hanya tertunduk, karena tak kuasa memperlihatkan paras cantiknya kepada Vlad. Pria yang teramat dia rindukan.
Ludwig meraih tangan Altea, lalu mengecupnya mesra. Membuat wanita cantik bergaun malam indah nan seksi itu seketika menoleh. Sementara, Altea menatap pria di sebelahnya dengan sayu.
Sesaat kemudian, Ludwig kembali melepaskan genggaman tangannya. Dia mengalihkan pandangan kepada Vlad. “Kuterima tantanganmu, Vlad Ignashevich. Jika kau dapat mengalahkanku, maka ambilah wanita ini. Namun, seandainya kau yang kalah, maka serahkan sebelah kakimu yang tersisa untukku.” Ucapan Ludwig terdengar begitu menakutkan.
“Ludwig.” Altea yang sedari tadi membisu, kali ini membuka suara. Walaupun pelan, tapi Ludwig dapat mendengar nada protes dari bibir wanita yang selama ini menjadi pemuas hasrat kekelakiannya. Altea jelas tak menyukai apa yang akan kedua pria itu lakukan. Dia lalu mengalihkan pandangan kepada Vlad. “Tidak, Tuan. Jangan bersikap bodoh,” pintanya.
“Kuterima tantanganmu,” sahut Vlad tanpa memedulikan keberatan yang dilayangkan Altea.
“Tuan!” Altea menggeleng kencang. Tampak jelas raut khawatir dari wajah cantiknya. Sesuatu yang tak pernah terlihat selama wanita muda itu bersama Ludwig. Hal itu, tentu saja membuat Ludwig tak suka. Dia mencengkeram lengan Altea, lalu menariknya hingga wanita malang itu berpindah ke pangkuannya.
Altea meringis kesakitan, bersamaan dengan Vlad yang langsung berdiri. Dia tak terima, saat melihat Ludwig memperlakukan Altea seperti itu. “Lepaskan tanganmu dari tubuhnya!” sentak Vlad dengan tangan terkepal.
Sontak, beberapa pengawal Ludwig langsung maju dan mengelilingi pria bermata biru itu. Mereka semua mengambil sikap siaga.
“Bersikaplah yang tenang, Vlad Ignashevich. Nikmatilah permainan ini selagi kau masih memiliki kaki. Karena sebentar lagi, kau akan kehilangan semuanya. Mulai dari sebelah kaki, hingga wanitamu.” Ludwig tersenyum mengejek. Satu tangannya bergerak meraih tengkuk Altea, lalu mere•masnya. Dia mendekatkan wajah Altea padanya, kemudian melu•mat bibir merah wanita itu hingga puas.
Altea tak mampu menolak, meskipun dia menyadari bahwa Vlad tengah menatapnya tajam. Dia hanya bisa menuruti keinginan Ludwig, seperti yang selama ini dirinya lakukan. Tanpa terasa, setitik butiran bening terjatuh dari sudut matanya. Baru kali ini, Altea merasa bahwa dirinya merupakan wanita yang paling hina.
“Bisakah kita mulai? Aku tak ingin kau merusak wanita yang sebentar lagi akan kubawa,” geram Vlad penuh percaya diri.
“Dalam mimpimu,” sahut Ludwig dengan tatapan meremehkan.
“Kaulah yang bermimpi,” cibir Vlad. “Sudahlah! Jangan terlalu banyak bicara. Kita mulai saja permainan ini.” Dengan tenang, pria berambut pirang itu mengedarkan pandangan ke arah para bodyguard Ludwig yang masih berdiri mengelilinginya. Vlad tertawa pelan, lalu duduk penuh wibawa.
“Bagikan kartunya!” titah Ludwig pada dealer, yaitu orang yang bertanggung jawab untuk mengocok dan membagi kartu di meja judi.
Ludwig menerima dan memperhatikan kartunya dengan senyuman samar. Raut berbeda justru ditunjukkan oleh Altea. Paras cantiknya memucat.
Sementara, Vlad tak segera membuka kartu. Dia malah memperhatikan ekspresi Altea dan Ludwig secara bergantian. Dalam hati, Vlad cukup bahagia karena dapat menangkap raut khawatir, pada paras menawan wanita itu.
Setelah mengembuskan napas pelan, barulah Vlad membuka kartu miliknya. Dia sengaja memasang ekspresi datar, agar Ludwig tak dapat membaca kekuatannya.
Ludwig sempat menoleh pada Vlad, sebelum membuang selembar kartunya, lalu mengambil kartu baru dari tumpukan. Dia tersenyum puas sambil memperhatikan kartu-kartu yang berderet rapi di tangan. Pria pemilik kasino megah itu semakin jumawa, ketika Vlad mengganti tiga buah kartu, dengan kartu baru dari tumpukan.
Wajah tenang Vlad saat itu berubah tegang. Merasa di atas angin, Ludwig melemparkan kartu-kartunya ke atas meja sambil berseru nyaring, “Straight flush! Kau kalah!”
“Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku kalah? Aku bahkan belum menunjukkan kartuku,” sahut Vlad yang masih memasang ekspresi tegang.
“Semua bisa terbaca dari wajahmu,” jawab Ludwig sembari mengarahkan telunjuk pada wajah Vlad di seberang meja.
Sedangkan, Vlad menanggapinya dengan senyuman sinis. “Apakah kau yakin? Terkadang, wajah bisa menipu,” ucap pria itu tenang.
Senyuman lebar Ludwig langsung memudar. “Jangan mempermainkanku, Vlad Ignashevich. Cepat tunjukkan kartumu,” ucapnya penuh penekanan.
“Baiklah, jika kau meminta,” balas Vlad seraya mengembuskan napas pelan. Dia meletakkan kartu-kartunya tepat di tengah meja, agar sang lawan dapat melihat dengan jelas. “Royal flush! Aku yang menang.” Vlad tersenyum lebar. Dia langsung bangkit dengan penuh percaya diri.
“Sekarang, serahkan Nona Miller padaku.” Vlad mengulurkan tangannya lurus pada Altea. Namun, wanita muda itu malah menunduk.
Sementara, Ludwig tak dapat berkata apa-apa. Dia hanya melotot tajam kepada Vlad. Pemilik kasino terbesar di Warsawa itu, seakan tengah meredam api amarah yang dapat meledak kapan saja.
“Bukankah kau seorang pria sejati, Ludwig Stegen? Pria sejati akan selalu memegang kata-katanya. Aku menang taruhan. Itu artinya Altea Miller menjadi milikku.” Vlad kembali tersenyum lebar dan tampak sangat puas.
Melihat suasana yang mulai memanas, anak buah Ludwig memutuskan untuk bertindak. Mereka kembali maju ke arah Vlad dan bersiap melakukan serangan. Akan tetapi, Ludwig lebih dulu mencegah mereka. “Cukup! Biarkan dia membawa hadiahnya!"
Vlad tersenyum puas. Dia mengulurkan tangan sekali lagi pada Altea yang masih menunduk. “Kau sudah mendengar apa kata tuanmu bukan, Nona Miller?” tanya Vlad lembut.
Alte ragu mendongak. Dia menatap pria yang selama ini hadir dalam mimpinya itu, dengan mata berkaca-kaca. Altea sempat menoleh pada Ludwig, sebelum berdiri dan menyambut tangan Vlad. Namun, Ludwig segera membuang muka.
Altea mengalihkan pandangan kembali pada Vlad. Jemari lentiknya sudah tergenggam sempurna di tangan pria berambut pirang tersebut. Wanita itu melangkah pelan, lalu mendekat dan berdiri tepat di samping pria yang selalu dirinya sebut dengan panggilan ‘tuan’.
“Kita akan pulang sekarang, Nona Miller,” bisik Vlad pelan tepat di telinga Altea.