Since I Found You

Since I Found You
Last Name



Altea menggerak-gerakkan tangannya, meskipun dia sadar bahwa borgol tadi tak akan terlepas dengan sendirinya. “Untuk apa kau memborgolku, Tuan?” keluh Altea pelan, sambil terus berusaha menarik tangannya dari lubang borgol.


“Sayangi kulitmu, Altea. Jangan dipaksakan jika tak ingin lecet,” ujar Vlad sambil terus memejamkan mata. Dia lalu merogoh sesuatu dari saku celana tidur. Sebuah kunci kecil yang digunakan untuk membuka borgol. Setelah terbuka, barulah Vlad membuka mata dan tersenyum lembut pada Altea. “Selamat pagi,” sapanya.


“Ini kesalahan, Tuan. Kumohon. Biarkan aku pergi,” pinta Altea masih berbaring dengan posisi menyamping, Wanita muda itu merengek lagi dengan raut memelas. Namun, wajah murung itu sama sekali tak mengurangi kecantikannya.


“Aku tidak mau,” sahut Vlad enteng. Dia bangkit, lalu duduk di tepian ranjang dengan posisi membelakangi Altea. Vlad kemudian meraih T-shirt yang tergeletak di sisi bantal dan memakainya. Dia sempat duduk beberapa saat untuk memasang kaki palsu, sebelum berdiri dan berbalik menghadap Altea yang masih setengah berbaring di atas ranjang.


“Ayo, ganti bajumu. Akan kutunjukkan sesuatu,” suruh Vlad seraya mengulurkan tangannya pada Altea.


“Anda tidak mengerti, Tuan. Ludwig bisa datang kemari sewaktu-waktu,” ucap Alter resah. Tergambar jelas raut khawatir pada wajah cantik wanita muda itu.


“Akan kupersilakan dia masuk, jika pria itu mau bersikap sopan,” kelakar Vlad sambil tersenyum kalem.


“Tidak lucu sama sekali!” Altea bersungut-sungut. Namun, dia tetap menyambut uluran tangan Vlad, yang langsung menarik tubuh ramping Altea hingga berdiri. Vlad bahkan menggendongnya ke walk in closet. Dia membiarkan Altea memilih sendiri pakaian yang akan dikenakannya.


“Aku ingat kesukaanmu dulu adalah celana jeans terkoyak dan crop top lengan panjang. Kau terlihat begitu bangga memperlihatkan pusarmu yang bertindik itu.” Vlad tertawa geli, saat melihat pipi Altea yang bersemu merah.


“Itu bukan celana jeans yang terkoyak, Tuan. Memang modelnya seperti itu,” protes Altea.


“Terserahlah. Apapun namanya, yang jelas aku sudah menyiapkan berbagai macam model pakaian kesukaanmu di sini. Pilih saja sendiri,” ujar Vlad sembari mengarahkan Altea ke tumpukan baju di atas meja panjang.


“Aku ….” Altea terlihat ragu. Diamatinya pakaian-pakaian yang Vlad tunjukkan tadi sambil berpikir sejenak. Pilihan Altea jatuh pada sebuah dress polos cantik berwarna kuning gading. “Aku memakai ini saja," putusnya


“Seleramu berubah jauh hanya dalam waktu beberapa minggu saja.” Vlad berdecak kagum sekaligus tak percaya. "Mereka benar-benar telah mencuci otakmu."


“Sekarang keluarlah, Tuan. Aku ingin berganti baju,” suruh Altea. Dua tangannya mere•mas erat gaun yang dia dekap di dada.


“Aku tidak mau,” tolak Vlad. “Aku tidak boleh meski hanya beberapa detik, atau kau akan melarikan diri lagi seperti kemarin.”


“Tidak, Tuan. Percayalah padaku.”


“Aku akan tetap di sini, meskipun kau memaksaku keluar,” tegas Vlad. Matanya tajam memindai wajah polos Altea yang belum dipoles make up.


“Kenapa Anda keras kepala sekali!” Altea mendengkus kesal. Dia juga berani memukul pelan dada Vlad.


“Apa yang membuatmu malu? Aku sudah pernah melihat setiap inchi dari bagian tubuhmu.” Vlad maju perlahan, hingga pangkal hidungnya menyentuh kening Altea. Dia mengecup sekilas kening gadis itu.


“Biar kubantu,” ucap Vlad lagi seraya membuka satu per satu kancing baju tidur Altea, hingga terlepas sempurna.


Altea berdiri di hadapan Vlad hanya dengan menggunakan pakaian dalam tanpa bra. Saat itulah, Vlad melihat tanda merah di dada, dan beberapa lagi menyebar di perut bagian bawah serta paha Altea. “Apa Ludwig yang melakukannya?” tanya Vlad hati-hati.


Altea hanya mengangguk pelan. Dia menunduk dalam-dalam, demi menutupi rasa malu yang tak terkira.


“Tidak apa-apa. Dalam beberapa hari, bekasnya akan hilang,” ucap Vlad sambil memakaikan dress, yang sedari tadi digenggam oleh Altea.


Altea mendongak dengan tatapan penuh arti. Dia memperhatikan pria yang telaten memakaikan baju padanya. “Apa kau tidak jijik padaku, Tuan?” Mata cokelat Altea berkaca-kaca.


“Kenapa harus merasa jijik padamu? Kau juga tidak pernah jijik melihatku yang cacat ini." Vlad membelai pipi mulus Altea. Sebuah ciuman manis, dia daratkan ke bibir wanita muda yang berhasil membuatnya jatuh cinta tersebut.


“Percayalah padaku, Sayang.” Vlad meraih dagu lancip Altea. Dia sedikit mengangkatnya, sehingga wanita muda itu dapat melihat dengan jelas betapa menawan seorang Vlad Ignashevich. “Tidak akan terjadi apapun padaku atau padamu. Semua akan baik-baik saja. Sekarang, ikutlah denganku.” Vlad menggenggam pergelangan tangan Altea, lalu menuntunnya.


Vlad membawa Altea berjalan-jalan mengelilingi mansion. Mereka berhenti di taman belakang yang amat luas. Taman itu dipercantik dengan tanaman hias beraneka rupa, serta bunga-bunga indah berwarna-warni yang tertata sedemikian indah. Semua itu merupakan hasil karya seorang penata taman terkenal di St. Petersburg. Taman tadi juga berbatasan dengan labirin raksasa, yang dindingnya terbuat dari rumput hijau setinggi dua meter.


“Untuk apa Anda membawaku kemari?” tanya Altea tak mengerti.


“Aku berencana untuk melangsungkan pesta di sini,” jawab Vlad dengan mata menerawang lurus ke depan.


“Pesta apa?” Altea mengernyitkan kening.


“Pesta pernikahan kita,” sahut Vlad dengan yakin. Membuat Altea seketika tercengang, lalu menggeleng kencang.


“Sudah kukatakan bahwa ini bukan ide yang bagus.” Altea menarik tangannya dari genggaman Vlad. Dia menepis tangan pria berambut gondrong itu begitu saja.


“Menurutku ini ide yang sangat bagus,” sanggah Vlad tenang.


“Tidak! Hentikan! Tolong, biarkan aku pulang ke Jerman. Aku ingin bertemu kakakku dan juga Willy. Ada banyak hal yang harus kusampaikan pada mereka,” pinta Altea mulai diserang rasa gugup luar biasa.


“Baiklah. Kuizinkan kau pulang ke Jerman,” sahut Vlad.


“Benarkah?” Mata indah Altea terbelalak tak percaya.


“Ya. Dengan catatan kau bersedia menikah denganku. Setelah kita menikah, aku akan memperbolehkanmu pergi ke manapun yang kau mau,” ucap Vlad diiringi senyum lebar.


“Astaga.” Altea mengeluh pelan. “Kenapa Anda begitu menyebalkan?”


“Karena aku mencintaimu, Altea,” ungkap Vlad yakin. “Aku tak akan melepaskanmu, meski kau terus menolakku.”


Altea mengembuskan napas pelan. Ditatapnya wajah Vlad dengan sorot yang penuh arti. “Apa Anda yakin?” tanya Altea teramat pelan.


“Aku tak pernah merasa seyakin ini dalam hidupku,” jawab Vlad.


“Kau tak menyesal mendapatkan seorang wanita murahan sepertiku? Aku hanya ….”


“Tuan." Panggilan seseorang yang tak lain adalah Mykola, memotong kalimat Altea.


“Kabar apa yang kau bawa hari ini?” Vlad segera mengalihkan perhatiannya pada sang ajudan kepercayaan.


“Pagi ini, aku bersiap untuk kembali ke Jerman. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya, sekaligus menjemput Nyonya Elke. Pihak dekorasi juga akan datang siang ini,” jelas Mykola.


“Bagaimana dengan pihak gereja dan pendeta?” tanya Vlad, yang lagi-lagi membuat Altea terkesiap. Dia melotot pada pria di sampingnya itu sebagai tanda protes.


“Semua sudah dijadwalkan tiba dalam dua hari,” terang Mykola.


“Bagus.” Vlad tersenyum puas. “Tak lama lagi, tempat ini akan menjadi saksi Altea Miller menyandang nama Ignashevich di belakangnya," ucap Vlad seraya melirik Altea.