
Altea baru selesai berpakaian, ketika Ludwig menghampiri dan berdiri di belakangnya. Dia memandang paras cantik Altea beberapa saat. Membuat wanita muda itu tersipu. Ludwig memang pria yang sangat dingin. Namun, caranya menatap Altea kerap membuat si pemilik mata cokelat itu menjadi salah tingkah. Altea menunduk, tak kuasa terus melawan sorot sang pemilik Kasino Goldgeld tersebut.
Namun, tak berselang lama Altea kembali mengangkat wajahnya, ketika Ludwig memperlihatkan sesuatu yang membuat wanita berambut panjang itu terbelalak. Bagaimana tidak, Ludwig memberikan sebuah black card kepadanya.
“Apa ini?” Altea menoleh pada pria di belakangnya.
“Pakailah sesukamu,” jawab Ludwig kalem tanpa mengalihkan pandangannya dari Altea. “Belilah pakaian atau apapun yang kau inginkan,” ucap pria itu lagi.
Altea yang tadinya menoleh kepada Ludwig, kembali menghadapkan pandangan ke cermin. Dia menatap pria berpostur tinggi tegap di belakangnya. “Jadi, kartu ini sepenuhnya milikku?” tanya Altea dengan senyuman terkembang.
“Ya,” jawab Ludwig singkat.
Altea tak segera menanggapi. Dia tampak seperti tengah menimbang-nimbang. Sesaat kemudian, dia berbalik menghadap kepada Ludwig. Altea tersenyum puas seraya menyodorkan black card tadi. “Kalau begitu, aku ingin melunasi seluruh utang Herbert Miller sekaligus bunganya jika ada.”
Raut wajah Ludwig seketika berubah tegang dan terlihat semakin datar. Dia menatap tajam Altea yang justru menunjukkan ekspresi sebaliknya. Altea begitu tenang dengan senyuman manis terkembang di paras cantiknya yang belum tersapu make up.
“Kenapa, Tuan Stegen? Bukankah ini sudah menjadi milikku?” Nada pertanyaan Altea terdengar seperti tantangan halus bagi Ludwig. “Kenapa kau tidak bersedia menerimanya?”
Ludwig tak menjawab. Dia masih memandang tajam pada Altea. Sorot mata yang Ludwig tunjukkan, menyiratkan rasa tak suka atas apa yang wanita muda itu katakan. Dengan cepat, pria tampan tersebut merengkuh pinggang Altea, sehingga makin merapat padanya. “Kau pikir aku akan menerimanya dengan mudah? Bukan seperti itu cara permainannya, bahkan meski air senimu sudah membanjiri tempat tidurku. Tak ada jumlah nominal yang bisa membuatmu lepas dariku.” Dalam dan penuh penekanan ucapan yang dilontarkan Ludwig.
Altea menelan ludah dalam-dalam. Dia menangkap hal lain dari pria yang sedang mendekapnya erat. Ini tak seperti yang dia perkirakan. “Kenapa kau tak ingin melepaskanku?” tanyanya pelan.
“Aku tak harus memberitahukan alasannya padamu,” jawab Ludwig. Dia melepaskan rangkulan dari tubuh Altea. Ludwig meraih jaket kulit cokelat yang tergeletak di kasur. Pria itu menyambarnya sambil melangkah keluar kamar. “Kutunggu kau di dekat lift.”
Altea mengembuskan napas penuh keluhan. Dia kembali menghadap cermin. Baju yang dikenakannya terlalu minim dan terbuka di bagian atas. “Astaga.” Altea kembali mengeluh sembari mengetuk-ngetukkan black card tadi ke telapak tangan. Perhatian wanita berambut panjang itu tertuju pada lemari etalase dengan kaca mengilap. Di dalam sana, ada beberapa kemeja milik Ludwig yang digantung serta berderet rapi.
Beberapa saat kemudian, Altea berjalan keluar kamar menghampiri Ludwig yang sedang menunggunya dekat lift. Ludwig yang tadinya tengah fokus pada layar ponsel, langsung menoleh saat mendengar suara derap hak sepatu beradu dengan lantai. Ekspresi wajah pria bermata abu-abu itu kembali terlihat aneh, ketika melihat Altea sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum manis.
“Kenapa kau memakai kemejaku?” tanya Ludwig bernada protes.
“Aku ingin berjalan-jalan, berbelanja. Seperti yang kau katakan tadi, aku akan membeli apapun yang kumau,” jawab Altea tenang, “tapi, aku tidak ingin semua orang melihat punggung dan dadaku. Karena itulah, aku terpaksa meminjam kemejamu.” Altea tak juga melepaskan senyumannya.
Altea maju beberapa langkah, hingga dia berdiri tepat di hadapan Ludwig. Wanita itu mulai bersikap berani. Dia menangkup paras tampan Ludwig, kemudian mencium lembut bibir si pria hingga beberapa saat. “Aku meminta izin untuk meminjam kemeja mahalmu,” ucapnya setengah berbisik. Seusai berkata demikian, Altea menghadap ke lift. Dia menekan tombol untuk menuju lantai dasar. Setelah pintu lift terbuka, wanita muda itu melangkah masuk.
Sementara, Ludwig sempat tertegun atas sikap Altea. Namun, dia segera tersadar. Ludwig ikut masuk ke lift dan berdiri di sebelah wanita itu. Dia tak bicara sepatah kata pun, hingga pintu lift kembali terbuka. Sebelum melangkah keluar, Ludwig meraih tangan Altea. Dia menuntun wanita yang telah menemaninya menghabiskan malam. Mereka berjalan beriringan menuju mobil.
Seperti biasa, Ludwig membukakan pintu untuk Altea. Setelah wanita muda itu masuk, dia memasangkan sabuk pengaman. Tak lupa, Ludwig mencium bibir polos wanita yang memakai kemejanya tanpa izin. Namun, adegan itu tak berlangsung lama. Ludwig segera menutup pintu. Dia melangkah ke pintu sopir, lalu duduk di belakang kemudi.
“Kau ingin berbelanja di mana?” tanyanya sambil melajukan kendaraan.
“Entahlah. Berlin bukan kota tempat tinggalku,” jawab Altea enteng. Dia menoleh seraya kembali tersenyum, meskipun Ludwig tak membalasnya. Pria itu fokus pada lalu lintas yang mereka lewati.
Altea tak peduli atau merasa tersinggung, dengan sikap Ludwig yang masih sulit untuk ditebak. Dia memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela. Tanpa sengaja, Altea melihat kedai yang menjual laugenbretzel, yaitu roti berbentuk simpul dengan taburan garam, gula, cokelat, bubuk wijen, biji bunga matahari, serta mentega. Altea segera meminta Ludwig menghentikan laju kendaraan. Dia ingin membeli makanan tadi.
“Tunggulah di mobil. Akan kubelikan.” Ludwig melepas sabuk pengaman, lalu keluar dari kendaraan. Dia melangkah gagah menuju kedai tadi.
Sedangkan, Altea merasa bosan. Dia ikut keluar, tapi hanya berdiri di dekat mobil. Sesekali, wanita muda itu menggaruk kening sambil bersandar pada body mobil. Altea mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suasana di sana sudah ramai, karena hari telah beranjak siang.
“Nona Miller?” Tiba-tiba terdengar suara yang teramat Altea kenal. Suara milik pria yang selama ini ada dalam pikirannya.
Altea segera menoleh. Dia terpaku melihat sosok tampan berambut pirang dengan mata biru yang indah.
Vlad Ignashevich melangkah gagah ke dekat Altea berada. Dia berdiri di hadapan wanita muda itu. Vlad menatap aneh kepada Altea. Pada bagian bawah pakaiannya yang sangat minim. Selain itu, Altea juga mengenakan kemeja pria dengan ukuran terlalu besar.
“Mari kembali ke Sieseby,” ajak Vlad pelan.
“Tuan, aku ….” Altea tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dia terlebih dulu melihat sosok Ludwig yang berdiri di belakang Vlad. Altea menatap kedua pria dengan postur dan tingkat ketampanan yang sama tersebut. Tak ada hal lain yang wanita itu lakukan, selain mengembuskan napas pelan.
Sementara, Vlad yang menyadari ada seseorang di belakangnya, menoleh perlahan. Tatapan pria itu langsung beradu dengan sepasang mata abu-abu milik Ludwig.