Since I Found You

Since I Found You
Rumble



Vlad membalikkan badan, sehingga menghadap sepenuhnya pada Ludwig. Senyuman sinis tersungging di bibir pria asal Rusia tersebut. “Ludwig Stegen. Sudah kuduga jika kau menyembunyikan Nona Miller,” ucap Vlad ketus.


“Aku tidak menyembunyikan siapa pun. Buktinya, aku membawa dia ke tempat umum seperti ini,” bantah Ludwig kalem.


“Kau benar-benar pria yang aneh, Tuan Stegen.” Vlad maju selangkah, sehingga jaraknya menjadi lebih dekat kepada Ludwig.


“Aku tidak meminta penilaian darimu,” balas Ludwig dingin.


“Terserah. Satu yang pasti, aku akan membawa Nona Miller kembali ke Sieseby!” tegas Vlad penuh penekanan, meskipun volume suaranya tidak terlalu nyaring.


Ludwig tak segera menanggapi apa yang Vlad katakan. Dia hanya menatap tajam pria di hadapannya. Sesuatu yang berbalas hal sama dari Vlad. Pria asal St. Petersburg itu tak gentar, meskipun fisiknya tak sesempurna Ludwig.


Seulas senyuman muncul di sudut bibir Ludwig. Pria tampan berambut cokelat itu mengarahkan pandangan kepada Altea, yang tak tahu harus berkata apa. Sesaat kemudian, Ludwig kembali menatap tajam Vlad. “Kuberitahukan satu hal padamu, Tuan Ignashevich.” Nada bicara Ludwig terdengar begitu dingin. “Apapun yang kau lakukan, seberapa keras usahamu, Nona Miller tak akan meninggalkan Berlin. Dia berada dalam pengawasanku, karena dirinya sudah menandatangani perjanjian tertulis yang sah denganku.”


Ludwig berjalan gagah ke hadapan Altea. Dia menyerahkan bungkusan berisi makanan yang wanita itu inginkan. “Katakan sesuatu pada pria yang berharap terlalu banyak itu, Perle (Mutiara),” suruhnya pelan, tapi penuh penekanan.


Altea tak segera menanggapi. Dia menatap Ludwig dengan sorot protes. Altea seakan ingin melayangkan penolakan terhadap ucapan pria itu. Namun, dirinya kembali teringat pada ucapan Herbert beberapa waktu lalu. Tatapan sendu Altea beralih kepada Vlad yang memperhatikan sejak tadi.


Vlad berjalan mendekat. Pria itu terlihat sangat sempurna, meskipun kenyataannya dia mengenakan kaki palsu. Namun, kekurangan itu tak terlihat sama sekali, dalam diri pria tiga puluh tahun tersebut.


“Ayo kita pulang. Aku sudah berjanji pada ibu akan membawamu kembali.” Vlad meraih tangan Altea. Dia bermaksud menarik wanita itu agar mendekat padanya.


Namun, sebelum Vlad sempat melakukan hal tersebut, gerakan cepat Ludwig lebih dulu menahannya. Dia menepiskan tangan Vlad. Ludwig juga langsung berdiri membelakangi Altea. “Sudah kukatakan bahwa kau tak akan bisa membawanya, Tuan Ignashevich!” tegas sang pemilik Kasino Goldgeld itu penuh penekanan.


“Jangan menghalangiku! Aku tak takut padamu, bahkan jika kau menantang untuk berduel!” Nada bicara Vlad tak kalah menakutkan. “Menyingkirlah! Aku tak akan segan menghancurkanmu, sama seperti yang kulakukan pada kasino dan seluruh penjaganya!” Vlad menyeringai puas.


Namun, Ludwig masih terlihat tenang. Dia berusaha tak terpengaruh gertakan dari Vlad. Pria tampan tersebut masih memasang raut tanpa ekspresi. “Dengan senang hati akan kuterima tantanganmu,” balasnya. “Katakan saja kapan dan di mana. Aku tak akan mangkir.”


Baru saja Vlad akan membalas ucapan Ludwig, tiba-tiba Altea memperlihatkan dirinya dari balik tubuh tegap Ludwig. “Tuan,” sebutnya pelan dan lembut. Suara merdu wanita cantik bermata cokelat itu, seketika membuat kedua pria tampan yang sedang bersitegang tadi segera menoleh dengan serempak. “Kembalilah, Tuan. Jangan menghiraukanku lagi. Sudah cukup aku menyusahkan Anda,” ucap Altea lirih.


“Apa yang kau katakan? Berhentilah bersikap bodoh!” sergah Vlad. Sikapnya di hadapan Altea masih belum berubah. “Aku sudah mencarimu sejak beberapa hari yang lalu. Ibuku berharap agar kau kembali. Kau pikir, aku akan pulang ke Sieseby tanpa membawa hasil?”


“Ibuku tahu bahwa aku bukan pecundang!” bantah Vlad tegas. Dia tetap pada pendiriannya. “Ibuku tak akan percaya begitu saja!”


“Kalau begitu katakan pada Nyonya Elke bahwa aku sudah mati!” Altea terlihat begitu emosional. Wajahnya yang selalu terlihat ceria dan seakan tanpa beban hidup, kali ini tampak sebaliknya. Sepasang mata Altea mulai berkaca-kaca.


“Apa maksudmu?” Vlad menahan amarah setelah mendengar ucapan Altea. Dia menatap tajam wanita muda itu. Namun, Altea tak menanggapinya. Dia memilih segera masuk ke mobil, lalu menutup pintu rapat-rapat.


Ludwig juga tak mengatakan apapun. Dia berlalu begitu saja dari hadapan Vlad. Tanpa ada perasaan tak enak, pria tampan tersebut masuk ke mobilnya.


Sementara, Vlad masih berdiri terpaku sambil mengepalkan tangan. Dia tak bisa berbuat banyak, karena mereka sedang berada di tempat umum. Vlad tak ingin mengulang kebodohan yang pernah dilakukan dulu, saat dirinya mengejar Miabella. Gara-gara hal itu, pria tampan tersebut harus menghadapi amukan warga yang kebetulan ada di tempat kejadian.


Namun, sepertinya kali ini dia kembali mengambil keputusan yang salah. Seharusnya, dia memukul Ludwig Stegen dan tak membiarkan Altea pergi begitu saja. Seketika, Vlad tersadar. Dia langsung masuk ke mobil yang diparkir di pinggir jalan. Vlad melajukannya kencang, membuntuti kendaraan milik Ludwig yang masih terlihat meski sudah sedikit menjauh.


“Bodoh!” Pria tampan bermata biru itu merutuki dirinya yang telah bersikap pasif. “Seharusnya kuhabisi dia sejak tadi,” geram Vlad menahan amarah yang belum sempat diluapkan. Vlad menginjak pedal gas dengan kuat, sehingga mobil sedan yang dikemudikannya melaju semakin kencang.


Sedan hitam itu bergerak lincah, menyalip beberapa kendaraan di depannya. Namun, Vlad tetap menjaga jarak dengan jeep hitam milik Ludwig. Dia mengikuti mobil itu hingga berhenti di depan sebuah bangunan bergaya Eropa kuno.


Vlad menghentikan laju kendaraannya agak jauh dari mobil milik Ludwig. Namun, dia masih dapat melihat apa yang Ludwig lakukan, termasuk saat pria itu membukakan pintu untuk Altea. Wanita cantik tersebut tampak begitu menurut. Sikap Altea berlainan dengan yang biasa dia tunjukkan di hadapan Vlad.


Altea terlihat jauh lebih tenang. Cara berpakaian dan berjalannya pun sudah tampak berbeda, dari yang pernah Vlad kenal. Entah apa yang terjadi pada wanita itu. Padahal, mereka tak bertemu hanya sekitar dua minggu.


“Apa yang terjadi padamu?” gumam Vlad tak mengerti. Dia merasa semakin penasaran, dengan alasan yang melatarbelakangi perubahan dalam diri wanita muda itu.


Vlad mengembuskan napas dalam-dalam sambil menyandarkan kepala. Sementara, perhatiannya tak teralihkan dari sosok Altea serta Ludwig yang berjalan menaiki undakan anak tangga. Satu hal yang membuat Vlad merasakan gemuruh hebat luar biasa, adalah ketika dirinya melihat Ludwig mencium Altea cukup lama.


“Apa-apaan itu?” Vlad menautkan alisnya. Napas pria asal Rusia tersebut tiba-tiba terasa sesak. Antara yakin dan tidak dengan pemikiran yang merasuk ke otaknya, Vlad memilih pergi dari sana.