
“Anda kenapa, Tuan?” tanya Milana heran.
“Tidak apa-apa,” jawab Mykola seraya tersenyum kecil untuk menutupi sikap anehnya. Mykola kembali meletakkan tangan di paha, lalu menoleh pada sang ibu yang juga kebingungan.
Margosha mungkin lupa, atau sengaja mengubur dalam-dalam kisah kelamnya. Dia tak menyadari bahwa satu sentuhan kecil pada pundak Mykola, telah berhasil membangkitkan kenangan buruk tentang segala perlakuan keji sang ibu kepadanya. Sesuatu yang kerap terjadi belasan tahun silam.
Mykola menatap wajah yang sudah dipenuhi banyak kerutan itu. Kenangan buruk yang susah payah dipendam dan berusaha dirinya lupakan selama bertahun-tahun, kembali muncul ke permukaan. Itulah mengapa dia tak pernah datang menemui Margosha.
Mykola kecil adalah anak yang kurang beruntung. Dia hidup dalam kemiskinan, dan sering berpindah-pindah tempat tinggal bersama kedua orang tuanya. Keadaan menjadi semakin buruk, ketika sang ayah tiba-tiba meninggalkannya dan sang ibu begitu saja. Pria itu pergi tanpa kecupan selamat tinggal, atau salam perpisahan.
Margosha yang marah dan kecewa, melampiaskan semuanya pada si kecil Mykola yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Mykola harus merelakan tubuh mungilnya menjadi sasaran amarah tak tersalurkan dari sang ibu. Dia kerap menerima pukulan, tendangan, bahkan sundutan rokok di beberapa bagian tubuh.
Semenjak kepergian sang suami yang tanpa pamit, Margosha berubah menjadi perokok dan pemabuk berat. Dia tak memedulikan keberadaan Mykola lagi. Padahal, anak itulah yang selalu menemani hari-hari serta menghiburnya.
“Satu-satunya yang kuharapkan darimu adalah diam! Jangan bicara apapun, atau ujung rokok ini yang akan memperingatkanmu!” ancam Margosha, setiap kali Mykola mendekat padanya.
Hingga dua tahun lamanya, Mykola harus menjalani hari-hari layaknya di neraka. Namun, semua itu berakhir saat dinas sosial mengambil dan membawa dia pergi. Mykola disekolahkan hingga jenjang tertinggi dengan bantuan pemerintah.
Mykola memiliki kecerdasan di atas rata-rata, ditambah kemampuan dalam melihat peluang serta memanfaatkan kesempatan. Hal itu, membuat Mykola diterima bekerja di sebuah perusahaan nasional. Gaji pertama yang diterima pun jauh lebih dari cukup, untuk biaya hidup seorang diri.
Titik tertinggi dalam hidup Mykola, terjadi saat dirinya bertemu dengan Vlad. Pria tampan bermata biru itu menawari pekerjaan dengan gaji fantastis. Mykola tak berpikir dua kali untuk menerima tawaran tersebut.
Hingga suatu hari saat baru kembali dari perjalanan luar kota, tanpa sengaja Mykola bertemu Margosha yang ternyata hidup menggelandang. Namun, setelah melihat wajah sang ibu, mimpi buruknya hadir lagi dan seakan membawa dia kembali ke dalam hidup penuh siksaan. Hal tersebut bahkan mengganggu ketentraman Mykola. Pria berambut gelap tersebut, mengalami trauma berat atas perlakuan buruk Margosha.
Mykola, bahkan tak berani menghampiri serta menawari wanita paruh baya itu tempat berteduh. Dia malah memerintahkan anak buah untuk menggantikannya. Mykola menyuruh orang itu agar membawa Margosha dari jalanan, lalu memberikan tempat tinggal yang layak. Sebuah rumah dua lantai siap huni, di pinggiran Kota St. Petersburg.
Setiap bulan, Mykola juga mengirim uang untuk Margosha melalui perantara anak buahnya. Dengan begitu, dia tak perlu bertemu sang ibu secara langsung.
Akan tetapi, sikap hangat dan penuh kasih yang Elke tunjukkan kepada Altea, nyatanya memantik kerinduan Mykola akan hadirnya sosok sang ibu. Meskipun dirinya tahu, Margosha bukanlah ibu yang baik dan bahkan menorehkan luka masa lalu yang terlalu dalam baginya.
“Apa kau sakit, Nak? Apa kau demam? Wajahmu terlihat sangat pucat.” Margosha mengulurkan tangan, bermaksud untuk menyentuh pipi Mykola.
Namun, lagi-lagi pria itu segera menghindar dengan beringsut mundur. “Kau tidak perlu menyentuhku lagi, Bu. Cukup berpelukan saja. Terakhir kali kau menyentuh wajahku, aku pingsan hampir dua jam lamanya,” ujar Mykola sambil tersenyum getir.
“Kenapa bisa begitu?” Milana yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan, memberanikan diri untuk bertanya.
“Apakah kau bersedia menjelaskannya, Bu?” Bukannya menjawab, Mykola malah mengalihkan perhatian pada sang ibu, yang langsung terkesiap lalu membeku.
“Kau dulu memukulku dengan buku bersampul tebal, hingga pelipisku berdarah. Aku tak sadarkan diri sampai tetangga kita datang. Mereka membawaku ke dinas sosial terdekat. Saat itulah, terakhir kalinya aku bertemu denganmu,” tutur Mykola seraya tersenyum kelu.
“Anakku … Mykola ….” Margosha kesulitan mengungkapkan kata-kata. Wanita itu menitikkan air mata, yang tak lama kemudian diiringi isakan pelan. “Maafkan aku,” ucapnya lirih.
Dalam hati, Margosha ingin berteriak dan bersimpuh di hadapan putranya untuk memohon maaf. Margosha juga ingin mengungkapkan, betapa dia sangat menyesali perbuatan bodohnya di masa lalu. Akan tetapi, entah kenapa kata-kata yang hendak diucapkannya seolah tercekat di tenggorokan.
“Sudahlah. Aku kemari bukan untuk mengungkit masa-masa paling kelam dalam hidupku. Aku hanya ingin melihat keadaanmu, dan ….” Kalimat Mykola terjeda sejenak. Dia lalu merogoh sesuatu dari saku blazernya.
Sebuah undangan berukuran kecil dengan desain elegan, dia serahkan kepada Margosha.
“Ini. Aku ingin memperkenalkanmu pada majikan yang selama ini telah memberikan banyak hal padaku,” ujar Mykola. “Datanglah ke pesta pernikahan tuanku pada akhir pekan nanti. Aku akan menjemputmu, Bu. Kau juga Milana. Datanglah bersama ibuku.” Mykola mengarahkan pandanganya pada gadis berambut panjang, yang sedari tadi duduk menyimak.
“Aku? Tapi, aku tidak mengenal atasanmu. Aku bahkan baru bertemu denganmu hari ini,” ujar Milana seraya menggeleng ragu.
“Tidak apa-apa. Datang saja. Aku akan menjemput kalian pukul sepuluh pagi,” ucap Mykola. Nada bicara pria itu menunjukkan bahwa dia tak menerima penolakan lagi.
“Baiklah, Nak. Jika itu yang kau inginkan, maka kami akan datang,” ucap Margosha setelah menimbang selama beberapa saat, “tapi … aku tak memiliki baju pesta sama sekali,” ucapnya kemudian.
“Itu bukan masalah, Bu. Aku akan mempersiapkan semuanya. Kalian hanya perlu menungguku datang pada akhir pekan nanti. Jangan lupa. Jam sepuluh tepat,” tegas Mykola sebelum mengangguk, lalu beranjak dari duduknya.
“Tunggu, Nak! Kau belum mencicipi kue buatanku,” cegah Margosha. Spontan dia memegangi lengan putranya. Beruntung, Mykola tak bergerak refleks seperti tadi.
“Kita masih memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama, Bu. Tunggulah tiga hari lagi, saat aku menjemput kalian." Mykola mengedipkan sebelah matanya pada Milana, membuat gadis itu tersipu malu. Pria kepercayaan Vlad tersebut lalu berbalik dan meninggalkan rumah dua lantai yang sengaja dibeli bertahun-tahun lalu untuk sang ibu.
Tujuan Vlad saat itu adalah kembali ke mansion sebelum terbang ke Jerman. Dia melajukan kencang mobil mewahnya, lalu berhenti di depan gerbang utama mansion milik Vlad. Mykola bermaksud memasukkan mobilnya, ketika ekor mata pria itu menangkap sesuatu.
Pandangan Mykola menembus kaca depan mobil. Dia merunduk sambil memicingkan mata, berusaha menangkap objek yang berada agak jauh dari posisinya berada. Objek tersebut tampak aneh baginya.
Mykola memilih turun dari kendaraan. Dia meminta para penjaga agar memarkirkan mobilnya di halaman samping. Sementara itu, Mykola setengah berlari mengikuti objek berbentuk cahaya bulat berwarna merah, yang melayang agak jauh di atasnya.
Cukup lama Mykola berlari, hingga pria itu mengetahui bahwa objek misterius tadi merupakan cahaya yang dihasilkan dari sebuah drone berukuran kecil. Mykola menghentikan langkahnya, saat dia menyadari bahwa dirinya sudah terlalu jauh masuk ke padang semak, yang berada di sisi kanan jalan raya.
Pria tampan berambut gelap tersebut berkacak pinggang seraya menyapu pandangan ke sekitar. Tempat itu terasa begitu sunyi. Terlalu hening untuk siang hari yang terik. Beberapa saat lamanya, Mykola berdiri di sana sambil memperhatikan sekeliling.
Merasa tak menemukan apapun, dia memutuskan untuk pergi dari sana. Namun, tiba-tiba sesosok pria tinggi besar melompat dari balik semak-semak, sambil mengayunkan kapak ke arahnya.