Since I Found You

Since I Found You
12 Feet



Pria itu mengempaskan tubuh Herbert hingga membentur bodi samping mobil dengan keras. Sikapnya yang terlihat sok jagoan, begitu mengintimidasi ayahanda Altea tersebut. Sebenarnya, postur Herbert jauh lebih tegap jika dibandingkan dengan si pria. Akan tetapi, Herbert tak ingin mengambil risiko dengan berbuat konyol.


“Ingatlah janji yang sudah kau berikan kepada Tuan Dietmar Kreuk. Kau akan menyerahkan anak gadismu yang cantik itu dengan sukarela. Jangan lupa juga dengan batas waktu yang sudah Tuan Dietmar tentukan, karena tak lama lagi Tuan besar kami akan segera datang kemari. Tuan Ludwig Stegen yang terhormat.” Pria itu berbicara dengan penuh penekanan serta bernada ancaman.


“Jangan khawatir. Aku tak akan lupa dengan apa yang sudah kujanjikan kepada bos kalian. Secepatnya akan kubawa Altea ke hadapan Tuan Kreuk. Sebelum Tuan Stegen datang ke Hamburg.” Herbert kembali memberikan janji yang belum tentu dapat dirinya penuhi. Namun, pria paruh baya tersebut tak memiliki cara lain untuk menyelamatkan diri. Jalan satu-satunya adalah dengan menemukan Altea secepat mungkin.


“Ayo!” Si pria mengangkat tangan, sebagai isyarat ajakan pergi kepada rekan-rekannya. Tanpa banyak bicara lagi, mereka meninggalkan Herbert dengan wajah gusar luar biasa. Bagaimana tidak,waktunya untuk menyerahkan Altea hanya tersisa kurang dari satu minggu lagi.


“Ah! Kurang ajar!” Herbert terlihat begitu kesal. “Ke mana kau Altea? Kau menyusahkanku saja!” gerutunya. Pria paruh baya itu meraup kasar wajahnya yang dipenuhi janggut lebat. Dia melampiaskan amarah dalam diri, dengan cara menendang roda mobil sekencang mungkin. Namun, pada akhirnya dia mengaduh sambil meringis kesakitan. Dengan langkah tertatih, Herbert kembali ke dalam kendaraan. Tak berselang lama, dia meninggalkan tempat itu.


Mykola yang menyaksikan adegan tadi dari dalam mobilnya, hanya menyunggingkan senyuman samar. Dia memasukkan kembali teropongnya ke tempat semula. Mykola, kemudian menyalakan mesin mobil. Dia sudah akan melajukan kendaraan mewahnya, ketika terdengar suara dering ponsel khusus. Pria tampan berambut gelap tadi segera mengurungkan niat, karena itu merupakan nada dering yang dia gunakan untuk nomor kontak milik Vlad. “Tuan?” sapa Mykola sopan.


“Kau di mana?” tanya Vlad langsung pada intinya.


“Aku sudah hampir masuk ke Kiel. Ada apa, Tuan?” tanya Mykola lagi.


“Kembalilah ke Hamburg. Datangi kasino bernama Goldgeld. Cari tahu apapun yang perlu, lalu laporkan padaku.” Tegas dan lugas, perintah yang diberikan Vlad kepada sang asisten kepercayaan.


“Baiklah. Akan segera kulaksanakan,” sahut Mykola. Pria bermata gelap itu terdiam sejenak. “Apakah anda sudah menemukan Nona Miller?” tanyanya kemudian.


“Itu bukan hal sulit bagiku,” sahut Vlad jumawa.


“Syukurlah,” balas Mykola lega.


Vlad memicingkan mata mendengar nada bicara sang asisten kepercayaan. Sebagai seorang pria, dia dapat menangkap ada sesuatu yang tersembunyi dalam kelegaan yang dirasakan oleh Mykola. Namun, Vlad tak ingin memusingkan hal itu. Dia berusaha menepiskan pikiran-pikiran tak penting yang mulai menggelayuti benaknya.


“Tadi, aku melihat sekawanan pria yang menghadang Herbert Miller. Tuan Miller tampak terancam. Namun, sayangnya aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan,” lapor Mykola.


“Berapa banyak?” tanya Vlad.


“Sekitar tiga atau empat orang. Tadi, aku juga melihat ada lagi yang menunggu di dalam mobil,” terang Mykola.


Vlad terdiam sejenak. Pria itu melihat ke luar jendela kaca kamarnya. “Baiklah. Segera laksanakan tugas yang kuberikan tadi. Aku tunggu kabar darimu.” Seusai berbincang di telepon, Vlad meletakkan ponselnya di atas meja. Dia yang saat itu duduk di tepian tempat tidur, sempat termenung hingga beberapa saat. Pandangannya kemudian tertuju pada kaki palsu yang diletakkan di sudut ruangan. Tiba-tiba, terbersit ide gila dalam benaknya.


Pria bermata biru itu kembali meraih ponsel yang tadi dia letakkan di atas meja. Dia lalu menghubungi Altea, menyuruh agar wanita muda tersebut datang menghadap padanya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Altea setelah Vlad mengizinkan wanita muda itu masuk.


"Bersiaplah. Kita akan berangkat ke Berlin sekarang juga," ujar Vlad seraya berdiri.


"Berlin? Sekarang?" ulang Altea terlihat bingung dan terkejut. Altea menautkan alisnya sambil menggerakkan bola mata dengan tak beraturan.


"Ya. Apa kata-kataku kurang jelas? Bersiaplah sekarang, kita akan pergi ke Berlin!" tegas Vlad sekali lagi.


"Baiklah," sahut Altea seraya mengangguk pelan. Tanpa banyak protes, dia kembali ke kamarnya. Sesuai perintah sang majikan, Altea mulai mempersiapkan diri. Tak lupa, tas ransel butut yang merupakan benda berharga satu-satunya, dia bawa untuk menemani perjalanan kali ini.


"Kami berangkat dulu, Bu. Aku sudah memerintahkan Heinrich dan Amanda, untuk menemanimu di sini selama aku pergi," ucap Vlad, ketika dirinya sudah bersiap di samping mobil Mercedes-Maybach, mobil kesayangan yang dulu sering dia bawa ke manapun. Kali ini, mobil mewah itu yang akan membawanya dan Altea ke Berlin.


"Ah, sebenarnya kau tidak usah memerintahkan siapa pun, Nak. Aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri," tolak Elke halus.


"Itu dulu waktu Ibu masih muda. Seiring bertambahnya usia, aku tak ingin Ibu bekerja terlalu keras, juga tidak boleh sendirian dalam waktu lama," pungkas Vlad. Dia tak ingin ada bantahan lagi, sehingga pria tampan bermata biru itu segera mencium kedua pipi sang ibu. Dia bahkan masuk ke mobil dengan terburu-buru. "Ayo, Nona Miller! Waktu adalah uang!"


"Aku pergi dulu, Nyonya! Tuan besar sudah memerintahkanku," pamit Altea seraya membungkuk sopan, kemudian bergegas memasuki mobil.


"Hati-hati di jalan!" Elke melambaikan tangan, seiring kendaraan Vlad yang melaju meninggalkan halaman rumah dan melintasi jalanan desa.


Dari jalanan desa, mereka memasuki jalu cepat antar kota. Dalam kecepatan normal, sebuah mobil membutuhkan empat jam untuk tiba di Berlin. Namun, berhubung Vlad adalah pengemudi andal, dia hanya menghabiskan tiga jam saja di jalan raya sampai tiba di sebuah gedung lima tingkat, yang berada di pusat Kota Berlin.


"Kau akan mengajakku ke mana?" tanya Altea ragu. Dia mengikuti tubuh tegap Vlad yang sudah lebih dulu turun dari kendaraan.


"Nanti juga kau akan tahu. Bawa tongkatku," titah Vlad seraya menyodorkan tongkat bantu jalannya pada Altea. "Tekan tombol liftnya ke lantai teratas," suruh pria rupawan itu lagi.


Altea tak banyak bicara. Dia menuruti apapun perkataan Vlad tanpa bertanya macam-macam, hingga pintu lift terbuka di lantai yang dituju.


Vlad mendahului Altea keluar dari lift tersebut, lalu berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintunya yang berlapis emas. Dia cukup mengetuk pintu yang penuh dengan ukiran klasik itu sebanyak dua kali. Tak berselang lama, seorang pria paruh baya membukanya lebar-lebar.


Pria dengan rambut yang telah memutih seluruhnya itu, tampak semringah melihat sosok Vlad yang gagah berdiri di hadapannya. "Tuan Ignashevich, apa kabar?" sapa pria tersebut seraya merentangkan kedua tangan. Dia bersiap memeluk Vlad. Namun, pria asal Rusia tersebut lebih dulu menghindar dengan memundurkan badan.


"Ah, maafkan aku. Aku selalu lupa jika Anda tak suka berada terlalu dekat dengan orang lain," ujar pria itu kikuk.


"Silakan masuk, Tuan. Aku ... hei! Siapakah nona cantik ini?" Perhatian si pria teralihkan pada Altea, yang berdiri sedikit di belakang Vlad.


"Dia adalah asistenku yang baru," jawab Vlad asal, membuat Altea melotot tajam ke arahnya.


"Oh. Apakah Tuan Mykola sudah tidak bekerja pada Anda lagi?" tanya si pria sambil mengarahkan Vlad dan Altea untuk duduk di sebuah sofa panjang, yang menempel rapat pada satu sisi dinding ruangan.


Vlad sama sekali tak mengiraukan pertanyaan pria itu. Mata birunya malah fokus pada satu orang lagi di dalam ruangan tersebut, yaitu seorang wanita yang sepertinya berusia sedikit lebih muda dibanding si pria.


"Nyonya Gertrude Hofmann." Vlad langsung menyalami wanita itu. "Buatkan aku kaki palsu khusus yang memiliki kekuatan dan ketahanan lebih. Sisipkan juga sedkit senjata yang bisa kugunakan untuk membela diri," ujarnya tanpa basa-basi.


"Bukankah aku sudah membuatkan sebelas buah dengan berbagai desain dan bahan khusus untukmu, Tuan? Apakah Jan salah mengirimkan alamat selama ini?" tanya wanita bernama Gertrude tadi, seraya melirik tajam pada pria di sebelahnya.


"Tidak, Nyonya. Jangan salahkan Jan. Selama ini, dia selalu mengirimkan pesananku tepat waktu," ujar Vlad agar Gertrude tak menegur pegawainya lebih keras lagi.


"Lalu, sekarang Anda ingin memesan satu lagi?" tanya Jan ragu.


"Ya. Aku ingin sepasang kaki palsu, yang bisa kugunakan untuk bertarung," jawab Vlad dengan senyuman samar tersungging dari sudut bibirnya.