
Altea terlihat ragu. Dia mendongak, menatap paras tampan Ludwig yang juga tengah memandang ke arahnya dengan sorot aneh. Altea paham apa yang pria itu inginkan. Akan tetapi, dia tak tak tahu harus bagaimana.
Melihat Altea yang seakan ragu, Ludwig segera memegangi tengkuk wanita muda itu. Dia menggenggam erat rambut panjang Altea, lalu menariknya hingga wajah cantik putri bungsu Herbert tersebut semakin mendekat. Tak lama kemudian, Ludwig menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan posisi mendongak. Sepasang mata abu-abunya terpejam, dengan helaan napas yang mulai memburu.
Untuk beberapa saat, Ludwig merasa menjadi seorang raja. Namun, itu bukanlah akhir dari malam indahnya. Ludwig, menahan kepala Altea dengan cara kembali menggenggam rambut panjang wanita muda itu. Wajah cantik Altea sedikit mendongak, dengan bibir yang basah.
“Cukup,” ucap Ludwig. Dia memegangi wajah Altea, sedikit menekan pipinya yang masih dalam posisi mendongak. Ludwig kembali memandangi paras cantik wanita berambut cokelat itu hingga benar-benar puas.
Setelah merasa puas, sang pemilik Kasino Goldgeld tersebut menyingkirkan tangannya dari wajah yang sudah terlihat agak lusuh tadi. Ludwig tersenyum sinis. Dia mendekatkan wajahnya dan kembali mencium Altea. Pria tampan tersebut menarik tubuh indah itu agar naik ke pangkuannya.
Altea yang sudah setengah mabuk, hanya bersikap pasrah. Lagi-lagi, dirinya membiarkan Ludwig berkuasa. Altea bahkan mulai berhalusinasi. Dia tersenyum manja seraya menangkup wajah pria itu, lalu melu•mat bibir berhiaskan kumis dan janggut tipis tersebut dengan penuh gairah.
“Tuan,” bisik wanita yang sudah dalam keadaan polos tersebut. “Apa kau merindukanku?” bisiknya lagi. “Ayo kita ulangi seperti malam itu.” Dalam pandangan Altea, pria yang tengah mencumbuinya dengan penuh gairah di sofa adalah sosok si pemilik rambut pirang bermata biru, Vlad Ignashevich. Paras tampan pria asal Rusia tersebut terlihat jelas, mengobati rasa rindu terhadapnya.
“Tuan ….” Altea mende•sah pelan, ketika apa yang dilakukannya bersama Vlad pada malam sebelum dirinya pergi dari Sieseby, kembali terulang. Wanita dua puluh tiga tahun itu mengerang manja, menikmati setiap gerakan dari penyatuannya bersama Ludwig yang dia anggap sebagai Vlad.
Malam itu, benar-benar menjadi malam yang panjang bagi keduanya. Mereka bahkan melanjutkan aktivitas panas tadi di dalam kamar, di tempat tidur besar milik Ludwig Stegen. Pria yang akan menjadikan Altea sebagai wanita penghibur bagi kalangan kelas atas.
......................
Matahari sudah menebarkan cahayanya yang hangat. Sinar itu menembus masuk melewati jendela kaca bertirai putih yang sudah terbuka. Altea terbangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa berat. Tubuhnya juga begitu lelah. Samar dalam ingatan wanita muda itu, terbayang adegan panas yang dilakoni bersama Ludwig. Sang pemilik apartemen mewah di mana dia berada saat ini.
Altea turun dari tempat tidur. Dengan tubuh tanpa sehelai benang pun, wanita muda tersebut berjalan ke arah pintu yang diyakininya sebagai kamar mandi. Apa yang Altea pikir memang benar, meskipun ruangan itu terlalu mewah jika harus disebut kamar mandi.
Dengan langkah tenang, Altea masuk ke shower box. Dia mulai membersihkan tubuh di sana. Beberapa saat kemudian, Altea keluar sambil mengenakan bathrobes berwarna putih, yang didapatnya dari tempat penyimpanan khusus di dalam kamar mandi tadi.
Sepasang mata cokelat Altea menjelajah setiap sudut ruangan kamar yang luas itu. Mini dress yang dia kenakan semalam, tak ada di manapun. Altea teringat jika dia memulai semuanya dari ruang tamu. Mungkin saja, mini dressnya juga ada di sana. Tanpa berpikir dua kali, dia melangkah tenang keluar kamar.
Akan tetapi, sebelum dirinya tiba di ruang tamu, Altea melintasi sebuah ruangan di mana dirinya melihat Ludwig tengah melakukan olah fisik. Altea terpaku beberapa saat di tempatnya berdiri, memperhatikan pria dengan tubuh atletis yang sedang berolah raga sambil bertelanjang dada. Si pemilik mata cokelat itu menggigit bibir bawahnya. Siapa sangka, bahwa dirinya telah menghabiskan malam yang panjang penuh gairah bersama pria itu.
Ludwig yang merasa tengah diawasi seseorang, segera menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh ke arah di mana Altea berdiri, setelah mematikan musik keras yang mengiringi aktivitas paginya. Ludwig berjalan menghampiri wanita dengan bathrobes putih dan rambut basah. “Selamat pagi,” sapanya. Nada bicara serta raut wajah pria itu terkesan dingin. Sepertinya, Ludwig memang berkarakter jauh lebih tidak menyenangkan, jika dibandingkan dengan Vlad.
“Selamat pagi,” balas Altea. “Aku mencari pakaianku,” ucapnya menatap sejenak kepada Ludwig yang bermandikan keringat.
“Oh.” Sebuah tanggapan yang terdengar sangat menyebalkan. Membuat rasa dalam hati Altea menjadi gemas dan ingin sekadar mengucapkan kata ‘menyebalkan’. Namun, Altea tentu tak melakukan hal tersebut. Dia hanya mendelik, kemudian berlalu dari hadapan si pria.
“Apa kau sudah lapar?” tanya Ludwig, ketika Altea sudah berjalan beberapa langkah menjauh darinya.
“Aku akan pulang ke tempat Nyonya Delma,” sahut Altea menoleh sejenak. Dia melanjutkan langkah menuju ruang tamu.
Ludwig tak menanggapi lagi. Dia hanya mengembuskan napas dalam-dalam. Kembali hadir dalam benak pria tiga puluh tahun tersebut, pertemuannya dengan sosok bernama Vlad Ignashevich. Ludwig yakin, jika pria itulah yang dipanggil dengan sebutan ‘Tuan’ oleh Altea.
Setelah Ludwig masuk ke kamar, Altea menyusul. Dia tak tahu bahwa pria itu telah masuk ke sana. Altea berpakaian di dalam kamar, di mana dirinya melayani hasrat bilogis Ludwig Stegen, yang tak puas hanya dengan dua kali permainan dalam semalam.
“Ah!” Altea mengeluh pelan. Dia sibuk mengurusi tali dressnya yang berada di belakang. Saat wanita itu tengah berkutat dengan tali kecil tadi, Ludwig keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang menutupi perut hingga lutut.
Altea terpaku sejenak sambil menoleh pada pria itu. Namun, dengan segera dia memalingkan muka, ketika Ludwig berjalan ke arahnya. Pria tampan berambut cokelat tadi melintas begitu saja di belakang Altea, yang lagi-lagi hanya dapat mengembuskan napas penuh keluhan.
Altea tak pernah tahu jika ternyata rasanya seperti ini, ketika tubuh dan harga dirinya sudah tak berarti lagi untuk mendapatkan sebuah penghormatan dari seorang pria. Dia juga belum memiliki rencana apapun. Satu yang pasti, entah pria mana lagi yang akan menikmati pelayanannya di ranjang.
“Apa yang harus kulakukan setelah ini?” tanya Altea, saat melihat Ludwig sudah kembali dari walk in closet, dengan memakai T-Shirt lengan pendek berwarna hijau army. Pakaian yang tak dapat menyembunyikan beberapa ukiran tato di tangan berotot pria itu.
“Delma akan mempersiapkanmu lagi. Dia biasa berkoordinasi dengan Eryk dan Bryda. Mereka akan menjadi perantara dengan tamu yang tertarik untuk memakai jasamu,” jelas Ludwig masih dengan nada bicara yang dingin, sambil memasang arloji di pergelangan kirinya.
“Berapa banyak uang yang akan kudapatkan dalam sekali kencan?” tanya Altea lagi.
“Aku tidak bisa memberikan estimasi nominal yang akan kau dapatkan. Itu semua tergantung seberapa pintar dirimu. Berharaplah bertemu dengan pria dermawan yang bersedia memberimu banyak uang tip.” Ludwig merapikan kembali rambutnya yang sudah disisir.
“Lalu, bagaimana menurutmu?” tanya Altea dengan rambut yang masih terlihat kusut.
“Apanya?” Ludwig balik bertanya. Dia menoleh kepada wanita itu.
Altea terlihat risi. Dia mungkin merasa canggung untuk menanyakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Namun, penilaian dari Ludwig pasti akan sangat berpengaruh.
Altea menggigit bibirnya. Setelah berpikir beberapa saat, dia merasa bahwa tak ada hal apapun yang harus membuatnya merasa malu. Dia sudah bercinta semalam suntuk dengan pria itu. Tak ada lagi batasan antara mereka.
“Bagaimana dengan pelayananku semalam?” tanya Altea memberanikan diri.
Ludwig yang tengah merapikan jaketnya, kembali menoleh. Dia membalikkan badan, lalu berjalan mendekat hingga berdiri di hadapan Altea. Ludwig menatap lekat wanita cantik tersebut beberapa saat. “Rapikan dirimu. Akan kuantar kau ke tempat Delma.” Sebuah jawaban yang tak sesuai dengan pertanyaan Altea. Akan tetapi, sebelum Altea sempat protes, Ludwig sudah lebih dulu keluar kamar.
“Sombong dan menyebalkan!” gerutu Altea seraya merapikan rambutnya di depan cermin.
Beberapa saat kemudian, Altea keluar kamar. Dia bergegas menuju ruang tamu untuk mengambil sepatu. Tanpa banyak bicara kepada Ludwig yang tengah sibuk dengan ponselnya, Altea langsung memakai ankle strap heels berwarna gold yang semalam dia kenakan.
“Delma sudah berkoordinasi dengan Bryda. Dia mengatakan bahwa kau mendapat pelanggan pertama untuk besok malam,” ucap Ludwig tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
“Ah, syukurlah. Dengan begitu, aku bisa segera mengumpulkan uang.”
“Untuk apa?”
“Untuk melunasi seluruh utang ayahku.”