Since I Found You

Since I Found You
Touch Me, Sir



“Apa-apaan kau, Nona Miller?” Bibir Vlad boleh mengucapkan kata-kata bernada penolakan, tetapi di hatinya sudah timbul sebuah gemuruh yang teramat besar. Gejolak dalam dada seketika mengusik jiwa kelelakiannya yang selama ini tertidur. Vlad seakan mengabaikan hal-hal yang dulu tak pernah lepas dari kesehariannya.


Altea tidak menanggapi pertanyaan yang Vlad lontarkan tadi. Wanita muda berambut panjang tersebut, langsung naik dan duduk di pangkuan pria tampan asal Rusia itu. Mereka kini saling berhadapan, dengan jarak yang teramat dekat.


“Kau ….” Belum sempat Vlad melanjutkan kata-katanya, Altea lebih dulu menangkup paras rupawan dengan iris mata biru tadi. Wanita yang hanya mengenakan pakaian dalam tersebut, segera membungkam mulut Vlad dengan ciuman lembut nan mesra. Sentuhan bibir yang awalnya tak direspon sama sekali oleh pria itu. Namun, Altea tak peduli. Dia terus melu•mat bibir pria di hadapannya dengan semakin dalam dan penuh gairah. Makin lama, Vlad mulai menunjukkan reaksi atas perlakuan mengejutkan tersebut.


Tak ada alasan bagi pria berusia tiga puluh tahun itu untuk menolak. Rasanya terlalu sayang melewatkan hidangan nikmat yang sengaja disajikan tanpa harus diminta. Vlad menyentuh kedua paha mulus Altea yang berada di sisi kiri dan kanan, mengapit dirinya yang masih dalam posisi duduk bersandar.


Sentuhan Vlad, kemudian beralih ke area lain. Dia meremas pelan pinggul Altea, sambil terus menikmati ciuman panasnya dengan wanita muda berambut cokelat itu. Perlahan, tangan Vlad naik dan meraih kain berwarna hitam yang melintang di punggung mulus Altea. Dia melepas pengait yang menghubungkannya dengan sangat mudah. Vlad sudah sangat berpengalaman. Dia dapat melakukan hal seperti itu tak lebih dari satu detik.


Diturunkannya dua tali kecil yang ada di pundak Altea secara perlahan, hingga penutup bagian dada itu terlepas. Vlad melemparkan cup bertali tadi dengan sembarangan ke lantai. Untuk selanjutnya, Vlad merasa jauh lebih senang dan puas karena memiliki mainan lain yang jauh lebih menyenangkan. Dia bahkan menikmati apa yang sedang dilakukannya hingga beberapa saat.


“Sentuhlah aku sesuka hati Anda, Tuan,” bisik Altea menggoda. Suara lembutnya nan manja, kian membakar gelora dalam dada seorang Vlad Ignashevich. Naluri kelelakian pria itu kian tertantang, untuk membuktikan bahwa dirinya masih sekuat dulu. “Milikilah aku malam ini,” bisik Altea lagi.


Vlad tidak menjawab. Dia menyeringai kecil, lalu kembali mencium Altea. Vlad juga menurut ketika wanita muda bermata cokelat tadi menaikkan bagian bawah T-Shirt yang dirinya kenakan. Vlad mengangkat tangannya, agar Altea lebih mudah dalam membantu dia melepas kaos polos berwarna putih tadi.


Kini, tampaklah tubuh tegap dengan pahatan tato di beberapa bagian. Selama ini, Altea hanya dapat melihat pahatan kokoh raga seorang Vlad. Namun, kali ini dia dapat menyentuhnya secara langsung. Membuat darah dalam dirinya berdesir dengan semakin kencang. Berbaur bersama detakan jantung yang memacu tak terkendali, sehingga membuat Altea tak dapat mengendalikan akal sehatnya. Dia mulai menciumi leher, dada, hingga perut rata pria yang tak mencegah apapun perlakuan Altea terhadapnya. Vlad bahkan membiarkan Altea melonggarkan tali celana tidur yang dia kenakan.


Malam terus merayap, menghadirkan kesunyian. Suasana hening di tepi danau berhiaskan embusan angin, menggerakkan ilalang serta daun-daun yang tumbuh di sekitarnya. Ada sesuatu yang tak biasa tengah berlangsung pada malam itu. Sebuah penyatuan panas yang diawali dengan rasa sakit dan perih, hingga membuat sang wanita meringis saat harus menahan moment pertamanya dalam melepaskan sesuatu yang disebut keperawanan.


Ringisan disertai rintihan pelan Altea mengisi kamar dengan jendela kaca tanpa tirai itu. Tak dihiraukan bercak darah yang mengotori bagian bawah tubuh keduanya. Altea terengah dengan wajah memucat. Sementara, Vlad mendekapnya erat. Sesekali, pria itu mengecup bibir polos wanita yang telah menyerahkan hal yang selama ini telah membuat dia harus melarikan diri dari ayah kandungnya. “Sakit sekali, Tuan,” rintih Altea dengan kedua tangan melingkar erat di leher Vlad.


“Pertama kali memang seperti itu,” sahut Vlad. Dia meraba perlahan punggung Altea. Tak ingin berlama-lama, pria tampan tersebut menggerakkan tubuh indah di atas pangkuannya dengan penuh irama. Mereka saling menyatukan diri dalam satu helaan napas, satu debaran, dan satu tempat tidur. Menghabiskan sisa malam dalam dekapan hangat, hingga keduanya terkulai lemas dengan napas tak beraturan.


Perlahan, Altea turun dari pangkuan Vlad yang tengah mengatur laju napasnya. Sudah sekian lama pria itu tak melakukan aktivitas panas menguras energi seperti tadi. Ini pertama kali dia kembali merasakan kehangatan seorang wanita, setelah sekian lama waktu berlalu. “Kemarilah.” Vlad merentangkan tangan, mengajak Altea agar masuk ke pelukannya.


Altea yang tadinya hendak turun dari ranjang, segera menoleh. Dia tersenyum, lalu menghambur ke dalam dekapan hangat Vlad. Sekali lagi, Altea dapat menyentuh tubuh tegap dengan pahatan sempurna milik pria yang baru saja bercinta dengannya. “Apa Anda menyukainya, Tuan?” tanya Altea polos.


“Maaf, aku belum berpengalaman,” ucap Altea malu-malu. Dia sempat merasa risi, karena Vlad menoleh dan menatapnya dengan lekat. Pria itu memperhatikan tubuh Altea yang polos. Vlad lalu menarik selimut dengan kaki kanannya. Dia menutupi tubuh indah yang baru dinikmatinya.


Altea kembali tersenyum sambil mendongak. Ditatapnya paras rupawan pria yang selalu bersikap ketus padanya. Tanpa merasa sungkan, dia meraih wajah Vlad. Altea kembali mencium mesra si pria untuk beberapa saat. “Bolehkah malam ini aku tidur di ranjangmu, Tuan?” tanyanya.


“Tidurlah,” sahut Vlad. Dia mengusap-usap lengan Altea dengan lembut, hingga wanita muda itu terpejam.


Setelah melihat Altea terlelap, Vlad melepaskan dekapannya. Dia menidurkan Altea di bantal. Pria berambut gondrong tersebut kemudian turun dari tempat tidur. Vlad melangkah ke dekat jendela. Dari sana, dia dapat melihat halaman rumah yang asri, dengan bantuan penerangan lampu jalan berwarna kuning. Vlad berdiri dekat jendela hingga beberapa saat. Dia seperti tengah mengawasi pergerakan sekecil apapun yang dapat ditangkap oleh indera penglihatannya.


Vlad semakin menajamkan insting. Dia memperluas daya jelajahnya dengan keluar dari kamar. Pria itu berdiri dekat jendela lain, dengan pemandangan berbeda. Namun, Vlad tak menemukan sesuatu yang mencurigakan.


Jam dinding berdentang dua belas kali. Rasa kantuk mulai menyergap pria rupawan tersebut. Vlad kembali ke kamarnya. Dia mendapati Altea masih tertidur lelap dalam posisi seperti tadi, saat dirinya keluar kamar.


“Apa yang kau rencanakan, Herbert?” gumam Vlad teramat pelan dan dalam. Pandangannya lalu tertuju kepada Altea. Wanita muda itu terlihat sangat cantik jika dilihat dengan saksama. Seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menggerakkan tangan Vlad, sehingga bergerak dan menyentuh kepala Altea.Vlad membelai lembut rambut panjang yang sebagian terjatuh menutupi wajah cantik wanita muda tersebut.


Akan tetapi, pria asal Rusia itu tak ingin menjadi seseorang yang melankolis. Vlad segera menepiskan perasaan manis yang mulai menghampirinya. Dia langsung mengusir jauh rasa indah tersebut, sebelum sempat mengetuk dan masuk ke hatinya. Vlad pun memutuskan untuk berbaring dan memejamkan mata.


Beberapa saat berlalu, suara dengkuran halus terdengar. Vlad telah terlelap dalam tidurnya. Saat itulah, Altea kembali membuka mata. Perlahan, wanita muda itu menyibakkan selimut. Altea beranjak turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Dia mengenakan kembali pakaian dalamnya yang berserakan di lantai.


Setelah selesai mengenakan kembali pakaian dalam tadi, Altea berjalan ke dekat meja di mana terdapat laptop yang belum dimatikan. Altea mencoba membukanya.Akan tetapi, dia tak bisa memasukkan password untuk membuka layar. Wanita itu pun mencari hal lain. Pandangannya tertuju pada dompet milik Vlad yang tergeletak tak jauh dari laptop.


Sebagai seseorang yang pernah menjadi pencuri jalanan, Altea begitu terampil. Tangannya bergerak cepat mencari sesuatu dari dalam sana. Altea menemukan kartu identitas dan beberapa lembar kartu nama. Dia sempat membaca kartu identitas milik Vlad. Altea tersenyum lalu memasukkannya kembali. Wanita itu hanya mengambil selembar kartu nama milik pria tampan tersebut. Sebelum keluar dari kamar, Altea melepaskan anting-anting kecil yang menghiasi telinganya. Dia meletakkan perhiasan tadi di dekat laptop milik Vlad.


Sambil mengendap-endap, Altea keluar dari kamar. Dia bergegas menuju kamarnya. Altea berpakaian dengan cepat. Dia lalu mengambil ransel. Setelah itu, Altea membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Seperti saat melarikan diri ketika Herbert menjemputnya untuk pertama kali. Altea melompat melalui atap.


“Aduh, sialan!” gerutunya, saat dia mendarat dengan tidak terlalu mulus di rerumputan halaman. Altea segera bangkit dan berlari, ketika melihat seorang pria yang berdiri menunggunya di luar halaman