Since I Found You

Since I Found You
Ein Hinken



Vlad bergerak cepat mencabut belati dari sarungnya. Dia mengarahkan pisau tajam itu tepat ke kaki kanan Dietmar. Ujung runcing senjata tersebut, menembus betis sang penanggung jawab Kasino Goldgeld itu.


Sementara, tangan kiri Vlad sigap mengarahkan pistol kepada Folke, yang sudah siap menyerang. Pria tampan bermata biru itu melesatkan dua kali tembakan, dan tepat mengenai kening serta dada orang kepercayaan Dietmar tersebut.


Folke seketika ambruk dalam kondisi tak bernyawa. Sedangkan, Dietmar merasakan kaki kanannya sudah kaku dan mati rasa. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Napas pria itu pun tersengal-sengal.


Dalam kondisi seperti itu, Vlad berjalan mendekat. Dia lalu menurunkan tubuh di hadapan Dietmar. Vlad mencabut kembali pisau yang masih menancap di betis anak buah Ludwig Stegen tadi dengan seenaknya. Namun, Dietmar tak dapat memekik kencang, meskipun mulutnya sudah terbuka lebar.


“Bicaralah sebelum kau benar-benar pingsan,” ucap Vlad dengan seringai jahatnya. “Katakan, di mana Altea Miller saat ini?”


Dietmar kembali membuka mulut. Namun, pria itu tampak kesulitan untuk berbicara. Dia meringis sambil memegangi kakinya.


Sementara, Vlad tertawa puas melihat kondisi sang lawan yang menyedihkan. Dia membersihkan noda darah dari pisaunya, dengan cara mengelapkan ke pakaian Dietmar. “Aku sudah menaburi pisau ini dengan serbuk racun. Kau tenang saja, karena racun ini tak akan sampai membunuhmu. Kemungkinan terbesar hanya akan membuat kakimu membusuk.” Vlad tertawa sinis. “Sejak kakiku diamputasi, entah mengapa aku jadi ingin memotong kaki semua orang sepertimu,” seringainya lagi.


“Si-si-siap-siap-a ka-kau seb-sebenarnya?” tanya Dietmar terbata-bata.


“Panggil saja aku Ein Hinken (Si Pincang),” ujar Vlad. “Sebelum kau tak sadarkan diri, cepat katakan di mana Altea Miller berada!” Nada bicara Vlad penuh penekanan.


Dietmar terlihat semakin memprihatinkan. Namun, hal itu tak membuat Vlad merasa iba padanya. Pria asal Rusia tersebut mencengkeram erat leher Dietmar, hingga anak buah Ludwig tersebut menjulurkan lidahnya karena tercekik. “Bicaralah, Bodoh!” geram Vlad penuh penekanan.


“Be-Ber-Berl-Berl-in.” Satu kata yang terasa sangat sulit untuk diucapkan oleh Dietmar, dalam kondisinya yang sudah sangat lemah.


Vlad tersenyum puas. Dia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, sehingga kepala Dietmar ikut terempas ke lantai cukup keras.


Sementara, anak buah Dietmar yang lain tak ada yang berani maju. Mereka datang terlambat ke sana, karena kebetulan Vlad masuk ke kasino itu pada jam makan siang. Penjagaan pun tidak terlalu ketat.


Vlad berdiri dengan angkuhnya. Dia memandang anak buah Dietmar satu per satu. Saat pria asal Rusia itu maju, semua anak buah Dietmar yang berjumlah sekitar sepuluh orang langsung mundur. “Kalian tahu apa yang harus dilakukan dengan mayat tak berguna itu,” ucapnya seraya menunjuk jasad Folke.


Vlad kemudian menoleh kepada Dietmar. Sang penanggung jawab Kasino Goldgeld tersebut, sudah dalam kondisi tak sadarkan diri. Vlad tersenyum sinis. Dia juga terlihat begitu tenang, meski sudah menghabisi nyawa Folke dan membuat Dietmar sekarat.


Bila tidak segera ditangani dengan benar, racun yang berasal dari kaki Dietmar akan menyebar ke seluruh tubuh. Saat sudah mencapai ke jantung, maka dipastikan Dietmar akan menemui ajal. “Bos kalian terkena racun. Jika masih ingin melihat dia hidup, maka bawalah ke dokter. Namun, andai kalian telah bosan padanya, biarkan saja dia mati,” ucap Vlad enteng. Pria tampan itu berlalu dengan tanpa beban sama sekali, setelah semua kerusakan yang dilakukannya di kasino milik Ludwig.


Vlad berjalan gagah keluar kasino. Setelah tiba di dekat kendaraannya, pria asal Rusia tersebut masuk lalu menyalakan mesin mobil. Dia memasang earphone. Sambil melajukan mobil double cabin itu, Vlad menghubungi Mykola. “Altea ada di Berlin. Cari tahu tentang Ludwig Stegen dengan lebih terperinci,” titahnya pada sang asisten kepercayaan.


“Baik, tuan. Aku akan segera melakukan tugas ini,” sahut Mykola, yang saat itu sedang berada di kantor untuk mengurus beberapa hal.


“Aku akan pulang dulu ke Sieseby. Ibuku pasti cemas, karena aku tidak pulang dari semalam,” ucap Vlad lagi.


“Bagus. Kau selalu bisa diandalkan.” Tanpa bicara apa-apa lagi, Vlad menutup sambungan teleponnya. Dia menginjak kuat pedal gas, sehingga kendaraan itu melaju semakin kencang. Jarak yang seharusnya ditempuh dalam waktu dua jam, dapat dilalui dengan jauh lebih cepat.


Vlad telah tiba di halaman depan rumahnya. Pria itu langsung memasukkan kendaraan ke garasi. Sepertinya, Vlad tidak berniat untuk keluar lagi. Sesaat kemudian, pria tampan itu berjalan masuk ke rumah, bertepatan dengan jam makan siang. “Hai, Bu,” sapanya seraya mengecup kening Elke yang sedang duduk di sofa.


Elke mungkin bosan karena berada di kursi roda terus. Dia menghabiskan waktunya dengan merajut. “Apa yang sedang kau buat, Bu?” tanya Vlad. Dia duduk di sebelah wanita paruh baya tersebut.


“Bukan sesuatu yang mewah, Vlad. Ini hanya sweater. Aku membuatnya untukmu dan untuk Nona Miller. Kuharap, bisa selesai sebelum musim dingin tiba,” jawab Elke. Wanita itu tertegun beberapa saat.


“Astaga, Bu. Sekarang masih musim semi,” ujar Vlad. Dia tersenyum simpul. Senyuman yang perlahan memudar, ketika melihat raut wajah sang ibu yang tiba-tiba murung. “Kenapa, Bu?” tanya pria tampan berambut gondrong itu heran.


Elke mengarahkan pandangannya kepada Vlad. Sorot mata wanita paruh baya tersebut tampak sendu. “Ke mana Nona Miller sebenarnya? Apakah dia pergi dari sini?” tanya Elke dengan suara bergetar.


Vlad tidak segera memberikan jawaban. Dia sadar bahwa lambat-laun sang ibu pasti dan memang harus mengetahui keadaan yang sesungguhnya. “Aku sedang berusaha mencarinya, Bu,” jawab Vlad diiringi embusan napas panjang. Vlad yang tadinya setengah menghadap kepada Elke, kali ini membalikkan badan ke depan. Dengan posisi setengah membungkuk, pria itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangan.


“Aku sudah mencarinya ke Hamburg. Namun, dia tidak ada di sana. Ada sumber yang mengatakan bahwa Nona Miller berada di Berlin. Karena itu, aku akan ke sana untuk memastikan


. Akan tetapi, aku harus meninggalkanmu di sini ….”


“Aku akan baik-baik saja, Vlad,” sela Elke dengan segera. “Bawa Nona Miller kembali. Aku menyukainya. Dia wanita yang baik meskipun … ya, kau tahu sendiri seperti apa karakternya.”


Vlad tersenyum simpul. Namun, dia tak menanggapi ucapan sang ibu. Vlad menyugar rambut gondrongnya yang terlihat agak kusut. Dia tak sempat merapikan atau sekadar mengikat rambutnya yang sudah panjang sebahu.


“Jangan khawatirkan aku. Selama kau tinggal di Rusia, aku hanya sendirian di rumah ini. Sekarang ada Ilsa, Thomas, dan Uli. Mereka sangat membantu. Aku senang karena ada teman bicara.” Elke tersenyum nanar. “Cari dan temukan dia, Vlad. Nona Miller sudah seperti putri bagiku.”


Vlad menoleh pada sang ibu. Dia menatap wanita itu sejenak. Vlad mengangguk pelan. Dia lalu meletakkan tangannya di atas punggung tangan Elke, yang masih memegangi alat rajut. “Aku akan berusaha,” ucap pria tampan tersebut. Vlad mengecup kening ibunya sebelum beranjak ke kamar.


Di dalam kamar, dia membuka laptopnya. Vlad mulai mencari tahu tentang seseorang bernama Ludwig Stegen, berdasarkan informasi terdahulu yang sudah diberikan Mykola.


Vlad mulai menelusuri dengan teliti. Akan tetapi, semua data yang dia dapatkan tak sesuai dengan apa yang Mykola paparkan dulu. Entah dari mana, sang asisten mendapatkan informasi demikian. Hal itulah, yang membuat Vlad sangat mengandalkan pria berdarah Rusia-Ukraina tersebut. Mykola memiliki karakteristik seperti seorang detektif.


Vlad menggeleng, seraya berkali-kali berdecak pelan. Tak ada nama Ludwig Stegen yang berprofesi sebagai pemilik kasino. Baik untuk kasino bernama Goldgeld, atau tempat perjudian lainnya di Jerman.


Kebanyakan nama yang muncul di internet adalah nama-nama pegawai pemerintahan, atau pengusaha kecil yang bergerak di bidang kuliner serta pariwisata. “Hm. Haruskah kuselidiki nama-nama itu satu per satu?” pikir Vlad dengan ragu, sembari menutup kembali laptopnya.