
Rasanya seperti mimpi, ketika Vlad kembali menginjakkan kaki di tanah Rusia. Kota St. Petersburg. Tempat yang menyimpan kenangan, di mana dirinya melewati masa remaja hingga dewasa. Di sana pula, Vlad dapat berdiri dengan membawa kebanggaan di pundak. Pria bermata biru itu meraih kesuksesan dunia di kota tersebut.
Setibanya di mansion yang telah sekian lama ditinggalkan, beberapa pelayan langsung menghampiri. Mereka menunduk penuh hormat pada sang tuan yang selalu terlihat tampan, meskipun berjalan menggunakan sebelah kaki palsu.
Vlad, langsung menuju kamarnya. Ruangan luas nan megah dengan segala ornamen penunjang di sana. Begitu lengkap dan berkelas, sangat jauh berbeda dengan kamar yang dia tempati di Sieseby.
Langkah gagah Vlad, langsung tertuju pada meja berlaci tiga di dekat tempat tidur. Tepat di bawah lampu tidur dari kristal mewah, terdapat foto berbingkai indah. Potret seorang wanita cantik berambut cokelat, dengan mata abu-abu yang bercahaya.
“Bella.” Vlad menyebutkan nama si pemilik paras menawan, meskipun tanpa senyuman di dalam foto. “Dulu, kau menolakku dengan mentah-mentah. Sekarang, setelah sekian lama berlalu … aku kembali mendapat penolakan dari seorang wanita.” Vlad berbicara dengan teramat pelan dan dalam.
Pria berambut pirang itu mengusap wajah cantik dalam foto tadi. Dia lalu membuka laci. Dari dalam sana, dirinya mengeluarkan banyak sekali lembaran foto dengan wajah yang sama. Vlad mengumpulkannya, lalu memasukkan ke dalam kantong kain yang diambil dari laci paling bawah. Tak lupa, dirinya juga memasukkan foto dengan bingkai indah yang telah puas dirinya pandangi.
“Kau adalah cerita buruk di masa lalu. Kau adalah awal dari segala penderitaan yang kualami saat ini. Aku harus membuangmu sangat jauh.” Vlad berdiri dari duduknya. Dia beranjak keluar kamar. Si pemilik mata biru itu melangkah tegap menuju ke dekat gudang, di bagian belakang mansion.
Di sana, Vlad memasukkan kantong kain tadi ke dalam drum kosong, yang biasa dirinya gunakan untuk membakar berkas-berkas tak terpakai. Di dalam drum itu pula, dia akan menghanguskan segala kenangan dari masa lalu, serta keterkaitannya dengan wanita bernama Miabella Conchetta de Luca. Wanita Italia yang telah membuat dirinya patah hati dan terpuruk sekian lama.
Asap cukup tebal membumbung tinggi ke udara. Bersamaan dengan hangusnya tas kain berisi foto-foto Miabella tadi, maka saat itu pula Vlad memantapkan hati untuk kembali pada dirinya yang dulu. Vlad Ignashevich, pengusaha muda dan tampan yang penuh potensi dan disegani.
Semenjak hari itu, Vlad kerap berkunjung ke perusahaan yang telah lama hanya dirinya pantau dari jauh. Kali ini, dia mengawasi secara langsung proses persiapan pesta besar, yang akan diselenggarakan dalam rangka menyambut hari jadi perusahaan ke-45. Pria itu bahkan memberikan instruksi, bahwa dirinya ingin agar pesta diselenggarakan dengan semeriah mungkin. Pesta meriah tersebut, ditujukan sebagai penanda penanda kembalinya seorang Vlad Ignashevich.
“Tuan, kapan tepatnya pesta akan diselenggarakan?” tanya Mateja, ketika dia mendapat kesempatan menghubungi Vlad.
“Besok malam,” jawab Vlad lugas. “Sudah hampir satu minggu. Kuharap, kau telah memiliki sesuatu yang bisa ditunjukkan padaku.”
“Jangan khawatir, Tuan. Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi yang mungkin bisa membantu anda,” sahut Mateja penuh percaya diri
“Bagus. Kita bertemu pukul sembilan malam di ‘Tualet’. Ingatlah dengan instruksi yang sudah kuberikan dulu,” pesan Vlad, sebelum menutup sambungan teleponnya. Seperti biasa, dia tak terlalu banyak basa-basi.
Vlad tersenyum puas sembari memandangi potret sang kakek dengan ukuran besar. Pria tua itu akan selalu menjadi panutannya. Tidak dulu atau sekarang, posisi kakeknya tersebut tak akan pernah tergantikan. “Maafkan aku yang lama tidak berkunjung, kakek. Setelah detik ini, cucumu akan kembali membuktikan siapa dirinya. Kupastikan itu. Akan kubuat kau tetap merasa bangga karena telah mendidikku.” Vlad mengangkat gelas yang dia genggam. Pria tampan tersebut kembali tersenyum puas, lalu menghabiskan minumannya.
Keesokan malam, di pesta perayaan hari jadi perusahaan. Vlad menyapa para tamu undangan dengan ramah. Dia menyambut para kolega yang telah lama tak berkomunikasi dengannya.
Setelah insiden berdarah yang menewaskan saudara tirinya yang bernama Damien, Vlad memang tak pernah meninggalkan Sieseby. Segala urusan bisnisnya, dia serahkan kepada Mykola yang malam itu turut hadir mendampingi dirinya.
“Oh, luar biasa. Jadi, itulah kenapa Anda betah tinggal di sana dan melupakan Rusia?” ujar salah seorang pria menanggapi.
“Ya. Setidaknya, di sana ada seseorang yang selalu bertanya apakah aku sudah mandi atau belum,” gurau Vlad. Dia mengangguk sopan, sebelum membalikkan badan.
Mykola sudah mengerti dengan yang harus dilakukannya. Dia langsung mengambil alih posisi Vlad, dalam perbincangan bersama para tamu tadi.
Sementara, Vlad, melangkah cepat menuju tempat rahasia yang dikenal dengan sebutan Tualet (Kamar kecil). Tak heran mengapa disebut demikian.
Tualet, merupakan ruangan dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari toilet umum. Ruangan itu sangat rahasia, sehingga hanya petugas khusus yang boleh ke sana untuk membersihkannya. Itu juga dengan catatan petugas tersebut harus ekstra hati-hati, karena ada banyak ornamen tak diketahui. Salah satu contohnya adalah dinding bergerak.
Dinding bergerak, merupakan pintu yang menghubungkan Tualet dengan ruang bawah tanah yang berukuran jauh lebih luas. Vlad berjalan hati-hati menuruni undakan anak tangga, berhubung suasana di sana cukup temaram. Namun, dari jarak beberapa meter, dia dapat melihat seberkas cahaya yang diarahkan padanya.
“Tuan! Apa itu Anda?” seru seorang pria menggema di dalam ruangan bawah tanah tadi.
“Ya, ini aku,” jawab Vlad sambil berjalan mendekat. “Apakah kau sudah lama menunggu?” tanyanya seraya memicingkan mata, ketika cahaya yang ternyata berasal dari senter milik Mateja itu menyorot wajahnya.
“Baru sebentar, Tuan,” jawab Mateja seraya mematikan senter, setelah Vlad menekan tombol saklar yang tersembunyi di antara lekukan dinding batu. Satu-satunya sumber cahaya tadi, berganti dengan lampu bohlam berwarna kuning yang menggantung di tengah-tengah langit-langit ruangan.
“Jadi, bagaimana?” Vlad memperhatikan pria berpakaian pelayan yang berdiri di hadapannya.
Mateja Slavko. Dia adalah pria berdarah Rusia-Slovenia. Mateja berusia beberapa tahun di atas Vlad, dan merupakan salah satu mantan anak buah kepercayaan Roderyk Lenkov yang sangat ahli dalam bidang spionase. Selama bertahun-tahun, Mateja bekerja di agen mata-mata milik pemerintah Rusia, sampai akhirnya dia harus menjadi buron, ketika Roderyk Lenkov tewas.
“Semua yang Anda butuhkan ada di dalam sini.” Mateja mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna coklat, yang dia sembunyikan di balik jas pelayan warna putih. Dia lalu menyodorkan amplop itu kepada Vlad.
Namun, ketika Vlad hendak meraih benda itu, tiba-tiba Mateja menarik tangannya. Alhasil, Vlad hanya menggapai ruang kosong. “Apa-apaan kau ini?” hardiknya.
“Aku ingin menegaskan sesuatu kepada Anda. Informasi ini tidak gratis, Tuan,” ujar Mateja tenang. “Anda harus membantuku untuk melepas status buron, sehingga aku bisa pulang ke rumah dan dapat bertemu dengan anak istriku.”