
“Bagaimana caraku membantumu?” Vlad mendengkus kesal. Sedikit lagi, dia akan dapat menguak kebenaran tentang Ludwig. Akan tetapi, Mateja malah mengulur-ulur waktunya yang berharga.
“Bantu aku, Tuan. Hubungkan aku dengan Karl Volkov. Hanya dia yang dapat membantuku, mengingat dirinya memiliki relasi kuat dengan para petinggi pemerintahan di Moskow,” jawab Mateja dengan sorot penuh harap.
“Menghubungi Karl Volkov katamu?” Vlad terbelalak lebar. Mukanya merah padam menahan amarah mendengar permintaan Mateja. “Aku tidak akan pernah sudi menghubungi pria itu!” tolak Vlad. Terbayang olehnya sosok pria tampan yang juga memiliki mata biru seperti dirinya.
Bagi Vlad, Karl Volkov adalah bagian dari masa lalu yang menyakitkan. Pria itulah yang telah membuat harapannya dapat hidup dan meraih cinta Miabella, pupus begitu saja.
“Kalau begitu, dengan terpaksa akan kuhilangkan saja informasi rahasia terkait Ludwig Stegen yang telah kudapat ini.” Dengan sorot kecewa, Mateja mengeluarkan korek api. Dia bersiap untuk membakar amplop coklat tadi.
“Tunggu!” cegah Vlad. Suaranya terdengar nyaring, menggema dan memantul pada dinding batu berlumut yang mengelilingi mereka. “Jangan membuatku kehilangan kesabaran, Mateja! Kau pasti sangat paham, sebesar apa kekuatanku. Aku dapat menghancurkan siapa pun yang kumau!” geram Vlad.
"Tentu saja, Tuan. Aku sangat mengetahui hal itu. Namun, dalam hal ini aku membutuhkan kebaikan hatimu,” sahut Mateja.
“Aku bisa melakukan apapun untukku, tapi aku menolak jika harus menghubungi Karl Volkov!” tegas Vlad dengan mata menyala.
“Kalau begitu, aku tak bisa menyerahkan benda ini. Apakah informasi tentang Ludwig Stegen, tak terlalu penting bagimu?" Mateja bersiap kembali menyalakan korek api otomatisnya.
“Tunggu!” seru Vlad. Hatinya mulai bimbang membuat keputusan. Di satu sisi, dia sangat membutuhkan informasi sekecil apapun tentang pria yang berhasil merebut Altea darinya. Di sisi lain, Vlad tak mungkin menjalin komunikasi lagi dengan suami Miabella, wanita yang telah membuatnya patah hati selama bertahun-tahun.
Dalam kegamangan itu, terlintas sosok cantik Altea. Wanita muda itu sudah membuat hidupnya berangsur membaik. Rasa percaya diri Vlad pun tumbuh lagi, berkat kehadirannya.
Namun, Vlad harus menghadapi Ludwig Stegen agar dapat membawa Altea kembali menemani hari-harinya. Walaupun kerap ditepiskan dengan kuat, tapi harus diakui bahwa Vlad sangat merindukan sosok wanita cantik itu.
Cukup lama Vlad dan Mateja tenggelam dalam keheningan, hingga pria tampan berambut gondrong itu membuka suara. “Baiklah. Berikan amplop itu. Aku akan membantumu bertemu dengan Karl Volkov,” putus Vlad.
“Apakah aku bisa memegang kata-kata Anda, Tuan?” Mateja tak percaya begitu saja.
“Aku bukan seorang pembohong! Kau tahu pasti akan hal itu!” gerutu Vlad seraya berbalik. Dia kembali meniti anak tangga ke atas, lalu berhenti. Vlad berbalik pada Mateja yang masih terpaku di tempatnya. “Kenapa masih di situ? Kau ingin kubantu atau tidak?” tegur Vlad.
Tersungging senyuman samar dari bibir Mateja. “Terima kasih banyak, Tuan,” ucapnya seraya mengangguk.
“Kau keluarlah melalui lorong selatan. Temui aku di kamar pribadiku pukul tiga dini hari nanti,” titah Vlad, sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Pria tampan bermata biru itu kembali ke aula pesta, untuk kembali menyapa para koleganya.
Vlad bertahan di tempat pesta, hingga acara meriah itu selesai tepat pukul dua belas malam. Setelah Vlad menutup perhelatan besar tadi, dia menunggu sampai tamu terakhir keluar dari aula. Kini, di sana hanya ada Mykola dan para pelayan.
“Kuserahkan semuanya padamu.” Vlad menepuk pundak Mykola pelan.
“Anda mau ke mana, Tuan?” tanya Mykola, ketika Vlad sudah beberapa langkah menjauh dari dirinya.
“Menyelesaikan urusan yang masih tertunda. Besok akan kuceritakan padamu,” jawab Vlad kalem. Dia berbalik meninggalkan Mykola, yang mulai sibuk memberikan perintah pada pelayan dan penjaga tempat itu.
Vlad berjalan tenang memasuki lift khusus, yang langsung mengantarkannya hingga ke depan kamar. Sambil memainkan kunci manual, Vlad merogoh telepon genggam yang tersimpan di saku celana. Ibu jarinya lincah mengusap layar, hingga dia menemukan nomor kontak Miabella. Vlad berharap bahwa nomor itu masih aktif, meski telah sekian lama tak pernah dirinya hubungi lagi.
Pria tampan itu tak peduli, meskipun jarum jam sudah menunjuk angka dua belas malam lebih beberapa menit. Vlad tetap menekan tombol hijau. Dia terus menunggu sampai terdengar jawaban dari seberang sana.
“Siapa ini?” tanya suara parau yang tak lain milik Miabella de Luca.
“Vlad? Apakah ini kau?” tanya Miabella lagi yang terdengar begitu terkejut.
“Aku sangat tersanjung. Ternyata kau masih mengenali suaraku.” Vlad tersenyum samar sembari membuka kunci pintu kamarnya.
“Aku belum pikun,” sungut Miabella. Seperti biasa, nada bicaranya selalu terdengar ketus.
“Sebentar. Akan kupanggilkan Tuan Karl untukmu.”
“Oh, jadi sekarang kau memanggil suamimu dengan sebutan ‘Tuan’?” tanya Vlad sinis.
“Ya. Aku terpaksa melakukan hal itu, sebagai hukuman atas kesalahan kecil yang sudah kulakukan,” jawab Miabella sambil tertawa geli.
Saat itu Vlad merasa sangat aneh. Dia yang biasanya selalu terbakar api cemburu saat dengan kedekatan Miabella dan Karl Volkov, kini bisa bersikap biasa saja. Tak ada rasa marah, apalagi sakit hati terhadap wanita cantik tersebut. Sebesar itukah pengaruh Altea dalam hidupnya?
“Vlad? Apa kabar?” sapa Karl tiba-tiba, yang membuyarkan lamunan Vlad.
“Berhentilah berbasa-basi. Kau masih ingat bagaimana keadaanku saat terakhir kali kita bertemu. Aku kehilangan sebelah kakiku,” sahut Vlad ketus.
“Ah, ya. Aku salah bertanya,” gurau Karl, diiringi tawa yang dipakskan.
“Tidak. Kau tidak salah. Kuharap, kau masih ingat bahwa dirimu telah berutang budi padaku,” ujar Vlad sambil duduk dengan nyaman, di salah satu kursi yang menghadap jendela.
“Apa yang kau inginkan?” Nada bicara Karl mendadak terdengar begitu serius.
“Aku ingin kau melobi 'teman-teman akrabmu' di pemerintahan, agar mencabut status buron dari seorang pria yang bernama Mateja Slavko,” jawab Vlad dingin.
“Mateja Slavko? Siapa dia?” tanya Karl.
“Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan secara detail. Tunggulah sebentar. Akan kusambungkan kau dengannya," sahut Vlad. Dia beranjak dari duduknya, lalu membuka jendela. Vlad membiarkan seorang pria masuk dengan leluasa ke kamar itu.
Setelah pria yang tak lain adalah Mateja masuk, Vlad memberikan telepon genggamnya.
Mateja mengangguk sebagai tanda ucapan terima kasih, lalu menerima alat komunikasi itu. “Tuan Karl Volkov?” sapa mantan agen rahasia tersebut. Beberapa menit berlalu, Mateja sudah berbincang serius dengan Karl Volkov sampai tercapai kata sepakat. Pria itu tersenyum puas. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih. Sesaat kemudian, Mateja mengakhiri panggilan tadi dengan wajah yang terlihat amat lega.
“Aku akan pergi ke Moskow besok, untuk bertemu dengan pejabat pemerintah yang berwenang, Tuan. Akhirnya, diriku bisa bertemu lagi dengan keluarga kecilku,” ucap Mateja antusias.
“Ya. Aku turut senang untukmu. Sekarang berikan padaku amplop itu!” pinta Vlad.
“Tentu." Mateja langsung menyerahkan benda berwarna coklat tadi pada sang pemilik mansion termewah di Kota St. Petersburg tersebut.
“Anda harus berhati-hati menghadapi Ludwig Stegen, Tuan. Dari informasi yang kudapat, pria itu memiliki jaringan yang sangat kuat. Terutama, dari pihak militer Jerman,” terang Mateja setengah berbisik, saat Vlad tengah menyobek bagian atas amplop coklat berisi dua buah flash disk dan puluhan lembar foto.