
Altea tak mempunyai pilihan selain mengikuti langkah Mykola. Begitu pula dengan Willy. Dia juga mengekor sepupu barbarnya dengan langkah gontai. Dua kali mendapat pukulan keras dari seorang wanita, telah cukup membuat seluruh tubuh serta harga dirinya lebih dari sekadar sakit.
Altea menuruni undakan anak tangga dengan gugup. Perasaan gelisah kian besar, terlebih saat dia melihat sosok sang ayah yang tinggi besar dengan wajah dihiasi oleh janggut dan kumis lebat. Pria itu berdiri di sebelah Elke yang terlihat antusias mengajaknya mengobrol. Herbert, selalu mengingatkan Altea pada visual dewa petir kepercayaan rakyat Viking, yaitu Thor. Namun, sifat dan sikap sang ayah berbeda jauh dengan gambaran karakter dewa tersebut.
“Anakku!” Herbert tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya. “Aku mencarimu ke mana-mana," ucap pria itu semringah.
Altea tersenyum kecut melihat keramahan dan sikap penuh haru yang ditunjukkan oleh Herbert. Dia yakin, bahwa saat itu sang ayah sedang berpura-pura. Herbert sangat pandai bersandiwara. Dia tampak begitu luwes, saat bercakap-cakap dengan Elke, yang juga ditemani Vlad serta Mykola. Berbeda situasinya, jika tak ada seorang pun di sekitar pria itu. Herbert akan berubah menjadi seseorang yang mengerikan dan penuh amarah.
“Jadi, apakah benar Nona Altea Miller adalah putri Anda?” tanya Vlad penuh selidik.
“Ya, benar. Dia putriku! Aku bahkan membawa kartu kelahirannya ke mana-mana, untuk dijadikan bukti bahwa dia benar-benar putri kandungku,” jawab Herbert. Dia mengambil sesuatu dari saku celana yang sedikit sesak. Pria paruh baya tersebut mengeluarkan secarik kertas. Dia menunjukkan kertas tadi kepada Vlad dan Mykola.
Vlad mengangguk-angguk pelan sambil membaca kertas yang masih dirinya pegang. Dia lalu menoleh pada Altea. Wanita muda itu sudah terlihat pucat karena rasa gelisah. “Tuan Herbert memang ayahmu, Nona Miller,” ujarnya seraya menyunggingkan senyuman sinis.
Altea menanggapinya dengan tawa renyah yang terdengar kaku. Setelah itu, dia mengalihkan pandangan ke segala arah, asalkan tak memandang sang ayah. Wanita muda tersebut mungkin tak takut pada apapun. Terkecuali satu yang selalu membuat lututnya selalu gemetaran, yaitu Herbert.
“Pulanglah ke rumah, Altea. Aku sangat merindukanmu,” pinta Herbert sembari berjalan mendekat pada sang putri.
“Ah, aku sama sekali tak menyangka hal ini akan terjadi, Nona Miller. Mykola mengatakan bahwa dia mengambilmu dari yayasan. Akan tetapi, kenapa tiba-tiba Tuan Herbert datang kemari dan mencari keberadaanmu ? Apakah kau tidak berpamitan dengan dia terlebih dulu?” tanya Elke.
“Dia pergi ke manapun sesuka hatinya, Nyonya. Sebagai seorang ayah, aku sangat mengkhawatirkan keadaan putriku,” ujar Herbert yang disambut dengan tawa sinis Altea. Tawa itu begitu pelan, sehingga hanya Vlad yang dapat mendengarnya. Kebetulan dia juga berdiri tak jauh dari wanita muda itu.
“Astaga, Tuan Miller. Aku juga seorang ibu. Aku dapat merasakan kekhawatiranmu,” balas Elke dengan raut iba. “Jika kau memang ingin membawanya pulang, maka aku pun tak akan keberatan. Lagi pula, aku terbiasa berdua dengan Vlad di rumah ini.”
“Aku tidak mau!” tolak Altea. Dia menggelengkan kepala dengan kencang. “Aku ingin tetap di sini, walaupun tidak dibayar sekalipun, daripada harus tinggal bersamanya!” telunjuk lentik Altea mengarah pada Herbert. “Aku tak mau hidup di neraka!” imbuhnya yang sontak membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut.
“Omong kosong apa yang kau bicarakan ini, Nak? Aku susah payah mencarimu ke sana kemari,” tegur Herbert dengan nada bicara yang terdengar lembut dan tenang. Dia terlihat begitu sabar.
“Kau selalu seperti ini, Ayah. Bersikap sok baik dan lembut. Namun, di saat tak ada siapa pun, kau menghajarku seperti sansak,” ujar Altea, yang lagi-lagi mengejutkan semuanya.
“Aku sama sekali tidak mengerti. Apa yang kau bicarakan, Altea? Tolong jangan membuat malu ayahmu. Ayo, kita pulang. Kau juga Willy. Ibumu sudah berkali-kali menghubungiku untuk menyuruhmu agar segera pulang,” ajak Herbert. Perhatiannya beralih pada sang keponakan.
“Aku mau di sini! Kau tidak bisa memaksaku! Aku sudah dewasa dan berhak menentukan apapun yang kuinginkan!” Altea bersikeras menolak ajakan sang ayah.
“Apa kau tidak kasihan padaku, Nak? Ayahmu ini sudah sakit-sakitan. Kaulah yang terbiasa merawatku selama ini. Kenapa kau begitu tega?” Raut muka Herbert tampak memelas.
“Kau ….” Altea hanya mengucapkan satu kata, lalu terdiam. Akan tetapi, Vlad dapat menangkap dengan jelas sorot yang sarat akan kekecewaan dari gadis itu. “Baiklah. Berhubung aku tidak diharapkan lagi di sini. Aku akan pergi,” putusnya kemudian.
“Terima kasih, Nyonya Elke. Hanya Anda yang tulus menerimaku di rumah ini,” ujar Altea sambil menghadapkan badan kepada ibunda Vlad sebelum dia menaiki anak tangga. Dia hendak ke kamarnya.
“Aku akan berkemas.” Altea memaksakan tersenyum, sambil memandang semua yang ada di ruang tamu.
Tatapan Altea lalu berhenti pada Mykola. “Kuharap, kau tidak menuntutku lagi atas kejadian beberapa hari lalu atas kerugianmu. Lagi pula, kalian sendiri yang menyuruhku untuk pergi dari sini,” imbuhnya.
Selesai berkata demikian, Altea membalikkan badan dan setengah berlari meniti anak tangga. Sementara Vlad dan Mykola saling pandang. Mereka seperti tengah berdiskusi secara tidak langsung.
“Kejadian apa?” tanya Elke. Wanita paruh baya itu menjadi yang paling bingung di antara keempat pria di sana.
“Sudahlah, Bu. Nanti saja kuceritakan,” sahut Vlad. Mata birunya sempat melirik Herbert yang terlihat gelisah dan tak nyaman.
“Apakah kalian tak merasa bahwa putriku berkemas terlalu lama?” pikir Herbert beberapa saat kemudian.
“Bukankah umumnya wanita memang seperti itu, Tuan?” ujar Mykola seraya tersenyum simpul.
“Tidak dengan Altea, Tuan. Sepupuku itu adalah pengecualian. Dia mungkin saja memiliki raga seorang gadis, tapi jiwanya adalah laki-laki yang jorok,” sahut Willy.
Sontak, Vlad mengulum bibir demi menahan tawanya agar tidak lolos. Dalam hati dia juga membenarkan bahwa Altea sepertinya menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk berkemas. Apalagi dia tak membawa banyak barang.
“Akan segera kuperiksa," ucap Mykola. Dia dapat memahami dengan baik apa yang dipikirkan oleh majikannya. Mykola mengangguk pada Vlad sebelum menyusul Altea ke lantai atas.
“Nona Miller?” panggil Mykola ketika dia sudah tiba di depan kamar Altea, dengan pintu sedikit terbuka. Hati-hati, Mykola mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar. “Astaga.” Mykola mengeluh pelan. Kamar itu kosong. Barang-barang Altea juga sudah tak ada di sana. Hanya ada gitar tua yang tersandar di sudut tembok dengan jendela kamar yang terbuka lebar. Terlihat jelas bahwa seseorang telah mencongkel teralis jendela sampai terlepas.
Mykola melongok ke luar. Dia mendapati beberapa genting jerami yang terdapat di bawah jendela telah bergeser dari tempatnya. Mykola menduga bahwa Altea melompat dari dalam, lalu menggunakan genting ringan itu sebagai pijakan.
Mykola mengeluarkan separuh badan, mengamati ke sekeliling. Namun, dia tak dapat menangkap sosok Altea di manapun. “Sialan!” gerutunya sembari mengepalkan tangan, lalu memukulkan ke kusen. Dia hendak berbalik dan mengabarkan berita buruk itu kepada Vlad. Akan tetapi, ekor matanya menangkap secarik kertas di atas meja. Kertas itu berisi tulisan tangan yang diduga milik Altea. Mykola kemudian mulai membacanya dengan seksama.
Maaf, Tuan. Tadi Anda sudah menyetujui bahwa aku boleh keluar dari rumah ini. Akan tetapi, itu bukan berarti aku akan pulang bersama ayahku. Kau tak tahu betapa kejinya dia, sehingga aku memutuskan untuk pergi jauh dari kalian semua. Oh, ya. Aku juga ingin mengembalikan jam tanganmu. Aku belum sempat menjualnya. Cobalah buka laci meja nomor satu.
Mykola mengembuskan napas pelan, lalu membuka laci meja sesuai petunjuk Altea. Di tempat itu, dia menemukan jam tangan mahalnya dalam kondisi sama persis sebelum benda tersebut dicuri oleh Altea beberapa waktu lalu.