Since I Found You

Since I Found You
Fall Asleep



Sudah berjam-jam, Vlad menunggu hasil pemeriksaan intensif yang dilakukan terhadap sang ibu. Entah apa yang membuat tim dokter begitu lama mengobservasi Elke. Hal itu, membuat pria berambut gondrong tersebut merasa semakin gelisah dan tak karuan. Vlad, berkali-kali mengembuskan napas dalam-dalam, demi menetralkan perasaan berkecamuk dalam dadanya.


“Semoga Nyonya Elke baik-baik saja. Kasihan dia,” ucap Altea lirih. “Dia begitu baik dan lembut padaku. Kau benar-benar beruntung memiliki ibu seperti Nyonya Elke, Tuan,” imbuh wanita muda itu.


“Ya. Sayangnya, aku bukan anak yang baik,” sahut Vlad setelah beberapa saat terdiam. Dia seperti kecewa pada dirinya. “Aku menghabiskan besar waktuku dengan menjauh darinya. Aku bahkan sempat meminta ibu untuk merahasiakan statusnya sebagai ibu kandungku.”


Vlad mencondongkan tubuh, lalu menopang kepalanya menggunakan kedua tangan. Sesekali, tangannya mengacak-acak rambut pirang yang tampak berkilau, saat terkena cahaya matahari. Sinar hangat itu masuk melalui jendela besar di ruang tunggu.


Altea memperhatikan sosok majikannya itu dengan saksama. Begitu detail, bahkan hingga otot-otot tangan yang timbul di bawah permukaan kulit. Vlad merupakan pria yang sangat tampan dengan kulit putih bersih. Dia memang kerap marah dan bicara ketus. Namun, sikapnya yang ditunjukkannya saat dia terdiam, begitu misterius. Hal itu menimbulkan banyak tanya dalam benak Altea. Termasuk dengan cerita Vlad barusan, yang mengatakan bahwa dirinya sempat menyembunyikan status sang ibu.


Altea merasa ingin memberondong pria itu dengan berjuta pertanyaan, demi mendapatkan jawaban. Namun, dia ingat akan kondisi Vlad yang tengah kalut, sehingga Altea memilih untuk memendam rasa penasaran itu. Wanita muda tersebut yakin, bahwa suatu saat nanti dia akan mengetahui segalanya.


“Semua akan baik-baik saja, Tuan. Nyonya Elke adalah wanita yang sangat baik. Tuhan akan selalu melindungi orang baik,” hibur Altea ketika melihat Vlad yang semakin gusar.


Kalimat Altea membuat Vlad menegakkan tubuh, lalu memandang penuh arti padanya. “Kau …,” desis Vlad. Mulutnya sudah terbuka, tapi dia seakan tak hendak mengucapkan kata-kata. “Terima kasih,” ucap Vlad pada akhirnya. Dia kembali terdiam. Begitu juga dengan Altea, yang bingung untuk membahas apa dengan si pria.


“Tetaplah bersembunyi di tempatku, Nona Miller,” lanjut Vlad setelah beberapa saat terdiam. “Aku sudah menyuruh Mykola untuk menyelidiki Herbert. Dia sudah membuktikan bahwa semua yang kau katakan memang benar adanya. Ayahmu berniat untuk menjual dirimu pada bandar judi di Hamburg.”


“Anda tidak keberatan, Tuan? Maksudku, aku memang ingin menumpang sementara di tempatmu. Namun, setelah kupikir-pikir, itu akan membuatmu berada dalam bahaya,” ujar Altea ragu.


Vlad tertawa pelan seraya menggelengkan kepala. “Tak ada yang bisa membuatku berada dalam bahaya. Bandar judi kecil seperti itu, bukanlah tandinganku,” sahutnya jumawa.


Mata Altea membulat. Dia menatap penuh pesona kepada Vlad. “Ya. Aku percaya. Anda bukanlah orang sembarangan,” gumamnya sembari mengangguk-anggukkan kepala.


“Jadi … berapa lama aku boleh tinggal bersama dengan Anda? Um, maksudku ... tinggal di rumah Anda,” ralat Altea sembari menggaruk-garuk kepala dan terlihat salah tingkah.


Belum sempat Vlad menjawab, beberapa petugas medis keluar dari ruang khusus. Mereka menghampiri dirinya. “Tuan Ignashevich?” sapa salah seorang dokter.


“Bagaimana ibuku?” tanya Vlad tanpa basa-basi.


“Kami menemukan adanya kelainan pada fungsi jantung ibu Anda. Akan tetapi, kami sudah berusaha mengatasi masalah itu,” jelas sang dokter hati-hati.


“Ya, Tuhan,” desah Vlad tak percaya. Pasalnya, selama ini ibunya selalu terlihat baik-baik saja.


“Ibu Anda harus terus mengonsumsi obat-obatan seumur hidupnya. Kami membutuhkan kerjasama dari pihak keluarga, untuk membantu dan mengawasi konsumsi obatnya,” lanjut dokter itu lagi.


“Lalu, bagaimana sekarang? Apakah ibuku sudah boleh pulang?” tanya Vlad lagi.


“Maaf, Tuan. Belum bisa. Kami harus terus memantau perkembangan jantungnya. Paling tidak sampai beberapa hari ke depan. Sementara itu, ibu Anda akan mendapatkan perawatan intensif di tempat ini,” jawab seorang dokter lainnya.


“Anda boleh menungguinya selama berada di sini,” timpal dokter yang tadi lebih dulu berbicara.


“Baiklah, kalau begitu. Aku ingin perawatan serta ruangan terbaik untuk ibuku,” putus Vlad. Sesekali, ekor matanya melirik pada Altea yang lebih banyak diam dan menyimak.


“Baik, Tuan. Kami akan memindahkan ibu Anda ke ruangan sesuai permintaan. Anda boleh menunggu sebentar, sampai salah seorang perawat kami memberi informasi selanjutnya,” balas dokter tersebut. Para dokter yang berjumlah tiga orang tadi mengangguk sopan sebelum berlalu.


“Jadi, kita harus menunggu lagi, Tuan?” tanya Altea.


“Ya.” Sebuah jawaban singkat meluncur dari pria tampan itu. Vlad memutuskan untuk kembali duduk. Sedangkan, Altea mengikutinya.


Entah berapa jam yang mereka habiskan di kursi ruang tunggu. Yang jelas, pinggul Altea sudah terasa panas dan pegal-pegal. Ingin rasanya dia berdiri dan berkeliling, untuk sekadar menghilangkan bosan.


Namun, sudah sejak beberapa menit yang lalu Vlad tertidur di sampingnya. Pria itu bahkan tanpa sadar, menyandarkan kepalanya di bahu Altea.


“Aduh, bagaimana ini?” Altea mulai gugup ketika wangi rambut Vlad menguar dan menggoda indera penciumannya. Ditambah dengkuran halus serta helaan napas teratur pria itu, semakin membuat gadis cantik berambut coklat tadi berdebar.


“Tuan?” panggil Altea pelan, ketika Vlad menggerakkan kepala. Namun, bukannya bangun, pria bermata biru itu malah semakin membenamkan kepalanya ke antara lekukan pundak dengan leher.


“Ya, Tuhan.” Bulu kuduk Altea meremang. Dia menoleh ke arah berlawanan sambil mendongak tinggi.


Untungnya adegan itu segera berakhir, ketika Vlad terbangun. Dia segera menjauh dari tubuh Altea dengan wajah memerah.


“Kau ...,” geram Vlad tertahan. “Kenapa kau diam saja melihatku bertingkah memalukan!” tegurnya.


“Astaga,” keluh Altea. “Anda ingin aku berbuat apa? Membangunkan secara paksa? Bagaimana jika Anda malah marah-marah?” Gadis itu membela diri.


“Seharusnya kau membangunkan aku, kecuali ....”


“Kecuali apa?” Altea melotot.


“Kecuali kau dengan sengaja membiarkanku tidur di bahumu,” Vlad menyeringai.


“Aku tidak segila itu, Tuan,” bantah Altea kesal. Dalam hati, ingin sekali dia mengungkapkan rasa jengkel terhadap Vlad. Namun, kedatangan seorang perawat, membuatnya harus mengurungkan niat tersebut.


“Tuan Ignashevich? Kami sudah memindahkan ibu Anda, ke ruangan yang Anda inginkan. VVIP 7. Ada di lantai teratas gedung ini,” jelas si perawat.


“Baik, terima kasih. Aku akan segera ke ruang perawatan ibuku.” Vlad berdiri dan bersiap-siap dengan tongkatnya.


Seperti biasa, Altea mengikuti gerak pria tegap dan gagah itu. Namun, baru beberapa langkah, Vlad sudah menghentikan langkah Altea . “Pulanglah ke Sieseby. Bawakan baju ganti dan kaki palsuku. Pilihlah yang sesuai. Aku harus lebih sering memakai kaki palsu agar tak kaku,” suruh Vlad sembari melemparkan kunci mobil pada Altea.


“Ka-kau ingin aku menyetir, Tuan?” Altea tergagap saat menerima kunci mobil tersebut.


“Kenapa? Apa kau tak bisa menyetir?” Vlad menautkan alis.


“Tentu saja bisa, Tuan. Dulu Willy yang mengajariku sampai mahir,” sahut Altea dengan nada bicara sedikit nyaring.


“Bagus. Kalau begitu, cepatlah!” titah Vlad seraya berbalik, kemudian berlalu.


Altea tak ingin membuang waktu. Dia bergegas menuju ke tempat parkir. Wanita muda itu berkendara menuju desa tempat tinggal Vlad.


Mobil double cabin milik sang majikan telah tiba di perbatasan desa, ketika Altea melihat sekilas plat nomor mobil yang sangat dia hapal di luar kepala. “Ayah?” gumam Altea demikian pelan.


Altea menurunkan kecepatan, meski tetap menjaga jarak dengan kendaraan di depannya. Tak salah lagi, mobil sedan hitam yang melaju di depannya itu adalah milik Herbert. Altea semakin was-was, ketika dia terus mengikuti mobil Herbert yang ternyata hendak menuju rumah Vlad.


Wanita muda itu menepikan kendaraan, lalu memarkirkannya di tempat yang aman dan tersembunyi. Letaknya tak jauh dari rumah milik Vlad.


Dari kejauhan, Altea mengawasi sambil terus waspada.


Herbert terlihat turun dari kendaraan. Dia mengetuk pintu rumah Vlad. Tak berselang lama, sosok yang tak lain adalah Willy membuka pintu rumah. Sepertinya, sepupu Altea itu terlibat pembicaraan serius, dan berakhir dengan Herbert yang mencengkeram kerah baju Willy.


“Anak bodoh! semoga kau tidak membocorkan rahasia apapun pada ayahku,” geram Altea.


Wanita bermata coklat itu merasa lega, ketika Willy berbalik dan menutup pintu rumah Vlad.


Namun, dia kembali panik dan khawatir, ketika Willy keluar beberapa saat kemudian sambil menenteng jaketnya. Sepupu Altea tersebut mengikuti Herbert, masuk dengan tenang ke dalam kendaraan.


"Aduh! Ini gawat!” desis Altea pelan.