
Mata biru Vlad, awas memperhatikan bayangan dari kaca spion tengah. Dia mendapati sesuatu yang aneh, ketika mobil tadi berhenti di jalan depan rumahnya. Vlad juga melihat beberapa orang tak dikenal turun dari kendaraan, lalu mengepung bangunan dua lantai tersebut. “Sial!” gerutunya, saat mobil terakhir berhenti tepat di depan jalan setapak yang mengarah langsung ke teras rumah. Tampak pula Herbert turun dari sana dengan raut semringah.
“Ayahmu sedang mencari gara-gara denganku!” geram Vlad seraya memukul kemudi.
“Ayah?” ulang Altea. Keringat dingin wanita muda itu mengucur deras. Dia ikut berbalik mengikuti arah pandang Vlad. Tatapan mata coklat Altea, lurus menembus kaca belakang mobil sang majikan. “A-apa yang harus kulakukan?” tanyanya terbata.
“Kau diam saja di sini!” titah Vlad. Secepat kilat, dia turun dari kendaraan. Vlad berjalan cepat menghampiri Herbert. “Mau apa kau kemari, Pak Tua!” serunya tanpa berbasa-basi. .
“Ah, kebetulan, Tuan Pembohong. Tak kusangka, ternyata kau bekerja sama dengan putriku.” Herbert menyeringai lebar. “Akan tetapi, aku lebih cerdik darimu. Sekarang, aku membawa banyak pasukan. Serahkan putriku atau ….”
Belum selesai pria berjanggut lebat itu berbicara, Vlad sudah lebih dulu memukul rahangnya. Pria paruh baya itu terhuyung ke samping dan hampir terjengkang.
“Ka-kau!” Dengan susah payah, Herbert berusaha bangkit. Namun, Vlad kembali menghadiahinya dengan tendangan keras yang tepat mengenai perut.
“Kita lanjutkan urusan ini nanti!” Telunjuk Vlad mengarah ke wajah Herbert yang tampak begitu terkejut. Ayah kandung Altea tersebut, tak menyangka bahwa pria yang menurutnya terlihat begitu pendiam ternyata mampu menghajarnya hingga tak berkutik.
Vlad bahkan sempat menambahi satu tendangan di tulang kering Herbert, sebelum masuk ke rumah.
Amarah yang besar semakin menguasai pria asal Rusia tersebut, ketika dia melihat ruang tamu yang sudah dalam kondisi porak poranda. Ilsa menjerit ketakutan sambil memeluk Elke dari belakang, ketika beberapa orang merusak perabot dan menendangi pintu.
“Hei! Brengsek kalian! Keluar semua dari rumahku!” seru Vlad menggelegar.
Beberapa pria yang berjumlah lima orang tersebut langsung menghentikan aksinya. Mereka menoleh, lalu menatap tajam kepada pria berambut pirang itu. Kelima pria tadi seakan hendak menguliti pria tampan tersebut.
“Inikah pria yang kau maksud, Bardolf?” Tiba-tiba, terdengar suara dari atas tangga yang menuju ke lantai dua. Folke, si pria botak bertubuh kurus, menuruni anak tangga dengan tenang. Dia bersikap seakan-akan sedang berada di rumah sendiri. Sedangkan, pria bernama Bardolf mengikuti dari belakang.
“Apa kau tak pernah belajar tata krama? Seenaknya saja memasuki rumahku dan bersikap layaknya pemilik tempat ini. Apa kau merasa sebagai tuannya di sini?” geram Vlad dengan kedua tangan terkepal.
“Ya. Aku memang tuannya, dan kau harus tunduk padaku,” sahut Folke memasang tampang menakutkan. Niat pria itu adalah untuk mengintimidasi lawan bicaranya.
Namun, Vlad malah tertawa melihat bahasa tubuh pria itu. Vlad justru memandang ke arah Folke dengan tatapan penuh cibiran.
“Ternyata kepalamu bukan hanya tak memiliki rambut, tapi juga tidak berotak," ledek Vlad dengan enteng. Walaupun dia hanya sendiri, tapi pria tampan bermata biru itu tak gentar sama sekali.
“Hei! Jangan kurang ajar!” sergah salah satu anak buah Folke. Dia maju dan berniat menyerang Vlad.
Akan tetapi, pria asal Rusia itu lebih dulu menerjangnya dengan sebuah tendangan kuat dari kaki palsunya. Saking kuat tendangan tadi, anak buah Folke tersebut langsung melayang dan jatuh terjengkang ke belakang. Kepalanya membentur jeruji besi, yang ada pada bagian tengah rak perapian. Pria itu langsung tak sadarkan diri.
Vlad menyeringai puas, ketika semua yang ada di sana memandang tak percaya ke arahnya. Dengan gerakan pelan dan penuh waspada, Vlad setengah membungkuk lalu menyingkap celananya sampai sebatas lutut. Tampaklah kaki palsu berwarna hitam mengilat. “Benda ini terbuat dari serat karbon, jauh lebih kokoh dari baja. Aku bisa membunuh kalian dengan mudah menggunakan kaki palsuku,” ujar Vlad seraya mengetuk-ngetuk bagian kaki palsunya.
“Kurang ajar!” Wajah tirus Folke merah padam. “Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa, Bajingan!” serunya.
“Cukup basa-basinya! Katakan di mana putri Herbert berada!” sentak Folke sembari memukul pegangan tangga.
“Tak ada seorang pun yang bisa memerintahku,” desis Vlad.
“Kau benar-benar menantangku, ya!” Rahang Folke mengetat. Giginya saling beradu demi menahan emosi yang memenuhi dada. “Habisi dia, Anak-anak!” titahnya nyaring.
“Tidak! Kumohon. Hentikan!” Elke berusaha berdiri dari kursi rodanya. Namun, apalah daya tenaga seorang wanita yang baru saja selesai menjalani perawatan di rumah sakit akibat penyakit jantung. Ilsa yang mengetahui betapa berbahayanya tindakan sang nyonya, segera mencegah wanita itu dari tindakan konyol tersebut.
Ilsa segera merengkuh tubuh rapuh Elke, lalu mendudukkannya kembali. Dia bahkan mendorong kursi roda ibunda Vlad tersebut ke sudut ruangan, agar menjauh dari keributan. Posisi Ilsa berdiri saat itu berada dekat dengan jendela yang mengarah ke rumah sebelah, di mana Thomas dan Uli tengah sibuk membersihkan setiap ruangan di dalamnya. Kedua pria itu, tak menyadari adanya bahaya di rumah utama.
Ilsa diam-diam merogoh saku roknya untuk mengambil ponsel. Dia bermaksud menghubungi Thomas. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, seorang anak buah Folke terjatuh sedemikian keras di depan kakinya. Ilsa menjerit nyaring. Demikian pula dengan Elke. Dimasukkannya lagi telepon genggam tadi ke dalam saku.
Pria yang ada dalam posisi tertelungkup itu, mengeluarkan banyak darah yang berasal dari hidung. Vlad lah pelakunya. Dia meninju hidung dan pelipis pria tersebut, hingga patah dan kulitnya sobek.
“Vlad!” Elke kembali berteriak, setelah melihat putra satu-satunya dipegangi oleh dua orang di sisi kiri dan kanan. Keduanya mencengkeram erat lengan Vlad, sehingga pria itu tak mampu bergerak.
Melihat kesempatan besar di depan mata, Folke bergegas turun dan menghampiri salah satu anak buah yang berdiri tepat di hadapan Vlad. Anak buah tersebut hendak melayangkan pukulan ke arah si rambut pirang.
Di luar dugaan, sebelum anak buah Folke menyarangkan tinjunya, Vlad lebih dulu menanduk kening pria di sebelah kanannya, hingga dia melonggarkan pegangan.
Tangan kanan Vlad telah bebas. Tak ingin membuang waktu, dia mengumpulkan seluruh kekuatan di telapak kanan yang telah terkepal.
Vlad memukul pria di samping kiri, lalu menghantam pria di hadapannya. Tiga orang pria yang mengelilinginya tadi roboh secara bersamaan. Kini, tersisa Folke yang hanya melongo. Jaraknya saat itu beberapa langkah tak jauh dari tempat Vlad berdiri.
“Katakan, siapa tuannya sekarang?” Vlad tertawa. Rambut gondrongnya acak-acakan. Sebagian menutupi kening, dan lainnya berada di pipi. Vlad meniup helaian rambutnya dengan kencang, agar tak menghalangi pandangan.
“Kau? Siapa kau sebenarnya?” Folke berbicara dengan gemetaran. Satu telunjuknya mengarah perlahan ke wajah Vlad. Sebelum jemari kurus itu lurus terulur, Vlad sudah lebih dulu menyarangkan satu pukulan di ulu hati Folke. Dia mengerang kesakitan, lalu membungkuk sambil memegangi perut. Folke jatuh bersujud tepat di depan kaki Vlad.
“Hentikan atau kubunuh dia!” Bardolf yang lepas dari pengawasan Vlad, ternyata sudah berada di dekat Elke. Sebelum Vlad sempat bergerak, Bardolf sudah lebih dulu menarik tubuh Elke agar berdiri. Tak hanya itu, dia juga mengalungkan pisau kecil di leher wanita paruh baya tersebut.
“Brengsek kau!” maki Vlad.
“Jangan bergerak!” Bardolf semakin menekan ujung pisaunya di leher Elke. Setetes darah segar keluar dari permukaan kulit yang tersayat.
“Hentikan! Aku ada di sini! Lepaskan Nyonya Elke!” seru suara seorang gadis yang tak lain adalah Altea.
Vlad segera berbalik dan mendapati Altea berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca.
“Hentikan semua ini. Kumohon! Aku akan ikut dengan kalian. Lakukan apapun yang kalian inginkan terhadapku, tapi jangan lukai Nyonya Elke,” tegas Altea dengan sorot mata penuh haru.