
Altea mengabaikan rasa tak nyaman pada bagian tubuhnya. Dia segera berlari menghampiri pria yang berdiri di bawah lampu jalan. Makin dekat, semakin terlihat jelas sosok tinggi besar yang tak lain adalah Herbert. Sang ayah yang sudah menunggunya di suatu tempat tersembunyi, sehingga lolos dari pengamatan Vlad beberapa saat yang lalu.
Pria itu menyeringai puas saat melihat putrinya kembali. Secepat kilat, Herbert menarik tangan Altea agar menjauh dari halaman depan kediaman Vlad. Setengah berlari, dia terus memegangi tangan putrinya. Herbert seakan takut jika Altea akan melarikan diri lagi seperti tempo hari.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Herbert sambil terus bergerak maju.
"Tidak ada yang penting," jawab Altea. Padahal dia sempat membawa kartu nama milik Vlad. Di sana juga tertera nama perusahaan milik pria itu yang ada di Jerman.
"Kau benar-benar tidak bisa diandalkan!" cela Herbert kecewa.
Namun, Altea tak ingin menanggapi ucapan sang ayah. Dia sudah terbiasa menerima kata-kata kasar.
Setelah berlari sekitar seratus meter jauhnya, mereka tiba di dekat mobil yang terparkir. Di sana juga sudah bersiap Folke dan beberapa anak buahnya, yang segera menyeringai puas saat melihat kedatangan Herbert dan Altea. “Akhirnya kalian datang juga. Lama sekali!” Pria kurus dengan paha berbalut perban itu mendengkus kesal.
“Aku menunggu dia hingga keluar dari rumah,” sahut Herbert tak ingin disalahkan. Sementara, Altea hanya mencibir sambil memalingkan muka.
“Sudahlah. Jangan buang waktu. Sebaiknya, kita segera pergi dari sini, sebelum pria itu menyadari bahwa putrimu sudah kabur dari rumahnya,” ujar Folke lagi. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya, agar bersiap-siap untuk pergi. “Ayo, Sayang. Sudah waktunya kau ikut denganku,” ajak Folke. Dia bermaksud untuk meraih tangan Altea.
Namun, dengan segera Altea menepisnya. Wanita muda itu bahkan menampik tangan Folke dengan kasar. “Jangan berani-berani menyentuhku, Bayi kecil!” sentaknya. Altea melotot tajam kepada si pria kurus tadi.
“Kau!” Folke sudah merasa gemas dengan sikap Altea. Namun, dia harus menahan diri. Altea adalah barang pecah-belah yang harus dijaga baik-baik. “Tunggu sampai kubawa kau ke hadapan Tuan Dietmar!” ancamnya. Folke meraih lengan Altea. Dia setengah menyeret wanita muda itu menuju mobil.
Sebelum masuk ke mobil, Altea sempat menoleh kepada Herbert. Tatapannya begitu sendu. Altea tak pernah menyangka, bahwa pelariannya selama ini akan berakhir dengan hal yang tak diinginkan. Tanpa banyak melawan, Altea masuk. Wanita muda itu duduk di antara Bardolf dan Folke. Altea tak banyak bicara. Dia hanya tertunduk. Tak menoleh lagi, ketika mobil yang ditumpanginya berlalu di hadapan Herbert.
Sementara, Herbert masih berdiri terpaku. Tiba-tiba, ada perasaan aneh yang menyergap relung hatinya. Dia terus memperhatikan laju mobil yang membawa Altea pergi. Makin menjauh, hingga akhirnya tak terlihat lagi dari pandangan.
Perlahan, Herbert menundukkan kepala. Bagaimanapun juga, ada sisi hati seorang ayah dalam dirinya. Betapa bejat dia yang sudah memperlakukan Altea dengan cara seperti itu. Namun, Herbert harus melakukannya.
“Apa yang sudah kau lakukan?” Tiba-tiba, terdengar suara seorang wanita yang teramat dia kenal.
Herbert langsung mengangkat wajahnya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. “Anselma?” gumam pria paruh baya tersebut. “Anselma? Apa itu kau?”
Herbert membalikkan badan, mencari sumber suara yang menegurnya. Namun, tak ada siapa pun di sana selain dirinya. Herbert mulai dilanda rasa gelisah. Dengan segera, pria paruh baya tersebut masuk ke mobil. Dia melajukannya kencang, meninggalkan tempat itu.
Sementara, Altea sudah tiba di Hamburg ketika hari beranjak pagi. Folke langsung membawa wanita muda itu ke tempat di mana sang bos yang bernama Dietmar Kreuk berada.
“Aku tidak pernah bangun sepagi ini!” gerutu seorang pria berambut pirang sebatas pundak. Dia berjalan dengan memasang raut kesal, karena jadwal tidurnya terganggu. Dietmar, berjalan menuju ke tempat di mana Folke dan Bardolf sudah menunggunya.
Akan tetapi, kekesalan Dietmar seketika sirna, saat pria itu melihat sosok cantik Altea berdiri di antara kedua anak buahnya tadi. Dietmar langsung tersenyum lebar. Dia membuang jauh rasa kantuk. Pria itu berjalan mendekat kepada Altea yang menatap penuh kebencian padanya. “Dari mana kalian menemukan si cantik ini?” tanyanya seraya memegangi wajah Altea dengan sebelah tangan.
“Ya. Kau benar, Folke. Aku tidak ingin mati di ujung moncong pistol Tuan Ludwig,” sahut Dietmar setuju. Dia mengusap-usap janggut tipisnya sambil sesekali berdecak pelan. “Kalau begitu, segera siapkan si cantik ini untuk menghadapi hari istimewanya,” titah Dietmar setelah berpikir beberapa saat.
Dietmar berdiri di hadapan Altea. Memperhatikan wanita muda berambut panjang itu dengan saksama. “Sebenarnya, sayang sekali karena aku harus melewatkan wanita secantik ini,” ucapnya seraya memandangi tubuh semampai Altea dari atas hingga ke bawah.
Dietmar kembali berdecak pelan. “Siapa sangka bahwa Si Tua Herbert memiliki anak gadis secantik ini,” ucap pria berambut gondrong itu lagi sambil menyentuh dagu belah Altea. Namun, dengan segera wanita muda itu menepisnya dengan kasar.
“Hati-hati, Tuan. Wanita ini sangat liar dan sulit dikendalikan,” ujar Folke mengingatkan.
“Ah, sudahlah! Bawa dia kepada Irmina untuk disiapkan. Aku akan membawanya ke pelalangan malam ini,” titah Dietmar seraya mengibaskan tangan.
Tanpa banyak membantah, Folke dan Bardolf membawa Altea ke tempat wanita yang disebutkan tadi. Di sana, merupakan tempat untuk memeriksa para gadis yang akan dibawa ke pelelangan. Irmina yang bertugas mengecek apakah mereka benar-benar masih perawan atau tidak.
Irmina, merupakan wanita berusia sekitar empat puluh tahun. Raut wajahnya terlihat sangat ketus dan tidak bersahabat. Dia adalah dokter khusus, yang dipekerjakan oleh Dietmar. Upah yang besar, membuatnya tergiur untuk mengabdi pada sang pengelola Kasino Goldgeld tersebut. “Siapa dia?” tanyanya, ketika Folke sudah menghadapkan Altea pada wanita berambut pirang itu.
“Tuan Dietmar memintamu untuk mengecek keaslian wanita muda ini,” sahut Folke. Dia mendorong pelan Altea agar lebih maju dan mendekat kepada Irmina.
Irmina memperhatikan wanita muda di hadapannya dengan lekat. Setelah mengamati beberapa saat, wanita berambut pirang tersebut mengisyaratkan agar Folke keluar dari ruangan itu.
Sementara, Vlad baru membuka mata. Dia melihat ke sebelahnya. Altea sudah tidak ada di sana. Pria bermata biru itu tersenyum kecil. Sulit dipercaya, dia sudah bercinta dengan wanita yang selalu dirinya marahi bagaikan seorang anak kecil.
Sesaat kemudian, Vlad bangkit secara perlahan. Dia lalu duduk sambil bersandar. Vlad, baru ingat bahwa dirinya belum mematikan laptop, karena semalam Altea lebih dulu masuk dan mengajaknya melakukan aktivitas panas.
Vlad menurunkan kakinya dengan hati-hati. Dia hendak mengambil laptop dari atas meja. Namun, tatap mata pria tampan tersebut langsung tertuju pada benda kecil, yang berkilau terkena pantulan cahaya matahari dari jendela kaca. Vlad memicingkan mata. Dia lalu beranjak dari duduknya.
Benda berkilau tadi adalah sepasang anting-anting milik Altea. Vlad menggenggamnya sesaat sambil berpikir. Tiba-tiba, sepasang mata birunya terbelalak. Dia bergegas mengambil kaki palsu yang semalam dirinya letakkan di dekat meja. Setelah memasang kaki palsu itu, Vlad bergegas keluar kamar. Tujuan pertamanya adalah kamar Altea.
Seperti yang sudah dia duga. Ruangan itu dalam keadaan kosong. Begitu juga dengan lemari kecil tempat di mana Altea menyimpan pakaiannya. Vlad mengetahui hal itu, karena dulu dia pernah memasang alat pelacak di dalam ransel milik wanita muda tersebut.
Tak ingin berlama-lama di dalam kamar, Vlad bergegas turun. Dia tak peduli, meskipun dirinya hanya mengenakan celana tidur tanpa memakai atasan. Vlad berjalan cepat ke luar rumah. Dia berdiri di halaman, lalu berjalan ke pinggir jalan.
Embusan napas berat, meluncur dari bibir berhiaskan kumis tipis Vlad. Pria asal Rusia tersebut yakin, bahwa Altea telah pergi sejak semalam.
Merasa tak ada yang bisa dilakukannya hanya dengan berdiri di sana, Vlad memutuskan untuk kembali ke dalam. Dia tak mengatakan apapun kepada Elke, berhubung sang ibu masih belum sepenuhnya pulih. Vlad langsung menuju kamarnya. Dia membuka laptop yang belum sempat dimatikan. Setelah itu, pria tampan tersebut masuk ke menu lain. Vlad mulai melacak keberadaan Altea.
“Hamburg?” gumamnya. “Sialan!” Vlad terlihat begitu emosi. Dia langsung meraih ponsel, lalu menghubungi Mykola. Vlad mengirimkan koordinat yang sudah didapatnya. “Jemput Altea di tempat itu, lalu tunggu sampai aku datang,” titah Vlad tegas.