Since I Found You

Since I Found You
A Threat



Sementara Vlad sibuk mencari informasi lengkap tentang Ludwig Stegen, Altea terus digembleng dengan berbagai pelatihan kepribadian. Mulai dari cara berjalan, menampilkan bahasa tubuh yang indah dipandang, sampai etika dalam menyajikan sesuatu. Delma juga mengajari Altea, bagaimana caranya agar terlihat memesona di hadapan seorang pria.


Satu minggu telah berlalu. Mykola berhasil memberikan laporan berisi data lebih valid, dari yang sebelumnya kepada sang majikan. Laporan itu berisi tentang sebuah perusahaan, beserta beberapa alamat yang disinyalir menjadi milik pria bernama Ludwig Stegen.


“Apa kau akan akan pergi sekarang, Nak?” tanya Elke sambil berdiri di ambang pintu. Dia memperhatikan Vlad yang sedang merapikan diri di depan cermin. Elke tersenyum lembut, melihat putranya yang sangat tampan dan gagah. Kondisi Elke yang sudah membaik, membuat dia tak lagi duduk di kursi roda, meskipun dirinya masih harus tetap mengkonsumsi obat.


Elke berjalan masuk ke kamar Vlad. Dia mendekat kepada pria dengan postur tinggi tegap yang langsung menghadap padanya. Dengan penuh kelembutan, Elke merapikan bagian depan jaket kulit yang Vlad kenakan. “Aku berharap agar kau selalu baik-baik saja selama berada di Berlin. Selain itu, aku juga ingin agar kau kembali dengan membawa Nona Miller.”


“Jangan khawatir, Bu. Lagi pula, aku sudah lama tidak mengunjungi mansion ayah angkat. Aku akan baik-baik saja selama berada di sana.” Vlad tersenyum simpul. “Justru aku sangat mengkhawatirkanmu. Akan kuusahakan pulang sesekali.”


“Aku juga akan baik-baik saja, Nak,” ujar Elke.


Belum sempat Vlad membalas ucapan sang ibu, terdengar suara dering panggilan ponsel. Vlad berlalu ke dekat tempat tidur, di mana dia meletakkan telepon genggam bersama tas jinjing serta barang-barang lain yang akan dibawa ke Berlin. Vlad segera memeriksanya. Nama Mykola tertera di layar. Tanpa menunggu lama, Vlad langsung menggeser ikon telepon berwarna hijau untuk menjawab panggilan tadi.


“Tuan. Pengawal yang anda minta sudah tiba. Mereka ada di depan rumah.” Mykola sudah berbicara bahkan sebelum Vlad sempat memberikan kata sapaan.


“Benarkah? Akan segera kuperiksa,” sahut Vlad. Dia menutup sambungan telepon begitu saja. Vlad menoleh kepada sang ibu. Dia lalu mengambil semua barang-barang bawaannya turun ke lantai satu. Sementara, Elke hanya mengikuti. Vlad tak mengizinkannya membawa apapun.


Setibanya di lantai satu, Vlad meletakkan semua barang bawaannya di kursi. Dia berjalan ke arah pintu, kemudian membukanya. Tampaklah beberapa orang pria berperawakan tegap di depan rumah. Mereka langsung mengangguk hormat saat melihat kemunculan Vlad dari balik pintu. Sebelum menyapa para pengawal tadi, Vlad sempat menghitung jumlah mereka. Semuanya ada sekitar dua puluh orang.


Sesuai dengan permintaan, Vlad menyuruh Mykola mengirimkan beberapa pengawal terlatih untuk menjaga kediamannya di Sieseby. Bagaimanapun juga, dia tak boleh mengabaikan keselamatan sang ibu. Setelah memberikan beberapa pengarahan kepada para pengawal tadi, Vlad kembali ke dalam.


“Apa-apaan ini, Vlad?” tanya Elke dengan raut tak suka.


“Maaf untuk ketidaknyamanan ini, Bu. Akan tetapi, aku harus melakukannya,” jawab Vlad.


“Untuk apa?” protes Elke.


“Demi keamananmu selama aku tak ada di sini,” jawab Vlad lagi. “Aku tidak ingin kau membantah kata-kataku, Bu. Untuk kali ini saja, agar aku bisa sedikit lebih tenang selama berada di Berlin.”


“Nak ….” Elke sudah hendak melayangkan protes lagi. Akan tetapi, hal itu dia urungkan saat melihat Vlad menggeleng, sebagai isyarat bahwa putranya tersebut tak menerima bantahan. Vlad memanggil Thomas untuk membawakan tas beserta barang-barang yang lain hingga ke mobil yang sudah disiapkan sebelumnya.


“Aku pergi dulu, Bu,” pamit Vlad. Dia mengecup kening Elke sebelum masuk ke kendaraan.


Namun, sebelum pria bermata biru itu menyalakan mesin mobilnya, Elke tiba-tiba teringat sesuatu. Dia meminta Vlad agar menunggu sebentar, sementara dirinya masuk ke rumah. Beberapa saat kemudian, Elke kembali lagi sambil membawa sebuah bungkusan. Dia menyerahkannya kepada Vlad. “Berikan ini pada Nona Miller, jika kau bertemu dengannya,” pesan Elke dengan sorot mata penuh haru.


Vlad mengangguk seraya tersenyum. “Semoga aku bisa menemukannya, Bu,” ucap pria berambut pirang tersebut. Dia menyalakan mesin mobil. Setelah kembali berpamitan kepada sang ibu, Vlad segera menginjak pedal gas. Dalam waktu sekian detik saja, mobil double cabin yang dikendarainya telah hilang dari pandangan Elke.


Vlad akan berangkat ke Hamburg terlebih dulu. Dari sana, dia akan menempuh perjalanan sekitar kurang lebih satu jam menggunakan jalur udara, yang sudah disiapkan oleh Mykola. Selain itu, dia juga harus membicarakan beberapa hal penting terlebih dulu dengan sang ajudan kepercayaan.


Mykola memberikan penjelasan tentang perusahaan yang disinyalir merupakan milik Ludwig Stegen. “Blauer Edelstein. Salah satu perusahaan property ternama di Berlin. Aku sudah menyelidiki dengan mendetail, siapa pemilik perusahaan ini sebenarnya. Seluruh penyelidikanku mengarah pada nama Ludwig Stegen. Artinya, dapat dipastikan bahwa pria itu memang pemilik asli dari perusahaan tersebut.”


“Kalau begitu, tunggu apalagi? Kita berangkat ke Berlin sekarang dan temui dia!” ajak Vlad tanpa ragu.


“Baik, Tuan. Aku sudah menyiapkan segalanya. Anda bisa langsung berangkat sekarang,” sahut Mykola penuh hormat. Dia lalu mengarahkan sang majikan menuju salah satu hanggar yang disewa oleh Mykola di bandara Hamburg, untuk menyimpan jet pribadi milik Vlad. Kurang lebih satu jam saja, mereka sudah tiba di Bandara Brandenburg, Kota Berlin.


Sebuah mobil jemputan juga sudah menunggu Vlad di luar bandara. Kendaraan mewah tersebut akan mengantar Vlad ke kantor milik Ludwig Stegen, yang berada di pusat Kota Berlin.


Vlad sempat kesulitan untuk bertemu dengan secara langsung dengan Ludwig, mengingat dirinya tidak membuat janji terlebih dulu.


Namun, Mykola berhasil memecahkan masalah melalui jalur diplomasi. Dia mengeluarkan bukti-bukti pada pegawai resepsionis di hadapannya, bahwa Vlad bukanlah orang sembarangan.


“Eisenschwert juga memiliki banyak anak perusahaan yang bergerak di bidang lain, selain bidang otomotif. Sebut saja restoran dan hotel bintang lima yang tersebar di seluruh penjuru Eropa. Tentu Anda pernah mendengar jaringan Das Versteck, bukan? Jaringan bisnis pariwisata yang mencakup resort, restoran, dan hotel yang sudah kusebutkan tadi,” papar Mykola panjang lebar.


“Sekadar informasi, bisnis Tuan Vlad Ignashevich tak hanya ada di Jerman. Di Rusia, dia juga merupakan distributor resmi dari minuman termahal di dunia,” imbuhnya.


“Bayangkan jika Anda menolak mempertemukan kami dengan Tuan Ludwig Stegen. Anda mungkin akan menjadi penyebab gagalnya kerjasama bernilai jutaan Euro,” sambung Mykola, masih dengan gaya bicara serta sikapnya yang kalem.


“Tuan Vlad Ignashevich dan Tuan Mykola Vanko,” sebut resepsionis tadi dengan suara bergetar. Terngiang olehnya kata jutaan Euro yang cukup membuat sang resepsionis ketakutan. “Baiklah. Silakan tunggu sebentar. Aku akan menghubungi Tuan Ludwig,” ucapnya kemudian.


“Ah, Tuan Ludwig Stegen sudah menunggu Anda di ruangannya, Tuan-tuan.” Resepsionis cantik itu berdiri, lalu mengarahkan Vlad serta Mykola ke lift khusus yang akan langsung menuju ruangan Ludwig.


Dengan gagah, dua pria rupawan itu berjalan memasuki lift. Mereka menunggu hingga pintu lift terbuka di lantai teratas gedung tersebut.


Seorang pria bersetelan rapi, menyambut kedatangan Vlad dan Mykola. Pria itu membukakan pintu untuk mereka.


Tampaklah pria tampan berpostur tinggi tegap, yang sudah menunggu Vlad dan Mykola di balik meja kerjanya. Pria yang berperawakan mirip Vlad tadi berdiri gagah, sambil menyembunyikan kedua tangannya di saku celana. “Apa aku mengenal kalian?” tanyanya dengan tatapan dingin dan penuh curiga.


“Kau harus mengenal kami!” sahut Vlad dengan nada yang penuh penekanan. “Aku tak ingin berbasa-basi lebih lama denganmu. Cukup katakan di mana Altea Miller berada, maka aku tak akan membuat hidupmu sengsara.”


Pria tampan berambut cokelat tadi menatap tajam Vlad, lalu beralih pada Mykola yang setia mendampinginya. “Jadi, kau adalah orang yang telah memporak-porandakan kasinoku?”


“Aku bisa berbuat lebih jauh dari itu, andai kau tak bersedia memberitahu di mana Altea Miller berada,” ancam Vlad.


“Hm. Begitu ya?” Pria bernama Ludwig tadi terdiam sejenak, lalu tersenyum sinis. “Kau tentu tahu alasan kenapa aku menahan Altea Miller,” ujarnya.


“Katakan berapa banyak utang Herbert Miller. Akan kulunasi sekarang juga. Kubayar berapa pun yang kau minta, asalkan dirimu bersedia melepaskan Altea!”


Ludwig kembali berpikir untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan menyerahkan Altea Miller, berapa pun uang yang akan kalian berikan,” putusnya.


“Kau ....” geram Vlad tertahan.


“Apakah kau sadar dengan keputusanmu, Tuan?” sela Mykola.


“Ya. Aku tak akan melepaskan Altea Miller. Perasaanku mengatakan, dia bisa memberikan keuntungan melebihi total utang Herbert." Ludwig menyeringai puas, saat melihat wajah Vlad yang merah padam menahan emosi.


“Kau sudah salah memilih musuh, Tuan,” ujar Mykola mengingatkan.


“Tidak apa. Aku siap menghadapi siapa pun,” sahut Ludwig angkuh.


“Baiklah. Jika memang itu yang kau pilih. Jangan menyesal, bila suatu saat aku menghancurkan semua yang kau miliki hingga tak tersisa,” ancam Vlad tegas dan penuh penekanan. “Ingatlah namaku, Ludwig Stegen! Vlad Ignashevich akan kembali dan membuat hidupmu bagai di neraka!” Vlad kembali mengeluarkan ancaman serius, sebelum dia berlalu dari hadapan Ludwig.


"Kuterima tantanganmu, Vlad Ignashevich," balas Ludwig dingin.


“Semoga harimu menyenangkan, Tuan.” Mykola mengangguk sopan pada Ludwig, sebelum mengikuti langkah Vlad.


Ludwig hanya tersenyum samar dengan tatapan yang terus mengikuti dua pria tampan, yang kini sudah menghilang di balik pintu ruang kerjanya. Dia lalu mengembuskan napas pelan. Ludwig menekan tombol intercom di atas meja kerja.


“Helen, cari tahu informasi tentang Vlad Ignashevich secara detail. Berikan laporkannya padaku. Segera!” titah Ludwig pada seseorang di seberang sana.