Since I Found You

Since I Found You
Future Wife



“Ada masalah, Nona Miller?” tanya Ludwig yang melihat Altea termenung. Dia kembali menatap wanita muda itu hingga beberapa saat, sebelum mengalihkan perhatian pada Delma. “Buatlah janji bertemu di club pribadiku. Berhubung Ferdynand merupakan seorang publik figur, itu berarti dia harus bergerak sangat hati-hati,” ucapnya ditujukan kepada wanita paruh baya tersebut.


“Berikan saja akses masuk padanya. Aku akan menyampaikan ini pada Eryk,” ujar Delma menanggapi.


Ludwig mengangguk samar. “Hubungi saja Eryk. Dia yang akan mengurus semuanya,” suruh pria tampan itu seraya memeriksa ponsel. Ludwig mendapat panggilan masuk dari Dietmar. Sudah lama, pria yang bertanggung jawab atas Kasino Goldgeld tersebut tidak memberi kabar.


Tanpa mengatakan apapun, Ludwig beranjak dari duduknya. Dia berlalu meninggalkan Delma dan Altea, yang tanpa sadar mengikuti langkah gagah pria tersebut. “Apa dia selalu seperti itu?” tanya Altea sambil berbisik.


“Begitulah. Nanti juga kau akan terbiasa,” balas Delma dengan berbisik pula.


Sementara, Ludwig sudah menjauh dari ruang tamu di mana ada Altea dan Delma. Di sana, dia baru menjawab panggilan dari Dietmar. “Ada apa?” tanyanya tanpa basa-basi.


“Tuan, aku baru keluar dari rumah sakit,” sahut Dietmar dari seberang sana.


“Memangnya kau kenapa?” tanya Ludwig dingin. Terlihat jelas bahwa sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan kondisi Dietmar.


“Pria itu datang lagi ke kasino beberapa hari yang lalu, tuan. Dia menghabisi Folke. Dia juga sudah membuatku menjadi seperti sekarang ….” Dietmar menjeda kata-katanya sejenak, sebelum menuturkan segala sepak terjang Vlad.


“Pisau beracun itu menancap tepat di tulang kakiku dan menginfeksinya. Untuk menghentikan penyebaran ke seluruh tubuh, maka kakiku harus diamputasi. Sekarang, aku hanya punya satu kaki.” Dietmar mengembuskan napas berat.


“Kau menghubungiku hanya untuk mengadukan keadaanmu?” Sungguh di luar dugaan tanggapan yang diberikan oleh Ludwig.


“Tidak, tuan,” jawab Dietmar. Dia sadar bahwa Ludwig tak akan peduli, meskipun dirinya mati terbunuh secara mengenaskan. “Pria itu menyebut dirinya sebagai Ein Hinken. Dia ….”


“Dia sudah datang ke hadapanku,” sela Ludwig. “Jadi, kau yang telah membuatnya datang ke Berlin?” Nada pertanyaan pria itu terdengar semakin berat dan dalam.


“Tuan, aku ….” Dietmar menjadi gugup. Dia tahu, jika Ludwig sudah berkata dengan nada bicara seperti itu, berarti sang pemilik Kasino Goldgeld tersebut sedang menahan amarah.


Dietmar bingung harus membuat alasan seperti apa, yang sekiranya dapat diterima dengan baik oleh majikannya. Namun, belum sempat dia memberikan jawaban, Ludwig sudah lebih dulu memutus sambungan telepon tanpa basa-basi.


Ludwig kembali ke ruang tamu, di mana dia melihat Altea tengah berbincang ringan bersama Delma. Diam-diam, pria itu memperhatikan Altea yang sesekali memperlihatkan senyuman manisnya. Raut wajah serta bahasa tubuh wanita muda itu juga terlihat jauh lebih lepas, seakan tak ada beban sama sekali. Ludwig terpaku di tempatnya berdiri sambil terus memperhatikan sosok cantik yang belum sempat berganti pakaian tersebut.


Beberapa saat kemudian, Delma menyadari bahwa Ludwig tengah memperhatikan mereka. Dia mengalihkan perhatian pada pria itu, lalu tersenyum lembut. “Tuan,” ucapnya.


Seketika, Altea ikut menoleh. Membuat Ludwig menjadi salah tingkah. Namun, pria itu dapat menguasai diri dengan segera. Ludwig mengembuskan napas pendek, sebelum melangkah ke dekat dua wanita lintas usia tadi. Pria tampan berambut cokelat itu terdiam sejenak. Setelah beberapa saat, dia baru berbicara. “Jangan lupa untuk menghubungi Eryk. Aku ada urusan lain,” pesannya.


Ludwig bergegas menuju mobilnya. Dia melajukan jeep hitam kesayangan dengan kecepatan di atas rata-rata, menyusuri jalanan Kota Berlin yang makin siang semakin ramai lancar. Entah akan ke mana tujuan Ludwig saat itu. Namun, satu yang pasti dia terus mengendarai mobil kesayangannya hingga keluar dari tapal batas ibukota negara Jerman tersebut.


Pria tampan bermata abu-abu tadi, terus mengendarai mobil jeep melewati beberapa daerah lainnya. Akhirnya, Ludwig tiba di suatu daerah dengan pemandangan yang sangat indah. Sebuah alamat yang diberikan oleh Dietmar.


Ludwig tiba di sana pada sore hari, setelah menempuh sekitar kurang lebih empat jam perjalanan. Namun, pria itu tak langsung keluar dari mobil. Dia mengamati situasi di sekitar rumah dua lantai beratap jerami, dengan cat dinding berwarna putih. Pria tampan itu memicingkan mata, ketika melihat wanita paruh baya seusia Delma yang tengah memetik bunga di halaman.


Tanpa berpikir terlalu lama, Ludwig memutuskan keluar dari kendaraannya. Dia melepas kacamata hitam yang dikenakan, lalu melipat dan menggenggam benda itu di tangan kanan. Ludwig melangkah gagah menghampiri wanita dengan tampilan sederhana tadi. “Selamat sore,” sapanya.


Wanita yang tak lain adalah Elke, segera menoleh. Dia menatap lekat pria tampan yang tak dikenalnya. Elke yakin bahwa pria berambut cokelat tersebut, bukan salah satu dari tetangga sekitar sana. “Selamat sore,” balas wanita berambut pirang sebahu itu. “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya seraya menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan.


Ludwig berusaha untuk terlihat ramah. Akan tetapi, dia tak pandai melakukan hal itu. Raut wajahnya yang tampan tetap dingin dan datar. “Aku ingin bertemu dengan Vlad Ignashevich,” jawab Ludwig tanpa berbasa-basi.


“Vlad?” Elke menautkan alisnya. Dia merasa heran. Selama Vlad tinggal di sana, hampir tak pernah ada siapa pun yang menanyakan putranya tersebut. “Anda siapa? Ada keperluan apa mencari putraku?” tanya wanita dengan tampilan vintage tersebut penasaran.


“Putra Anda?” ulang Ludwig.


Mendengar pertanyaan demikian dari Ludwig, rasa curiga mulai menggelayuti pikiran Elke. Wanita itu berjalan mundur. Terlebih karena semua pengawal yang ditugaskan Vlad, dia suruh untuk menjauh. Elke merasa terganggu dengan kehadiran para pria berperawakan tinggi besar yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya.


“Tunggu, Nyonya,” cegah Ludwig. “Aku hanya ingin bertemu dengan Vlad Ignashevich. Tolong panggilkan dia,” pintanya.


Elke tertegun mendengar permintaan Ludwig. Dia menoleh, lalu menggeleng. “Putraku tidak ada. Dia sedang pergi ke luar kota untuk menjemput calon istrinya,” ujar wanita itu. “Maaf, aku harus masuk. Permisi.” Elke tak ingin berbasa-basi lagi dengan pria asing yang menanyakan Vlad. Wanita itu kembali teringat pada kejadian beberapa waktu silam, saat Herbert datang bersama beberapa pria yang melakukan keributan di rumahnya. Elke menutup pintu rapat-rapat. Dia berpikir bahwa Vlad tidak keliru dengan menempatkan banyak pengawal di sana.


Dari jendela kaca bertirai putih, Elke mengintip keluar. Dia melihat pria tadi sudah kembali ke mobilnya. Elke tak tahu apakah pria itu berniat jahat atau tidak. Namun, dirinya dapat bernapas lega, ketika mobil jeep hitam yang terparkir di luar halaman rumahnya telah pergi bersamaan dengan suara ketukan di pintu.


“Nyonya, apakah Anda di dalam?” seru seorang pengawal dari luar.


“Ya. Aku akan membuat teh,” sahut Elke seraya menjauh dari pintu.


Sementara, Ludwig tak kenal lelah. Dia kembali berkendara meninggalkan Sieseby. Dalam benak pria itu terus terngiang ucapan Elke, yang mengatakan bahwa Vlad sedang menjemput calon istrinya. Ingatan Ludwig langsung tertuju kepada Altea. Bayangan paras cantik dengan senyuman manis wanita itu memenuhi benaknya, membuat dia menginjak pedal gas semakin kencang.