
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam, Vlad akhirnya tiba di Polandia. Untunglah, karena Mykola telah memerintahkan Manheim yang merupakan tangan kanannya, untuk mempersiapkan segala akomodasi bagi Vlad. Setibanya di Kota Warsawa, mobil jemputan langsung membawa pria berambut pirang itu ke hotel yang telah disiapkan. Manheim, bahkan memesankan kamar terbaik untuk sang tuan besar.
Selama berada di hotel, Vlad melakukan banyak persiapan. Salah satunya adalah tuksedo yang akan dikenakan ke tempat hiburan malam milik Ludwig. Vlad juga sudah memastikan jadwal kehadiran pria itu di tempat yang dimaksud, sehingga dirinya dapat bertemu langsung di sana.
Sekitar pukul tujuh malam, Vlad telah bersiap. Dia berdiri di depan cermin, sambil merapikan dasi kupu-kupu serta jas yang dikenakannya. Setelah merasa siap, barulah pria tiga puluh tahun tersebut keluar dari kamar. Vlad melangkah gagah menuju halaman depan hotel mewah itu, di mana mobil sedan hitam telah menunggunya.
Manheim, sengaja memilih hotel yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempat hiburan malam yang dimaksud. Tak lebih dari lebih dari lima belas menit, Vlad telah tiba di tempat tujuan. Seorang pria menyambutnya, ketika dia sudah tiba di dekat pintu masuk. Pria itu membawa alat pendeteksi logam.
“Ck!” Vlad berdecak kesal. Dia memakai kaki palsu, di mana terdapat bahan stainless pada beberapa bagian.
Benar saja. Alat pendeteksi logam tadi berbunyi saat didekatkan ke bagian kaki Vlad. Awalnya, pria itu menatap tajam seakan meminta penjelasan. Namun, si pria mengangguk sopan, ketika Vlad mengangkat bagian bawah celana panjangnya, memperlihatkan kaki palsu yang dikenakan.
Pria tadi mempersilakan Vlad masuk. Dia memang tak menyadari, bahwa kaki palsu yang Vlad kenakan tersebut sudah dimodifikasi secara khusus. Di sana, terdapat bagian yang bila Vlad inginkan akan langsung mengeluarkan benda tajam semacam pisau lancip.
Dengan langkah penuh percaya diri, pria bermata biru itu memasuki ruang pertama tempat hiburan malam tadi. Suasana di sana sudah ramai pengunjung. Vlad berdiri sejenak, hingga ada seorang wanita berpenampilan seksi datang menghampiri.
Wanita cantik berambut pirang itu tersenyum manis, lalu mengangguk dengan anggun. “Selamat malam, Tuan,” sapanya dalam Bahasa Polski. Namun, Vlad hanya membalas dengan anggukan. Dia memberi isyarat bahwa dirinya bukanlah warga asli Polandia.
Wanita berpenampilan seksi tadi kembali tersenyum. Akhirnya, dia menggunakan Bahasa Inggris saat berbicara dengan Vlad. Wanita itu menanyakan apakah Vlad memiliki kartu khusus atau tidak. Untungnya, Vlad sudah mengantongi kartu yang dimaksud. Lagi-lagi, hal itu atas bantuan Manheim yang mendapat arahan langsung dari Mykola.
Berhubung Vlad memiliki kartu istimewa berwarna gold, maka wanita tadi mengarahkannya ke bagian lain tempat hiburan malam itu. Vlad berjalan mengikuti si wanita, hingga mereka tiba di tempat yang dimaksud. Suasana di tempat dengan akses kartu berwarna gold, memang terlihat sangat jauh berbeda, jika dibandingkan ruangan saat dia baru masuk tadi. Aroma kelas atas terasa jelas di sana.
“Selamat menikmati segala fasilitas yang kami sediakan, Tuan,” ucap wanita itu, sebelum berlalu dari hadapan Vlad.
“Terima kasih,” balas Vlad datar. Tatap mata pria tampan berambut pirang itu menjelajah, menyapu setiap wajah yang dapat ditangkap dengan indera penglihatannya yang terbatas. Vlad kemudian melangkah tenang. Dia mencoba menyusuri setiap sudut ruangan berisikan para pria berpenampilan rapi, dengan para wanita penghibur yang menemaninya.
“Apa Anda sedang mencari teman berbincang, Tuan?” tanya seorang pria yang sepertinya merupakan petugas di sana.
Vlad tersenyum simpul, ketika pria tadi mengarahkannya pada monitor touch screen. Layaknya memilih menu makanan di gerai fast food, di monitor tersebut terpampang sederet wanita cantik dengan harga yang tertera dan beragam. Pria itu mempersilakan Vlad untuk memilih sendiri, serta melakukan sistem pembayaran memakai barcode.
“Wow,” gumam Vlad seraya tertawa pelan. Dia baru menemukan sistem pemesanan wanita penghibur seperti itu. Namun, tujuan utamanya ke sana bukanlah untuk bersenang-senang. Sepeninggal pria tadi, Vlad juga meninggalkan monitor itu. Terlebih, ketika pria tampan dengan kaki palsu tersebut menangkap kehadiran sosok yang menjadi target utamanya.
Untuk menjawab rasa penasaran, Vlad berjalan menghampiri sang pemilik tempat hiburan malam berkelas itu. Kehadirannya, tentu saja membuat Ludwig sangat terkejut. Ludwig mungkin tak pernah menyangka bahwa Vlad akan berada di sana.
“Kau? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ludwig sinis.
“Aku hanya ingin menjadi bagian dari perayaan tahunan di kota ini. Bukankah tempat hiburan malam milikmu terbuka untuk umum seminggu penuh?” jawab Vlad kalem.
“Bagaimana kau bisa memperoleh kartu gold?” selidik Ludwig penasaran. Tatap mata pria berambut cokelat itu teramat tajam mengarah kepada Vlad. Tak seperti tuan rumah yang menyambut hangat tamunya, Ludwig justru terlihat tak menyukai kehadiran Vlad di sana. “Pergilah dari sini. Aku tak peduli meskipun kau memegang kartu istimewa di tempatku,” usirnya dengan nada bicara yang teramat dingin.
“Bagaimana jika aku menolak?” tantang Vlad.
“Jangan membuat keributan di sini. Kau akan menyesal jika sampai melakukan hal itu,” ancam Ludwig sinis.
Sedangkan, Vlad tertawa renyah saat menanggapi ancaman Ludwig. Dia berjalan semakin mendekat, hingga mereka saling berhadapan dalam jarak sekitar satu langkah saja. “Kau tenang saja. Aku bukanlah orang rendahan yang tak tahu tata krama. Aku memang pernah mengacaukan kasino milikmu di Hamburg, tapi aku tak akan melakukan hal itu di sini,” ujar Vlad kalem. Dia mengarahkan pandangan ke arah lain, di mana terdapat meja judi yang kosong.
“Bagaimana jika kita bermain untuk beberapa putaran, Tuan Zielinski?” tawar Vlad diiringi senyum puas, setelah melihat raut terkejut yang kembali hadir di paras tampan Ludwig. Tanpa menunggu jawaban dari pria di hadapannya, Vlad melangkah gagah ke dekat meja judi tadi.
Sementara, Ludwig yang masih terpaku di tempatnya segera tersadar. Dia harus semakin waspada, karena ternyata Vlad sudah mengetahui siapa dirinya. Tak ada yang mengetahui nama belakang Zielinski, selain dirinya, sang ibu, dan Albert Stegen sang ayah angkat. Bagaimana bisa Vlad mengetahui rahasia yang tersimpan sangat rapi selama puluhan tahun tersebut?
Ludwig mengesampingkan segala perasaan berkecamuk dalam hatinya. Dia melangkah ke dekat meja, di mana Vlad sudah duduk penuh wibawa menunggu untuk bermain. Pantang bagi Ludwig menolak tantangan itu. Harga dirinya akan dipertaruhkan beberapa saat lagi, sesaat setelah dia duduk di kursi yang berseberangan dengan Vlad.
Dengan satu jentikan jari dari Ludwig, seorang petugas langsung datang menghampiri. Pria berkemeja putih berhiaskan dasi kupu-kupu sebagai pelengkap, sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Dia menyiapkan segala hal, termasuk menjelaskan tata cara serta aturan dalam permainan. Pria itu juga memberikan beberapa keping koin emas sebagai modal taruhan, setara dengan nominal dari jumlah uang yang akan dipertaruhkan sesuai kesepakatan kedua pemain.
“Silakan pasang taruhan Anda, Tuan,” ucap pria dengan kemeja putih tadi kepada Ludwig, yang segera mendorong beberapa keping koin emas ke bagian tengah meja.
“Anda, Tuan.” Tangan si pria lalu terarah kepada Vlad yang hanya terdiam, saat melihat sosok cantik dalam balutan gaun malam. Wanita itu baru muncul, lalu duduk di dekat Ludwig.