Since I Found You

Since I Found You
Hope



Ludwig menatap tajam Altea. Dia menghadapkan tubuhnya pada wanita muda itu. Ludwig tak mengalihkan pandangan dari tubuh polos si pemilik rambut cokelat itu. Pria tampan tersebut merengkuh pinggang ramping putri kedua Herbert, hingga merapat padanya.


Seperti biasa, Ludwig tak akan tinggal diam jika sudah berada sedekat itu dengan Altea.


“Tetaplah di sini,” ucap Altea parau. Suaranya terdengar pelan, tapi teramat menggoda. Menggelitik keteguhan Ludwig yang memang sudah tak dapat menahan diri. Terlebih, ketika tangan dengan jemari lentik Altea melepas jaket kulit yang pria itu kenakan.


“Apa yang akan kau berikan jika aku tetap di sini?” tantang Ludwig dengan tatapan seperti macan yang akan memangsa buruannya.


“Apapun,” jawab Altea seraya berjinjit, lalu mencium mesra bibir Ludwig. Setelah puas berciuman, Altea menurunkan tubuhnya. Dia melonggarkan sabuk di pinggang Ludwig, kemudian membuka pengait dan menurunkan resleting celana jeans pria itu.


Helaan napas berat, meluncur dari bibir berkumis tipis Ludwig. Dia mere•mas rambut panjang Altea, ketika wanita itu memperlakukannya bagai seorang raja. Inilah yang Ludwig sukai. Entah apa yang berbeda dari wanita berambut cokelat itu, sehingga Ludwig tak merasa bosan dengan pelayanannya.


Malam itu, kemesraan Altea telah menahan Ludwig sehingga tak pergi ke manapun. Pria tampan tersebut, lebih memilih membuat dirinya takluk dalam kepuasan di tempat tidur.


Sementara, di lain tempat. Vlad tengah berkemas. Dia akan kembali ke Sieseby untuk berpamitan kepada Elke. Vlad harus pergi ke Rusia dalam rangka menghadiri anniversary perusahaannya. “Aku akan ke Rusia sekarang juga. Siapkan pesawat untukku,” ucap Vlad saat menghubungi Mykola. Tanpa menunggu jawaban dari sang asisten, pria berambut pirang itu langsung menutup sambungan telepon.


Vlad telah selesai mengemasi barang-barangnya. Dia lalu mengirimkan pesan pada seseorang bernama Mateja Slavko. Vlad mengajak pria itu bertemu, setelah dia tiba di Rusia. Malam itu juga, dia pergi meninggalkan Berlin. Kemarahannya telah melampaui batas. Vlad tak ingin bersabar lagi dalam menghadapi Ludwig.


Sebenarnya, Vlad bisa saja berhadapan langsung dengan pria itu. Akan tetapi, dia menghindari pertumpahan darah. Vlad sebenarnya sudah tak ingin lagi menceburkan diri dalam kubangan hitam. Dunia yang telah lama ditinggalkannya.


Berhubung memakai sopir pribadi saat perjalanan panjang Berlin-Sieseby, Vlad bisa tidur dalam kendaraan. Dia terbangun, ketika mobil itu telah tiba di depan halaman rumah Elke. Dilihatnya lampu depan masih menyala, pertanda bahwa sang ibu masih terjaga.


Vlad segera turun dari mobil. Dia menyuruh sang sopir untuk tetap di belakang kemudi. Dibukanya pintu depan yang tak terkunci dengan perlahan. Vlad memasuki rumah sederhana nan asri itu, sambil menyapu pandangan ke sekeliling.


Tampaklah Elke tengah membaca buku di dekat tungku perapian yang mati. Wanita itu begitu serius, sampai tak sadar ketika Vlad berjalan mendekat dan menyentuh lembut bahunya. “Kenapa belum tidur, Bu?” tanya Vlad yang seketika membuat Elke menoleh. Wanita itu tersenyum lebar.


“Aku tak bisa tidur setelah meminum obat tadi. Tumben kau datang semalam ini, Nak?” Elke balas bertanya.


“Aku hendak berpamitan.” Vlad menurunkan tubuh dengan posisi berlutut di hadapan sang ibu, yang duduk nyaman di kursi kesayangannya.


“Memangnya, kau mau ke mana?” Tanya Elke. Wajahnya yang mulai dipenuhi keriput, menunjukkan raut penuh khawatir.


“Aku hendak terbang ke Rusia. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di sana,” jelas Vlad.


“Lalu, bagaimana dengan Nona Miller?” tanya Elke lagi.


“Justru itu, Bu. Salah satu tujuanku pergi ke Rusia adalah demi menemukan keberadaan dan membawanya pulang,” jawab Vlad seraya mengusap punggung tangan sang ibu.


“Aku sangat menyukai Nona Miller, Nak. Dia satu-satunya wanita yang memandangmu dengan tatapan tulus dan lembut, meskipun dia mengetahui dengan pasti kondisimu,” ucap Elke dengan raut penuh haru.


“Begitukah menurutmu, Bu?” Vlad tertawa pelan, lalu menunduk untuk sejenak.


“Ya, Nak. Walaupun dia seringkali bersikap tak terkendali, tetapi aku dapat melihat kejujuran dan keteguhan hati di sana. Dia pasti akan menjadi istri yang sempurna untukmu,” ujar Elke. Satu tangannya terulur meraih dagu sang anak, lalu mengangkatnya.


“Ya!” sahut Elke yakin. “Dia akan menjadi kekuatan untukmu. Kalian adalah pasangan yang serasi.”


Mendengar perkataan sang ibu, angan Vlad langsung melayang pada kejadian siang itu. Saat Altea dan Ludwig berciuman di depan sebuah rumah mewah.


“Ah.” Vlad menggeleng pelan. Api cemburu tiba-tiba datang menerjang dan membakar hatinya. “Aku harus pergi, Bu. Sopirku telah menunggu.” Vlad bangkit, kemudian mencium kening Elke. Dia juga memeluk wanita itu dengan erat. “Aku akan menambah personil untuk menjagamu,” ujarnya sebelum berbalik.


“Kau tak perlu melakukan itu, Vlad. Sudah cukup banyak orang di sini. Membuatku sesak dan tak bisa tidur,” protes Elke.


Namun, Vlad hanya menanggapinya dengan lambaian tangan tanpa membalikkan badan. Pria rupawan berambut gondrong itu melangkah cepat. Dia kembali ke dalam mobil. Tujuan berikutnya adalah bandara internasional Kota Hamburg, di mana pesawat pribadinya telah siap menunggu. Beruntung sekali, karena pria tampan bermata biru itu memiliki ajudan tangkas dan cerdas seperti Mykola.


“Silakan, Tuan." Beberapa kru kabin menyambut kedatangan Vlad, sesaat setelah dia turun dari mobil yang berhenti di dalam hanggar.


“Pesawat akan terbang setengah jam lagi, Tuan. Aku sudah membuat laporan kepada pihak menara,” terang sang pilot sembari menyalami Vlad.


“Bagus." Vlad menepuk pundak pilot tersebut, lalu menaiki tangga pesawat dengan gagah. Dia memiliki waktu setengah jam lagi, sebelum semua alat komunikasi harus dimatikan. Vlad tak menyia-nyiakan kesempatan itu, untuk menelepon Mateja Slavko. Salah satu mantan anak buah dari mendiang sang ayah angkat, yaitu Roderyk Lenkov.


Nama Slavko sangat terkenal di dunia mata-mata elit Rusia, sampai pria itu memilih untuk mengundurkan diri dari dunia spionase yang membesarkan namanya. Dia menolak pekerjaan apapun yang datang. Namun, selalu ada pengecualian dari seseorang, yaitu putra angkat kesayangan Roderyk Lenkov.


“Bagaimana, Tuan? Apa yang bisa kubantu?” tannya Mateja, setelah panggilan tersambung.


“Aku ingin kau mencari informasi sebanyak-sebanyaknya, tentang pria bernama Ludwig Stegen. Aku hampir putus asa menggali data pribadinya,” sahut Vlad.


“Tumben sekali, Tuan? Biasanya anda lihai dalam mengungkap informasi seseorang secara mendetail,” balas Mateja diiringi tertawa.


“Ludwig Stegen adalah pengecualian. Dia seperti hantu. Aku tak dapat menemukan apapun tentangnya,” keluh Vlad.


“Baiklah. Beri aku waktu selama seminggu,” ucap Mateja.


“Bagus. Kutunggu kau di Saint Petersburg. Datanglah ke pesta besar yang akan kuselenggarakan di sana. Pakailah seragam pelayan, lalu temui aku di ruang biasa,” titah Vlad.


“Jadi, kita akan bertemu di mansion, Tuan? Di tengah keramaian?” tanya Mateja memastikan.


“Ya. Karena itulah aku memerintahkanmu untuk memakai seragam pelayan. Kau harus menyamar sebagai salah satu pembawa sampanye, agar sosokmu tetap tak terlihat,” jawab Vlad.


“Terima kasih atas segala perhatian anda, Tuan. Aku berjanji tak akan mengecewakan,” tegas Mateja.


Setelah itu, Vlad mengakhiri panggilannya, bertepatan dengan saat kru kabin memberi pengumuman bahwa pesawat sudah keluar dari hanggar dan bersiap lepas landas.


Vlad tersenyum samar sambil meletakkan telepon genggam di meja kecil pesawat, yang berada di sampingnya. “Sebentar lagi, aku akan menghancurkanmu hingga benar-benar remuk, Ludwig,” gumam Vlad.