
Altea terlihat ragu saat mengikuti langkah Vlad menuju bagian atap hotel, yang sekaligus berfungsi sebagai helipad. Dia berdiri di tepian landasan, ketika Vlad berjalan lebih dulu dan berbincang-bincang dengan seorang pria. Altea mendengar Vlad memanggil pria itu dengan nama Manheim.
Cukup lama Altea terdiam, sembari memperhatikan pria yang selama ini teramat dia rindukan. Perasaan wanita muda itu campur aduk, antara bahagia dan pilu.
Bahagia, karena dia dapat bertemu kembali dengan Vlad. Pilu, karena keadaan dirinya kini tak sama seperti saat masih berada di dekat pria berambut pirang itu.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba telepon genggam Altea berbunyi. Benda pipih itu merupakan pemberian Ludwig. Altea biasa menyembunyikannya di sabuk kecil berkantong, yang dililitkan di paha kanan.
Setelah yakin bahwa tak ada yang memperhatikannya, Altea merogoh ponsel itu dengan tangan gemetar. Terlebih, karena telepon genggam tadi memiliki akses terbatas. Hanya Ludwig dan Delma yang dapat menghubunginya.
Jantung Altea berdebar semakin kencang, ketika dia membaca pesan yang dikirimkan oleh Ludwig Stegen.
Kau boleh pergi sekarang. Bersenang-senanglah untuk sementara. Aku akan menjemputmu lagi secepatnya, karena kau sudah menjadi milikku. Vlad hanyalah seorang pengganggu kecil yang akan segera kusingkirkan. Pria itu akan menghilang dari muka bumi, hanya dengan satu jentikan jari. Sampai jumpa lagi, Perle.
Seluruh tubuh Altea menegang. Dia tahu bahwa setiap kata yang ada dalam pesan itu, merupakan kebenaran. Ludwig bukanlah orang yang suka bercanda. Pria itu bahkan tidak tahu caranya tersenyum. Ludwig juga tak pernah mengatakan sesuatu, kecuali memang benar-benar akan dirinya wujudkan. Ancaman yang dilayangkan terhadap Vlad, bukan tak mungkin akan segera dilakukan.
Panik dan kalut, Altea lalu membuang ponsel mahal tadi begitu saja dari atap gedung. Bersamaan dengan itu, Vlad datang menghampirinya sambil tersenyum menawan.
“Malam ini dingin sekali,” ujar Vlad sambil merekatkan jaket berukuran besar, yang menyelimuti tubuh ramping Altea.
Vlad bersikap sebagai pria sejati, dengan melingkarkan tangan di pinggang wanita muda itu, lalu menuntunnya masuk ke helikopter.
Sekitar sepuluh menit saja, helikopter itu terbang di angkasa hingga tiba di tempat tujuan, yaitu bandara internasional di Kota Warsawa. Di sanalah, Vlad menyimpan pesawat pribadinya, dalam hanggar khusus yang telah disewa oleh Mykola.
Vlad memang sengaja menggunakan transportasi udara menuju bandara. Baginya, hal itu jauh lebih aman, dibandingkan melalui jalur darat. Vlad khawatir akan mendapat lebih banyak gangguan, terutama dari Ludwig dan anak buahnya.
Hampir dua jam perjalanan telah dilalui. Pesawat pribadi milik Vlad, mendarat mulus di hanggar khusus Bandara St. Petersburg. Vlad menuntun Altea turun dari pesawat. Pria itu berjalan gagah tanpa melepas genggaman tangannya, menuju ke mobil jemputan yang telah menunggu.
Sementara, Altea harus berusaha mengimbangi gerak langkah Vlad yang cepat. Gaun yang panjang ditambah sepatu hak tinggi, membuat wanita muda itu sedikit kesulitan. Apalagi, karena tangan kirinya sibuk memegangi jaket milik Vlad, yang pria itu pinjamkan untuk menutupi tubuh bagian atas Altea yang terbuka.
Di dekat pintu belakang mobil sedan hitam yang sudah menunggu sejak beberapa saat lalu, berdiri seorang pria dengan seragam khusus berwarna hitam. Pria itu merupakan sopir pribadi yang bekerja di mansion milik Vlad. Dia langsung membukakan pintu, setelah Vlad tiba di dekat mobil sedan tadi. Sang sopir mengangguk, lalu mempersilakan sang majikan agar masuk.
Sedan hitam mengilap itu melaju dengan anggun meninggalkan area bandara. Sama seperti ketika dalam pesawat, sepanjang perjalanan menuju mansion pun Altea masih tak banyak bicara. Wanita cantik yang masih mengenakan gaun malam tersebut, sudah banyak berubah di mata Vlad. Dia bukan lagi Altea yang liar, dengan segala ulah serta tingkah konyol memuakkan.
Akan tetapi, Vlad tak ingin membahas hal itu dalam perjalanan tersebut, meskipun sejuta pertanyaan telah menggelayuti benaknya. Dia menahan diri, hingga mereka tiba di mansion.
Entah apakah Altea menikmati perjalanan tadi atau tidak. Padahal, ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di Negara Rusia. Namun, wajah cantik wanita dua puluh tiga tahun tersebut tak berseri sama sekali.
Sedan hitam itu berhenti di halaman depan bangunan megah tempat tinggal Vlad. Sang sopir bergegas turun. Dia membukakan pintu untuk Altea. Sedangkan, Vlad membuka pintu sendiri.
Tanpa banyak bicara, Vlad kembali menuntun Altea masuk. Dia tak peduli meskipun beberapa pelayan datang menyambut kedatangannya. Mereka mengangguk sopan dan penuh hormat. Namun, Vlad terus berjalan hingga tiba di depan pintu kamar.
Awalnya, Altea tak menjawab. Wanita muda bermata cokelat itu hanya menunjukkan mimik tegang, lalu berubah resah. “Kenapa Anda membawaku kemari?” tanya Altea parau.
“Tentu saja untuk menjauhkanmu dari Ludwig Stegen,” jawab Vlad tanpa menyingkirkan tangannya dari wajah cantik Altea.
“Sebaiknya kembalikan aku padanya. Kumohon. Kembalikan aku pada Ludwig Stegen,” pinta Altea. Wanita itu memasang raut memelas di hadapan Vlad.
Vlad menatap tajam wanita yang telah berhasil dirinya dapatkan kembali itu. “Ada apa denganmu? Bukankah aku sudah tak mempermasalahkan kondisimu, Altea? Apa lagi masalahnya?” tanya Vlad tak mengerti.
Altea menyentuh punggung tangan Vlad yang masih menyentuh kedua pipinya. Dia membelainya lembut, lalu menyingkirkan tangan pria itu dari wajah cantiknya yang diliputi keresahan. “Aku tidak bisa. Semua sudah berubah, Tuan. Aku sungguh tidak bisa ikut bersamamu. Tolong, izinkan aku pergi,” pintanya memelas.
“Aku tak akan melepaskanmu, Altea! Meskipun kau memberontak sekalipun. Aku tak akan mengembalikanmu pria orang gila itu! Seandainya kau tahu bisnis mengerikan apa saja yang dijalankannya di luar sana, kau pasti akan ketakutan!" sentak Vlad.
“Justru karena itu, Tuan. Kau harus melepaskanku. Aku tak ingin ada hal buruk yang menimpamu. Kau ….” Altea tak melanjutkan kata-katanya, saat mata biru nan indah milik Vlad, terus memperhatikan tanpa berkedip. Altea menunduk untuk menyembunyikan perasaannya yang tak karuan. “Aku lelah. Di mana aku bisa beristirahat?” tanya Altea sesaat kemudian.
“Berisitirahatlah di sini. Ini kamarku,” jawab Vlad. Raut tegangnya mulai memudar. Pria itu tersenyum kalem pada Altea.
Sedangkan, Altea langsung mendongak dan memandang Vlad dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Dia menggeleng pelan. “Kalau aku beristirahat di sini, lalu kau akan tidur di mana?” Nada bicara Altea terdengar ragu.
“Apa kau tak ingin kutemani?” Vlad mendekat perlahan sambil menyunggingkan senyum menggoda.
“Aku tidur di sofa saja,” sahut Altea dengan segera. Bola matanya mengarah pada sofa mewah berwarna putih, yang berada di salah satu sudut kamar Vlad.
“Baiklah. Aku mengerti. Kau beristirahatlah di sini. Aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan pakaian wanita lengkap.” Vlad menatap Altea. Ada setitik rasa kecewa di sana, saat dia menyadari bahwa wanita cantik di hadapannya itu menolak dan berusaha menjaga jarak darinya.
“Selamat beristirahat.” Tanpa permisi, Vlad mencium lembut bibir Altea. Wanita muda itu sendiri juga tak menolak. Dia malah terlihat begitu menikmati sentuhan Vlad.
“Selamat malam, Tuan.” Altea menghentikan ciuman tadi. Dia menjauhkan wajah dari Vlad, ketika tangan pria tampan itu bergerak nakal menyentuh pinggulnya.
“Selamat malam.” Vlad tersenyum kelu, menghadapi sikap wanita yang berhasil mencuri hatinya tersebut. Namun, dia mencoba untuk mengerti. Vlad tak akan memaksa, hingga Altea sendiri yang bersedia kembali membuka hatinya. Tubuh tegap Vlad berbalik meninggalkan kamar, tanpa mengucapkan apapun.
Sementara, Altea memperhatikan sosok gagah dan tampan Vlad dari belakang, hingga pria itu menghilang di balik pintu yang ditutup perlahan. Setelah Altea merasa yakin bahwa tak ada siapa pun lagi di kamar itu, dia bergegas mendekat ke arah jendela.
Altea mengembuskan napas lega, saat mengetahui bahwa daun jendela yang terbuat dari kaca tebal itu tak terkunci. Tanpa pikir panjang, dia melompat keluar. Kakinya berpijak pada kusen jendela yang tebal dan menjorok keluar. Dia melangkah sangat hati-hati sampai tangannya berhasil merengkuh pilar besar yang berada di sisi jendela.
Wanita muda itu melingkarkan tangannya pada pilar, lalu bergerak turun sampai kakinya menyentuh rerumputan di halaman samping mansion. Dia hendak berbalik dan menyelinap keluar gerbang.
Namun, langkahnya harus terhenti, ketika terdengar suara berat menegurnya. “Kau hendak pergi ke mana, Nona Miller?” tanya seorang pria yang tak lain adalah Mykola.