
“Apa menurut Anda semua ini tidak terlalu cepat, Tuan?” Altea memperlihatkan ekspresi penuh keraguan, setelah Vlad mengungkapkan niatnya tadi. “Kita baru saja bertemu. Lagi pula, aku ….”
“Kau tak ragu sama sekali saat menyerahkan tubuhmu padaku malam itu, Altea. Apa yang membuatmu berubah sedemikian drastis?” Vlad mendekatkan wajah sambil berusaha mencium bibir Altea.
Namun, Altea segera menghindar, dengan memberi jarak beberapa senti. Alhasil, Vlad tak jadi menyentuh bibirnya. Altea meringis kecil, sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga. “Kenapa Anda menjadi menjadi aneh seperti ini, Tuan?” tanya Altea heran. “Dulu, Anda adalah pria yang ….”
“Kau juga dulu tidak seperti ini, Altea,” sela Vlad dengan segera.
“Itu sangat berbeda, Tuan,” sanggah Altea memasang wajah lugu. “Nyonya Delma mengatakan, bahwa seorang wanita harus selalu menjaga sikap dan penampilan di hadapan pria. Terutama, para pria dari kalangan atas ….” Altea menjeda kata-katanya, ketika mendengar Mykola berdehem pelan. Wanita muda itu menoleh kepada sang asisten kepercayaan Vlad, yang terlihat tak nyaman saat harus menyaksikan adegan serta menjadi pendengar perbincangannya tadi.
Altea kembali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, memperlihatkan anting-anting kecil yang sudah Vlad kembalikan. Wanita muda itu mengarahkan perhatian kepada Vlad, yang tengah bermain mata dengan Mykola. Kedua pria tadi terlihat sangat serius, meski tak ada sepatah kata pun yang terucap. Namun, terlihat jelas bahwa mereka tengah berkomunikasi.
“Sebaiknya, aku masuk saja,” ucap Altea. Kali ini, justru dia yang menjadi salah tingkah berada di antara Vlad dan Mykola.
“Tunggu aku di meja makan. Setelah sarapan, kita akan pergi,” pesan Vlad dengan cukup nyaring, berhubung Altea sudah sedikit menjauh dari mereka. Altea menoleh. Akan tetapi, dia tidak menanggapi ucapan pria berambut pirang itu. Wanita cantik tersebut kembali membalikkan badan, lalu melangkah ke dalam mansion.
Sementara, di halaman kini tinggal Vlad dan Mykola. Kali ini, kedua pria itu dapat berbicara dengan leluasa, tanpa harus menggunakan telepati.
“Bagaimana?” tanya Vlad yang sudah dapat menebak, bahwa ajudan kepercayaannya itu pasti membawa berita penting selain dari yang sudah dipaparkannya tadi.
“Seperti yang Anda perintahkan, Tuan. Aku sudah mengirimkan undangan via email kepada Karl Volkov, serta istrinya Miabella Conchetta kemarin malam. Pagi ini, Karl Volkov memberikan jawaban. Mereka bersedia hadir di acara pesta pernikahan Anda nanti,” jelas Mykola.
“Baguslah. Persiapkan semuanya dengan baik. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang akan merusak jalannya pesta," pesan Vlad serius.
“Jangan khawatir, Tuan,” sahut Mykola. Pria berambut gelap itu terdiam sejenak. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu. “Tuan,” ucapnya setelah terdiam beberapa saat. Membuat Vlad yang tengah mengamati keadaan sekitar halaman, langsung menoleh padanya. “Nona Miller terlihat sangat berbeda. Dia tampak jauh lebih ‘jinak’ dari sebelumnya,” ujar Mykola dengan ekspresi ragu.
“Ya, kau memang benar. Setelah hampir satu bulan berada dalam cengkeraman Ludwig Stegen, Altea memang banyak berubah. Lihat saja pakaian yang dia pilih. Seperti bukan dia yang sebenarnya, meski ….” Vlad menjeda kata-katanya.
“Meski apa, Tuan?” tanya Mykola penasaran.
Akan tetapi, Vlad tak segera menjawab. Dia bahkan tampak enggan menanggapi lagi. “Sudahlah,” ucapnya seraya menepuk lengan Mykola. “Sebaiknya, kita sarapan dulu. Jika sudah menikah nanti, kau pasti akan merasa segan untuk mengajakku melakukan aktivitas bersama,” ujar Vlad enteng.
“Anda sudah yakin untuk menikahi Nona Miller, Tuan?” tanya Mykola. Pria itu seakan belum percaya bahwa majikannya akan melepas masa lajangnya.
“Keyakinan adalah modal awal pengusaha dalam mengambil keputusan,” jawab Vlad tanpa beban sama sekali. Dia melangkah masuk dengan diikuti oleh Mykola.
Di ruang makan, kedua pria tampan tadi melihat Altea yang duduk termenung saat menghadap hidangan mewah yang tersaji. “Kenapa belun makan juga?” tanya Vlad, seraya mengambil tempat duduk di samping Altea.
“Aku menunggu Anda,” jawab Altea sambil menoleh sekilas pada Vlad.
“Kau bisa makan lebih dulu. Tempat ini menjadi milikmu juga setelah kita menikah. Kau akan menjadi nyonya besar di mansion ini," ucap Vlad seraya menatap Altea penuh cinta. "Sekarang, makanlah.” Vlad tersenyum kalem, seraya memberi isyarat agar Altea segera mengambil peralatan makannya.
Setelah wanita cantik berambut coklat itu menyendok makanan di dalam piring, barulah Vlad menyantap seporsi hidangan yang disediakan untuknya. Tak ada lagi percakapan, hingga santap pagi itu berakhir.
Selesai sarapan, Mykola berpamitan lebih dulu untuk kembali ke Jerman. Namun, dia akan kembali lagi besok.
Sedangkan, Vlad mengajak Altea pergi ke pusat kota. Sekitar sepuluh menit perjalanan, kendaraan Vlad tiba di depan sebuah butik khusus yang menyediakan gaun pengantin dan berbagai perlengkapannya.
“Ayo, Sayang,” ajak Vlad setelah membukakan pintu penumpang. Dia mengulurkan tangan, membantu Altea turun dari mobil.
“Terima kasih,” balas Altea seraya mengangguk pelan. Dia menerima uluran tangan Vlad, kemudian berjalan memasuki bangunan bergaya minimalis dengan dominasi warna putih.
“Pilihlah gaun yang mana saja yang kau suka,” bisik Vlad, saat pegawai butik menghampiri mereka berdua dan menawarkan bantuan.
“Kami memiliki beberapa koleksi terbaru, Nona,” ujar sang pegawai yang lebih terfokus kepada Altea. Dia mengarahkan wanita muda itu ke bagian dalam butik. Sementara, Vlad mengikuti mereka.
Di bagian dalam, pegawai tadi memperlihatkan beberapa gaun pengantin untuk Altea. “Silakan, Nona. Anda bisa mencobanya. Namun, ini juga bisa dibuat secara kustom," jelas sang pegawai sambil menunjukkan detail gaun tadi.
Altea menoleh kepada Vlad. Sorot matanya terlihat keberatan. Akan tetapi, Vlad hanya tersenyum kecil sambil memberi isyarat, agar Altea mengikuti pegawai butik tadi.
Altea berganti gaun sampai berkali-kali. Hingga pilihan terakhir jatuh pada gaun putih polos dengan lengan tiga per empat. Tak ada detail apapun pada gaun dengan aksen V pada bagian punggungnya.
Vlad begitu terpana melihat Altea berjalan pelan ke arahnya. “Bagaimana dengan yang ini?” tanya Altea ragu. Dia menunggu jawaban pria tampan bermata biru itu.
Namun, Vlad tak segera menjawab. Dia merengkuh pinggang Altea, lalu menariknya pelan agar mendekat. Tanpa mempedulikan pengunjung yang berlalu lalang serta pegawai butik yang setia menunggu sampai Altea menjatuhkan pilihan, Vlad mencium bibir tipis wanita yang berhasil mencuri hatinya itu. Lembut dan penuh perasaan, dia mencurahkan rasa cintanya kepada Altea yang tak kuasa menolak.
“Kau cantik sekali, Altea,” sanjung Vlad setengah berbisik.
“Sepertinya, gaun ini terlalu indah untukku,” ujar Altea pelan. Setitik rasa kecewa, terlihat jelas dari sorot matanya.
“Kau juga berhak mendapatkan kebahagiaanmu, Sayang,” ucap Vlad seraya mengangkat dagu wanita pujaannya. Pria itu hendak mencium Altea lagi.
“Anda tahu sendiri seperti apa pekerjaanku. Aku sudah tak memiliki harga diri lagi sebagai seorang wanita,” sanggah Altea sebelum Vlad sempat menyentuh bibirnya.
“Kau tak boleh berkata seperti itu atau aku akan marah padamu. Jangan pernah mengungkit apa yang sudah kau lakukan bersama Ludwig, karena itu akan membuatku membayangkan hal yang macam-macam." Wajah tampan berkulit putih bersih itu menegang, Terlihat jelas bahwa Vlad sangat keberatan dengan perkataan Altea.
“Berhenti merendahkan dirimu. Kau jauh lebih berharga dari apapun. Lagi pula, kau bukan satu-satunya wanita yang pernah mengalami hal seperti itu," tegur Vlad pelan. Untungnya, mereka berbicara dalam Bahasa Jerman, sehingga tak dipahami oleh orang-orang yang mungkin mendengar perbincangan pelan tadi.
“Aku akan mengembalikan kepercayaan diri serta harga dirimu seperti dulu, Altea. Aku akan membuatmu bahagia,” ujar Vlad penuh keyakinan.
Mata Altea berkaca-kaca. Dia tak kuasa membalas ucapan Vlad. Altea hanya bisa menangkup kedua pipi Vlad dan mencium bibirnya lembut. “Kalau begitu … aku memilih gaun ini,” ucapnya malu-malu.
“Baiklah. Kita pesan yang ini.” Vlad tersenyum lebar. Pandangan matanya tak lepas dari tubuh indah Altea, yang kembali ke ruang ganti. Tak berselang lama, kekasih Vlad itu keluar dari sana dengan wajah berseri.
"Calon istriku ingin gaun yang terakhir," ucap Vlad pada karyawan butik, yang segera menghampiri setelah Vlad memanggilnya.
"Oh, tentu," sahutnya. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Altea. "Apakah Anda ingin menambahkan detail atau hal lainnya?"
Altea terdiam. Dia tak mengerti ucapan karyawan butik tadi, sehingga Vlad yang langsung menerjemahkannya.
"Tidak usah. Aku lebih suka tetap polos seperti itu," jawab Altea. Vlad segera menyampaikannya kepada karyawan tadi.
"Oh, baiklah. Kami akan mengirimkan gaunnya jika sudah selesai ke alamat Anda, tapi jika bersedia Anda bisa juga mengambilnya langsung kemari. Waktu pengerjaan selama kurang lebih lima bulan. Itu juga sudah termasuk sangat cepat, Tuan," jelas karyawan tadi.
"Ah, tidak bisa. Kami akan menikah seminggu lagi. Aku ingin gaun ini selesai sebelum akhir pekan. Tak masalah jika harus menambah harga," ujar Vlad.
"Akan tetapi, Tuan ...."
"Jika sanggup, maka kami ambil. Jika tidak, kami akan mencari ke tempat lain yang sanggup," tegas Vlad menyela si karyawan. Membuatnya terdiam beberapa saat.
Karyawan tadi tampak berpikir, sebelum kembali berbicara. "Sebentar, Tuan. Akan kusampaikan pada penanggung jawab produksi." Dia menghubungi orang yang dimaksud. Karyawan itu mengatakan semua yang Vlad minta.
"Penanggung jawab produksi menyanggupi permintaan Anda, Tuan. Namun, dia meminta tambahan sebesar lima puluh persen, berhubung kami harus membayar pegawai yang lembur."
"Tak masalah," jawab Vlad kalem. Dia mengeluarkan black card dari dompet, lalu menyodorkan kepada karyawan tadi.
“Terima kasih.” Vlad mengangguk sopan, sebelum beranjak keluar dari butik tadi.
"Apa ada masalah?" tanya Altea.
"Tidak ada. Aku hanya menambah sebesar lima puluh persen untuk harga gaun itu," jawab Vlad seraya membukakan pintu mobil.
"Kenapa?"
"Karena aku meminta selesai dalam satu minggu," jawabnya.