Since I Found You

Since I Found You
Taken



“Ayo, Mykola,” ajak Vlad, sesaat setelah meletakkan telepon genggam yang baru dia gunakan untuk menghubungi Karl Volkov.


“Apakah Karl Volkov meminta sesuatu sebagai imbalan?” tanya Mykola.


“Tidak. Karl hanya menyetujui untuk memberikan bantuan. Dua jam lagi, dia dan anak buahnya akan kemari. Akan tetapi, aku berpikir jika kita harus bergerak sebelum pria itu datang. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu dua jam.” Vlad berdiri gagah, lalu melangkah keluar dari ruang kerjanya.


Saat itu, Vlad memakai kaki palsu yang terbuat dari besi titanium berbentuk melengkung. Ada celah khusus pada kaki palsu tadi, yang digunakan untuk menyimpan pisau belati. Kaki palsu istimewa tersebut dapat Vlad gunakan untuk bertarung serta membela diri.


Mykola mengikuti sang majikan dari belakang. Langkah kedua pria tampan tadi berhenti di depan ruang pengawasan. Tepat pada saat Vlad akan memegang gagang pintu, seorang anak buahnya lebih dulu membuka pintu itu lebar-lebar dengan raut tegang.


Pria tadi tampak terkesiap, ketika mendapati sang majikan yang sudah berdiri di hadapannya. “Tu-tuan,” ucap si pria terbata.


“Apakah ada masalah?” tanya Vlad. Instingnya yang tajam, seakan sudah dapat mencium sesuatu yang tidak beres.


“Seluruh kamera pengawas tidak berfungsi, Tuan. Semua layar monitor pun mati,” jelas anak buah Vlad tadi dengan wajah pucat.


“Sialan!” geram Vlad seraya mengepalkan tangan. “Mykola! Suruh semua orang untuk menyisir ulang setiap sudut mansion. Aku akan mencari Altea!” titahnya.


Vlad langsung berlari menuju sisi lain bangunan mansion. Dia langsung menuju kamar, karena calon istrinya tersebut diketahui tengah beristirahat di sana. Beberapa saat yang lalu, Altea sempat mengeluh lelah dan ingin beristirahat sejenak.


“Altea!” panggil Vlad sembari masuk ke kamar. Perasaannya semakin tak karuan, ketika dia tak mendapati siapa pun di sana. Ranjang besar miliknya pun bahkan masih tampak rapi.


“Altea!” Sekali lagi Vlad memanggil nama calon istrinya sembari membalikkan badan. Dia berlari secepat kilat menyusuri lorong. Vlad memeriksa setiap ruangan satu per satu. Pria itu berharap menemukan sosok cantik yang telah merebut hati dan cintanya. Akan tetapi, Altea tak ada di manapun.


Padahal, wanita cantik berambut coklat itu tengah asyik bercengkerama bersama Elke di taman labirin. Sisi lain Altea yang tak bisa diam, tak bisa hilang sepenuhnya. Dia terus menggandeng ibunda Vlad tersebut sambil bercerita banyak hal.


Sementara itu, Elke hanya mendengarkan dengan tenang. Sesekali wanita paruh baya tersebut menanggapi ucapan Altea dengan tawa renyah. Elke begitu asyik mendengarkan segala cerita serta candaan calon menantunya.


“Apa kau lelah, Nyonya?” tanya Altea saat melihat bulir keringat menetes dari kening Elke. “Kita kembali ke mansion saja. Anda tak boleh terlalu lelah."


“Aku tidak apa-apa, Nak. Sudah lama aku tidak menghirup udara luar. Selama ini, aku hanya menghabiskan waktu di dalam rumah,” tolak Elke lembut.


“Baiklah, kalau begitu. Anda tunggu di sini. Aku akan mengambil kursi roda yang Anda tinggalkan di lorong masuk tadi." Altea menuntun Elke menuju bangku taman berukuran kecil. Letaknya ada di lorong labirin. Kursi itu seakan menyatu dengan dinding dari tanaman yang dibentuk sedemikian rupa.


Elke mengangguk sambil tersenyum. Dia terus memperhatikan tubuh ramping Altea, hingga wanita muda itu menghilang di balik dinding tanaman setinggi dua meter. Namun, perasaan tak nyaman mulai hadir, ketika dia sendirian di tempat tersebut.


Untungnya, Altea tak terlalu lama meninggalkan dia di sana. Selang beberapa saat, Altea telah kembali sambil mendorong kursi roda. “Duduklah, Nyonya.” Dengan telaten, dia mendudukkan calon mertuanya ke kursi roda. Dia berniat memutar kursi roda tersebut untuk melanjutkan kegiatan menyusuri lorong labirin.


Baru saja beberapa langkah meninggalkan lorong tadi, Altea tiba-tiba berdiri membeku. Dia melihat sesosok pria tinggi tegap menghadang jalannya. Tubuh kekar pria itu seakan memenuhi lorong yang hanya selebar satu setengah meter. Entah bagaimana caranya, pria yang selalu menjadi mimpi buruk Altea tersebut bisa masuk ke sana.


“Selamat sore, Nyonya,” sapa pria yang tak lain adalah Ludwig Stegen. Sikapnya begitu sopan terhadap Elke.


“A-anda?” Bulu kuduk Elke meremang. Dia masih ingat betul dengan pria yang pernah menemuinya sewaktu di Sieseby.


“Sudah kukatakan bahwa diriku akan selalu bisa menemukanmu, Perle. Kau tak akan dapat melarikan diri.” Ludwig menyeringai kecil. Ekspresinya yang dingin dan datar, membuat tubuh Altea ketakutan.


“Pergilah!” usir Altea. “Dalam beberapa hari lagi aku akan menikah dengan tuanku!”


“Benarka?" Wajah tampan Ludwig tampak begitu terkejut. “Kau akan menikah?” desisnya pelan.


“Ya!” Altea mengangkat dagu. Dia ingin menunjukkan pada Ludwig bahwa dirinya tak bisa lagi diatur sesuka hati, oleh pria rupawan berwajah dingin itu.


“Sayangnya, kau tak akan bisa menikah dengan siapa pun. Kau tahu kenapa? Karena kau adalah milikku. Untuk sekarang ataupun selamanya, kau tetap milikku.” Sepasang mata Ludwig berkilat memandang Altea.


“Hentikan, Tuan! Kau tidak bisa seenaknya memasuki rumah orang tanpa permisi. Kau juga tak boleh membawa Altea ke manapun. Dia adalah menantuku!” sergah Elke.


Mendengar kalimat wanita paruh baya di hadapannya tersebut, Ludwig hanya menyunggingkan senyuman samar. “Semua terserah pada Nona Altea. Jika Altea menyayangi Anda, maka dia akan sukarela ikut denganku. Namun, jika tidak ….” Ludwig sengaja tak melanjutkan kata-katanya, bersamaan dengan satu tangan yang merogoh ke balik pinggang.


Sebuah pistol semi otomatis, tergenggam di tangan kanan Ludwig. Dia mengarahkan senjata api itu ke kepala Elke.


“Hentikan, Ludwig! Apa yang kau lakukan?” teriak Altea seraya maju sambil merentangkan tangan. Dia menggunakan tubuh sebagai tameng. Kini moncong pistol itu menempel di keningnya. “Jangan sakiti Nyonya Elke! Kumohon,” pinta Altea lirih.


“Jika kau tak ingin aku menyakitinya ….” Kata-kata Ludwig kembali terjeda. Sejenak, dia memiringkan kepala agar dapat melihat langsung kepada Elka yang terlihat pucat. “Kau harus ikut denganku sekarang juga,” lanjut Ludwig.


Altea sadar bahwa dirinya tak memiliki pilihan lain, selain menuruti Ludwig. Dia terpaksa mengangguk pasrah, ketika pria itu meraih pergelangan tangan dan bersiap membawanya pergi.


“Altea, jangan turuti dia!” Elke tak putus asa mencegah calon menantunya agar tak pergi. Dia berusaha berdiri dari kursinya.


“Nyonya!" Altea langsung berbalik. Sambil berurai air mata, Altea membantu Elke yang sudah berdiri. “Aku akan baik-baik saja, Nyonya. Katakan pada putra Anda bahwa aku sangat mencintainya. Dia adalah satu-satunya pria yang ada di hatiku, meskipun ….”


Belum selesai Altea berbicara, Ludwig sudah lebih dulu menariknya dengan kasar.


“Berani-beraninya kau!" geram Ludwig sembari menyeret paksa Altea. Secepat kilat, dia membawa wanita itu ke area yang lebih dalam. Di ujung labirin paling belakang, ada beberapa orang yang menunggu mereka. Orang-orang itu membungkuk hormat kepada Ludwig yang masih menggenggam tangan Altea.


Orang-orang tadi memakai seragam koki. Di seragam mereka, terdapat nama perusahaan katering yang Altea ketahui telah disewa oleh Vlad untuk pesta pernikahannya.


“Kalian?” Altea menatap tak percaya.


“Mereka anak buahku. Rupanya sangat mudah menyusup kemari. Mereka hanya perlu menyamar." Ludwig tertawa pelan sebelum menarik tangan Altea. Dia memaksa wanita malang itu menerobos dinding labirin yang telah berlubang. Keduanya melewati dinding yang terbuat dari tanaman, hingga tiba di baliknya. Altea keheranan melihat pagar besi berdiameter besar yang juga telah berlubang.


Di luar pagar besi tersebut, terdapat jalan kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan. Ludwig membawa Altea menyeberangi jalan kecil itu, lalu membawa calon istri Vlad tersebut melintasi padang ilalang di sisi jalan. Mereka terus berjalan sampai tiba di tanah lapang.


Sebuah helikopter sudah berada di sana dalam posisi siap terbang. Helikopter itu menunggu Ludwig dan Altea naik ke dalam kabin, sebelum akhirnya terbang tinggi membelah langit sore Kota St. Petersburg.