
Jam dinding besar yang ada di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul delapan malam. Altea, sama sekali tak mengetahui di mana dirinya berada saat ini. Sepanjang perjalanan dari bandara, Ludwig menutup matanya dengan kain berwarna hitam. Sedangkan, tangannya terus digenggam pria tampan itu.
Pikiran Altea melayang pada saat di mana dirinya baru turun dari pesawat pribadi milik Ludwig. Dia hanya dapat merasakan kendaraan yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan sedang, lalu berhenti di suatu tempat.
Ludwig menuntun Altea keluar dari mobil, masih dalam keadaan mata yang tertutup. Pria asal Jerman itu menggandeng Altea dan mengajaknya masuk ke satu ruangan, yang ternyata adalah kamar tidur. Setelah itu, Ludwig membuka penutup mata Altea.
“Beristirahatlah di sini. Besok kita akan melalui hari yang melelahkan,” ucap Ludwig lembut. Dia berusaha menyentuh bibir Altea.
Akan tetapi, Altea segera menghindar dengan cara memalingkan wajah. Sesaat kemudian, Altea kembali mengarahkan paras cantiknya kepada pria itu. “Jaga sikapmu, Tuan Stegen!” sentak Altea, seraya mengarahkan telunjuk ke wajah Ludwig. “Jangan pernah menyentuhku lagi!” tolaknya.
“Ah! Rupanya kau sudah berani membangkang sekarang, Perle." Ludwig tak terpengaruh oleh penolakan keras Altea. Dia malah tersenyum kalem. Ludwig menarik tubuh Altea, memaksa wanita muda itu mendekat. Namun, Ludwig tak pernah menyangka, bahwa tindakannya akan berbalas dengan sebuah tamparan keras dari Altea.
Ludwig terpaku untuk sesaat sambil mengusap pipinya yang memerah, setelah menerima tamparan tadi dari wanita yang pernah mengisi hari-harinya untuk beberapa waktu. Dia menatap tajam pada Altea yang terengah. Sesaat kemudian, Ludwig menyunggingkan senyum. “Kau pasti lelah. Tidurlah,” ucapnya seraya berbalik menuju pintu.
Altea langsung mengikuti langkah pria itu. Namun, sebelum dia berhasil menggapai pintu, Ludwig lebih dulu mengunci pintunya dari luar. “Brengsek kau, Ludwig Stegen! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!” teriak Altea sambil menggedor pintu kamar dengan keras.
Namun, seberapapun kencangnya suara yang Altea timbulkan Altea, nyatanya Ludwig tak peduli. Pria itu ambil pusing. Dia terus berjalan menjauh dari kamar tadi.
Altea yang dari tadi terus menggedor pintu sambil berteriak, pada akhirnya merasa lelah. Dia terduduk di lantai dalam posisi bersimpuh, dengan kepala tertunduk. "Tuan ...," ucapnya lirih. Altea terdiam. Ingatannya tertuju kepada pria tampan yang berada di Rusia.
Namun, suara ketukan pelan menyadarkan Altea dari lamunan. Saat itu, jam dinding telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Altea berdiri, lalu beranjak ke dekat ranjang. Dia melepas alas kaki, lalu merebahkan tubuh ke tempat tidur. Tak dipedulikannya suara ketukan di pintu yang terdengar semakin nyaring.
"Ini aku, Altea!" seru suara yang membuat Altea terkesiap. Dia segera bangkit dari pembaringan, lalu berlari menuju pintu.
"Ayah?” panggil Altea dengan nada setengah tak percaya.
“Ya. Ini aku,” jawab seseorang yang tak lain adalah Herbert.
“Bagaimana kau bisa ada di sini? Di mana ini? Apakah kau bekerja sama dengan Ludwig Stegen?” cecar Altea dengan intonasi tinggi.
“Tidak, Nak. Tentu saja tidak. Aku juga sama terkejutnya denganmu saat anak buah Dietmar Kreuk mendatangiku di rumah tadi siang. Mereka memaksaku untuk ikut kemari,” jelas Herbert.
“Di mana ini, Ayah? Katakan padaku!” Altea mulai panik.
“Di Berlin, Altea. Kau berada di salah satu mansion milik Tuan Stegen,” jawab Herbert. “Aku sempat bertemu dengannya tadi. Dia mengatakan padaku bahwa kalian akan menikah besok dan aku bertugas mendampingimu menuju altar,” lanjutnya.
“Dia menculikku, Ayah! Aku tidak ingin menikah dengannya." Altea terisak. "Aku sudah merencanakan pernikahan bersama Tuan Ignashevich. Kami memilih gaun pengantin yang sangat indah. Aku menyukai pria itu. Aku mencintai Tuan Ignashevich.”
Tubuh ramping Altea yang awalnya berdiri di depan pintu, perlahan melorot ke lantai. Wanita cantik berambut coklat kembali terduduk di lantai.
“Sudah kuduga, Nak,” sahut Herbert pelan.
“Ini semua gara-gara kau, Herbert Miller! Kau telah menjualku pada pria itu! Kau menghancurkan hidupku!” Altea mulai tak terkendali. Dia memukul-mukul daun pintu dengan tangan terkepal.
“Tenanglah, Nak. Aku akan memperbaiki semuanya. Percayalah. Kau tenang saja. Aku akan segera kembali,” pesan Herbert sebelum suaranya menghilang. Beberapa saat kemudian, hanya keheningan yang menyelimuti.
"Jangan buat hidupku lebih rumit lagi. Ayah!” teriakan Altea hanya sia-sia. Tak ada lagi yang menyahutnya saat itu. Dengan langkah gontai, Altea kembali berbaring di ranjang sambil melanjutkan tangisnya.
Tak berselang lama, suara lain hadir memecah kesunyian di kamar mewah berukuran luas tadi. Terdengar derit pintu terbuka. Bunyi hak sepatu yang beradu dengan lantai marmer, menggema di ruangan yang ditempati Altea.
“Anda?” Altea terbelalak tak percaya. “Sedang apa Anda di sini, Nyonya Delma? Tempat apa ini sebenarnya?” tanya Altea.
“Tuan Ludwig Stegen memintaku agar mempersiapkan penampilanmu besok,” jawab Delma, yang ditanggapi deraian air mata oleh Altea.
“Kenapa kalian menyiksaku? Seharusnya, Ludwig membunuhku saja sejak awal. Biarlah dia menjual jantung serta organ dalam lainnya untuk menutupi utang ayahku. Setidaknya, aku mati dalam keadaan bebas, tidak terpenjara seperti saat ini,” ujar Altea.
“Nak." Delma menatap Altea dengan sorot iba. Dia mendekat, lalu duduk di tepian ranjang dengan posisi menghadap kepada Altea. “Aku bisa merasakan cinta Tuan Ludwig yang begitu besar padamu. Dia benar-benar menjadi sosok yang berbeda, setelah mengenal dirimu,” tutur Delma.
“Berbeda?” ulang Altea.
“Ya." Delma memaksakan senyumnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela kaca. Tatapan pria itu menerawang, menembus pekatnya suasana malam di luar sana.
“Dulu, Ludwig Stegen adalah seorang yang sadis, kejam, dan sangat dingin. Dia seperti bukan manusia. Ludwig seakan tak memiliki hati nurani. Dia senang sekali menghabisi musuhnya tanpa ampun. Tak berperasaan sama sekali," tutur Delma. Setitik air mata menetes di pipi mulus wanita yang sudah berusia separuh abad tersebut.
“Dia memperlakukan wanita, seakan tengah bermain dengan boneka tak bernyawa. Setelah bosan, Ludwig akan membuangnya begitu saja." Delma melanjutkan ceritanya.
Delma kembali menoleh pada Altea. “Namun, semenjak dia bertemu denganmu, aku dapat merasakan perubahan besar pada diri Tuan Stegen. Dia menjadi lebih hangat, ramah, dan yang pasti dia menjadi lebih banyak tersenyum, meskipun samar. Dia juga tak pernah menyentuh wanita lain selama bersamamu. Ludwig bahkan tak membolehkan siapa pun untuk menikmati tubuhmu. Padahal, jelas-jelas bahwa setiap wanita yang dikirimkan ke tempatku adalah seseorang yang dipersiapkan untuk menjadi penghibur kelas atas,” jelas Delma.
“Apa maksud semua ini? Kenapa Anda menceritakannya padaku?” Altea menelan ludah, saat menangkap ekspresi berbeda dari Delma.
“Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa kau istimewa di mata Tuan Ludwig. Dia jatuh cinta padamu, Nona Miller,” jawab Delma sambil meraih kedua tangan Altea, lalu menggenggamnya erat. “Berilah dia kesempatan untuk membuktikan cintanya. Tuan Ludwig serius terhadapmu,” pinta Delma.
“Kenapa Anda membelanya, Nyonya? Kenapa Anda begitu perhatian pada pria seperti dia?" Altea menggeleng tak mengerti.
“Itu karena ….” Delma sengaja menggantungkan kata-katanya. Dia tersenyum kecil. “Anggap saja, karena dia seperti putra yang tak pernah kumiliki,” jawab Delma seraya mengusap air matanya.
“Beristirahatlah. Kau tak boleh tidur terlalu larut. Berhentilah menangis, agar matamu tidak bengkak. Besok kau harus tampil menjadi yang tercantik,” ucap Delma. Dia mencium kening Altea, lalu berdiri. Wanita itu berlalu meninggalkan kamar. Tak lupa Delma mengunci pintu dari luar.
Sementara, Altea hanya terpaku mendengar penjelasan Delma. “Jatuh cinta? Ludwig jatuh cinta padaku?” gumamnya lirih. Hampir saja dia tenggelam dalam lamunan, ketika dirinya kembali mendengar suara Herbert memanggil.
“Altea! Apa kau belum tidur? Kemarilah!” seru Herbert tertahan.
“Ayah?” balas Altea sembari melompat turun dari ranjang. Dia bergegas mendekat ke pintu.
“Lihatlah, siapa yang berhasil kuhubungi. Aku tak peduli lagi jika harus mati karena memberitahu Tuan Ignashevich tentang keberadaanmu,” ujar Herbert.
“Tuan Ignashevich? Di mana dia?” Altea begitu antusias.
“Aku menghubunginya lewat telepon. Dia membalasku melalui pesan suara. Tuan Ignashevich mengatakan agar memutar pesan suara ini di depanmu,” tutur Herbert.
“Cepatlah, Ayah! Tunggu apa lagi?” pinta Altea tak sabar.
“Baiklah.” Herbert menempelkan ponsel di daun pintu, setelah sebelumnya menekan tombol putar pada pesan yang mulai memperdengarkan suara berat Vlad.
Altea, aku yakin kau baik-baik saja saat ini. Jangan menangis, sayang. Aku akan menjemputmu besok. Jangan khawatir. Tetaplah tenang, seolah-olah kau menerima pernikahan ini. Jangan memberontak apalagi membuat keonaran. Kenakan gaunmu dan berjalanlah di altar dengan anggun, karena ada aku yang menyambutmu di sana.