Since I Found You

Since I Found You
Rucksack



“Tidak ada nama yang kau sebutkan barusan di tempat ini,” sahut salah seorang pengawal kasino bersetelan rapi tadi. “Saranku, sebaiknya kalian segera pulang dan jangan kembali lagi kemari!” usirnya sambil mengarahkan telunjuk ke arah pintu keluar. Pria tadi terlihat percaya diri, karena mereka memiliki jumlah yang lebih banyak. Sementara, yang dihadapi hanya dua orang


“Ya, ampun.” Mykola menggeleng pelan sambil memijit pelipisnya. “Kuberitahu satu hal. Kalian telah mempersulit diri sendiri,” ucap pria itu pelan dan tenang. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu, di mana terdapat banyak meja dan mesin permainan judi.


“Dengarkan aku.” Mykola kembali mengalihkan perhatiannya pada para pria bersetelan rapi tadi. Dia bergerak maju perlahan. Asisten kepercayaan Vlad tersebut mendekat pada para pria berwajah sangar, yang berbaris membentuk benteng pertahanan kuat agar tak dapat dilewati oleh Mykola dan Vlad. “Kalian sebaiknya menuruti apa kata bosku, karena jika tidak ….”


“Jika kalian tidak bisa diajak kerja sama secara baik-baik, maka aku akan menggunakan kekerasan.” Vlad mengambil pistol yang tersembunyi di balik punggung. Dia mengangkat senjatanya tinggi-tinggi, lalu menembakkan beberapa kali ke udara.


Belasan pria tadi, sontak merunduk sambil melindungi kepala masing-masing dengan kedua tangan. Beberapa dari mereka ada yang sudah siap membalas tindakan Vlad menggunakan pistol masing-masing, lalu membidikkannya pada pria itu.


Mykola yang berada pada posisi paling depan, segera melakukan sesuatu sebelum pistol-pistol yang diarahkan kepada Vlad menyalak dan memuntahkan timah panas. Dia juga mengeluarkan pistol kesayangannya, lalu menembak masing-masing tangan dan kaki para pria tadi. Mykola, melakukan dengan cepat sebelum senjata milik pria-pria itu sempat digunakan. Perhatian para pria bersetelan rapi tadi terpusat kepada Vlad, sehingga mereka lengah terhadap gerakan Mykola.


“Kurang ajar!” Menyadari rekannya telah berhasil dilumpuhkan dengan mudah oleh Mykola, pria-pria itu mulai menggila. Serentak, mereka mengeluarkan pistol yang langsung diarahkan pada orang kepercayaan Vlad tersebut.


Beruntung, tangan Vlad bergerak lincah. Dia menarik pelatuk pistolnya. Pria bermata biru tersebut berhasil menjauhkan senjata yang dipegang oleh pria-pria tadi. Setiap satu butir peluru, dia hadiahkan ke punggung tangan masing-masing musuhnya.


Sementara, Mykola juga bergerak cepat. Dia menjauhkan pistol yang berserakan di lantai dari orang-orang tadi. Belasan orang itu roboh dengan lubang kecil di kedua betis mereka.


Vlad berpikir bahwa masalah sudah selesai saat itu. Namun, nyatanya sekompi pasukan kembali datang entah dari mana. Mereka bergerak membentuk lingkaran dan menghadang Vlad serta Mykola. Kelemahan orang-orang itu hanya satu. Mereka tak membawa senjata api, seperti teman-temannya yang sudah lebih dulu berhasil dilumpuhkan.


“Kenapa kalian tidak membawa senjata?” tanya Vlad seraya mengernyit penuh tanda tanya.


“Kami tak membutuhkan apapun untuk menaklukkan kalian berdua!” seringai salah seorang pria berpakaian serba hitam, dengan senyum merendahkan. Mereka kembali merasa percaya diri karena memiliki jumlah yang jauh lebih banyak.


“Ah, alasan. Katakan saja jika bos kalian kekurangan dana, untuk membeli senjata api legal berlisensi,” cibir Vlad. “Aku mendengar selentingan bahwa harganya sekarang naik beberapa kali lipat," ujar pria itu kalem.


“Diam kau! Jangan berisik!” sergah pria tadi tak terima. Dia maju sambil memberi komando kepada teman-temannya, agar ikut bergerak. Pria-pria tersebut hendak menyerang Vlad dengan tangan kosong secara bersamaan.


Namun, Mykola lebih dulu menembakkan pistolnya ke langit-langit, yang membuat beberapa lampu neon besar berbentuk bulat pecah. Serpihan lampu itu menghujani kepala orang-orang tadi, sehingga berhasil menghentikan laju mereka untuk beberapa saat.


“Dengar! Kami tak bisa berlama-lama di sini. Ada banyak urusan penting lainnya yang harus diselesaikan. Jadi, kusarankan pada kalian agar jangan bertele-tele! Cepat beritahu di mana keberadaan Nona Altea Miller,” seru Mykola lantang. Dia yang selama ini selalu terlihat kalem, kali ini tampak sangat berbeda.


Vlad tak berpikir dua kali untuk menggunakan senjatanya. Dia kembali melesatkan peluru yang diarahkan pada pria-pria tadi. Vlad menyasar kaki-kaki yang tengah berlari ke arahnya. Dalam hitungan menit saja, puluhan pria itu jatuh tersungkur sambil memegangi kaki mereka. “Kusarankan pada kalian agar mau bekerja sama," ujar Vlad lantang.


"Katakan di mana Altea. Setelah aku menemukannya, aku berjanji tak akan kembali lagi kemari. Tak masalah jika harus membayar ganti rugi atas segala kerusakan ” ujar Vlad dengan enteng, "atau akan kuhancurkan sekalian semua aset yang ada di kasino ini," ancamnya


“Pergilah kalian berdua ke neraka!” Salah satu dari pria berpakaian hitam tadi meludah, hingga mengenai ujung sepatu Mykola.


“Ah, menjijikan sekali." Mykola meringis kecil. Dia menggeleng pelan. "Baiklah, kalau begitu.” Mykola mengembuskan napas pelan. Dia maju, lalu mengusapkan ujung sepatunya, pada kemeja pria yang telah meludah tadi. Mykola mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Sementara, para pelayan dan pekerja lain yang hendak bersiap-siap, tampak bersembunyi ketakutan di balik perabot kasino. Ada yang bersembunyi di balik pot palem, meja, kursi, bahkan ada pula yang bersembunyi di bawah tangga.


“Hei, kau!” tunjuk Vlad pada salah seorang bartender, yang kebetulan tengah mengintip dari balik meja bar. “Bantu aku mengumpulkan pistol-pistol ini!” suruhnya.


Bartender tadi tak memiliki pilihan selain menurut. Dia membawa kantong plastik berukuran besar, lalu memasukkan pistol-pistol yang berserakan ke dalamnya.


“Sekarang, buang benda-benda itu ke tempat sampah. Jangan coba-coba berbuat nakal, karena anak buahku tak akan segan menembak kepalamu,” ancam Vlad.


“Ba-baik, Tuan.” Tubuh kurus bartender itu gemetar saat Mykola mendekat, lalu mendampinginya ke luar. Mereka berjalan menuju tempat pembuangan, yang terletak di bagian belakang gedung kasino.


Di sana, Mykola awas memperhatikan bartender yang membuka bak sampah raksasa. Susah payah pria kurus itu mengangkat kantong plastik besar yang penuh berisi belasan pistol.


Mykola yang tak sabar saat menyaksikan gerak lambat pria kurus tadi, segera membantu mengangkat karung plastik tersebut. Dia membuang ke bak sampah. Saat itu, iris gelap Mykola menangkap sesuatu yang membuat pria itu memicingkan mata.


“Apakah itu tas Nona Miller?” gumamnya seraya meraih sebuah tas ransel butut berwarna hitam.


Mykola meyakini bahwa benda itu merupakan milik Altea. Terlebih, ketika dia menemukan alat pelacak milik Vlad, yang berada di dalam tas tersebut. Di sana juga ada beberapa potong pakaian milik wanita muda tersebut.


“Katakan, apakah kau tahu di mana pemilik tas ini berada?” tanyanya pada sang bartender.