Since I Found You

Since I Found You
Strange Feeling



Jarum jam sudah menunjuk ke angka satu. Namun, Vlad masih terjaga di depan laptop. Dia tak putus asa untuk menemukan keberadaan Altea. Vlad begitu yakin, bahwa wanita muda itu ada di tangan Ludwig Stegen.


Namun, saat ini Vlad belum menemukan cara untuk membuktikannya. Dia harus mengetahui terlebih dulu, siapakah orang yang sedang dihadapi. Jika dirinya sudah mendapatkan celah, akan jauh lebih mudah baginya untuk mengambil tindakan.


Sementara, Altea pun termenung di dalam kamarnya. Pikiran si pemilik rambut cokelat tersebut melayang pada kejadian tadi siang, ketika dirinya melihat Vlad yang ternyata berada di Berlin. “Astaga,” desah Altea pelan. “Tuan ….” Wanita muda itu seperti kehilangan kata-kata, untuk mengungkapkan perasaannya.


Di satu sisi, Altea berpikir hendak melarikan diri. Memberi tanda kepada Vlad akan keberadaannya. Dia ingin kembali ke Sieseby, agar dapat bertemu dan melepas rindu bersama Elke. Wanita yang telah dianggapnya seperti ibu kandung. Di sisi lain, ada ucapan Herbert yang menahan Altea, agar tetap berada pada situasi seperti yang sedang dijalaninya saat ini.


Keresahan juga tengah mengusik Ludwig. Entah berapa gelas minuman telah dia habiskan malam itu. Rasa lelah yang mendera seusai melakukan perjalanan panjang pulang pergi dari Berlin ke Sieseby, ditambah perasaan tak menentu yang tak pernah dia alami sebelumnya. Kedua hal tadi membuat Ludwig tak dapat memejamkan mata.


......................


Sudah lewat tengah hari, ketika Ludwig baru membuka mata. Setelah mengumpulkan segenap kesadaran, pria tampan dengan ukiran tato di beberapa bagian tubuhnya itu mengambil telepon genggam di atas meja sebelah tempat tidur. Ludwig menghubungi Delma untuk menanyakan perihal pertemuan Altea dengan Ferdynand.


“Semua sudah diurus. Ferdynan Calestyn telah mendapat akses masuk ke club pribadimu. Sopir akan mengantarkan Nona Miller ke sana pukul delapan malam,” terang Delma memberikan laporan.


“Baiklah,” sahut Ludwig malas.


“Semalam, Ferdynand mentransfer sebagian dari jumlah yang harus dibayar. Eryk sudah memeriksanya,” lapor Delma lagi. Namun, Ludwig tak menanggapi. “Baiklah. Aku akan mempersiapkan Nona Miller terlebih dulu.”


Tanpa menanggapi ucapan Delma, Ludwig langsung menutup sambungan telepon. Dia meletakkan ponselnya di atas bantal. Seekor anjing ras Czechoslovakian Wolfdog, berlari masuk ke kamar. Anjing itu langsung naik ke tempat tidur, menghambur pada sang majikan yang masih duduk bersandar sambil bermalas-malasan di bawah selimut.


“Selamat pagi, Bubba,” sapa Ludwig. Dia menyambut hewan peliharaan kesayangannya tersebut. Ludwig mengusap-usap bulu yang menutupi tubuh anjing bernama Bubba tersebut. Terlihat jelas bahwa dia sangat menyayanginya. Sikap Ludwig kepada Bubba, jauh lebih baik dibandingkan terhadap Dietmar.


Selain anjing tadi, Ludwig masih memiliki dua ekor lagi dengan jenis berbeda. Di antaranya adalah anjing yang berasal dari ras Rottweiler dan German shepherd. Ketiga anjing itu menjadi sahabat terbaik bagi Ludwig, yang selalu menghabiskan waktu dalam kesendirian.


Tanpa terasa, siang mulai beranjak sore. Dengan cepat pula, sang malam datang menghadirkan perasaan tak menentu di hati Altea. Wanita muda itu sangat gugup, ketika seorang pria bernama Eryk membawanya ke ruangan VVIP yang ada di club pribadi milik Ludwig. Altea bahkan sempat salah tingkah, saat dia sudah berhadapan dengan sang aktor idola bernama Ferdynand Calestyn.


“Selamat bersenang-senang,” ucap Eryk sebelum meninggalkan ruangan dengan pencahayaan temaram itu.


Sepeninggal Eryk, Ferdynand mempersilakan Altea agar duduk di dekatnya. Meskipun agak ragu, tetapi wanita muda itu tak menolak. Dia memasang senyuman manis dan tulus. Dalam hal ini, Altea merasa senang karena bertemu dengan aktor kesukaannya.


“Celina,” sapa Ferdynand, pria tampan berkulit putih dengan rambut pirang yang disisir menyamping. Dia menyebutkan nama lain yang diberikan Delma untuk Altea.


“Aku menyukai aktingmu,” ucap Altea ramah.


“Oh, ya?” Ferdynand tersenyum lebar. Dia merentangkan tangannya ke belakang leher Altea yang duduk bersandar. “Terima kasih,” ucap pria itu terdengar bangga. “Namun, aku sedang tak ingin membahas masalah pekerjaan di sini.”


“Ya, tentu. Sesuai yang kau inginkan,” balas Altea tetap memasang senyum manisnya. Dalam hati, Altea hanya berharap agar aktor kenamaan Jerman itu bersedia memberinya uang tip dalam jumlah banyak, andai dia bersikap manis dan menyenangkan. Altea bahkan lagi-lagi hanya tersenyum, saat Ferdynand mencium pipinya.


“Kau jauh lebih cantik jika dibandingkan dengan yang kulihat difoto,” bisik Ferdynand seraya kembali mencium pipi, telinga, lalu beralih ke leher. Tangan aktor tampan itu juga mulai bergerak nakal. Menyentuh paha mulus Altea, lalu mere•masnya perlahan. Namun, ketika Ferdynand hendak menyentuh dada, tiba-tiba terdengar suara Ludwig di dalam ruangan temaram tadi.


Ferdynand seketika menoleh. Begitu juga dengan Altea. Keduanya memandang Ludwig, yang sudah berdiri gagah tak jauh dari tempat mereka berada.


Ludwig kemudian berjalan semakin mendekat. Tatapan pria itu tertuju kepada Altea. Tanpa banyak bicara, dia menarik tangan kiri Altea, memaksa wanita muda itu agar berdiri. Ludwig lalu menggeser putri kedua Herbert tersebut ke belakang tubuh tegapnya. “Maaf, karena aku harus mengambil teman kencanmu malam ini,” ucapnya tanpa ekspresi. Kata-kata itu dia tujukan kepada Ferdynand, yang masih duduk dengan raut tak suka.


“Kau tak bisa bertindak seperti ini! Aku sudah membayar setengah dari tarif yang dipasang untuk wanita itu! ” protes aktor tampan tersebut sambil berdiri. Dia seakan hendak menantang Ludwig. Ferdynand tak tahu sedang berhadapan dengan siapa.


“Aku akan mengembalikan uangmu saat ini juga,” balas Ludwig dengan raut dingin.


“Aku tidak menginginkan uang. Aku hanya ingin wanita yang kau sembunyikan di belakang tubuhmu itu!” tunjuk Ferdynand.


“Kuganti dengan wanita lain yang jauh lebih berpengalaman,” balas Ludwig lagi.


“Aku tidak mau! Aku ingin dia!” Ferdynand lagi-lagi menunjuk ke arah Altea, yang berada di belakang tubuh tegap Ludwig.


“Bagaimana jika tidak kuberikan?” Nada bicara Ludwig terdengar seperti penolakan atas keinginan aktor tersebut.


“Kau tidak akan menyukainya,” jawab Ferdynand penuh penekanan.


“Justru sebaliknya,” balas Ludwig seraya mencengkram serta menarik kerah baju Ferdynand. “Kau tak akan suka berurusan denganku. Apa kata penata rias, andai kubuat beberapa luka lebam di wajahmu?” seringai pria tampan bermata abu-abu itu.


Ludwig kemudian melepaskan cengkramannya dengan kasar, membuat Ferdynand terempas ke sofa. Tanpa bicara apa-apa lagi, dia meraih pergelangan tangan Altea. Ludwig menuntun wanita muda itu keluar dari ruangan tadi.


Setelah berada di luar ruangan, Eryk datang menghampiri. Pria itu tampak keheranan, saat melihat sang majikan membawa wanita yang tadi dirinya antarkan menemui Ferdynand. “Ada apa, Tuan?” tanya Eryk hati-hati.


“Kembalikan uang yang telah ditransfer Ferdynand Calestyn,” suruh Ludwig. Dia tak memberikan jawaban lain, selain mengatakan hal itu. Seperti biasa, pria tampan tersebut tak berbasa-basi lagi.


Ludwig segera berlalu membawa Altea yang memperlihatkan raut tak mengerti. Pria itu terus menuntunnya hingga ke dekat kendaraan, yang terparkir di depan club. Ludwig memaksa Altea agar masuk. Dia bahkan memasangkan sabuk pengaman dan langsung menutup pintu.


“Apa yang kau lakukan?” protes Altea. “Kau telah mengambil sumber penghasilanku!” sentak wanita itu, saat Ludwig sudah duduk di belakang kemudi. Namun, pria tampan tadi tak segera menjawab. Dia menyalakan mesin mobil, kemudian melajukannya. Jeep hitam milik Ludwig meninggalkan area parkir club mewah tadi.


“Kau ini! Kau benar-benar menyebalkan!” sentak Altea lagi. Dia semakin kesal, karena Ludwig tak menanggapi ucapannya. “Kau mendengarku atau tidak?”


Ludwig tak menjawab. Dia bahkan tak menoleh sama sekali. Tatapannya lurus ke depan, menembus jalanan malam Kota Berlin. Dia tak peduli, meskipun Altea terus menggerutu. Wanita itu tak henti-hentinya mengoceh. Hingga jeep hitam milik Ludwig berhenti di area parkir pribadinya, Altea masih uring-uringan.


“Selain sombong, dingin, kau juga menyebalkan! Egois! Aku tak peduli meskipun kau sangat tampan! Kau tetap tidak menyenangkan!” gerutu Altea.


“Akan kuganti sesuai tarifmu malam ini.” Ludwig meraih pinggang Altea, lalu menyandarkan tubuh indahnya ke dinding lift.