Since I Found You

Since I Found You
A Beautiful Night in Silence



Semua mata tertuju kepada wanita muda, yang sedang berjalan masuk dan menghampiri mereka. Sesaat kemudian, Herbert muncul mengikutinya. Pria paruh baya tersebut memasang raut puas. Entah apa yang terjadi di luar sana, ketika Vlad sibuk menghadapi anak buah Folke. “Pergilah dari sini. Bawa aku bersama kalian,” ucap Altea dengan tatapan menerawang.


“Apa maksudmu, Nona Miller? Berhentilah bersikap konyol dan tolol!” sergah Vlad. Dia tak menyukai ucapan Altea, yang sudah memasrahkan dirinya pada para pria itu.


Altea menoleh. Dia memandang sayu kepada pria tampan yang selalu memarahinya dengan kasar. “Anda tidak perlu bersusah-payah menjagaku lagi, Tuan. Aku akan baik-baik saja,” ujar Altea pelan. Dia lalu mengarahkan perhatiannya kepada Bardolf. “Hey, Banci! Singkirkan pisaumu dari leher Nyonya Elke!” sentaknya dengan enteng.


“Wanita sialan!” balas Bardolf sambil menyeringai lebar. Dia menoleh kepada Folke, seakan meminta persetujuan pria kurus itu. Setelah Folke mengangguk, barulah Bardolf melepaskan Elke. Dia bermaksud untuk mengempaskan wanita malang tersebut, andai Vlad tak segera mencegahnya.


“Hati-hati dengan ibuku! Sekali lagi kau membuatnya terluka, maka dirimu akan menjadi orang pertama yang mati di tanganku. Aku sudah merekam wajah jelek kalian semua dalam ingatan. Tak akan sulit bagiku untuk menumpas habis cecunguk-cecunguk menjijikan seperti kau! Kau! dan kau!” Telunjuk Vlad mengarah pada Bardolf, Folke, dan beberapa anak buahnya yang terpaku di tempat masing-masing.


“Kami tidak takut dengan ancaman pria cacat sepertimu. Meskipun kau memiliki kaki palsu yang sekuat baja, tapi kami memiliki kaki sempurna yang lebih fleksibel ….”


Belum sempat Folke melanjutkan kata-katanya, Vlad lebih dulu menaikkan bagian bawah celana panjangnya. Gerakan pria itu sangat cepat, sehingga tak ada siapa pun yang memperkirakan.


Vlad melemparkan pisau kecil berujung sangat lancip, ke arah Folke yang tak sempat menghindar. Ujung pisau tadi menancap tepat di paha sebelah kirinya. Folke memekik kencang sambil memegangi paha yang tertusuk. Darah segar merembes keluar, membasahi celana jeans yang dia kenakan.


“Dasar, Pengecut! Baru tertusuk pisau kecil saja, kau sudah menjerit seperti seorang wanita. Apa yang terjadi jika kakimu sampai diamputasi. Kau mungkin hanya akan menangis seperti bayi,” ledek Vlad dengan puas.


Namun, yang membuat Folke dan anak buahnya seketika membeku adalah, bukan ejekan pria asal Rusia tersebut. Sesuatu yang sangat mengejutkan. Dari gerakan yang dilakukan Vlad, mereka dapat memastikan bahwa pria berambut gondrong itu bukanlah orang biasa. Tak ingin terlibat pertarungan semakin jauh, Folke mengangkat tangannya. Dia mengisyaratkan agar mereka segera mundur dan pergi dari sana. Folke juga memberi kode kepada Herbert, agar membawa Altea.


Dengan segera, Herbert meraih lengan putrinya yang masih terpaku menatap Vlad. Pria paruh baya tersebut sedikit menyeret Altea, yang sebenarnya terlihat berat untuk meninggalkan rumah itu. Namun, Altea harus memenuhi apa yang sudah dia ucapkan tadi.


Sementara, Vlad berdiri mematung untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria tampan tersebut segera menghampiri sang ibu yang sudah kembali duduk di kursi roda. ”Bagaimana keadaanmu, Bu?” tanyanya cemas. Dia memeriksa setiap bagian tubuh wanita yang sedang sakit tersebut. Vlad menemukan luka sayat kecil di leher Elke. “Cepat obati lukanya, Ilsa,” suruh Vlad.


“Kenapa kau ini? Kenapa kau membiarkannya pergi?” tegur Elke dengan tegas. “Kejar dia, Vlad! Bawa lagi dia kemari!” suruh wanita itu. Elke terlihat sangat gusar.


Vlad tersentak. Dia seakan baru tersadar, bahwa dirinya sudah membiarkan Altea pergi dari sana. Tanpa banyak bicara, Vlad berlari keluar. Dia mengendarai mobilnya, mengejar iring-iringan mobil Folke yang membawa pergi Altea.


Tak terlalu sulit bagi Vlad dengan gaya mengemudinya yang luar biasa, sehingga dapat menyusul bahkan menyalip kendaraan paling depan. Vlad menghentikan laju mobilnya tepat di depan kendaraan tadi, hingga mengerem dengan mendadak.


“Hey, Bodoh!” Sopir mobil yang mengerem mendadak tadi, menyembulkan kepala dari jendela kaca yang terbuka. Namun, dengan segera dia kembali memasukkan kepalanya, setelah melihat Vlad keluar dari mobil sambil mengarahkan pistol ke arah kaca depan kendaraan.


“Nona Miller! Di mana kau?” seru Vlad. Untunglah, saat itu suasana sedang sepi. Jadi, tak banyak orang yang melihat adegan ala premanisme tersebut. “Jika tak ada yang menjawab, maka ….” Vlad tak melanjutkan kata-katanya. Dia sudah bersiap menarik pelatuk. Namun, tak ada respon sama sekali dari orang-orang yang ada di dalam kendaraan.


Vlad mengurungkan niatnya. Dia berjalan sambil terus mengokang senjata api tadi. Pria itu melangkah ke dekat mobil yang diketahui sebagai milik Herbert. Vlad lalu mengetuk kaca jendela dengan gagang pistol. Namun, tak ada respon dari si pemilik kendaraan itu. Kesabaran dalam diri Vlad pun semakin habis. Dia menggedor dengan keras kaca jendela hingga membuatnya menjadi retak. Sang pemilik mobil yang tak lain memang Herbert, barulah menurunkan kaca mobilnya.


Vlad sedikit membungkuk. Di dalam mobil itu, dia melihat Altea yang tengah memandang ke arahnya. Sepasang mata cokelat wanita muda tadi tampak berbinar, saat mengetahui Vlad menyusulnya hingga ke sana.


“Keluar,” suruh Vlad. Mata birunya memberi isyarat kepada Altea, agar wanita berambut panjang tersebut menuruti apa yang dia perintahkan. Akan tetapi, Altea terlihat ragu. Dia menoleh kepada sang ayah. Sorot mata wanita muda itu menyiratkan sesuatu yang sulit untuk dipahami, bahkan oleh Vlad sendiri.


Sementara, Folke dan anak buahnya yang keluar dari kendaraan sudah menodongkan senjata kepada Vlad. Namun, mereka tak berani menembak. Entah apa yang membuat para pria itu membiarkan Vlad dengan leluasa membawa Altea bersamanya.


Vlad yang sudah berada di dalam mobil, merasakan ada sesuatu yang janggal. Sebelum menginjak pedal gas, pria itu sempat melihat spion. Vlad memicingkan mata, saat melihat Folke berbicara serius dengan Herbert. “Kau tahu apa yang mereka rencanakan?” tanya Vlad seraya melirik Altea yang terlihat tegang. Tak biasanya, wanita muda tersebut bersikap demikian.


Altea tidak menjawab. Dia hanya menggeleng pelan. Bahasa tubuh yang membuat Vlad kian merasa curiga. Pikirannya saat itu langsung tertuju ke rumah. Tak ada siapa pun yang dapat diandalkan di sana. Vlad segera memutar kemudi. Dia menjalankan kendaraan begitu saja melewati para pria yang memperhatikan kepergiannya.


Selama dalam perjalanan, Altea tak bicara sepatah kata pun. Begitu juga ketika sudah tiba di rumah. Dia langsung memeluk Elke yang sudah menunggunya dengan khawatir.


"Aku senang kau kembali, Nona Miller," ucap Elke terharu. Dia mencium kening serta pipi Altea penuh kasih.


"Sebaiknya, Anda beristirahat. Ingat, Anda juga tidak boleh terlambat minum obat, Nyonya," sahut Altea diiringi senyuman khasnya yang manis.


"Ya. Aku sudah merasa tenang sekarang, karena kau telah kembali. Aku akan segera minum obat dan beristirahat. Kau juga, Nona Miller. Tetaplah berada di sini. Temani putraku," pinta Elke seraya membelai lembut pipi Altea, sebelum wanita muda itu kembali berdiri.


Altea tersenyum lembut. Dia mengangguk pelan. Setelah itu, wanita muda berambut panjang tersebut memberi isyarat kepada Ilsa, agar membawa Elke ke kamarnya.


Sepeninggal Elke, Altea menoleh kepada Vlad yang masih terpaku sambil memandang ke arahnya dengan sorot penuh keheranan. Vlad yakin pasti ada sesuatu yang memengaruhi pikiran wanita muda itu. Dia juga harus waspada, karena dirinya tak dapat membaca apa yang sudah direncanakan Herbert dan para pria tadi.


"Aku ke kamar dulu, Tuan," ucap Altea berpamitan. Dia berlalu dari hadapan Vlad.


Namun, belum sempat Altea menginjakkan kaki pada undakan anak tangga, suara berat Vlad lebih dulu menahan geraknya. "Apa kau baik-baik saja, Nona Miller?" tanya pria itu penasaran.


Altea menoleh, lalu tersenyum. Senyuman sama, seprti yang dia tunjukkan kepada Elke. "Aku tidak apa-apa, Tuan. Aku hanya sedikit terkejut melihat kebolehan Anda tadi," jawabnya. Dia membalikkan badan. Melanjutkan niat menuju lantai atas.


Sikap Altea yang demikian, kembali membuat Vlad merasa aneh. Namun, dia mencoba mengabaikan perasaan itu.


Seusai makan malam, Altea langsung kembali ke kamarnya. Dia termenung di tepian tempat tidur. Entah apa yang mengusik pikiran wanita cantik tersebut.


Sementara, Vlad juga sudah berada di kamar. Dalam beberapa waktu terakhir, dia mencoba kembali ke dunianya secara bertahap. Vlad mulai aktif lagi memeriksa keadaan perushaan meski dari jarak jauh. Namun, konsentrasinya harus terpecah, saat mendengar suara ketukan di pintu. "Masuk!" seru Vlad tidak terlalu nyaring.


Perlahan pintu terbuka. Wajah cantik Altea muncul di baliknya. Malam itu dia tampak sangat berbeda. Entah apa yang membuatnya terlihat demikian. Namun, Vlad merasakan hal lain dari penampilan wanita muda tersebut.


Vlad yang sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur, memindahkan laptop dari pangkuannya ke atas meja. Dia memperhatikan Altea, yang membugkus seluruh tubuh dengan selimut. "Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Vlad dengan tatapan heran.


Altea menggeleng diiringi senyuman manis. Dia melangkah semakin mendekat ke arah Vlad berada. Wanita muda itu berdiri menghadap pria tampan tersebut. Tatapan mereka pun saling beradu.


Tanpa diduga, Altea menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Tampaklah pemandangan indah, yang membuat Vlad seketika menelan ludahnya dalam-dalam.