
“Apa kau tidak membawa pakaian lain, Nona Miller?” tanya Vlad seraya melangkah ke dekat pintu kamar mandi. Dia tak lagi memandang Altea, seperti pengembara gurun pasir saat melihat air.
Altea yang tengah memasukkan pakaian kotor ke dalam ransel, segera menoleh dengan sorot keheranan. “Maksud Anda, Tuan?” Dia balik bertanya, karena tak mengerti akan maksud Vlad.
“Lihat saja dirimu di cermin,” sahut Vlad seraya berlalu ke dalam kamar mandi. Pria itu menutup pintu dengan rapat, tanpa memberikan jawaban yang jelas kepada Altea.
Karena merasa penasaran, Altea berjalan ke dekat wastafel. Dia berdiri di depan cermin yang menempel di dinding. Seketika, wanita muda itu tersenyum saat melihat sepasang cup berwarna hitam, yang terlukis jelas di balik pakaian menerawangnya. “Apa sebelumnya dia tidak pernah melihat wanita memakai bra?” pikir Altea setengah bergumam. "Dasar manusia gua."
Namun, wanita muda itu tak ingin Vlad menegur dirinya untuk kedua kali. Altea kembali ke tempat di mana ranselnya tersimpan. Berhubung saat itu Elke tampak tertidur pulas, Altea tak merasa ragu untuk melepas T-Shirt yang dia kenakan.
Sementara, Vlad yang sudah berada di dalam kamar mandi baru tersadar. Ternyata, dia masuk ke sana tanpa membawa handuk. “Astaga. Bodoh sekali,” gerutunya pelan. Dia membuka pintu, lalu menyembulkan kepala dari baliknya. Baru saja Vlad akan memanggil Altea agar membawakannya handuk, pria itu langsung mengurungkan niat tersebut.
Tatapan Vlad terkunci pada punggung putih mulus, dengan tali bra berwarna hitam yang melintang dan terlihat sangat kontras. Altea memiliki pinggang ramping yang lebih sering tersembunyi di balik T-Shirt oversize, karena Elke kurang suka jika dia berkeliaran di rumah dengan mengenakan atasan crop top.
Perhatian pria asal Rusia itu, lalu beralih pada bagian lain yang tampak padat dan terlihat menggoda. Saat itu, Vlad baru menyadari kekonyolan yang sedang dilakukannya. Dia menggeleng pelan, karena telah merasa jadi pria aneh yang memperhatikan tubuh seorang wanita secara diam-diam. Vlad pun kembali menutup pintu dan memilih berseru dari dalam.
Mendengar Vlad memanggil namanya, Altea segera mengenakan T-Shirt baru yang jauh lebih tebal. Dia melangkah ke depan kamar mandi dengan terburu-buru. “Apa Anda memanggilku, Tuan?” tanyanya setengah berseru.
“Ya. Kau pikir di sini ada Nona Miller yang lain?” jawab Vlad dari dalam sana dengan ketus.
Namun, Altea sudah tak merasa tersinggung dengan sikap demikian dari sang majikan. Wanita muda itu justru tersenyum geli. “Ada yang bisa kubantu, Tuan?” tanyanya lagi.
“Aku tak akan memanggilmu jika tak membutuhkan sesuatu,” sahut Vlad kesal. “Ambilkan handukku. Aku lupa membawanya,” suruh pria itu kemudian.
“Astaga.” Altea berdecak pelan. “Apa perlu kuambilkan perlengkapan yang lainnya, Tuan?” tawar Altea seraya menahan tawa.
“Tidak usah!” tolak Vlad tegas. “Jika bukan karena terpaksa, tak seharusnya kau melihat barang-barang pribadiku. Sudahlah. Aku kedinginan! Cepat ambilkan handukku!” suruh Vlad lagi kian ketus.
Altea tak menanggapi lagi. Dia bergegas ke dekat tas jinjing yang tadi dirinya bawa dari Sieseby. Meskipun di sana telah disediakan satu paket alat mandi, tapi Vlad tak mau memakainya. Dia selalu menjaga privasi, termasuk untuk hal-hal kecil seperti itu.
Tak berselang lama, Altea mengetuk pintu kamar mandi. Perlahan, pintu itu terbuka sedikit, lalu munculah tangan dengan lengan kokoh milik Vlad terulur keluar. Altea segera memberikan handuk yang baru dia bawa. Tanpa ada kata terima kasih, Vlad kembali menutup rapat pintu itu.
“Sama-sama, Tuan,” seru Altea dengan tidak terlalu nyaring.
Namun, Vlad dapat mendengarnya dengan jelas. Dia tersenyum sambil mengenakan T-Shirt round neck berwarna putih. Harus dirinya akui, kehadiran Altea telah membuat hidupnya yang monoton, menjadi sedikit lebih berwarna. Vlad tak hanya duduk termenung dekat jendela. Kali ini, dia lebih sering berbicara.
Menjelang petang, Mykola datang ke sana. Dia membawakan makanan untuk santap malam Vlad dan Altea. Tadinya, Mykola bermaksud hendak ke Sieseby. Dia akan menjemput Willy dan mengantarkan pemuda itu kembali ke Hamburg.
Namun, Altea lebih dulu menceritakan apa yang dilihatnya, saat hendak membawa barang-barang pribadi milik Vlad. “Aku hanya berharap si bodoh itu tidak mengatakan apapun pada ayahku,” ujar Altea mengakhiri penuturannya. “Ya, meskipun dia sudah mengatakan bahwa dirinya tak memberitahukan keberadaanku. Namun, aku tak yakin dengan hal itu. Willy adalah pria matrealistis. Dia akan langsung melepaskan harga dirinya saat melihat uang.”
“Ya. Aku tahu itu,” sahut Mykola menanggapi.
Sementara, Vlad hanya diam menyimak. Sesekali, ekor matanya melirik Altea yang sedang menyantap makanan dengan lahap.
"Kurasa, kau harus bersiap-siap seandainya ayahmu kembali mendatangi rumahku, Nona Miller," celetuk Vlad beberapa saat kemudian.
"Apa yang harus kulakukan andai hal itu terjadi, Tuan?" tanya Altea dengan wajah yang tiba-tiba khawatir.
"Aku tak ingin menjadi tumbal atas kebodohan ayahku. Dia yang kalah berjudi, kenapa aku yang harus menanggung akibatnya. Dia berniat menjualku, seolah-olah aku ini pelacur," keluh Altea.
"Jika memang mereka tertarik pada keperawananku dan ingin melelangnya, maka lebih baik jika Anda saja yang mengambil kegadisanku, Tuan. Dengan begitu mereka tak akan mengejar-ngejarku lagi," celoteh Altea sembari mengunyah.
Sontak, Vlad yang tengah minum langsung menyemburkan airnya. Sementara, Mykola hanya bisa terngaga tak percaya, atas kata-kata Altea yang benar-benar di luar nalar.
"Apa kau sadar dengan apa yang baru kau katakan, Nona Miller?" tegur Vlad dengan raut wajah serta bahasa tubuh yang terlihat canggung. "Jadi, selama ini kau berpikir untuk bercinta denganku?"
Sementara, Mykola menahan tawa dengan menunduk dalam-dalam. Dia menyembunyikan wajah, agar Vlad tak melihatnya.
"Untukmu gratis, Tuan. Kau boleh melakukan apa saja kepadaku tanpa dipungut biaya. Semuanya gratis karena aku bukan penjual diri," celetuk Altea semakin tak karuan.
"Meskipun kau kerap bersikap ketus dan tak ramah padaku, tapi aku bisa merasakan kebaikan hatimu," lanjut Altea.
"Lebih baik kuserahkan diriku pada orang sepertimu, daripada ke para penjahat keji dan tamak itu," ucap Altea lirih.
"Bodoh!" sahut Vlad. Mata birunya tajam menatap Altea. "Setidaknya, jika kau miskin dan tak punya uang, maka gunakanlah otakmu. Kau masih punya otak, 'kan?" omel Vlad dengan wajah yang masih memerah.
"Menurutku itu ide yang bagus, Nak." Tiba-tiba saja suara seseorang yang tak lain adalah Elke, menyela perbincangan itu.
"Bu?"
"Nyonya?"
Vlad, Mykola dan Altea meoleh secara bersamaan.
"Kau sudah bangun, Bu? Bagaimana kondisimu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Vlad seraya berjalan mendekati ranjang.
Begitu pula dengan Mykola yang tampak begitu mengkhawatirkan keadaan Elke.
"Jika kau menanyakan keadaan fisikku, akan kujawab bahwa aku baik-baik saja. Namun, di sini ...." Elke mengarahkan tangannya yang tertancap selang infus ke dada.
"Apakah dadamu terasa sakit lagi? Biar kupanggilkan dokter." Vlad hendak memencet tombol darurat. Akan tetapi, Elke lebih dulu mencegahnya.
"Bukan! Ini bukan sakit seperti yang kupikirkan," Elke menggeleng lemah.
"Lalu apa?" tanya Vlad setengah kebingungan.
"Apa Anda ingin kuambilkan minum, Nyonya?" Altea turut bertanya.
Elke kembali menggeleng, lalu memandang penuh arti secara bergantian pada Vlad dan Altea yang berdiri agak jauh darinya. "Tak ada yang bisa menyembuhkan kegundahan hatiku, selain saat kau bersedia mengakhiri kesendirianmu, Nak," ujarnya lemah.
"Apa maksudnya, Bu?" Vlad menautkan alis tanda tak mengerti.
"Vlad, anakku. Kau harus menyadari bahwa aku tak bisa selamanya merawat dan menjagamu. Jadi, kupikir akan lebih baik jika kau membuka hatimu untuk Nona Miller. Aku yakin, dia adalah wanita yang baik dan bisa menggantikan posisiku jika suatu saat aku tiada," ujar Elke dengan tenang dan diiringi senyuman lembut.