Since I Found You

Since I Found You
Favorite Actor



Ludwig menutup layar ponselnya. Dia menoleh pada Altea. Tatapan pria berambut cokelat itu selalu sama. Tak pernah terlihat hangat, apalagi bersahabat. Pria itu memperhatikan Altea dengan lekat. Akan tetapi, dia tak mengucapkan sepatah kata pun. Ludwig bahkan kembali mengalihkan perhatian pada ponselnya yang menyala lagi, karena ada pesan masuk.


Sementara, Altea fokus memasangkan tali sepatunya. Dia sempat mengusap betis jenjang berbalut kulit putih bersih. Altea tertawa pelan. Membuat Ludwig yang sudah mengalihkan perhatian darinya, kembali menoleh dan menatap dengan heran.


“Kau tahu? Sebenarnya, aku memiliki banyak bulu halus di kaki dan tangan, Ya, meskipun tak sebanyak milikmu.” Altea tertawa renyah setelah berkata demikian. Sedangkan, Ludwig masih memperhatikannya tanpa menanggapi sama sekali. Raut wajahnya pun masih sama seperti tadi. Tanpa ekspresi sama sekali.


“Nyonya Delma mencukur habis semuanya. Padahal, mendiang ibuku menyukai bulu-bulu halus itu. Katanya, aku terlihat manis.” Altea berhenti tertawa. Kali ini, bahkan tak ada sedikit pun senyuman di paras cantiknya. Altea terdiam, lalu menundukkan wajahnya.


“Aku tidak pernah memakai pakaian dan sepatu seperti ini seumur hidupku. Rasanya sangat tidak nyaman. Semua orang bisa melihat paha dan punggungku dengan jelas.” Wanita muda itu kemudian memegangi bagian depan mini dressnya.


“Hidupmu tidak akan berubah hanya dengan mengeluh,” ujar Ludwig seraya beranjak dari duduknya. Pria tampan dengan jaket kulit berwarna cokelat itu melangkah ke arah lift. Sepertinya, dia akan pergi.


Tak ada alasan bagi Altea tetap berada di apartemen mewah itu. Dia mengikuti langkah gagah pria itu hingga masuk ke lift. Di dalam private lift tadi, mereka hanya berdiri tanpa berbicara sepatah kata pun. Ludwig masih tetap memasang raut wajah datar dan dingin. Sementara, Altea bersikap tak peduli, hingga mereka melangkah keluar lift.


Altea berjalan di belakang Ludwig. Mereka menuju ke tempat di mana pria itu memarkirkan mobilnya. Tiba-tiba, pikiran Altea tertuju pada si pemilik rambut pirang di Sieseby. Entah bagaimana kabar Vlad sekarang. Biasanya, pria itulah yang selalu dia ikuti ke manapun. Namun, kali ini Altea harus berada di belakang tubuh tegap lain.


Satu hal yang membuat Altea merasa semakin berbeda adalah, ketika Ludwig membukakan pintu mobil untuknya. Sesuatu yang tak pernah Vlad lakukan. Namun, hal itu tak membuat Altea merasa terkesan. “Terima kasih,” ucapnya seraya masuk dan duduk.


Akan tetapi, Ludwig tidak menjawab. Setelah menutup pintu mobil, dia langsung ke pintu sopir. Ludwig duduk gagah di balik kemudi. Dia memasang sabuk pengaman tanpa banyak bicara. Namun, sebelum menyalakan mesin kendaraan, pria tampan berambut cokelat itu sempat menoleh kepada Altea yang tengah memperhatikannya. “Kenapa?” tanyanya datar dengan sedikit gerakan di bibir.


“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa penasaran,” sahut Altea seraya mengarahkan pandangan ke depan.


“Tentang apa?” tanya Ludwig lagi. Dia menginjak pedal gas perlahan. Mobil jeep hitam yang dikendarainya melaju tenang, meninggalkan area parkir pribadi, di mana dia menyimpan beberapa koleksi mobil mewah kesayangan.


“Nyonya Delma mengatakan bahwa tidak semua wanita yang akan menjadi penghibur, kau bawa ke tempatnya. Maksudku ….”


“Aku punya kriteria dan penilaian sendiri,” sela Ludwig sambil terus mengemudi. Tatapannya lurus tertuju ke depan, pada lalu lintas Kota Berlin yang mulai ramai.


Sekilas, Ludwig tampak begitu tenang. Padahal, dalam benaknya tengah berkecamuk memikirkan sosok pria yang mendatanginya kemarin-kemarin. Pria yang tak lain adalah Vlad Ignashevich. Ludwig dapat menyimpulkan bahwa Altea pasti merupakan wanita yang berharga bagi Vlad, sehingga pria itu sampai berani berurusan dengannya.


Lampu merah menyala. Ludwig menghentikan laju kendaraannya. Ekor mata pria itu mengarah pada Altea yang ternyata sedang tertidur. Ludwig terus memperhatikannya, meski secara diam-diam. Dia menelisik seluruh tubuh wanita cantik tersebut, yang telah dinikmatinya hampir semalam suntuk.


Namun, dengan segera sang pemilik Kasino Goldgeld tadi kembali fokus ke depan, saat Altea menggeliat pelan dan membuka mata.


“Payah,” ucap Ludwig pelan. Teramat pelan, sehingga Altea tak dapat mendengarnya.


Altea terlihat begitu kelelahan. Dia tetap menyandarkan kepala, dengan pandangan mengarah ke jendela samping yang sedikit terbuka. Saat itulah, kedua matanya menangkap sosok yang selama beberapa hari ke belakang selalu mengisi benaknya. Pria berambut pirang, yang tak lain adalah Vlad. Dia baru keluar dari sebuah gedung bersama sang ajudan setia, Mykola Vanko. Mereka menuju ke mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Akan tetapi, Altea tak dapat berbuat apapun. Dia kembali teringat pada kata-kata Herbert, yang diucapkan saat pria paruh baya tersebut hendak menjemputnya untuk kedua kali. Karena itu juga, Altea merelakan dirinya meninggalkan kediaman Vlad di Sieseby.


Mobil jeep milik Ludwig telah kembali melaju dengan gagah, membelah jalanan Kota Berlin. Altea kembali duduk dengan posisi menghadap ke depan. Hatinya kembali dipenuhi kegalauan, saat dia melihat sosok tampan, yang telah menghabiskan satu malam indah dengannya. Altea tak tahu, apa yang tengah Vlad dan Mykola lakukan di Berlin. Haruskah dia merasa percaya diri, dan meyakini bahwa Vlad ke sana untuk mencarinya?


Seulas senyuman, menghangatkan hati Altea yang tengah dilanda keresahan. Seandainya bisa, maka dia akan melompat keluar dari mobil. Altea tak peduli, meskipun Vlad selalu bersikap ketus padanya. Satu yang diingat oleh wanita muda itu hanyalah perlakukan terakhir yang dia terima dari pria yang kini sudah meninggalkan kursi rodanya.


Mobil jeep yang dikendarai Ludwig, berhenti di depan bangunan tempat tinggal Delma. Tanpa banyak bicara, pria tampan berambut cokelat itu keluar dari kendaraannya. Dia membukakan pintu untuk Altea, tapi tak menunggu hingga wanita dengan mini dress tersebut turun. Ludwig langsung berjalan menaiki undakan anak tangga menuju pintu.


Altea tak mengeluh lagi. Dia sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu, sehingga dirinya bisa bersikap tak peduli. Altea berjalan mengikuti Ludwig, lalu berdiri di sebelahnya. Mereka menunggu hingga pintu dibuka.


“Tuan,” sapa Delma diiringi senyuman hangat, “silakan masuk.” Wanita dengan penampilan rapi itu membuka pintu cukup lebar, ketika Ludwig melangkah masuk tanpa banyak bicara.


“Selamat pagi menuju siang, Nyonya,” sapa Altea sambil berjalan masuk.


“Selamat pagi juga, Nona Miller,” balas Delma. “Jangan pergi dulu, karena kita harus bicara,” cegahnya, ketika melihat Altea yang hendak berlalu menuju kamar.


Altea seketika tertegun. Dia menoleh kepada wanita paruh baya tadi. “Denganku?” tanyanya.


“Ya. Duduklah dulu, Nona Miller,” suruh Delma seraya mengarahkan tangan kanan ke sofa, di mana Ludwig berada.


Altea mengembuskan napas pelan. Semenjak dijadikan sebagai alat pelunas utang oleh sang ayah, Altea kehilangan sebagian cakar serta taringnya. Dia harus selalu menuruti perintah orang lain. Dengan langkah yang agak malas, Altea kembali ke dekat sofa. Dia lalu duduk tak jauh dari Ludwig berada.


“Seperti yang sudah kusampaikan melalui pesan singkat beberapa saat yang lalu, bahwa Bryda telah mendapat seorang tamu untuk Nona Miller. Dia bukan orang sembarangan, Tuan,” ucap Delma memberikan laporan kepada Ludwig yang sejak tadi hanya duduk dengan gagah dan penuh wibawa.


“Siapa?” tanya Ludwig singkat, tanpa ada basa-basi.


“Ferdynan Calestyn,” jawab Delma, yang seketika membuat Altea membelalakan mata.


“Apa? Dia?” tanya Altea tak percaya. Wanita itu kembali pada karakter aslinya, dan terlupa dengan segala pelajaran kepribadian yang telah diterapkan oleh Delma.


Delma tak segera menanggapi. Dia menatap penuh isyarat kepada Altea. Membuat wanita muda itu segera mengubah sikap dan bahasa tubuhnya menjadi lebih anggun. Setelah melihat Altea kembali pada aturan yang telah diajarkannya, barulah Delma


tersenyum. “Ya, Nona Miller. Dia tertarik pada fotomu yang sudah dipasang di situs khusus kami,” jelas wanita dengan kemeja putih itu.


Altea masih menunjukkan raut tak percaya. Pasalnya, dia mengetahui bahwa Ferdynan Calestyn merupakan salah satu aktor favoritnya.