Since I Found You

Since I Found You
Altea's Request



Vlad meneguk minuman dalam gelas yang hanya tinggal sedikit. Pria itu menyandarkan tubuh pada kursi di belakang meja kerja. Dia memejamkan mata. Secara tiba-tiba, bayangan paras cantik Altea hadir dengan senyuman manisnya.


“Tuan ….”


Suara khas wanita berambut cokelat itu terdengar jelas di telinga Vlad, membuat pria tampan asal Rusia tersebut langsung membuka mata. Dia melihat sekeliling, mencari sosok cantik yang dalam beberapa hari terakhir membuatnya sibuk.


Vlad meneguk habis sisa minumannya. Dia lalu beranjak dari kursi. Pria tampan berambut pirang itu meninggalkan ruang kerja, dan langsung menuju garasi. Tanpa berlama-lama, Vlad mengeluarkan sedan hitam yang tadi siang dia kendarai.


Entah akan ke mana tujuan Vlad malam itu. Dia melajukan sedan hitam mewah tersebut dengan kecepatan tinggi, menembus jalanan malam Kota Berlin. Beberapa saat kemudian, kendaraan tadi berhenti di depan bangunan bergaya Eropa kuno, tempat di mana tadi siang dia melihat Ludwig dan Altea berciuman.


“Brengsek!” gerutu Vlad sambil menutup pintu mobil dengan kencang. Dia berjalan menaiki undakan anak tangga hingga tiba di depan pintu. Tanpa membuang waktu, pria asal Rusia tersebut mengetuknya cukup kencang.


Tak berselang lama, seseorang membuka pintu dari dalam. Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Delma. “Selamat malam. Ada yang bisa kubantu, Tuan?” tanya wanita itu sopan.


“Aku ingin mencari Altea Miller,” jawab Vlad tanpa basa-basi.


Delma tertegun. Dia menatap penuh selidik pada sosok pria tampan di hadapannya. Wanita paruh baya itu tak mengenal sama sekali si pemilik rambut pirang tersebut. “Anda siapa?” Bukannya menanggapi ucapan Vlad, Delma malah mengajukan pertanyaan, yang cukup membuat Vlad menjadi muak.


Semenjak kakinya diamputasi, Vlad yang ramah berubah menjadi temperamen. Dia sangat sensitif, terhadap hal-hal yang dirasa tak sesuai dengan hatinya.


Namun, berhubung yang dihadapi adalah wanita seusia Elke, Vlad masih menyisakan sedikit keramahannya. “Vlad Ignashevich,” jawab pria bermata biru itu. “Aku kemari untuk menjemput Nona Altea Miller. Kuharap agar Anda bersedia bekerja sama. Jangan sampai aku mengobrak-abrik tempat ini, seperti yang kulakukan terhadap kasino milik Ludwig Stegen," ancamnya.


Delma terkesiap mendengar ancaman halus dari Vlad. Dia mencengkram erat pinggiran daun pintu. Wanita paruh baya tersebut akan langsung menghantamkannya dengan keras, andai Vlad memaksa masuk. Namun, Delma adalah wanita yang pintar menguasai emosi. Dia masih memperlihatkan sikap tenang berbalut senyuman hangat. “Maaf, Tuan Ignashevich. Akan tetapi, Nona Miller tak ada di sini. Untuk apa aku menyembunyikannya?”


Vlad menyunggingkan senyuman sinis di sudut bibirnya. Dia tak akan percaya begitu saja. ”Aku menghormatimu sebagai seorang wanita, Nyonya. Anda bukan lawanku. Jadi, sekali lagi kutekankan agar Anda bersedia untuk bekerja sama. Mari buat semuanya menjadi jauh lebih mudah.”


“Maaf sekali, Tuan Ignashevich. Akan tetapi, Nona Miller memang tidak berada di sini,” balas Delma tetap pada jawabannya tadi.


Vlad menatap lekat Delma. Dia memicingkan mata, seakan tengah menganalisa kejujuran wanita paruh baya di hadapannya. “Baiklah. Kalau begitu, beritahukan di mana tempat tinggal Ludwig Stegen,” pintanya serius.


Lagi-lagi, permintaan yang membuat Delma hanya dapat mengembuskan napas panjang. Dia tak mungkin memberikan alamat apartemen Ludwig, pada pria asing yang jelas-jelas mencari keberadaan Altea. Terlebih, setelah kejadian tadi siang, yang membuat Delma merasa begitu berbeda saat melihat sosok Ludwig.


Pria tampan pemilik Kasino Goldgeld itu, meminta Delma agar menemani Altea ke dokter. Dia ingin Altea memakai alat kontrasepsi. Itu artinya, Ludwig memang menginginkan wanita muda tersebut, karena sebelumnya dia tak pernah bersikap demikian pada wanita manapun.


“Nyonya?” Suara berat Vlad menyadarkan Delma dari lamunannya. “Berikan padaku alamat Ludwig Stegen,” pinta pria itu lagi.


Namun, Delma segera menggeleng. Dia tak akan melakukan kebodohan seperti yang diminta Vlad. “Maaf, Tuan Ignashevich, sebaiknya Anda kembali dan jangan pernah datang lagi kemari. Kupastikan bahwa Anda tak akan mendapatkan apapun dariku.”


“Ada apa?” Terdengar suara berat Ludwig di ujung telepon.


“Ada pria bernama Vlad Ignashevich yang datang kemari. Dia mencari Nona Miller,” lapor Delma.


Ludwig yang saat itu tengah berada di dalam kamar, tak segera menanggapi. Pandangannya tertuju pada Altea yang tertidur lelap di kasur, dengan hanya ditutupi selimut. Seperti biasa, malam itu mereka baru selesai melaksanakan misi ke Planet Mars. “Apa yang pria itu katakan?” tanya Ludwig dingin.


“Dia mengancam akan mengobrak-abrik tempatku, andai diriku tak memberitahukan di mana Nona Miller berada. Vlad Ignashevich juga meminta alamat tempat tinggalmu.”


“Brengsek!” geram Ludwig pelan.


“Siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Nona Miller?” tanya Delma penasaran.


“Kau tidak perlu tahu apapun. Aku akan mengurus semuanya.” Seusai berkata demikian, Ludwig menutup sambungan telepon tadi. Pandangan pria tampan bermata abu-abu itu kembali tertuju pada Altea, yang tampak menggeliat pelan. Namun, wanita muda tersebut kembali tertidur.


Ludwig yang hanya mengenakan celana tidur, berjalan keluar kamar. Dia menghubungi seseorang sambil terus melangkah menuju ruang kerjanya. “Helen, aku ingin informasi yang telah kuminta beberapa hari lalu tentang Vlad Ignashevich. Kirimkan sekarang juga.”


Tanpa menunggu jawaban dari wanita bernama Helen tadi, Ludwig langsung menutup sambungan telepon. Dia duduk di belakang meja kerja, lalu menyalakan laptop. Ludwig menunggu email yang akan dikirimkan oleh Helen.


Tak perlu menunggu terlalu lama, email dari Helen telah masuk. Ludwig segera membuka dan membacanya. “Eisenschwerts,” gumam Ludwig seraya menaikkan sebelah alisnya. “Bagaimana dia bisa menjadi pemegang perusahaan ini?” pikir pria itu. Dia lalu mengarahkan kursor, membaca semua yang tertera dalam file kiriman dari Helen.


Makin lama, raut wajah Ludwig semakin serius. Terlebih, saat dirinya membaca satu informasi yang teramat mengejutkan. “Vlad Ignashevich. Jadi, kau merupakan anak angkat Roderyk Lenkov?” Ludwig menyandarkan tubuhnya. “Rupanya, kau bukan orang sembarangan.”


Ludwig menutup laptopnya. Dia beranjak dari ruang kerja. Pria itu kembali ke kamar. Ludwig langsung masuk ke walk in closet dan berpakaian. Namun, saat Ludwig akan keluar kamar, terdengar suara parau Altea yang langsung menghentikan langkahnya.


“Kau akan pergi ke mana?” tanya wanita muda itu. Dia sudah duduk dengan selimut yang menutupi hingga sebatas dada.


“Aku akan keluar sebentar. Tetaplah di sini,” jawab Ludwig dingin. Meskipun dia sudah berkali-kali bercinta dengan Altea, tapi itu tak membuatnya bersikap lebih lembut. Pria itu masih kesulitan untuk memberikan satu senyuman saja.


“Kau akan ke mana?” tanya Altea lagi. Perasaannya tak tenang, setelah pertemuan dengan Vlad tadi siang. Tanpa memedulikan tubuhnya yang masih dalam keadaan polos, Altea langsung turun dari tempat tidur. Dia menghampiri Ludwig yang sudah akan membuka pintu. “Jangan pergi,” cegahnya seraya memegangi lengan pria dengan jaket kulit tersebut.


Ludwig menoleh. Sorot matanya begitu tajam, terarah pada wanita cantik yang memasang wajah penuh harap di hadapannya. “Kenapa?” tanya si pemilik mata abu-abu itu dengan suara berat dan dalam.


“Jika kau ingin aku tetap di sini, maka aku tak akan ke manapun. Akan tetapi, tolong jangan usik tuanku," pinta Altea.