
Dietmar marah besar melihat kondisi kasino yang berantakan akibat ulah Vlad dan Mykola. Dia berteriak, memaki anak buahnya yang ada di sana. Tak ada satu pun dari orang-orang di dalam kasino tersebut yang berani membantah. Mengangkat kepala pun tak kuasa mereka lakukan, karena tidak ingin mendapat tamparan keras dari sang bos pengelola tempat judi tersebut.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” maki Dietmar dengan suara keras. Dia menendang salah satu bangku bulat yang ada di dekat kakinya. “Kalian semua memang bodoh!” Tak henti-henti, pria itu memaki anak buahnya dengan kata-kata umpatan kasar.
Akibat kericuhan yang terjadi, kasino harus tutup. Itu artinya, mereka kehilangan satu malam untuk meraup untung jutaan euro. Pantaslah jika Dietmar marah besar. Terlebih, setelah dia mendapat laporan bahwa Altea tak bisa dibawa ke pelalangan. Ya, tentu saja. Altea sudah bukan perawan lagi. Itu artinya, makin besarlah kerugian yang diterima oleh.
dirinya.
“Sialan kalian semua! Tidak bisa diandalkan! Anjing-anjing milik Tuan Ludwig, bahkan jauh lebih cerdik dan pemberani jika dibanding kalian yang katanya memiliki otak!” Dietmar mendengkus kesal.
Suasana di dalam Kasino Goldgeld memang sangat mengkhawatirkan. Hampir seluruh barang dan aset berantakan. Ada pula beberapa yang mengalami kerusakan. Tentunya, itu menjadi tanggung jawab Dietmar, sebagai pengelola di tempat tersebut. Selain itu, keadaan Folke yang mengalami luka tusuk juga membuatnya semakin kesal.
“Aku tidak mau tahu! Kalian rapikan semua kekacauan ini! Ingat, jangan sampai ada yang bicara kepada Tuan Ludwig, saat besok dia datang kemari. Jika di antara kalian ada yang berani bersuara, maka ….”
“Ada apa ini?” Suara berat seorang pria yang sangat Dietmar kenal, terdengar di sana.
Hening. Semua membeku, tak terkecuali Dietmar yang sejak tadi tak berhenti memarahi anak buahnya. Pria yang selalu merasa menjadi bos besar itu, kali ini diam tertunduk saat pria tadi melangkah gagah ke arahnya.
“Tu-Tuan Ludwig? Bukankah Anda baru akan datang kemari besok malam?” Pertanyaan terbodoh yang dilayangkan Dietmar kepada seseorang yang tak lain adalah Ludwig Stegen.
Ludwig Stegen. Pria berusia tiga puluh tahun. Tampan dan berkharisma. Tampilannya rapi khas para eksekutif muda. Dia memiliki rambut cokelat yang tersisir rapi ke samping. Sepasang iris matanya berwarna abu-abu. Tajam mengarah kepada Dietmar yang tampak sedang berusaha menyembunyikan rasa takut.
“Apa kau memiliki hak untuk mengaturku?” Nada bicara Ludwig terdengar sangat dingin. Dia pasti ingin segera melampiaskan amarahnya. Terlebih, setelah melihat kondisi kasino yang kacau-balau. “Ada apa ini? Apa yang terjadi?” tanya Ludwig dengan tatapan yang terus tertuju pada Dietmar.
Dietmar tak segera menjawab. Dia harus merangkai kata agar tak salah bicara. Namun, belum sempat dirinya membuka mulut, sebuah tamparan keras lebih dulu mendarat di wajahnya. Belum juga Dietmar terlepas dari rasa terkejut karena tamparan itu, tendangan tak kalah keras membuat tubuh tegapnya terlempar hingga beberapa meter ke belakang. Dia jatuh terkapar, setelah sebelumnya menimpa mesin judi yang belum sempat dirapikan.
Dengan susah payah, Dietmar mencoba bangkit. Akan tetapi, sepatu pantofel hitam mengilap lebih dulu menahan dirinya. Dietmar kembali terbaring di lantai, dengan posisi leher yang sengaja diinjak oleh Ludwig. Pria yang telah menampar serta menendangnya dengan keras.
“Ma-maafkan a-ak-aku, Tu-an.” Dietmar tak dapat berkata dengan leluasa, karena harus menahan sakit. Dia juga tak bisa bernapas, berhubung tekanan dari sepatu Ludwig semakin kencang di lehernya.
“Merugikan sekali memiliki anak buah bodoh dan tak becus sepertimu,” ucap Ludwig sinis. Dia menyeringai. Wajahnya tampannya berubah menjadi terlihat sangat menakutkan.
“Maaf, Tuan.” Akhirnya, Dietmar dapat bernapas dengan jauh lebih leluasa, setelah Ludwig menyingkirkan kakinya. “Ini semua … ini semua karena ulah dua pria asing itu,” lapornya dengan napas terengah-engah.
“Pria asing yang mana? Siapa yang telah berani mengacau di kasino milikku?” tanya Ludwig seraya merapikan blazer yang dikenakannya.
“Kedua pria yang melakukan pengrusakan di sini, bermaksud untuk mencari wanita itu. Namun, mereka tidak berhasil menemukannya, karena aku menyembunyikan putri Herbert di ruang rahasia. Mereka tak mengetahui ruangan tersebut,” terang Dietmar seraya mengusap darah yang mengucur dari bibirnya.
Ludwig terdiam beberapa saat. Dia memasukkan satu tangan ke dalam saku celana. Pria dengan janggut serta kumis yang tercukur rapi tersebut, mengembuskan napas pendek. “Apa utang pria itu sepadan dengan putrinya?” tanya Ludwig.
“Jauh di atas kata sepadan, Tuan. Namun, aku tidak yakin untuk menjadikannya sebagai wanita penghibur di tempat ini,” ujar Dietmar.
“Kenapa?” Ludwig mengangkat sebelah alisnya.
“Dia sangat sulit dikendalikan, Tuan,” jawab Dietmar ragu. Dia sudah bersiap, andai dirinya akan kembali mendapat pukulan dari sang majikan.
Namun, ternyata Ludwig tak melakukan apapun. Dia memilih duduk di kursi yang segera disiapkan oleh salah seorang anak buahnya yang lain. “Bawa wanita itu ke hadapanku. Kita lihat, seberapa besar nilai jual yang dia miliki.” Ludwig duduk dengan penuh wibawa. Dia meletakkan kaki kanan di atas paha sebelah kiri. Pria tampan berpostur sama seperti Vlad dan Mykola itu mengeluarkan rokok dari saku blazernya. Sambil menunggu Dietmar kembali, Ludwig asyik mengisap rokok dengan tenang.
“Lepaskan aku, Bodoh. Pria jelek sepertimu tidak pantas hidup di dunia ini!”
Ketenangan Ludwig terusik, karena suara seorang wanita yang tengah memaki dengan cukup nyaring. Dia segera mengarahkan perhatian ke arah sumber suara, di mana Dietmar muncul sambil memaksa wanita muda berambut cokelat agar mengikutinya.
“Dasar perempuan kotor! Kau tidak pantas memakiku seperti itu. Kau bukan perawan lagi. Tidak berguna!” balas Dietmar.
“Kau juga bukan perjaka! Apa yang bisa dibanggakan dari anjing rendahan sepertimu!”
Mendengar ucapan keras wanita yang tak lain adalah Altea, Dietmar sudah bersiap mengangkat tangannya. Namun, suara berat Ludwig lebih dulu mencegah. “Hentikan. Bawa dia kemari,” titahnya.
Seketika, Altea menoleh pada pria yang berkata barusan. Dia bahkan membalas tatapan lekat pria itu. hingga dirinya berada di hadapan Ludwig yang lebih tinggi beberapa senti.
“Siapa namamu?” tanya Ludwig tanpa mengalihkan pandangannya.
“Apa urusanmu?” Bukannya menjawab pertanyaan tadi, Altea malah balik bertanya dengan sinis.
“Jaga sikapmu di depan Tuan ….” Dietmar tak melanjutkan kata-katanya, karena Ludwig lebih dulu mengangkat tangan sebagai isyarat agar pria itu segera diam.
Ludwig memperhatikan Altea dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia melakukan hal itu cukup lama, hingga dirinya merasa puas. Sesaat kemudian, tersungging senyuman samar di wajah tampan pria tiga puluh tahun tersebut. “Apakah kita pernah bertemu?” tanyanya pelan. Namun, Altea tidak menjawab. Dia hanya tersenyum mencibir seraya memalingkan muka.
Ludwig menjatuhkan sisa rokok yang masih menyala. Dia mematikannya dengan cara menginjak hingga padam. Setelah itu, Ludwig mengalihkan pandangan kepada Dietmar yang masih berdiri dengan sikap hormat. Bahasa tubuh yang berlainan dari Altea. “Bereskan tempat ini seperti semula,” titahnya. Seusai berkata demikian, Ludwig kembali beralih pada Altea. “Lalu, kau nona. Ikut denganku.”