Since I Found You

Since I Found You
Ludwig Facts



Mateja sudah keluar dari kamar Vlad. Pria tampan itu kini hanya sendiri. Dalam genggamannya, ada selembar amplop yang diyakini akan membantu membawa kembali Altea.


Vlad, berdiri beberapa saat di dekat jendela kamar yang masih terbuka. Langit Kota St. Petersburg di malam hari terlihat sangat teduh. Suasana hening itu teramat menenangkan dirinya. Namun, kali ini Vlad tak ingin lagi melewati hari-hari dalam kesendirian. Sudah cukup baginya menghabiskan waktu dengan sia-sia.


“Apa yang sedang kau lakukan saat ini, Altea?” tanya Vlad pelan. Sayangnya, hanya desiran angin yang menjawab pertanyaan tadi. Altea, jauh berada ribuan kilometer dari St. Petersburg.


Angan Vlad melayang pada beberapa waktu yang lalu, saat dirinya melewati malam tak terduga bersama Altea. Vlad mengembuskan napas berat. Sulit dipercaya bahwa wanita muda itu memberinya keistimewaan untuk menjadi yang pertama.


“Altea.” Vlad memejamkan mata birunya, saat menyebut nama wanita muda bermata cokelat tersebut. Dia tak tahu bahwa malam itu, Altea tengah terlelap dalam dekapan hangat Ludwig Stegen yang masih terjaga.


Sesekali, tatapan dingin Ludwig tertuju pada Altea yang terlelap. Wanita berambut cokelat itu tetap terlihat cantik, meskipun dalam keadaan tidur.


Perlahan, Ludwig mengelus lembus lengan wanita yang telah memuaskannya di ranjang. Sudah tak terhitung berapa kali dia meniduri putri Herbert tersebut, dalam rentang waktu kurang dari satu bulan saja. Ludwig tak bisa melepaskan diri, dari wanita dua puluh tiga tahun itu.


Dengan hati-hati, Ludwig menidurkan Altea di bantal. Dia menyelimuti tubuh polos itu hingga sebatas dada. Pria tampan tersebut beranjak turun dari tempat tidur. Ludwig melangkah keluar kamar. Dia menuju ke mini bar yang ada di dalam ruang apartemennya.


Ludwig menuangkan minuman ke dalam gelas. Setelah itu, dia berjalan ke dekat jendela kaca berukuran besar di ruang tamu. Tatap mata abu-abu milik pria tampan berambut cokelat tersebut menerawang jauh. Menembus pekat malam yang sebentar lagi akan berganti pagi.


“Vlad Ignashevich. Tidak akan kubiarkan kau membawanya pergi.” Satu tegukan rupanya tak cukup membasahi tenggorokan Ludwig. Dia kembali menikmati isi dalam gelasnya hingga tersisa setengah. Tepat pada tegukan berikutnya, Ludwig tertegun. Dia menunduk, melihat tangan berjemari lentik yang melingkar di perut. Si pemilik apartemen mewah itu menggumam pelan.


“Kau sedang apa?” tanya suara lembut yang tak lain milik Altea.


“Kenapa kau bangun?” Ludwig balik bertanya dengan nada bicaranya yang terdengar dingin.


“Aku mencarimu. Rasanya berbeda jika tidur tanpa kau temani,” jawab Altea manja. Dia membenamkan wajahnya di pundak Ludwig yang tak tertutup pakaian. Seperti biasa, pria itu hanya mengenakan celana tidur.


Ludwig membalikkan badan. Dia menatap Altea sesaat. Tiba-tiba, tangan kiri pria tampan tersebut mencengkram pipi wanita muda di hadapannya. “Jangan bersandiwara di depanku,” balas Ludwig penuh penekanan. “Aku bisa menebak seperti apa perasaanmu terhadap pria itu.”


“Apa yang kau tahu tentang perasaanku? Bukankah kau hanya membutuhkan tubuhku untuk memuaskanmu?” sahut Altea membalas tatapan tajam Ludwig. Jika bukan karena ancaman yang pernah dikatakan Herbert, Altea tentu tak akan sudi diperlakukan seperti saat ini.


Ludwig menyingkirkan tangannya dari wajah Altea. Dia menarik tubuh ramping wanita muda itu, sehingga merapat padanya. “Minumlah.” Ludwig mendekatkan gelas kristal yang sedang digenggamnya ke bibir Altea. Dia memaksa agar wanita cantik tersebut menghabiskan sisa minuman tadi.


Setelah isi dalam gelas benar-benar kosong, Ludwig mencium Altea beberapa saat, lalu mengangkat tubuh berbalut selimut putih itu ke pundaknya. Dia meletakkan gelas kosong tadi di meja bar, sebelum melanjutkan langkah menuju kamar.


Setelah tiba di sana, Ludwig mengempaskan tubuh Altea ke tempat tidur. Dia menarik kain putih yang menutupi tubuh Altea, hingga wanita itu kembali tampil polos. Ludwig, memandang wanita yang telah siap melayaninya lagi, sebelum menarik tali dan melonggarkan celana tidur yang dia kenakan.


......................


Cahaya matahari telah masuk melalui jendela kamar. Sekitar dua jam saja terasa cukup bagi Vlad untuk mengistirahatkan badan. Pria itu berusaha membuka mata dengan sempurna, ketika terdengar suara dering panggilan. Vlad menggerutu pelan, mendapati nama Mykola di layar ponselnya.


“Aku baru bangun. Ada apa?” tanya Vlad sambil duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


“Aku akan kembali ke Jerman hari ini pukul sepuluh. Anda sendiri, kapan akan pulang?” tanya Mykola.


“Aku akan kembali lusa. Hari ini, aku harus menuntaskan rasa penasaran terlebih dulu,” jawab Vlad. “Hubungi lagi jika kau sudah tiba di sana.” Vlad menutup sambungan telepon tanpa basa-basi. Hal yang sudah biasa dilakukan pria tampan tersebut.


Vlad menyibakkan selimut yang menutupi tubuh. Dia turun dari tempat tidur sambil berpegangan pada tepian meja, berhubung dirinya belum mengenakan kaki palsu. Setelah tiba di dekat meja kecil tempat laptopnya berada, Vlad langsung duduk. Dia membuka alat elektronik itu, lalu memasukkan flashdisk yang baru dikeluarkan dari dalam amplop pemberian Mateja.


Sambil menunggu proses pembukaan file berlangsung, Vlad mengeluarkan beberapa lembar foto dari amplop yang sama. Foto-foto itu sebagian memperlihatkan sosok Ludwig Stegen, sebagian lagi merupakan foto-foto perusahaan serta tempat hiburan malam dengan nama yang berbeda-beda. Namun, jika dilihat dari model bangunannya, dapat dipastikan bahwa tempat hiburan malam tadi jauh lebih besar dari Kasino Goldgeld.


Vlad meletakkan foto-foto tadi. Dia mengalihkan perhatian ke layar laptop, yang sudah menampilkan file dari flashdisk. Pria tampan itu menyugar rambut gondrongnya, sambil membaca dengan saksama serta teliti setiap kata yang tertera di layar.


Ludwig Stegen. Terlahir dengan nama asli Ludwig Zielinski, tiga puluh tahun silam. Ayahnya merupakan pengusaha asal Polandia bernama Andrzej Zielinski, yang berselingkuh dengan wanita penghibur hingga melahirkan dirinya.


Saat remaja, Ludwig diadopsi pengusaha asal Jerman bernama Albert Stegen. Albert melimpahkan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya tanpa tersisa.


Ludwig Stegen merupakan pemilik dari beberapa perusahaan besar di Jerman, dengan sektor berbeda-beda. Dia juga memiliki beberapa tempat hiburan malam yang telah memiliki izin. Akan tetapi, dibalik semua bisnis legal yang dijalani Ludwig Stegen, dia merupakan pria yang sangat berbahaya. Tercatat bahwa dirinya telah menjadi target pemerintah. Namun, karena dia memiliki dukungan kuat di belakangnya, sehingga pria itu seakan tak dapat tersentuh hukum sama sekali.


Ada beberapa macam bisnis ilegal yang menambah pundi-pundi kekayaan Ludwig Stegen. Di antaranya adalah penjualan narkoba, senjata ilegal, perdagangan wanita, dan organ dalam manusia.


“Manusia monster,” geram Vlad seraya menutup layar laptopnya begitu saja. Dia berpikir selama beberapa saat, sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada permukaan meja.


“Altea berada dalam genggaman pria itu,” gumamnya pelan.


“Altea berada dalam bahaya.” Vlad tersentak saat menyadari kenyataan yang didapatnya. Dia membuka kembali laptopnya. Iris mata birunya teliti membaca ulang semua informasi penting, yang berhasil didapatkan oleh Mateja.


Vlad mengarahkan kursor pada keterangan tempat hiburan malam milik Ludwig Stegen yang berada di Warsawa, ibukota Polandia. Kasino megah bernama Zachód Słońca, yang dalam bahasa Polandia berarti Matahari Tebenam itu telah menarik perhatian Vlad.


Tanpa membuang waktu, Vlad membuka mesin pencarian di internet. Dia mengetikkan nama kasino tersebut. Tak sampai sepersekian detik, segala macam informasi yang dia butuhkan muncul berderet memenuhi layar laptop.


Salah satu tajuk berita menuliskan bahwa kasino itu akan mengadakan perayaan besar-besaran dalam menyambut festival tahunan di Warsawa. Zachód Słońca yang selama ini menjadi tempat hiburan eksklusif dan tak sembarang orang bisa masuk, akan dibuka untuk umum selama tujuh hari ke depan. Pemilik tunggal kasino juga dikabarkan akan hadir.


Vlad menyunggingkan senyuman samar. Diraihnya ponsel yang tergeletak tak jauh dari jangkauan tangannya. Dia menghubungi Mykola yang langsung menerima panggilan tersebut. “Aku mengurungkan niat untuk pulang ke Jerman lusa. Suruh Manheim agar mempersiapkan keberangkatanku ke Warsawa besok siang,” titah Vlad dengan yakin.